Diperbarui tanggal 14/05/2023

Learned helplessness

kategori Belajar dan Pembelajaran / tanggal diterbitkan 14 Mei 2023 / dikunjungi: 0.94rb kali

Pengertian Learned helplessness (Ketidakberdayaan Belajar)

Menurut Dayaksini dalam Aulia Riski (2012) menjelaskan bahwa Learned Helplessness (Ketidakberdayaan Belajar) merupakan perasaan kurang mampu mengendalikan lingkungannya yang membimbing pada sikap menyerah atau putus asa dan mengarahkan pada atribusi diri yang kuat bahwa dirinya tidak mempunyai kemampuan. Menurut pendapat tersebut learned helplessness akan cepat menyerah dan putus asa karena tidak dapat mengendalikan lingkungannya, individu yang mengalami learned helplessness menganggap dirinya tidak mempunyai kemampuan dalam bidang apapun. Menurut Peterson, Maier, & Seligman dalam (Cemalcilar et. al, 2003), learned helplessness adalah suatu keadaan ketika pengalaman dengan kejadian yang tidak dapat dikontrol mengarah pada harapan bahwa kejadian – kejadian di masa mendatang akan tidak dapat dikontrol juga. Menurut Seligman dalam Miller (2006) Learned Helplessness adalah kecenderungan untuk mengatribusikan kejadian sebagai berikut:

  1. Personalisasi Internal, yaitu bahwa semua kejadian yang buruk disebabkan karena dirinya sendiri, sedangkan kejadian yang baik disebabkan karena lingkungan eksternal (ketidakberdayaan yang bersumber dari diri sendiri).
  2. Pervasif, yaitu dijelaskan bahwa keyakinan akan kegagalan berdampak pada kegagalan di semua aspek kehidupannya atau pada semua situasi dan kondisi.
  3. Permanen, dijelaskan bahwa sesuatu itu memiliki jangka waktu dan tidak akan berubah atau bisa jadi lebih parah.

Berdasarkan beberapa pengertian yang dikemukakan dapat ditarik kesimpulan behwa Learned Helplessness adalah kondisi dimana seseorang merasa menyerah dan putus asa terhadap kejadian yang sedang dialami sebelumnya, dan mengagap semua itu terjadi karena kecenderungan dirinya untuk mengatribusikan kejadian tersebut sebagai sesuatu yang bersifat permanen.

Ciri-ciri learned helplessness

Seligman (dalam Halgin & Whitbourne, 2003) juga menjelaskan, perilaku yang ditunjukkan dari learned helplessness mirip dengan orang yang depresi, individu menunjukkan perilaku ini dalam menanggapi pengalaman sebelumnya dimana individu merasa tidak berdaya untuk mengendalikan nasibnya, yakni sebagai berikut:

  1. Sulit melihat peluang
    Hal ini dikarenakan kegagalan terus menerus yang didapatkan oleh individu tersebut sehingga menimbulkan pemikiran pada individu yang helpless bahwa tidak ada yang individu dapat lakukan, selama ini tindakan yang dilakukan tidak mendapat respon bantuan, maka tidak akan ada bantuan bagi individu di kemudian hari.
  2. Sikap yang pasif
    Individu yang helpless akhirnya bersikap pasif karena belajar bahwa tindakan-tindakan yang dilakukan dan diusahakan hanya menghasilkan kegagalan, maka pengulangan tindakan adalah sia-sia dan lebih baik untuk pasif saja.
  3. Perilaku rendahnya harapan akan keberhasilan
    Individu yang helpless juga memiliki harapan yang rendah akan keberhasilan disebabkan oleh kegagalan yang selama ini dialami secara berulang-ulang, sehingga menyimpulkan bahwa dirinya “bodoh” maka tidak akan berhasil hingga seterusnya.
  4. Menganggap dirinya tidak memiliki kemampuan
    Menganggap bahwa dirinya tidak memiliki kemampuan juga salah satu perilaku yang ditunjukkan oleh individu yang helpless, hal ini dikarenakan kegagalan selalu berulang dan terus-menerus terjadi sebagai hasil dari usaha yang dilakukan individu, maka individu mempelajari bahwa keadaan tidak berubah karena individu tidak memiliki kemampuan untuk merubahnya sehingga keadaan tidak akan pernah dapat berubah.
  5. Berkurangnya usaha individu
    Karena mempelajari bahwa usaha apapun yang dilakukan pada akhirnya akan berujung pada kegagalan, ditambah tidak ada kemampuan maka tidak perlu melakukan usaha apalagi mengulang usaha yang sudah jelas gagal atau bahkan dalam titik tertentu.
  6. Individu memilih untuk berperilaku tidak lagi berusaha
    Sebab segala usaha yang gagal hanya menimbulkan kelelahan dalam percobaan mengendalikan lingkungan, situasi kegagalan yang tidak dapat diubah memunculkan pemikiran tidak perlu bersusah payah dalam tindakan yang hasilnya akan sama gagal

Berdasarkan pendapat di atas dapat dipahami bahwa ciri-ciri learned helplessness adalah individu merasa putus asa dan mulai berhenti berusaha karena individu meyakini dan merasa takut dirinya tidak akan mampu melakukan hal yang akan dilakukan nantinya, dan individu mulai membuat persepsi bahwa tidak akan mendapat bantuan dari orang-orang disekitarnya. Dari ciri-ciri yang ditunjukkan tersebut, hal yang paling mengerikan yang dapat dilakukan oleh individu yang mengalami learned helplessness saat ia sudah merasa berada pada kondisi yang penuh tekanan adalah dengan melakukan hal-hal yang terlarang.

Proses Terjadinya Learned Helplessness

Menurut Sarafino & Smith (2012) Learned helplessness muncul disebabkan oleh rasa tidak berdaya dan rasa terperangkap seseorang yang tidak dapat menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Abramson dalam Hoeksema (2007) berpendapat bahwa rasa putus asa semakin berkembang ketika individu membangun penilaian pesimis bagi diri sendiri dalam menghadapi kejadian dalam hidupnya dan merasa tidak memiliki cara untuk menghadapi peristiwa dalam hidupnya tersebut. Pada lingkungan yang tidak dapat dikendalikan seperti yang telah dijelaskan di atas, kondisi belajar di sekolah cenderung mengarahkan individu kepada sikap menyerah atau putus asa dan mengatribusikan diri tidak memiliki kemampuan dalam dirinya. Menurut Anni dalam Aulia (2012) Learned helplessness muncul dari pengharapan terhadap penghargaan yang tidak dapat di prediksi. Menurut Hall & Lindzy dalam Zakariyya (2013) Karakteristik yang jelas terlihat pada individu yang mengalami Learned helplessness adalah menghilangnya kesediaan untuk menghadapi hal yang memiliki kemungkinan dapat dikuasai. Individu dapat juga membentuk kebiasaan untuk berhenti mencoba disebabkan oleh kegagalan yang terjadi secara beruntun dialami oleh individu tersebut.

Menurut Seligman, dalam Miller (2006) Individu yang mengalami learned helplessness cenderung untuk mengatribusi kejadian secara internal, dimana kejadian yang buruk bersumber karena dirinya sendiri. Selain itu learned heplessness yang terjadi juga bersifat menyeluruh dan permanen. Berdasarkan penjelasan di atas bahwa learned helplessness terjadi ketika individu tidak dapat memprediksi penghargaan. Misalnya, siswa telah belajar dengan baik, hal yang diinginkan siswa tentu memperoleh nilai yang baik tetapi pada kenyataannya siswa tersebut gagal dan hasil yang diperolehnya tidak sesuai degan keinginan sehingga siswa tersebut tidak memiliki ketidak berdayaan. Selain itu hukuman dari lingkungan sekitar juga menjadikan individu atau siswa mengalami learned helplessness.

Dimensi Learned Helplessness

Seligman dalam Sarafrino & Smith (2012) menerapkan proses kognitif yang disebut atribusi pada revisi teori learned helplessness, di mana ada penilaian tentang 3 dimensi situasi, yakni:

  1. Internal-eksternal, yaitu individu menilai apakah ketidakmampuan mengontrol situasi adalah dari dalam diri, ataukah karena sebab eksternal yang bahkan di luar kendali siapapun. Contohnya adalah individu cenderung menyalahkan diri sendiri dan berpikir dirinya tidak memiliki kemampuan.
  2. Stabil-tidak stabil yaitu penilaian apakah keadaan atau situasi ini bersifat tahan lama (stabil), akan terus terjadi, ataukah tidak stabil yaitu bersifat sementara, yakni penilaian Penilaian akan situasi yang stabil ini membuat individu merasa bahwa ia akan selalu terjebak, tidak akan pernah berhasil, akan selalu gagal.
  3. Global-spesifik, yaitu penggeneralisasian efek kegagalan yang dialami secara menyeluruh, inidividu akan merasa benar-benar tidak berdaya, kemudian menilai bahwa peristiwa negatif yang terjadi akan terjadi juga di seluruh bidang kehidupan individu sehingga kegagalan akan terus terjadi di berbagai usaha yang individu lakukan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Learned Helplessness

Adapun faktor penyebab individu mengalami learned helplessness Cullen dan Boersma dalam Prasetya (2010) mengemukakan bahwa learned helplessness dipengaruhi oleh tindakan orang tua maupun guru terhadap siswa. Orang tua atau guru yang berungkali menyampaikan pada anak bahwa kegagalannya disebabkan oleh ketidakmampuannya dan bukan karena bahwa mereka kurang berusaha untuk mencapai yang lebih baik, akan cenderung menimbulkan perasaan helplessness atau ketidak berdayaan pada diri anak. Menurut Prayogo & Rehulina (2013) pada kenyataannya tidak semua orang mengalami learned helplessness ketika menghadapi suatu kejadian negatif, kegagalan, atau keadaan tidak dapat dikontrol oleh individu. Kondisi ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor berikut, harga diri, kecerdasan adversitas, persepsi terhadap kontrol, lokus kendali, kepribadian, faktor otonomi, efikasi diri, dan strategi penanggulangan.

Berdasarkan pemaparan di atas, tidak semua orang mengalami learned helplessness. Learned helplessness hanya akan terjadi jika seseorang tidak bisa bangkit dari keterpurukan karena kegagalan yang ia alami, dan hal itu didukung oleh beberapa faktor seperti yang telah dijelaskan di atas.

Dampak Learned Helplessness

Seligman dalam Lubis (2009) mengungkapkan bahwa Learned helplessness mengakibatkan gangguan emosional seperti depresi ringan atau sedang, meningkatkan kecemasan, perasaan tertekan, penurunan motivasi yakni merasa diri tidak memiliki kemampuan, usaha apapun akan berujung kegagalan sehingga memunculkan rasa menyerah, serta penurunan kognitif yaitu gagalnya individu dalam mempelajari respon-respon baru yang dapat membantu individu keluar dari permasalahan atau keadaan yang membuat individu tertekan.

Menurut Papalia dkk (2009) Keyakinan individu bahwa dirinya adalah “bodoh dan “tidak mampu? menyebabkan tidak adanya usaha individu untuk mengembangkan kognitif dalam melihat jalan keluar ataupun peluang untuk dapat menangani atau mengontrol keadaan yang terjadi. Menurut Slavin (2009) hal inilah yang menyebabkan individu yang helplessness tidak mengembangkan kognitifnya dalam mencari jalan keluar dari permasalahannya.

Seligman juga mengemukakan 4 hal sebagai akibat dari learned helplessness sebagai berikut:

  1. Jika seseorang sering mengalami kejadian-kejadian yang tidak dapat dikontrolnya, hal ini akan berakibat pada penurunan motivasi individu untuk bertingkah laku dengan cara terntentu yang sebenarnya dalam situasi tertentu dapat merubah hasil akhir dari suatu kejadian.
  2. Pengalaman masa lalu dengan kejadian yang tidak dapat dikontrol akan mengurangi kemampuan individu untuk belajar bahwa kejadian-kejadian tertentu dapat diubah dengan tingkah laku tertentu pula.
  3. Pengalaman yang berulang-ulang dengan kejadian-kejadian yang tidak dapat dikontrol akan mengarah pada perasaan tidak berdaya. Individuindividu akan mengatribusikan ketidakberdayaan pada diri mereka sendiri atau pada kejadian-kejadian khusus dan orang-orang di lingkungan sekitarnya.

Maier & Seligman dalam Taylor (2003), menngungkapkan jika learned helplessness menghasilkan penurunan dalam tiga area, yaitu:

  1. Motivational Individu belajar bahwa hasil yang diperoleh dari suatu kejadian merupakan hal yang tidak dapat dikontrol, sehingga individu cenderung kurang dapat memulai berespon.
  2. Cognitive Secara kognitif, individu belajar bahwa hasil yang diperoleh dari suatu kejadian merupakan pembelajaran tersembunyi yang tidak dapat dikontrol.
  3. Emotional Prediksi emosional meliputi perasaan depresi setelah belajar bahwa hasil merupakan hal yang tidak dapat dikontrol.

Berdasarkan pendapat di atas, ada beberapa akibat dari learned helplessness yaitu motivasi akan berkurang, munculnya teori atau persepsi baru, dan emosi yang mulai tidak stabil.