Diperbarui tanggal 30/Nov/2021

Model Pembelajaran Learning Cycle Tipe 5E

kategori Model-model Pembelajaran / tanggal diterbitkan 30 November 2021 / dikunjungi: 19.90rb kali

Model Pembelajaran Learning Cycle (LC)

Learning cycle adalah suatu model pembelajaran yang berpusat pada siswa yang merupakan rangkaian tahap-tahap kegiatan (fase) yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga siswa dapat menguasai kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan berperan aktif (Fajaroh, 2008). LC (Learning Cycle), yaitu suatu model pembelajaran yang berpusat pada pelajar (student centered). LC merupakan rangkaian tahap-tahap kegiatan (fase) yang diorganisasikan sedemikian rupa sehingga pelajar dapat menguasai kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperan aktif. LC (Learning Cycle) patut di kedepankan karena sesuai dengan teori belajar Piaget, teori belajar yang berbasis konstruktivisme. Piaget menyatakan bahwa, “belajar merupakan pengembangan aspek kognitif yang meliputi: struktur, isi dan fungsi”. “Struktur intelektual adalah organisasi-organisasi mental tingkat tinggi yang dimiliki individu untuk memecahkan masalah-masalah. Isi adalah perilaku khas individu dalam merespon masalah yang dihadapi. Sedangkan fungsi merupakan proses perkembangan intelektual yang mencakup adaptasi dan organisasi”, (Ngalimun, 2012).

Adaptasi terdiri atas asimilasi dan akomodasi. Pada proses asimilasi individu menggunakan struktur kognitif yang sudah ada untuk memberikan respon terhadap rangsangan yang diterimanya. Dalam asimilasi individu berinteraksi dengan data yang ada di lingkungan untuk diproses dalam struktur mentalnya. Dalam proses ini struktur mental individu dapat berubah, sehingga terjadi akomodasi. Pada kondisi ini individu melakukan modifikasi dari struktur yang ada, sehingga terjadi pengembangan struktur mental. Pemerolehan konsep baru akan berdampak pada konsep yang telah dimiliki individu. Sehingga individu harus dapat menghubungkan konsep yang baru dipelajari dengan konsep-konsep lain dalam suatu hubungan antar konsep. Konsep yang baru harus diorgansasikan dengan konsep-konsep lain yang telah dimiliki. Organisasi yang baik dari intelektual seseorang akan tercermin dari respon yang diberikan dalam menghadapi masalah.

Ciri khas model pembelajaran LC (Learning Cycle), ini adalah setiap siswa secara individual belajar materi pembelajaran yang sudah dipersiapkan guru yang kemudian hasil belajar individual dibawa ke kelompok-kelompok untuk di diskusikan oleh anggota kelompok, dan semua anggota kelompok bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban sebagai tanggung jawab bersama. Kelebihan model pembelajaran LC (Learning Cycle) meningkatkan motivasi belajar karena pelajar dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran. Dapat memberikan kondisi belajar yang menyenangkan, meningkatkan keterampilan sosial dan aktivitas siswa, membantu siswa dalam memahami dan menguasai konsep-konsep fisika yang telah  dipelajari melalui kegiatan atau belajar secara berkelompok, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar fisika siswa. Sehingga, model pembelajaran LC (Learning Cycle) ini cocok diterapkan dalam pembelajaran fisika karena dapat mengatasi kesulitan belajar siswa secara individu untuk memahami konsep karena lebih banyak digunakan untuk pemecahan masalah.

Sistem sosial yang berlaku dan berlangsung dalam model Learning Cycle bersifat Demokratis. Setiap siswa diberi kebebasan untuk mengemukakan pendapat berupa jawaban dan pertanyaan sehingga tercipta suasana belajar yang aktif. Siswa juga dituntut bekerja sama dengan teman sehingga terjalin interaksi antar siswa. Guru berperan sebagai penasehat, konsultan dan pemberi kritik terhadap kinerja siswa. Guru berupaya menciptakan kegiatan pembelajaran yang menuntut terjadi interaksi antara siswa dengan siswa yang lain maupun antara siswa dengan guru. Didalam penerapan model pembelajaran ini, guru melakukan pengendalian terhadap aktivitas pelajar pada setiap kelompok, antara lain dengan memberikan penjelasan materi atau bacaan yang terkait dengan tugas-tugas kelompok.

Model Pembelajaran Learning Cycle (LC) Tipe 5E

Teknik pembelajaran 5E terkait dengan urutan penyajian pembalajaran yang terdiri dari: Engage (libatkan), Explore ( Eksplorasi), Explain (jelaskan), Extend atau Elaborate (kembangkan), dan Evaluate (evaluasi). Cikal bakal teknik ini sebenarnya sudah ada pada tahun 1970-an dan dikembangkan oleh Science Curriculum Improvement Study (SCIS) pada program pembelajaran sains. Model ini dikembangkan oleh Roger Bybee (1997).

Bybee dalam Warsono dan Hariyanto (2012) mengemukakan tahapan model pembelajaran Learning Cycle (LC) tipe 5E dijelaskan sebagai berikut:

  1. Engage (Libatkan). Pada tahap ini kegiatan pokok pembelajaran bertumpu pada upaya bagaimana meningkatkan minat siswa sambil menilai pemahaman awal para siswa terhadap topik yang dibahas, misalnya melalui suatu kegiatan apersepsi atau jenis advance organizer yang lain.
  2. Explore (Eksplorasi). Pada tahap ini kegaiatan pokok pembelajaran adalah melibatkan siswa dalam pokok bahasan atau topik pembelajaran, memberikan kesempatan kepada mereka untuk membangun pemahamannya sendiri.
  3. Explain (Jelaskan). Pada tahap ini siswa diberi kesempatan untuk mengkomunikasikan apa yang telah dipelajarinya sejauh ini dan menjelaskan maksudnya.
  4. Extend (kembangkan). Pada tahap ini siswa diberi kesempatan untuk menerapkan pengetahuan barunya dan secara berkesinambungan melakukan eksplorasi dari implikasi ini. Pada tahap ini, siswa mengembangkan konsep-konsep yang telah dipelajarinya, membuat jalinan dengan konsep terkait lainnya, kemudian mengaplikasikan pemahamannya ini dalam dunia nyata.
  5. Evaluate (Evaluasi). Pada tahap ini baik siswa maupun guru menilai sejauh mana terjadi pembelajaran dan pemahaman. Dalam hal ini, guru menilai sejauh mana siswa memperoleh pemahaman tentang konsep-konsep pokok bahan ajar dan memperoleh pengetahuan baru. Evaluasi dan penialian (asesmen) dapat berlangsung selama proses pembelajaran.

Sedangkan menurut Fajaroh (2008), tahapan pembelajaran model pembelajaran Learning Cycle (LC) tipe 5E adalah sebagai berikut:

  1. Engagement (mengajak), yaitu fase yang bertujuan mempersiapkan diri siswa agar terkondisi dalam menempuh fase berikutnya dengan jalan mengeksplorasi pengetahuan awal dan ide-ide mereka, serta untuk mengetahui kemungkinan terjadinya miskonsepsi pada pembelajaran sebelumnya. Dalam fase engagement ini minat dan keingintahuan siswa tentang topic yang akan dipelajari berusaha dibangkitkan. Siswa juga diajak membuat prediksi-prediksi tentang fenomena yang akan dipelajari dan dibuktikan dalam tahap eksplorasi.
  2. Exploration (menyelidiki), pada fase ini siswa diberi kesempatan untuk bekerjasama dalam kelompok-kelompok kecil tanpa pengajaran langsung dari guru untuk menguji prediksi, melakukan dan mencatat pengamatan serta ide-ide melalui kegiatan-kegiatan seperti praktikum dan telaah literatur.
  3. Explaination (menjelaskan), dalam fase ini guru mendorong siswa untuk menjelaskan konsep dengan kalimat mereka sendiri, meminta bukti dan klarifikasi dari penjelasan mereka, dan mengarahkan kegiatan diskusi. Pada tahap ini siswa menemukan istilah-istilah dari konsep yang dipelajari.
  4. Elaboration/Extention (memperluas), yaitu siswa menerapkan konsep dan keterampilan dalam situasi baru melalui kegiatan-kegiatan seperti praktikum lanjutan dan problem solving.
  5. Evaluation (evaluasi), dilakukan evaluasi terhadap efektifitas fase-fase sebelumnya dan juga evaluasi terhadap pengetahuan, pemahaman konsep atau kompetensi siswa melalui problem solving dalam konteks baru yang kadang-kadang mendorong siswa melakukan investigasi lebih lanjut.

Dari uraian tahapan-tahapan pembelajaran di atas, dapat diasumsikan pada tahap evaluasi, siswa dan guru bersama-sama melakukan evaluasi tentang sejauh mana siswa memahami pembelajaran yang telah berlangsung.

Bentley dan Ebert dalam Warsono dan Hariyanto (2012), mengemukakan rincian apa yang dilakukan oleh guru dan siswa pada tiap tahapan dinyatakan pada tabel dibawah ini:

  1. Tahap Engage
    Kegiatan SiswaKegiatan Guru
    Mengingat kembali pengetahuan terdahuluMengajukan masalah
    Menaruh minatMengajukan pertanyaan
    Mengalami keraguan atau ketidakseimbangan kognitifMengungkapkan kekurangan suatu konsep
    Memiliki sejumlah pertanyaanMenimbulkan keraguan atau ketidakseimbangan kognitif
    Mengidentifikasi masalah yang akan dipecahkan, membuat keputusan, melakukan resolusi konflikMenilai pengetahuan siswa terdahulu
    Menuliskan pertanyaan, masalah dan lain-lain 
    Mengembangkan rasa ingin tahu 
    Melakukan refleksi diridan evaluasi 
  2. Tahap Explore
    Kegiatan SiswaKegiatan Guru
    Menyusun hipotesis dan melakukan prediksiMengajukan pertanyaan dan pemeriksaan
    Melakukan eksplorasi sumber daya dan bahan-bahan kajianMembuat model jika diperlukan
    Merancang dan merencanakanMembuat saran-saran terbuka
    Mengumpulkan dataMenyediakan sumber daya
    Membangun model-modelMemberikan umpan balik
    Mencari berbagai kemungkinan jawabanMemberikan pemahaman dan proses-proses
    Melakukan refleksi diri dan evaluasi 
  3. Tahap Explain
    Kegiatan SiswaKegiatan Guru
    Membuat klarifikasi pemahaman dirinya terhadap konsep baru yang diterimanyaMengajukan pertanyaan, mengajukan masalah dan isu baru
    Membangun generalisasiMembuat model atau menyarankan berbagai modus yang mungkin
    Melakukan refleksi tentang konsep-konsep yang dapat dipercayaMenawarkan pemecahan masalah alternative
    Mencari penjelasan baruMenyempurnakan penjelasan atau melakukan klarifikasi
    Menggunakan berbagai modus penjelasan (menuliskan, membuat, karya dan lain-lain)Melakukan evaluasi terhadap penjelasan
  4. Tahap Extend
    Kegiatan SiswaKegiatan Guru
    Menerapkan pengetahuan baruMengajukan pertanyaan
    Memecahkan masalahMemberikan umpan balik
    Membuat keputusanMenyediakan sumber daya
    Melaksanakan tugas-tugas baru yang berkaitanMengajukan saran-saran terbuka
    Melakukan resolusi konflikMembuat model jika diperlukan
    Merencanakan dan melaksanakan proyek baruMelakukan evaluasi
    Mengajukan pertanyaan baru 
    Mencari klarifikasi lebih lanjut 

 

Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Learning cycle type 5E

Kelebihan

Beberapa kelebihan, diantaranya:

  1. Merangsang kembali siswa untuk mengingat kembali materi pelajaran yang telah mereka dapatkan sebelumnya.
  2. Memberikan motivasi kepeda siswa untuk lebih aktif dalam pembelajaran dan menambah rasa keingintahuan.
  3. Melatih siswa belajar menemukan konsep melalui kegiatan eksperimen.
  4. Melatih siswa untuk menyampaikan secara lisan konsep yang telah mereka pelajari.
  5. Memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir, mencari, menemukan dan menjelaskan contoh penerapan konsep yang telah dipelajari.

Kekurangan

  1. Siswa masih belum terbiasa dengan pembelajaran yang baru, sehingga siswa hanya duduk dan diam di kelas sambil mendengarkan dan mencatat keterangan yang diberikan oleh guru atau dari temannya. Usaha yang dilakukan untuk merubah sikap ini adalah dengan mengelompokkan siswa dengan siswa yang aktif dalam kegiatan pembelajaran agar siswa dapat termotivasi. Selain itu, guru menunjuk siswa tersebut menjadi ketua kelompok agar mempunyai tanggung jawab dan menjadi lebih aktif.
  2. Terbatasnya waktu pembelajaran yang mengakibatkan kurang optimal khususnya pada tahap Explore. Usaha yang dilakukan untuk memaksimalkan proses pembelajaran adalah dengan mengevaluasi kegiatan pembelajaran setiap pertemuan dan mengatur waktu dengan sebaik mungkin agar tahapan pembelajaran tercapai.
  3. Ada beberapa siswa yang kurang suka mencatat sehingga saat guru memberikan tugas yang akan dikerjakan, siswa ini tidak memiliki catatan dan berakibat tugas kurang optimal. Usaha yang dilakukan untuk merubah sikap siswa seperti ini adalah dengan mengumpulkan catatan siswa pada akhir pembelajaran.

Untuk mengantisipasi kekurangan penerapan model pembelajaran Learning Cycle maka guru harus memperhatikan hal sebagai berikut:

    1. Efektifitas pembelajaran rendah jika guru kurang menguasai materi dan langkah-langkah pembelajaran.
    2. Menuntut kesungguhan dan kreativitas guru dalam merancang dan melaksanakan proses pembelajaran.
    3. Memerlukan pengelolaan kelas yang lebih terencana dan terorganisasi.
    4. Memerlukan waktu dan tenaga yang lebih banyak dalam menyusun rencana dan melaksanakan pembelajaran.