Diperbarui tanggal 3/07/2023

Anak Hiperaktif

kategori Perkembangan Peserta Didik / tanggal diterbitkan 3 Juli 2023 / dikunjungi: 318 kali

Pengertian Anak Hiperaktif

Menurut Zaviera (2014) anak hiperaktif merupakan anak yang menderita gangguan pemusatan perhatian dengan hiperaktivitas. Anak hiperaktif mengalami gangguan pada saraf tertentu, kesulitan konsentrasi, dan mengarah pada sifat hiperkinetik atau berlebihan dalam melakukan gerakan (Via Azmira, 2015). Hal ini sejalan dengan pendapat Antasari dalam (Lestari, 2020) menyatakan bahwa hiperaktif adalah sebuah gangguan yang terjadi pada anak, dengan tingkah laku anak yang agresif dan bergerak berlebihan atau tidak mau diam, impulsif, temper tantrum (kesulitan emosional), sulit fokus pada perhatian, dan gemar mencari perhatian orang. Berdasarkan pandangan ilmu psikologi, hiperaktif adalah gangguan tingkah laku seorang individu yang sulit untuk berbaur dengan manusia lain yang ada di sekitarnya dan biasanya membawa kerugian bagi dirinya sendiri ataupun orang sekitarnya. Anak dengan gangguan hiperaktif sering mengalami kesulitan dalam menyaring rangsangan dari lingkungan, sulit dalam mempertahankan konsentrasi, sulit menjaga stamina, sulit menangani kendala waktu, sulit untuk multitasking, dan sulit untuk menjalin interaksi dengan orang lain (Tibke, 2019).

Hiperaktif juga disebut Attention Deficit Hyperactivity Disorder adalah gangguan pemusatan pada perhatian. Pada gangguan ini, pengidap akan sulit dalam bertahan pada suatu kegiatan dalam waktu tertentu dan juga sulit berkonsentrasi. Anak hiperaktif punya perilaku sulit untuk konsentrasi, pikirannya kemana-mana dan juga sulit mengontrol gerak tubuh (Rina, 2015). ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) adalah gangguan pemusatan perhatian atau hiperaktivitas yang merupakan sebuah sindrom yang muncul dengan gejala restless atau tidak bisa diam (hiperactivity), sulit untuk memusatkan perhatian (innattention), bertingkah semaunya sendiri (impulsive) dan desdruktif. Flanagan dalam (Andajani,2019) mengatakan bahwa anak dengan ADHD mempunyai perilaku sulit menaruh perhatian dan menjaga kefokusan dalam mengerjakan tugas, anak ini juga sering bergerak dan sulit tenang. Dampaknya anak dengan gangguan pemusatan dan hiperaktif ini akan sulit belajar di sekolah, serta sulit mendengar dan mengerjakan tugas dari orangtua, juga berbaur dengan teman di kelas.

Karakteristik Anak Hiperaktif

Zaviera (2012) mengatakan karakteristik dari siswa hiperaktif ada beberapa, yaitu:

  1. Tidak fokus
    Anak hiperaktif perhatian nya mudah beralih pada hal lain dan sulit untuk bisa diam dalam waktu yang lama. Anak hiperaktif juga tidak mempunyai fokus yang jelas. Anak hiperaktif akan sesuka hati berbicara apa yang ingin dikatakannya dengan tidak mempunyai maksud yang jelas, akibatnya kalimat yang diutarakan sulit untuk orang lain mengerti.
  2. Menentang
    Pada umumnya anak hiperaktif memiliki sifat yang suka menentang atau sulit untuk diberi nasehat. Sikap acuh bisa ditunjukkan hiperaktif terhadap perintah orang lain.
  3. Destruktif
    Pada umumnya perilaku anak hiperkatif destruktif atau perusak. Saat anak lain berupaya untuk merapikan barang, maka anak hiperaktif justru akan merusak dan menghancurkannya.
  4. Tidak kenal lelah
    Anak hiperaktif tidak mudah lelah, sepanjang hari anak hiperaktif selalu bergerak, melompat, berlari, dan sebagainya.
  5. Tanpa tujuan
    Anak hiperaktif melakukan kegiatan dengan tujuan yang tidak jelas, sebaliknya anak hanya mengerjakan kegiatan yang dia inginkan.
  6. Tidak sabar dan usil
    Anak hiperaktif benci menunggu, ketika meminjam suatu barang yang digunakan anak lain dia akan merebutnya. Anak hiperaktif juga sering jahil kepada temannya tanpa alasan.
  7. Intelektualitas rendah
    Intelektualitas rendah terjadi dikarenakan mentalnya sudah sedikit terganggu secara psikologis. Oleh sebab itu, anak sulit untuk menampakkan potensi kreatif dalam dirinya.

Menurut Zafiera (2012) kriteria anak ADHD yaitu sebagai berikut:

  1. Kriteria sulit konsentrasi, yaitu seringkali ceroboh atau tidak mampu dalam menyimak secara terperinci, kerap berbuat salah karena tidak teliti, kesulitan dalam pemusatan perhatian pada aktivitas tertentu, ketika diajak bicara kerap tidak mendengarkan, kerap tidak mau menuruti perintah dan tidak berhasil dalam penyelesaian tugas, kerap menghindar, enggan dalam mengerjakan kegiatan yang memerlukan pemikiran dalam waktu lama, kerap kehilangan barang yang diperlukan dalam pengerjaan tugas, senang mengalihkan perhatian dari rangsangan luar dan kerap lupa saat melakukan kegiatan sehari-hari.
  2. Kriteria hiperaktif dan impulsive, kerap menggerak-gerakkan kaki dan tangan pada saat duduk, kerap menggeliat, meninggalkan tempat duduknya yang seharusnya tetap duduk dengan manis di kursi, kerap berlari dan memanjat dengan berlebihan dalam situasi yang tidak tepat, kerap tidak bisa mengerjakan aktivitas dengan tenang, sering bergerak seakan-akan ada dorongan dalam tubuhnya yang membuat tenaganya tidak habis, kerap bicara berlebihan, saat pertanyaan belum selesai anak hiperatif sering terlalu cepat memberi jawaban, sering memotong pembicaraan orang, dan sering sulit dalam menunggu giliran.

Tipe Anak Hiperaktif

Ada tiga tipe penggolongan hiperaktif yaitu:

  1. Premodinantly Inattentive Type (cenderung kurang memperhatikan), siswa hiperaktif yang tergolong ke dalam tipe ini akan kurang dalam memperhatikan. Karakteristinya antara lain:
    1. siswa selalu melakukan tugas secara suka-suka hatinya dan juga sering tidak selesai;
    2. sulit memperhatikan dan mendengar guru;
    3. tidak baik dalam pengorganisasian;
    4. kerap tidak berasil dalam menjalankan permainan;
    5. mengusik teman;
    6. kerap lupa.
  2. Premodinantly Hiperactive Impulsive Type (dominasi hiperaktif), siswa yang tergolong pada tipe ini mempunyai tingkah laku hiperaktif impulsif.
    1. siswa menampakkan rasa khawatir atau gelisah;
    2. kerap pergi meninggalkan tempat duduk;
    3. berlari secara berlebih;
    4. bicara berlebihan;
    5. tidak sabaran;
    6. bicara tanpa pikir panjang;
    7. sering memotong pembicaraan.
  3. Combined Type (tipe kombinasi), yang tergolong dalam tipe ini adalah siswa yang mempunyai karakteristik yang terdapat pada dua tipe sebelumnya Grant L. Martin dalam (Aprillia, 2020).

Faktor-Faktor Penyebab Hiperaktif

Faktor- faktor yang menyebabkan hiperaktif diuraikan sebagai berikut:

  1. Faktor Neurologik
    Kejadian hiperaktif cenderung lebih banyak terdapat pada bayi yang terlahir disertai gangguan prental seperti proses kelahiran yang lama, distres fetal, ekstraksi forcep pada persalinan, toksimia gravidarum atau ekslamsia dibandingkan dengan kehamilan dan kelahiran normal. Faktor lain yaitu berat badan yang rendah pada bayi saat baru lahir, usia ibu terlalu muda, ibu merupakan perokok pada saat hamil dan meminum minuman keras juga akan meningkatkan resiko.
  2. Faktor Toksik
    Salisilat dan bahan-bahan pengawet bisa membuat kecenderungan sikap anak menjadi hiperaktif. Selain itu, kadar timah (lead) yang terdapat di serum darah anak meningkat, ibu perokok dan peminum alkohol, terpapar sinar X ketika hamil dapat beresiko anak lahir menjadi hiperaktif.
  3. Faktor Genetik
    Terdapat kolerasi tinggi pada hiperaktif yang terjadi dalam keluarga yang memiliki anak hiperaktif. Sebanyak 25-35% dari oang tua dan kerabat yang ketika kecil mengalami hiperaktif akan mewariskan pada anaknya. Hal demikian juga bisa dilihat pada anak kembar.
  4. Faktor Psikososial dan Lingkungan
    Hubungan tidak baik antara orang tua dengan anak nya juga sering ditemukan pada anak hiperaktif (lydia, 2010).

Penanganan Anak Hiperaktif

Hiperaktif yaitu gangguan perhatian pada anak, gangguan tersebut berupa anak sering tidak mampu lama berkonsentrasi, tidak fokus, mengganggu orang lain karena suka bergerak semaunya dan sulit dalam pengendalian emosi. Upaya tindakan yang dapat diterapkan untuk meningkatkan konsentrasi dan fokus pada siswa hiperaktif yaitu:

  1. Dengan pendekatan multiple,
  2. Melatih kemampuan bahasa, berbicara dan membaca siswa,
  3. Dorongan untuk melakukan interaksi keterampilan,
  4. Strategi terapi tingkah laku untuk menghilangkan perilaku yang tidak seharusnya,
  5. Program modifikasi perilaku siswa untuk membentuk perilaku yang diharapkan,
  6. Strategi terapi bermain agar dapat menghilangkan, mengatasi, menurunkan tingkat gangguan dan penyimpangan,
  7. Perlu diberi semangat dan motivasi untuk memiliki atau membangun minat tertentu,
  8. Strategi lingkungan dalam meminimalkan kerentanan pada siswa (Suwarno, 2016).

Upaya pemusatan perhatian belajar siswa hiperaktif yang dapat diterapkan oleh guru yaitu:

  1. Bentuk bimbingan klasikal
    1. Memberi pujian atau hadiah
    2. Membuat kondisi belajar yang menyenangkan
    3. Mengikutsertakan siswa hiperaktif dalam kegiatan pembelajaran
    4. Tidak memberi waktu istirahat agar tidak ada peluang bagi siswa untuk asyik sendiri
    5. Membuat pembelajaran dalam bentuk permainan
    6. Pengembangan sikap sosial
  2. Bentuk individu atau konseling
    1. Mencurahkan perhatian tersendiri kepada siswa
    2. Menasihati dengan perlahan
    3. Menempatkan posisi duduk siswa hiperaktif di barisan depan guru mudah dalam mengawasi
    4. Terapi tingkah laku dengan pemberian amanat yang lembut dengan cermat
    5. Membangun komunikasi dan melakukan rencana psikologis atau konseling secara maksimal
    6. Penggunaan kalimat yang baik, yaitu ketika memberi arahan dengan jelas, padat, singkat, dan bermakna (Rina, 2015).

Menurut Muhammad (dalam Desinigrum, 2017) bentuk penanganan siswa ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder), yaitu:

  1. Aspek interaksi sosial
    1. Mengenali sikap sosial yang cocok dengan anak, dan menghargai ketika anak memperlihatkan sikap tersebut.
    2. Duduk dan buat kesepakatan yang jelas dan anak setuju untuk mengatakan tujuan yang harus anak capai.
    3. Menggunakan apresiasi secara lisan juga tulisan. Memuji anak secara langsung dapat membuat anak mengerti reaksi yang seharusnya, dan bisa menilai perilaku dirinya.
    4. Kenalkan diri anak dengan interaksi kelompok kecil kemudian ada tujuan yang harus dicapai.
    5. Ketahui kelebihan pada diri anak agar bisa diumumkan pada rekan-rekannya, sehingga anak akan memperoleh umpan balik dari temannya dan menumbuhkan kepercayaan diri anak.
    6. Ciptakan suasana bermain peran dengannya dan fokuskan pada pemanfaatan kemampuan yang khas.
  2. Kemampuan dalam mengurus diri sendiri
    1. Guru dapat memberi tugas-tugas yang kemudian dikerjakan di rumah dan diberikan sebelum anak pulang.
    2. Orang tua harus mampu mengatur dan mengurus keperluan anak.
    3. Tugas serta arahan dibuat sangat mudah sehingga anak tidak bingung.
    4. Berikan jeda untuk anak mengerjakan satu tugas dahulu sebelum diberikan tugas yang lain.
  3. Masalah dalam mengerjakan tugas
    1. Bagi anak ADHD diberikan tambahan waktu untuk mengerjakan tugas.
    2. Tugas untuk anak dapat berbentuk tugas mudah tetapi intensif.
    3. Saat anak kesulitan dalam mendengar dan menulis, maka teman bisa dikondisikan untuk dapat membantu.
    4. Orang dewasa harus ada di dekat anak ADHD dan dapat mengamati agar tahu semua tingkah laku anak.
  4. Sikap impulsif
    1. Guru wajib bersikap mengenai apa yang diharapkan terhadap perilaku anak ADHD.
    2. Anak ADHD diajarkan sikap yang baik, selanjutnya berikan tanggapan positif jika anak berhasil mengerjakannya.
    3. Dalam proses terapi atau pembelajaran wajib ada agenda untuk istirahat sehingga anak dapat mengerjakan kegiatan lain dan meninggalkan tempat duduknya.
  5. Kemampuan akademik
    1. Beri bimbingan pada anak saat memakai kertas diagram untuk mengerjakan tugas matematika, sehingga anak tahu tempat yang benar untuk menulis nomor, ini bisa membuat anak jadi fokus.
    2. Sarana bisa dibuat sedemikian rupa agar minat anak hiperaktif tetap terjaga.
    3. Menyampaikan tugas dengan jelas agar anak setuju hasil akhir untuk memeroleh suatu tujuan, contohnya mendapatkan nilai yang bagus.
  6. Ekspresi emosi
    1. Guru wajib mengetahui keterbatasannya dalam memberikan perhatian, dan mampu memberi usaha yang optimal agar anak tidak merasa sedih dan kesal. Guru juga bisa memperlihatkan perasaannya sehingga anak ADHD lebih peka untuk mengenali perasaan orang lain.
    2. Berikan pilihan kata yang berhubungan dengan emosi. Menggunakan kata yang tepat bisa memberi peningkatan pada kemampuan anak saat mengatakan perasaannya dan mengurangi perilaku buruknya.
    3. Ajarkan Anak ADHD mengenai cara menyampaikan emosi dengan baik, agar tidak merugikan orang lain dan dirinya.
    4. Berikan pemahaman pada anak ADHD bahwa semua aspek kehidupannya harus mampu dikontrolnya sehingga terbentuklah kemandirian pada diri anak.