Diperbarui tanggal 30/04/2022

Scaffolding

kategori Belajar dan Pembelajaran / tanggal diterbitkan 30 April 2022

Pengertian Scaffolding

Scaffolding adalah istilah yang dicetuskan oleh Jerome Bruner. scaffolding merupakan proses yang digunakan orang yang lebih dewasa untuk menuntun anak-anak melalui zona perkembangan proksimal mereka. Pendekatan scaffolding didasarkan pada teori Vygotsky. Teori yang dikemukakan oleh Vygotsky ini menekankan penggunaan dukungan atau bantuan tahap demi tahap dalam belajar dan pemecahan masalah. Ide penting lain yang diturunkan dari teori Vygotsky adalah scaffolding. Dimana scaffolding berarti memberikan sejumlah besar bantuan kepada seorang anak selama tahap-tahap awal pembelajaran kemudian anak tersebut mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar segera setelah ia dapat melakukannya. Bantuan tersebut dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan, menguraikan masalah kedalam langkah-langkah pemecahan, memberikan contoh, ataupun yang lain sehingga memungkinkan siswa tumbuh sendiri (Trianto, 2017).
Boleh dikatakan bahwa trade mark, ciri khusus konsep Vygotsky yaitu Zona perkembangan, zone of development. Seperti apa yang disampaikan di depan terdapat beberapa perbedaan antara apa-apa yang dapat dilakukan oleh siswa tanpa bantuan orang lain (zona perkembangan aktual, ZAD, zone of actual development) dengan apa-apa yang dapat dilakukan siswa dengan bantuan orang lain (perkembangan potensial), yang sering disebut sebagai zona perkembangan terdekat (ZPD, zone of proximal development). Siapa yang dimaksudkan sebagai orang lain disini adalah teman sebaya atau gru maupun orang tua. Vygotsky meyakini bahwa anak-anak mengikuti contoh-contoh yang diberikan oleh orang dewasa dan secara bertahap mengembangkan kecakapannya untuk melakukan tugas-tugas tertentu tanpa bantuan atau pendampingan orang lain. Proses atau cara memberikan bantuan yang diberikan oleh orang dewasa atau teman sebaya yang lebih berkompeten, agar siswa beranjak dari zona aktual menuju zona potensial ini yang disebut sebagai scaffolding. Rumusan sederhananya mungkin dapat dinyatakan sebagai berikut:

ZAD + ZPD = Zpod
Zona Perkembangan Aktual + Zona Perkembangan Proximal = Zona Perkembangan Potensial

Secara formal Vygotsky mendefinisikan ZPD sebagai “jarak antara tingkat perkembangan aktual, yang ditentukan melalui pemecahan masalah yang dapat diselesaikan secara individu, dengan tingkat pengembangan potensial, yang ditentukan melalui suatu pemecahan masalah dibawah bimbingan orang dewasa atau dengan cara berkolaborasi dengan teman-teman sebaya”. Scaffolding tidak sekedar membuahkan hasil berupa perkembangan kognitif yang segera muncul, tetapi juga mengakomodasi munculnya keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah secara mandiri pada masa depan (Suyono dan Hariyanto, 2014).

Scaffolding juga berarti sebuah bantuan yang dibuat khusus untuk mengkontruks keterampilan baru siswa, dan bantuan ini dapat dikurangi ketika sudah tidak diperlukan lagi oleh siswa. Scaffolding mengacu pada bantuan yang diberikan guru atau rekan yang lebih mampu atau dapat dikatakan bahwa scaffolding umumnya dianggap diberikan oleh guru atau yang lebih ahli (Isrok’atun, dkk, 2019). Berdasarkan pernyataan-pernyataan diatas mengenai scaffolding dapat disimpulkan bahwa bantuan scaffolding merupakan langkah tepat yang dapat digunakan dalam pembelajaran untuk mempermudah peserta didik memahami masalah dan dapat meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik dalam penyelesaian masalah secara mandiri.

Jenis dan bentuk scaffolding

Kimi, Belland, dan Walter, (2014); Pifarre & Cobos (2010), menjelaskan bahwa scaffolding digunakan oleh guru, teman sebaya, atau alat komputer. Berdasarkan jenisnya scaffolding dapat dikelompokkan dalam scaffolding lunak dan keras Grady, dkk (dalam Ernawati, 2020). Scaffolding lunak merujuk pada tindakan pendidik dikelas saat saat merespons cara berpikir peserta didiknya. Bentuk scaffolding yang termasuk ke dalam kelompok tersebut adalah:

  1. Fasilitator
    Fasilitator memainkan peran penting dalam menentukan keterlibatan peserta didik di dalam pembelajaran. Fasilitator harus dapat menciptakan lingkungan yang kondusif, sehingga meraka dapat berbagi dan belajar bersama. Oleh karena itu fasilitator harus memiliki (a) Tingkat kongruensi kognitif yang tinggi dari fasilitator dapat meningkatkan minat untuk memahami bahan kajian yang dibahas. (b) Kongruensi sosial, yang didefinisikan sebagai kepedulian fasilitaor terhadap peserta didiknya. (c) kesesuain kognitif, mengacu pada kemampuan fasilitator untuk berkomunikasi dan menjelaskan konsep dengan cara yang mudah dipahami oleh peserta didik.
  2. Pembelajaran kolaboratif kelompok kecil
    Pembelajaran kolaboratif dapat membantu mendistribusikan sejumlah informasi yang dimiliki peserta didik, yang diperlukan untuk mengkontruksi pengetahuan. Melalui aktivitas tersebur, memungkinkan peserta didik untuk menguraikan lebih lanjut tentang informasi yang mereka temukan atau peroleh serta mengembangkan keterampilan tingkat tinggi dan terlibat dalam berbagai kontruksi pengetahuan.
  3. Menggunakan pertanyaan dalam lingkup masalah yang sedang dibahas, untuk menumbuhkan rangsangan kognitif untuk penyelesaian masalah.
    Konsep ini berasal dari model PBL tradisional untuk membantu proses penyelesain masalah yang melibatkan 4 komponen, yaitu: fakta, ide masalah pembelajara dan rencana aksi. Peserta didik juga dapat membuat referensi untuk memantau kemajuan peningkatan keterampilan penyelesaian masalahnya.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa, fasilitator memainkan peran penting dalam memberikan scaffolding jenis lunak kepada peserta didik agar dapat mengembangkan pengetahuan konten dan keterampilan kognitifnya. Scaffolding dengan jenis keras lebih bersifat statis karena harus dikembang terlebih dahulu berdasarkan kesulitan yang dialami. Scaffolding jenis ini dapat berupa konsep konseptual dan perangkat pendukung. Yang termasuk ke dalam kelompok scaffolding keras adalah:

  1. Membantu peserta didik menyampaikan argumen berbasis bukti, seperti: perlengkapan percobaan atau sejenisnya.
  2. Lembar kerja, yang lebih dikenal dengan istilah LKPD, memberikan isyarat atau deskripsi tahapan yang harus dilalui saat menyelesaikan masalah.
  3. Penggunaan teknologi, yaitu serangkaian alat multimedia untuk implementasi animasi dan simulasi komputer lainnya.
  4. Alat untuk memfasilitasi pembelajaran peserta didik, seperti buku teks, jurnal atau sumber belajar online yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan konstruktivis dan keterampilan kognitifnya.

Teknik scaffolding

Menurut Hanafin (dalam Isrok’atun, dkk , 2019) mengklasifikasikan teknik scaffolding ke dalam empat bagian, yaitu:

  1. Conseptual scaffolding
    Membantu siswa dalam menganalisis permasalahan kompleks yang akan dipecahkan. Conseptual scaffolding dapat berupa project spesification, resources and tips, feedback on draft solution.
  2. Strategic scaffolding
    Teknik ini menyediakan bantuan berupa pendekatan untuk menyelesaikan tugas dan pemecahan masalah. Dapat dilakukan dengan cara feedback on project plan, feedback on progress report, dan resources tips.
  3. Metacognitif scaffolding
    Metacognitif scaffolding merupakan bantuan berupa langkah berpikir dan tahap-tahap kognitif yang dilakukan untuk memecahkan suatu permasalahan. Dapat dilakukan dengan cara project plan dan progres report.
  4. Prosedural scaffolding
    Teknik bantuan ini memanfaatkan dan menggunakan berbagai sumber dan media untuk memecahkan masalah. Media pembelajaran dan prosedur pengajaran dapat digunakan dalam memberikan kerangka belajar.

Tujuan Penerapan scaffolding

Tujuan penerapan scaffolding pada proses pembelajaran adalah sebagai berikut ( Hanim, 2015):

  1. Memotivasi dan mengaitkan minat peserta didik dengan tugas.
  2. Menyederhanakan tugas sehingga membuatnya lebih terkelola dan bisa dicapai oleh peserta didik.
  3. Menyediakan beberapa arahan/petunjuk untuk membantu peserta didik fokus pada pencapaian tujuan.
  4. Secara jelas menunjukan perbedaan antara pekerjaan peserta didik dan solusi standar atau yang di harapkan.
  5. Mengurangi frustasi dan resiko peserta didik.
  6. Memberikan model dan mendefinisikan dengan jelas harapan mengenai kegiatan yang akan dilakukan.

Karakteristik bantuan scaffolding

Bantuan scaffolding memiliki beberapa karakteristik di antaranya sebagai berikut:

  1. Teknik scaffolding menerapkan prinsip-prinsip konstruktivisme sosial
    Vygotsky yang berfokus pada proses interaksi sosial di mana jika diterapkan dalam pembelajaran, maka: a) pengetahuan dibangun oleh siswa secara mandiri; b) pengetahuan bukan hasil transfer guru ke siswa tetapi siswa sendiri yang menemukannya; c) siswa secara aktif mengkonstruk pengetahuan, sehingga akan diperoleh perubahan konsep ilmiah; d) guru hanya sekedar memberi bantuan dan menyedikan sarana agar proses konstruksi dapat berjalan dengan baik; e) dihadapkan dengan masalah yang relevan bagi siswa; f) mencari dan menilai pendapat siswa; g) menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi pendapat siswa.
  2. Scaffolding tidak terlepas dari konsep ZPD yang dikembangkan Vygotsky, atau dengan kata lain scaffolding bagian/penerapan dari ZPD sehingga kegiatan pembelajaran harus berfokus pada masing-masing ZPD siswa.
  3. Scaffolding dilakukan secara bertahap, selangkah demi selangkah, sehingga siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran. Teknik ini membantu siswa untuk berpikir dan memecahkan masalah dalam setiap situasi dengan mudah, dan membuka kesempatan bagi para siswa untuk mengendalikan pembelajaran mereka sendiri.
  4. Bantuan yang dilakukan bersifat sementara, artinya ketika siswa sudah mampu mengerjakan tugasnya secara mandiri, maka bantuan yang sebelumnya diberikan dikurangi atau tidak diberikan sama sekali.
  5. Menghendaki setting kelas yang kooperatif sehingga siswa dapat saling berinteraksi dan saling memunculkan strategi-strategi pemecahan masalah yang efektif dalam masing-masing ZPD mereka.
  6. Peran guru hanya sebagai mediator, artinya siswa sendiri yang menemukan dan membangun pengetahuan (Isrok’atun, dkk, 2019).

Tahapan scaffolding

Aghileri (dalam Isrok’atun, dkk, 2019) menguraikan tiga tingkatan scaffolding sebagai strategi pengajaran yang efektif baik dilakukan dikelas maupun diluar kelas. Tingkatan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Environmental povisions
    Pada tingkatan ini dilakukan pengaturan lingkungan belajar yang dilakukan tanpa campur tangan atau intervensi guru.
  2. Explaining, reviewing, and restructuring
    Pada tingkat ini terjadi interaksi langsung antara siswa dengan guru seperti memberikan penjelasan, meninjau kembali oleh siswa, dan juga penguatan pemahaman siswa.
  3. Developing conceptual thinking
    Pada tingkat ini dilakukan dengan mengembangkan pemikiran konseptual yang sudah diketahui oleh siswa.