Diperbarui tanggal 9/08/2023

Karakter Disiplin Diri Anak Usia 4-5 Tahun

kategori Pendidikan Anak Usia Dini / tanggal diterbitkan 9 Agustus 2023 / dikunjungi: 619 kali

Pentingnya Pembentukan Karakter Pada Anak Usia Dini

Fakta dilapangan bahwa masih banyak pakar pendidikan yang hanya mengutamakan pendidikan dari aspek kognitif (menjadikan anak pintar) dan mengabaikan aspek afektif (menjadikan anak berkarakter). Ada banyak fenomena yang dapat dijadikan indikator bahwa pendidikan di Indonesia selama ini lebih mengutamakan aspek kognitif dibandingkan dengan aspek afektif, seperti

  1. Mayoritas anak tidak dapat bekerja sama saat melaksanakan tugas kelompok di sekolahnya;
  2. Anak belajar hanya untuk mengejar nilai yang tinggi;
  3. Semakin tidak tabunya budaya mencontek;
  4. Masih banyaknya guru yang senang dengan metode ceramah asalkan pengetahuan yang dimiliki dapat di utarakan tanpa melibatkan respon peserta didik;
  5. Nilai ujian dijadikan tolak ukur keberhasilan peserta didik.

Jika diamati lebih teliti, bangsa Indonesia sedang mengalami dampak dari dilakukannya penerapan pendidikan yang mengabaikan aspek afektif (karakter). Rusaknya moral bansa ini semakin menjadi dan terlihat dari banyaknya kasus korupsi, asusila, kejahatan, kriminalitas pada semua sector pembangunan yang terus bertambah. Untuk mengatasi problematika tersebut, pendidikan Indonesia harus diarahkan pada pendidikan karakter. Bung Karno mengemukakan bahwa “Pembentukan karakter harus diutamakan dalam membangun bangsa ini karena Indonesia akan menjadi bangsa yang besar, maju dan jaya serta bermartabat melalui pembentukan karakter.

Jika pembentukan karakter tidak dilaksanakan, bangsa Indonesia akan menjadi bangsa kuli. Pendidikan karakter merupakan usaha untuk mendidik anak agar menjadi pribadi yang cerdas dalam mengambil keputusan serta bijaksana dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat berkontribusi positif terhadap lingkungan disekitar anak. Melalui pendidikan karakter diharapkan anak dapat secara mandiri meningkatkan dan mengimplikasikan pengetahuannya, mengkaji dan mempersonalisasi nilai-nilai karakter agar terwujud dan menjadi kebiasaan-kebiasaan yang baik dalam kehidupan sehari-hari. (Wiyani, 2012 : 12).

Pengertian Kedisiplinan Bagi Anak Usia Dini

Kedisiplinan berasal dari kata disiplin. Secara etimologi, kata disiplin berasal dari bahasa Latin, yaitu disciplina dan discipulus yang memiliki makna perintah dan peserta didik. Jadi, disiplin adalah perintah yang diberikan oleh orang tua ataupun guru kepada individu baik sebagai murid ataupun seorang anak. Dalam KBBI, terdapat tiga makna disiplin, yaitu tata tertib, ketaatan dan bidang studi. Tata tertib adalah peraturan yang harus ditaati dan dilaksanakan. Jika tidak dilakukan, si pelanggar akan diberikan sanksi. Itulah mengapa disiplin selalu dikaitkan dengan peraturan dan hukuman. Berdasarkan gambaran diatas, peneliti menyimpulkan bahwa pada dasarnya kedisiplinan bagi anak usia dini adalah suatu cara kontrol diri terhadap perilaku anak sesuai tahap perkembangan dan usia nya (0-6 Tahun) dengan mempertimbangkan ketentuan yang berlaku (seperti norma, tatanan nilai dan tata tertib yang dibuat dan diberlakukan baik dirumah maupun disekolah).

Pada dasarnya terdapat dua hal yang dibentuk oleh guru PAUD dan orang tua terkait dengan karakter disiplin bagi anak usia dini, yaitu:

  1. Mendidik anak untuk berperilaku baik.
  2. Mendidik anak agar menjauhi perilaku yang buruk.

Jadi, tujuan yang hendak dicapai dari pembentukan karakter disiplin adalah membentuk anak berperilaku baik serta terbiasa memiliki kendali diri sehingga meminimalisir memiliki perilaku yang buruk. Sedari dini, orang tua harus memebentuk kedisiplinan pada anak dalam semua aspek kehidupannya. Seperti disiplin waktu, disiplin dalam mandi, disiplin dalam makan, disiplin dalam istirahat, disiplin ibadah, disiplin belajar juga disiplin dalam meraih cita-citanya. Mendidik disiplin harus dilakukan secara istiqomah dan sepanjang waktu. Agar disiplin menjadi kebiasaan yang bermuara menjadi bagian dari karakter anak. misal, anak yang terbiasa dibangunkan sholat subuh makan beribadah akan menjadi kebiasaanya dan tidak terasa berat dalam melakukannya.

Konsep Disiplin

Anak Konsep terpenting tentang mengenalkan kedisiplinan adalah bahwa disiplin yang diberikan kepada anak haruslah sesuai dengan tahap perkembangan dan usia anak tersebut. Menurut Sujiono & Syamsiatin (2003:33) perkembangan disiplin pada anak usia 0 - 8 tahun sebagai berikut:

1. Perkembangan pada masa bayi (0 – 3 tahun)

Ketika masa bayi, bayi harus belajar melakukan reaksi-reaksi yang benar pada berbagai situasi tertentu saat di rumah dan di sekelilingnya. Tindakan yang salah haruslah selalu dianggap salah, terlepas siapa yang mengasuhnya. Kalau tidak, bayi akan bingung dan tidak mengetahui apa yang diharapkan darinya. Fenomena yang tampak pada usia 0 – 8 tahun adalah disiplin berdasarkan pembentukan kebiasaan dari orang lain terutama ibunya, misalnya:

  1. Menyusui tepat pada waktunya;
  2. Makan tepat pada waktunya;
  3. Tidur tepat pada waktunya;
  4. Berlatih buang air seni (toilet training).

2. Perkembangan pada masa kanak-kanak (3 – 8 tahun).

Fenomena yang tampak adalah:

  1. Anak mulai patuh terhadap tuntutan atau aturan orang tua dan lingkungan sosialnya.
  2. Dapat merapikan kembali mainan yang habis pakai;
  3. Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan;
  4. Membuat peraturan/tata tertib di rumah secara menyeluruh.

Unsur-Unsur Kedisiplinan Anak Usia Dini

Disiplin harus dibentuk secara terus menerus kepada anak karena disiplin sangat bermakna bagi anak. Kebiasaan, peraturan, dan hukuman adalah tiga unsure dalam disiplin. Disiplin yang terus dilatih dan diajarkan terus menerus kepada anak akan menjadi kebiasaan. Namun, dalam menjalankan kedisiplinan biasanya diiringi oleh peraturan serta hukuman yang berlaku. Peraturan merupakan pedoman bagi setiap orang dalam suatu masyarakat. Dalam peraturan tersebut terdapat apresiasi dan juga hukuman. Anak akan mendapat hukuman bila melanggar dan mendapatkan apresiasi ketika menunjukkan kepatuhan. Peraturan memiliki dua fungsi penting yaitu fungsi pendidikan dan fungsi preventif. Dikemukakan sebagai fungsi pendidikan karena peraturan dapat menjadi alat untuk memperkenalkan perilaku yang disetujui suatu kelompok kepada anak. selain itu, sebagai fungsi preventif karena peraturan membantu menjauhkan anak drai perilaku yang tidak diinginkan.

Peraturan yang dilaksanakan secara efektif dapat membantu seorang anak agar mereka merasa terlindungi sehingga anak anak termotivasi untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak baik. Oleh karena itu, isi peraturan harus mencerminkan hubungan yang serasi di antara anggota keluarga. (Fajjaria, 2011 : 53) Sementara itu, hukuman adalah suatu sanksi yang diterima oleh individu sebagai akibat karena telah melanggar aturan yang berlaku. Hukuman tersebut dapat berupa material dan nonmaterial. Hukuman terdengar memiliki konotasi yang negatif. Namun, pada dasarnya setiap hukuman memiliki tujuan ke arah kebaikan dan perbaikan. Walupun, bagi anak hukuman terserbut terasa merugikan dikarenkakan pola asuhpikirnya belum dewasa. Bagi pihak lain yaitu orang tua, hukuman tersebut pasti bermanfaat (Halim, 1986 : 244).

Hukuman dapat menjadi efektif bila diiringi dengan kegiatan yang bersifat mendidik. Misalnya anak yang tidak mau sikat gigi sebelum tidur diperingatkan tidak boleh memakan makanan cepat saji atau manisan. Hukuman seperti ini juga efektif untuk mengajarkan anak tentang kesehatan. Membahas tentang disiplin memang tidak akan lepas dari peraturan dan pelanggaran. Hukuman diberlakukan ketika terjadi adanya pelanggaran. Peraturan yang berlaku seharusnya dibangun dengan diiringi lingkungan yang kondusif untuk mencapai kekonsistenan dari penerapan peraturan yang melibatkan orang tua sebagai pemberi aturan dan anak sebagai subjek pelaksana peraturan. Tetapi orang tua juga harus berusaha menjadi role model bagi anak. Hal ini mendukung terciptanya lingkungan yang mendukung terwujudnya perilaku yang diharapkan.. Jadi, pada dasarnya peraturan dan hukuman merupakan metode yang digunakan dalam upaya membentuk kedisiplinan anak.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Disiplin

Kedisiplinan yang ada pada individu bukanlah sikap yang lahir dengan sendirinya, akan tetapi perlunya pengarahan dan bimbingan agar seseoarang individu dapat berlaku disiplin. Setiap anal memiliki tingkat kedisiplinan yang berbeda-beda. Ada anak dengan tingkat kedisiplinan yang tinggi, sedang, maupun rendah. Unaradjan (2003: 27-31) menyebutkan bahwa disiplin dipengaruhi oleh dua faktor.

1. Faktor Intern

Faktor intern merupakan unsur yang berasal dari dalam diri anak. Faktor intern meliputi keadaan fisik dan psikis yang akan mempengaruhi pembentukan disiplin.

Keadaan Fisik

Keadaan fisik yang sehat dapat membuat anak menyelesaikan tugasnya dengan baik. Fisik yang sehat akan meningkatkan kesadaran dan kepercayaan diri sehingga anak akan mentaati peraturan secara bertanggung jawab.

Keadaan Psikis

Keadaan psikis memiliki kaitan yang erat dengan keadaan fisik. mengenalkan norma keluarga dan masyarakat melalui peraturan dan hukuman dapat distimulasi bagi individu yang sehat secara psikis atau fisik. Terdapat beberapa sifat yang dapat menjadi penghalang pembentukan disiplin, yaitu perfeksionisme dan perasaan rendah diri.

2. Faktor-Faktor Ekstern

Faktor ekstern yang merupakan faktor yang berasal dari luar diri anak. Faktor tersebut meliputi keadaan keluarga, keadaan sekolah, dan keadaan masyarakat.

Keadaan Keluarga

Keadaan keluarga sangat berpola asuhterhadap perkembangan pribadi anak karena dimulai dari saat anak lahir dan merupakan lingkungan yang pertama dan sangat dekat pada anak. Keadaan keluarga dapat menjadi faktor pendukung atau penghambat dalam pembinaan disiplin. Orang tua berpola asuh penting dalam menanamkan disiplin dalam keluarga. Orang tua tidak hanya mengajarkan disiplin, namun juga memberikan contoh yang baik sebagai teladan bagi anak agar anak memiliki acuan disiplin terbentuk dari dalam dirinya.

Sekolah

Penanaman disiplin di sekolah bergantung dengan ada tidaknya sarana dan prasarana yang mendukung. Contoh pihak pendukung perkembangan disiplin anak yaitu guru. Guru yang dapat membina kedisiplinan anak secara umum harus memiliki aspek kualifikasi personal dan profesional.

Masyarakat

Masyarakat merupakan lingkungan yang lebih luar daripada keluarga dan sekolah. Lingkungan masyarakat menjadi salah satu temapat seseorang termasuk anak dalam mengalami pergaulan antara individu dengan invidu yang lain. Dari pergaulan inilah akan mempengaruhi terbentuk atau tidak terbentuknya disiplin dalam rangka menyesuaikan dirinya terhadap lingkungan sekitar.

Manfaat Kedisiplinan Pada Anak Usia Dini

Membentuk karakter disiplin anak adalah upaya agar anak memiliki kontrol diri dan berperilaku sesuai nilai dan norma tertentu. Disiplin dapat memberikan rasa aman pada anak karena melalui disiplin anak diberitahu mana yang boleh dilakukan ataupun tidak boleh dilakukan. Disiplin juga dapat menghindari dari perasaan bersalah ataupun malu akibat perilaku yang salah. Itulah mengapa disiplin sangat diperlukan bagi anak karena anak akan mengerti mana yang boleh dilakukan ataupun tidak boleh dilakukan, anak memiliki penyesuaian diri dan sosial yang baik serta kontrol diri yang baik. Anak yang disiplin akan memmperoleh kebahagiaan dan rasa aman dilingkungannya. Brazelton mengemukakan beberapa manfaat yang dapat diraih sejak dini ketika anak memiliki karakter disiplin.

  1. Pengendalian diri serta mengenali dorongan diri seperti apa yang menggerakkan, apa yang menyakiti orang lain, serta belajar mengendalikan diri dari bersikap demikian.
  2. Mengenali perasaan diri dan apa yang menyebabkannya, apa namanya, bagaimana mengekspresikannya, atau bagaimana menyimpannya bila perlu.
  3. Membayangkan perasaan orang lain, memahami apa yang menyebabkannya, peduli pada perasaan orang lain, dan mengetahui akibatnya terhadap orang lain.
  4. Menumbuhkan rasa keadilan dan dorongan untuk berlaku adil.
  5. Mendahulukan kepentingan orang lain, merasa bahagia ketika member, bahkan rela berkorban untuk orang lain.

Berdasarkan pemaparan tersebut, disiplin diri dapat membantu anak untuk mengembangkan perilaku mengendalikan dirinya dan membantu anak dalam mengenali perilakunya yang salah lalu memperbaikinya.

Berbeda dengan Brazelton, Hurlock berpendapat bahwa kedisiplinan diperlukan untuk perkembangan anak karena disiplin memenuhi kebutuhan tertentu sebagai berikut.

  1. Disiplin memberi anak rasa aman dengan memberitahukan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan.
  2. Disiplin memungkinkan anak hidup menurut nilai-nilai tertentu yang berlaku di masyarakat.
  3. Dengan disiplin, anak belajar bersikap menurut cara yang akan mendatangkan pujian yang akan ditafsirkan anak sebagai tanda kasih sayang dan penerimaan.
  4. Disiplin yang sesuai dengan perkembangan anak berfungsi sebagai pendorong ego yang membuat anak mencapai apa yang diharapkan darinya.

Berdasarkan deskripsi tentang manfaat kedisiplinan bagi anak usia dini, maka disimpulkan bahwa tujuan dari pembentukkan karakter disiplin bagi anak usia dini, sebagai berikut:

  1. Memberikan dukungan bagi anak usia dini untuk melakukan perbuatan yang baik dan menghindari perbuatan yang buruk.
  2. Membantu anak usia dini dalam memahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan.
  3. Membiasakan anak usia dini hidup dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik dan bermanfaat baginya dan juga bagi lingkungannya.

Indikator Disiplin Anak Usia Dini

Berdasarkan Direktoral Jendral Pendidikan Anak Usia Dini (2012: 20) menyebutkan bahwa disiplin merupakan nilai yang berkaitan dengan ketertiban dan keteraturan, indikator disiplin pada anak usia dini adalah:

  1. selalu datang tepat waktu,
  2. dapat memperkirakan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan sesuatu,
  3. menggunakan benda sesuai dengan fungsinya, mengambil dan mengembalikan benda pada tempatnya,
  4. berusaha mentaati aturan yang telah disepakati,
  5. tertib menunggu giliran, dan menyadari akibat bila tidak disiplin.