Diperbarui tanggal 13/05/2023

Model Pembelajaran Process Oriented Guided Inquiry Learning

kategori Model-model Pembelajaran / tanggal diterbitkan 13 Mei 2023 / dikunjungi: 1.52rb kali

Pengertian

Model pembelajaran Process Oriented Guided Inquiry Learning (POGIL) merupakan salah satu model pembelajaran yang dalam pelaksanaannya, model ini berorientasi pada teori konstruktivik. Siswa dapat termotivasi untuk mampu menemukan makna serta mengembangkan pengetahuan secara individual dari pengalamannya sendiri melalui pembelajaran konstruktivik. Runtutan kegiatan pada proses pembelajaran menekankan siswa dalam berpikir kritis dan analitis sehingga siswa dapat dengan sendiri mencari dan menemukan suatu masalah. Model ini memiliki 5 tahapan, masing-masing tahapan memiliki kelebihan bagi siswa yaitu kegiatan proses pembelajaran lebih tertata, teratur, dan terpimpin serta tercapainya tujuan pembelajaran dan pemanfaatan waktu yang efektif. Dalam tahapan model POGIL terdapat beberapa tahap yaitu eksplorasi dan penemuan konsep, dimana siswa dituntut untuk mengenali dan mengolah informasi yang telah didapat, sehingga siswa menemukan konsep yang dimaksud. Penggunaan model Process Oriented Guided Inquiry Learning dalam proses pembelajaran telah terbukti mampu meningkatkan hasil belajar siswa ranah kognitif (Putri & Gazali, 2021).

Model pembelajaran Process Oriented Guided Inquiry Learning menjadikan siswa aktif dalam proses pembelajaran. Siswa aktif merupakan hal yang menandakan pembelajaran berjalan dengan baik. Pembelajaran yang melibatkan aktivitas siswa secara aktif akan mampu meningkatkan daya ingat siswa dalam memecahkan suatu permasalahan. Melalui pembelajaran aktif, siswa akan terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran. Apabila siswa aktif dalam proses pembelajaran, siswa akan memperoleh pengalaman langsung yang menjadikan pembelajaran menjadi lebih bermakna dan siswa akan bersemangat dalam belajar. Model pembelajaran Process Oriented Guided Inquiry Learning menjadikan pembelajaran lebih efektif. Apabila pembelajaran berjalan dengan efektif, hal tersebut menandakan pembelajaran telah berhasil dilaksanakan. Pembelajaran dikatakan berhasil, karena pembelajaran efektif melibatkan peran aktif siswa baik mental, fisik dan sosialnya dalam proses pembelajaran. Pembelajaran yang efektif sangat diharapakan dalam setiap pembelajaran, karena pembelajaran yang demikian menjadi tolak ukur keberhasilan guru dalam melaksanakan pembelajaran.

Model Process Oriented Guided Inquiry Learning dapat menjadikan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Melalui pembelajaran yang menyenangkan siswa akan berkonsentrasi dan tertarik untuk menyimak materi yang diberikan guru. Pembelajaran yang menyenangkan mempunyai suasana yang membuat siswa gembira, tidak tertekan dalam belajar, semakin termotivasi, dan tidak membuat siswa takut dalam berinteraksi di dalam pembelajaran. Apabila pembelajaran dengan suasana yang menyenangkan sudah tercipta, maka perhatian siswa dalam pembelajaran akan lebih tinggi dan tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal (Dionisius et al., 2019). Menurut Arpina & Nurhadi (2020) Process Oriented Guided Inquiry Learning mengharapkan siswa untuk dapat belajar dengan membangun pemahaman mereka sendiri dalam suatu melibatkan pengetahuan dan pengalaman yang sebelumnya, mengikuti siklus belajar yang terdiri dari orientasi, eksplorasi dan berinteraksi dengan orang lain, pembentukan konsep, aplikasi dan penutup. Tahap-tahap pembelajaran Process Oriented Guided Inquiry Learning diantaranya, tahap orientasi digunakan untuk menggali konsepsi awal siswa, tahap eksplorasi siswa melakukan eksperimen untuk menguji kebenaran dari konsepsi awal, tahap pembentukan konsep siswa menyimpulkan hasil dari percobaan yang telah mereka lakukan, tahap aplikasi siswa diharuskan menjawab pertanyaan mengenai sebuah  penerapan konsep dalam kehidupan sehari-hari untuk memperkuat konsep yang telah mereka temukan sebelumnya. Dan tahap penutup digunakan untuk melihat kinerja kelompok siswa dan cara mereka mengatasi kendala yang dialami saat pembelajaran. Dengan begitu diharapkan miskonsepsi pada siswa dapat menurun dengan penggunaan model POGIL di kelas.

Langkah-Langkah Model Pembelajaran POGIL

Menurut Syafaati (2018) bahwa penerapan model pembelajaran POGIL dalam pembelajaran harus memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut :

Fase 1 : (Orientation)

Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang harus dicapai oleh siswa pada hari itu serta memotivasi siswa agar siswa dapat lebih terfokus dalam kegiatan pembelajaran. Pada fase ini merupakan fase awal dimana siswa difokuskan untuk siap belajar serta dibimbing untuk mulai mengkrontruksi pengetahuan mereka. Guru dalam hal ini dapat memberi siswa tangga yang dapat membantu siswa mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi, namun harus diupayakan agar siswa sendiri yang memanjat tangga tersebut agar dapat mencapai pemahaman awal yang baik. hal yang dilakukan guru yaitu guru membentuk kelompok kecil secara heterogen, selanjutnya guru memberikan pengetahuan awal mengenai pembelajaran dan atau mengaitkan pembelajaran yang akan dipelejarkan dengan materi pelajaran sebelumnya yang berkesinambungan.

Fase 2 : (Exploration)

Siswa disajikan fenomena yang lekat dalam kehidupan sehari-hari yang nantinya akan digunakan untuk proses kegiatan belajar. Melalui fenomena tersebut guru membimbing siswa untuk berdiskusi dengan kelompoknya. Berdasarkan teori kontruktivis Vygotsky menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan menginformasikan informasi kompleks dalam rangka
membangun pemahaman mengenai suatu pengetahuan. Hal tersebut diberikan agar siswa dapat berpikir secara lebih meluas mengenai masalah yang terjadi dan
bagaimana cara menyelesaikan masalah tersebut dengan mengaitkan pada materi yang telah mereka dapatkan.

Fase 3 : (Concept Formation)

Siswa diberikan kegiatan praktikum guna menemukan jawaban atas permasalahan yang dihadapi maupun konsep yang dipelajari. Hal tersebut sesuai dengan teori belajar John Dewey dimana siswa diberikan kebebasan dalam menentukan suatu kebenaran yang diperoleh melalui hasil pengalaman dan eksperimen.

Fase 4: (Application)

Guru membimbing siswa melakukan diskusi untuk menganalisis pertanyaan yang ada dalam lembar kerja siswa serta siswa diminta untuk memberikan penjelasan mengenai hasil pengamatan mereka selama melakukan percobaan. Berdasarkan teori kontruktivisme siswa harus membangun pengetahuan serta menemukan konsep sendiri dengan memaksimalkan seluruh aktivitas berfikirnya. Tugas guru pada fase ini memberikan bimbingan dengan memberi pertanyaan maupun kata kunci yang dapat memancing siswa untuk menemukan fakta, konsep maupun prinsip dari materi yang sedang dipelajari.

Fase 5 : (Closure)

Pada fase ini diharapkan siswa dapat menyimpulkan keseluruhan kegiatan pembelajaran dimulai dari fenomena mengenai materi asam basa. Guru memberikan penguatan atas jawaban dari siswa agar mendapat kesimpulan yang tepat. Pada fase 5 ini juga siswa diminta untuk merefleksikan fenomena yang telah diberikan dengan materi pembelajaran. (Kurniati et al., 2021) Pada model pembelajaran POGIL merupakan salah satu model pembelajaran yang dalam pelaksanaannya, model ini berorientasi pada teori konstruktivik. Siswa dapat termotivasi untuk mampu menemukan makna serta mengembangkan pengetahuan secara individual dari pengalamannya sendiri melalui pembelajaran konstruktivik. Dalam tahapan model POGIL terdapat beberapa tahap yaitu eksplorasi dan penemuan konsep, dimana siswa dituntut untuk mengenali dan mengolah informasi yang telah didapat, sehingga siswa menemukan konsep yang dimaksud. Penggunaan model POGIL dalam proses pembelajaran menjadikan mampu dapat meningkatkan hasil belajar siswa ranah kognitif (Putri & Gazali, 2021).

Langkah-langkah diatas merupakan petunjuk bagaimana penerapan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran POGIL. Model pembelajaran POGIL akan terlaksana dengan baik apabila langkah-langkah dalam model dilaksanakan dengan baik sesuai dengan yang sudah dirumuskan. Sedangkan langkah-langkah kegiatan POGIL menurut Hanson (2006) seperti pada Tabel berikut.

NoTahapRincian Kegiatan
1Orientasi Merupakan langkah untuk mempersiapkan siswa untuk belajar secara fisik dan psikis. Pada langkah ini kegiatan yang dilakukan guru adalah:
  1. memberikan motivasi kepada siswa untuk mengikuti aktivitas belajar, menentukan tujuan pembelajaran.
  2. menentukan kriteria hasil belajar siswa, yang menunjukkan apakah seorang siswa telah mencapai tujuan pembelajaran atau
    belum.
  3. menciptakan ketertarikan siswa (student interest in science),
  4. menimbulkan rasa ingin tahu siswa dan membuat hubungan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sebelumnya baik melalui pengalaman maupun pengamatan yang mereka telah lakukan.
  5. menyajikan narasi, ilustrasi, demonstrasi atau video yang dapat diobservasi oleh siswa untuk memulai mempelajari hal baru, yang kemudian harus di analisis oleh siswa.
Pada tahap ini, setelah melakukan observasi siswa diharapkan dapat mengkomunikasikan hasil observasi, mengklasifikasi kan,membuat inferensi (deduksi atau kesimpulan berdasarkan hasil observasi) ataupun melakukan pengukuran.
2EksplorasiPada bagian ini guru memberikan siswa rencana atau seperangkat penugasan atau kegiatan yang akan siswa lakukan, sebagai panduan bagi siswa mengenai apa yang akan dilakukan, untuk mencapai tujuan pembelajaran.Pada tahap ini siswa memiliki kesempatan untuk:
  1. menentukan variabel yang dibutuhkan dan akan dianalisis berdasarkan hasil observasi pada tahap sebelumnya
  2. mengusulkan hipotesis (menyatakan hubungan antar variabel)
  3. merancang percobaan untuk menguji hipotesis,
  4. mengumpulkan data berdasarkan rancangan percobaan yang telah dibuat.
  5. memeriksa/menganalisis data atau informasi
  6. mendeskripsikan hubungan antar variabel berdasarkan data yang telah dikumpulkan melalui percobaan.
3Pembentukan
konsep
Sebagai hasil dari langkah eksplorasi, diharapkan siswa dapat menemukan, memperkenalkan atau membentuk konsep. Tahap ini dilakukan dengan guru memberikan pertanyaan yang dapat menuntun siswa untuk berpikir kritis dan analitis dihubungkan dengan apa yang telah siswa lakukan pada bagian eksplorasi.Pertanyaan-pertanyaan ini berfungsi untuk membantu siswa mendefinisikan latihan, membimbing siswa kepada informasi, menuntun siswa untuk membuka hubungan dan simpulan yang tepat, dan membantu siswa untuk mengkontruksi kemampuan kognitif melalui pembelajaran
4AplikasiKetika konsep telah diidentifikasi melalui langkah-langkah sebelumnya, maka perlu untuk memperkuat dan memperluas pemahaman mengenai
konsep tersebut. Pada tahap ini, siswa menggunakan konsep baru dalam latihan, masalah dan bahkan situasi penelitian.
  1. Latihan (exercise) memberikan kesempatan siswa untuk membangun kepercayaan diri dengan memberikan masalah sederhana atau konteks yang familiar.
  2. Masalah berupa transfer pengetahuan baru ke konteks yang belum familiar, mensintesis dengan pengetahuan lainnya dan menggunakan pengetahuan tersebut dengan cara berbeda untuk menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan konteks dunia nyata.
  3. Research question berupa mengembangkan pembelajaran dengan memunculkan isu-isu baru, pertanyaan atau hipotesis.
5PenutupAktifitas pembelajaran diakhiri dengan siswa memvalidasi hasil yang telah mereka capai, merefleksikan apa yang telah dipelajari dan mengases performance mereka dalam belajar. Validasi dilakukan dengan melaporkan hasil yang mereka peroleh dengan rekan satu kelas dan guru, untuk mengetahu perspektif mereka mengenai konten dan kualitas konten. Pada bagian ini juga siswa diminta untuk melakukan self assessment, dengan mengisi lembar penilaian diri. Self assessment merupakan kunci untuk meningkatkan performance siswa. Ketika mereka tahu yang mereka lakukan baik, maka mereka akan mempertahankan bahkan akan mengembangkan hal positf tersebut.

Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran POGIL

Kelebihan Model Pembelajaran POGIL

Menurut Devi et al. (2019) menyatakan bahwa model pembelajaran POGIL secara efektif dapat memberikan ruang dan kesempatan bagi siswa untuk dapat aktif selama proses pembelajaran. Oleh karenanya model ini memiliki beberapa kelebihan, yaitu:

  1. Pembelajaran POGIL memberi ruang bagi siswa untuk aktif dalam belajar secara kooperatif.
  2. Siswa terlebih dahulu menyiapkan diri mengenai materi yang akan dipelajari.
  3. Merangsang kemampuan berpikir siswa.
  4. Meningkatkan aktivitas belajar siswa melalui kegiatan percobaan sehingga siswa dapat bertukar pendapat dan memberi solusi.
  5. Mendorong siswa berani tampil di depan kelas untuk mempersentasikan hasil hipotesisnya.

Menurut Kurniati et al. (2021) yang dibuktikan dengan penelitian yang telah dilakukannya, memuat bahwa model pembelajaran POGIL memiliki kelebihan. Kelebihan dengan model pembelajaran POGIL ini yaitu:

  1. Model pembelajaran POGIL menekankan penemuan pengetahuan baru dalam proses belajar siswa yang dilakukan secara kelompok.
  2. Model POGIL dapat memperbaiki kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran secara inkuiri. Hal ini disebabkan karena model pembelajaran Process Oriented Guided Inquiry Learning (POGIL) mempunyai tahap pembelajaran yang sistematis dan mudah dipahami guru, sehingga guru dapat melaksanakan proses pembelajaran dengan mudah dan baik.
  3. Penerapan model Process Oriented Guided Inquiry Learning (POGIL) saat proses pembelajaran juga memudahkan guru untuk menjadikan suasana belajar yang menyenangkan karena siswa dibimbing untuk menemukan sendiri mengenai konsep, definisi maupun prosedural dari materi yang sedang dipelajari, dan siswa juga akan diberikan ruang untuk saling bertukar pendapat dengan siswa lain lebih tepatnya kelompok lain dan dapat mengoreksi letak kekurangan hasil diskusi kelompok masingmasing.

Kekurangan Model Pembelajaran POGIL

Adapun kekurangan penggunaan model pembelajaran POGIL yaitu:

  1. Model pembelajaran Process Oriented Guided Inquiry Learning (POGIL) membutuhkan waktu yang cukup panjang, oleh sebab itu guru harus memiliki perencanaan dan persiapan yang matang sebelum menerapkan model pembelajaran ini terhadap siswa, agar tidak mengganggu alokasi waktu yang sudah disusun dan materi dapat tersampaikan sesuai dengan alokasi waktu yang sudah ditentukan.
  2. Pembagian peran siswa tiap kelompok cenderung sulit untuk dilakukan. Oleh karena itu guru sebagai monitoring dan fasilitator sangat diperlukan. Guru harus berupaya mengatur proses pembelajaran dalam mengases performansi siswa baik.
  3. Memerlukan kemauan dan motivasi guru yang bagus untuk keberhasilan proses pembelajaran siswa.

Kekurangan model pembelajaran POGIL ini dapat diminimalisir, sebelum pembelajaran dilakukan guru harus mempunyai persiapan yang matang, menguasai materi ajar, dan memiliki motivasi yang tinggi sehingga dapat memotivasi siswa dalam pembelajaran.