Diperbarui tanggal 7/06/2022

Relevansi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dengan Pendidikan Nasional

kategori Pendidikan Sejarah / tanggal diterbitkan 7 Juni 2022 / dikunjungi: 137 kali

Pendidikan di Indonesia diatur dalam pasal-pasal yang tertera pada Undang-Undang dasar 1945. Pasal 1 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003, bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Fungsi pendidikan adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Ketiga unsur tersebut menjadi fokus dari pengembangan fungsi pendidikan di Indonesia. Konsep itu terbilang sangat sederhana tetapi mengandung makna yang luas apabila dihubungkan dengan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sedangkan tujuan pendidikan Ki Hadjar dewantara yaitu untuk membangun peserta didik menjadi manusia beriman dan bertaqwa, merdeka lahir batin, budi pekerti yang luhur, cerdas dan berketerampilan, sehat jasmani dan rohani agar menjadi anggota masyarakat yang mandiri dan bertanggung jawab atas kesejahteraan tanah air serta manusia pada umumnya dan mengharamkan hukuman disiplin dengan paksaan atau kekerasan karena itu akan menghilangkan jiwa merdeka anak.

Ada beberapa poin penting yang dapat digali untuk mengetahui seberapa besar kecocokan atau relevansi pendidikan Ki Hadjar Dewantara dengan pendidikan pada saat ini sebagai berikut:

Relevansi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dengan Tujuan Pendidikan

Tujuan merupakan sesuatu hal yang hendak dicapai sesuai dengan harapan yang telah ditetapkan. Tujuan diibaratkan sebagai tempat bermuaranya sebuah harapan dan proses panjang yang telah dilalui. Demikian juga, dalam pendidikan untuk mencetak generasi penerus bangsa yang berkarakter tentu melalui proses yang amat panjang dan harus berjalan dengan baik sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Tujuan pendidikan yakni mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Ada beberapa poin penting mengenai tujuan pendidikan dan relevansinya dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara yaitu:

1. Keimanan dan ketaqwaan

Keimanan dan ketaqwaan merupakan hal yang sangat utama dalam proses mendidik anak. Oleh karena itu penyelenggara pendidikan merumuskan keimanan dan ketaqwaan menjadi fungsi pendidikan nasional dalam undang undang Nomor 20 tahun 2003. Keimanan dalam pandangan islam bukan hanya percaya dan yakin kepada Allah, akan tetapi, juga bertawakal serta patuh untuk meninggalkan segala larangan Allah dan melaksanakan segala perintah-Nya dengan penuh keikhlasan. Pendidikan keimanan mengajarkan manusia agar dalam dirinya tertanam kecintaan kepada Allah, wujud dari keimanan itu salah satunya adalah memiliki akhlak yang baik, sebab akhlak atau karakter yang baik merupakan bagian dari keimanan. Manusia yang yakin dengan Allah akan berusaha terus menjadikan dirinya menjadi pribadi yang berakhlak dan banyak berbuat kebaikan supaya menjadi bagian dari manusia yang dicintai Allah serta memiliki rasa malu dan takut kepada Allah itulah yang menjadi pondasi dasar dari keimanan dan ketakwaan manusia.

Dengan keimanan yang kuat akan tumbuh jiwa yang kuat dan selalu condong pada kebaikan dan anak-anak akan selalu berhati-hati dalam setiap perbuatan yang dilakukan. Pendidikan yang paling dasar adalah mendidik anak bagaimana anak-anak tersebut bisa menjadi pribadi yang mengerti tentang baik dan buruk, nilai dan norma sehingga ia bisa hidup dengan baik ditengah-tengah masyarakat dan berguna bagi nusa dan bangsa. Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada bab V tentang peserta didik pasl 12 ayat 1 a yang berbunyi setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama. Jadi untuk dapat menumbuhkan keimanan dan ketaqwaan peserta didik maka akan salah satunya diberikan dasar pendidikan agama disetiap tingkatan pendidikan.

Hal tersebut mempunyai kesesuaian atau relevansi dengan tujuan pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Ki Hadjar Dewantara merupakan sosok pemimpin yang religius karena Ki Hadjar Dewantara sejak kecil hidup dilingkungan keluarga yang religius terutama sang ayah. Ki Hadjar Dewantara juga merupakan keturunan dari Sunan Kalijaga dan beliau juga sempat mendapatkan pendidikan agama dari pesantren Kalasan di bawah asuhan K.H. Abdurrahman, sehingga beliau tidak mungkin meninggalkan nilai-nilai keimanan dan Ketaqwaan dalam sistem pendidikannya. Dimana fungsi dan tujuan yang paling mendasar dalam pendidikan Ki Hadjar Dewantara yaitu untuk membangun anak didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa. Selain itu, salah satu fatwa pendidikan yang dikemukakan oleh Ki Hadjar Dewantara yaitu tetep antep dan mantep yaitu sebuah fatwa yang disampaikannya untuk mempertebal keimanan anak dididik dengan tujuan memiliki keimanan yang kokoh tetap pada pendirian dan kuat keimanannya.

2. Pembentukan karakter atau akhlak

Dalam kurikulum 2013, pendidikan disebut juga sebagai pendidikan karakter. Kurikulum 2013 memuat dimensi sikap, pengetahuan dan keterampilan yang dituangkan mulai dari standar Kompetensi Lulusan SKL. Kompetensi Inti dan kompetensi Dasar, yang dikembangkan sesuai dengan perkembangan psikologis siswa serta diimplementasikan sesuai dengan karakteristik daerah masing-masing. Penerapan muatan kurikulum dimensi sikap pada kurikulum 2013 dilakukan secara langsung dan pengajaran tidak langsung. Pada mata pelajaran pendidikan agama, budi pekerti, dan pendidikan Kewarganegaraan dilakukan secara langsung. Pada mata pelajaran lain dilakukan secara indirect teaching atau pengajaran tidak langsung. Pengajaran dimensi sikap ini dalam rangka melaksanakan penguatan Pendidikan Karakter intrakurikuler dan kokurikuler sehingga dapat dikatakan bahwa kurikulum 2013 merupakan gerbang utama dalam penguatan pendidikan karakter di sekolah.10 Pendidikan akhlak bukanlah pengajaran ilmu pengetahuan tentang akhlak. Tetapi sebagai proses aplikasi nilai-nilai keagamaan ke dalam sikap, pemikiran, dan perilaku. Fondasinya adalah nilai keimanan, bangunannya adalah ilmu dan amal saleh, sedangkan atapnya adalah keikhlasan.

Dalam Kurikulum 2013 ada beberapa prinsip penguatan karakter sebagai berikut:

  1. Menguatkan jejaring tripusat pendidikan sekolah, keluarga dan masyarakat.
  2. Sekolah menjadi sentral atau lingkungan sekitar dijadikan sebagai sumber-sumber belajar.
  3. Pendekatan berbasis kelas, budaya sekolah dan masyarakat.
  4. Individualisasi anak yaitu guru perlu membantu setiap anak untuk mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya.
  5. Keseimbangan harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga.
  6. Peran kepala sekolah sebagai manager, inovator, motivator, kolaborator.
  7. Peran guru masa kini sebagai tutor, fasilitator, pelindung, penghubung sumber-sumber belajar dan katalisator.
  8. Komite sekolah sebagai badan gotong royong dan partisipasi masyarakat.
  9. Keteladanan dan pembiasaan pengembangan potensi keteladanan dan pembiasaan sepanjang waktu dalam kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut memiliki kesesuaian dan relevansi dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang mengutamakan pendidikan mengenai budi pekerti. Budi pekerti bagi Ki Hadjar Dewantara adalah jiwa pengajaran. Budi pekerti bukan konsep yang bersifat teoritis sebagaimana yang dipahami oleh masyarakat pada umumnya, dan bukan pula pengajaran budi pekerti dalam arti mengajarkan teori tentang baik buruk sesuatu, benar salah dan seterusnya. Akan tetapi, pengajaran budi pekerti Ki Hadjar Dewantara mengandung arti pemberian kuliah atau ceramah tentang kerohanian atau tentang perikeadaban manusia.

Menurut Ki Hadjar Dewantara maksud dan tujuan memberikan pengajaran budi pekerti, dihubungkan dengan tingkatan perkembangan jiwa yang ada pada diri anak-anak sejak usia dini hingga dewasa, dan juga diberikan ilmu perbandingan agar mengerti tentang ilmu keagamaan. Misalnya, pengetahuan syari’ah, hakikat, tarikat, dan makrifat. Hal inilah yang menjadi perhatian besar Ki Hadjar Dewantara akan pentingnya pendidikan budi pekerti yang ditekankan pada pembentukan karakter sehingga menumbuhkan manusia yang beriman. Ki Hadjar Dewantara mengharapkan pendidikan budi pekerti harus mempergunakan syarat-syarat yang selaras dengan jiwa kebangsaan menuju kesucian, ketertiban dan kedamaian lahir dan batin. Dalam arti, pendidikan budi pekerti diarahkan pada pembentukan karakter bangsa yang sesuai dengan nilai-nilai agama dan budaya bangsa Karakter tersebut merupakan perilaku dan kepribadian dalam upaya pembiasaan untuk melakukan perbuatan terpuji yang dilakukan sejak kecil hingga dewasa. Dari penjelasan tersebut juga merujuk pada upaya meningkatkan keimanan dan ketaqwaan peserta didik.

Ki hadjar Dewantara memberikan kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan budi pekerti bukanlah mengejarkan teori-teori tentang baik buruk dengan defenisi dan dalil-dalilnya, tetapi pendidikan budi pekerti adalah pembiasaan berbuat baik pada diri anak dalam kehidupan sehari-hari, hingga mendarah daging dan bersifat integrated dengan pengajaran pada setiap bidang studi. Ki Hadjar Dewantara menginginkan bahwa pada setiap pengajaran bidang studi apapun harus mengintegrasikannya dengan pendidikan budi pekerti, dan tidak berhenti pada pengajaran mata pelajaran tersebut. Misalnya, pada pelajaran matematika. Matematika adalah alat untuk menghasilkan peserta didik yang memiliki keterampilan dalam memahami dan mempraktikkan rumusan hitungan secara tepat dan akurat. Namun, pembelajaran matematika tersebut harus diarahkan pada menghasilkan manusia yang dapat bersikap teliti, cermat, kerja, teratur, dan jujur, sehingga dapat juga dikatakan sebagai pengajaran tidak langsung atau indirect teaching yang mana guru secara tidak langsung memberikan pengajaran mengenai budi pekerti sehingga peserta didik dapat menerapkanya dalam kehidupan sehari-hari.

3. Pembentukan jiwa mandiri atau merdeka

Dalam Undang-Undang No 20 tahun 2003 dijelaskan bahwa pembentukkan kemandirian pada diri peserta didik merupakan salah satu tujuan dari Pendidikan Nasional hal tersebut telah jelas dibuktikan dalam pelaksanaan kurikulum 2013 saat ini. Dimana anak dituntut untuk lebih aktif dan mandiri dalam proses pembelajaran. Guru hanya sebagai fasilitator, motivator bagi siswa dan mengontrol kegiatan siswa di dalam kelas hal tersebut bertujuan untuk menanamkan kepercayaan diri siswa, mandiri dan dapat menyelesaikan permasalahan sendiri dengan cara yang baik.15 Hal tersebut relevan dengan tujuan pendidikan yang dikemukakan oleh Ki Hadjar Dewantara bahwa beliau menegaskan jiwa mandiri siswa itu melalui kata-kata merdeka lahir batin. Bahwa siswa diberikan kebebasan untuk berkreatifitas sehingga mereka bisa menjadi lebih mandiri serta menjadi peserta didik yang aktif dan lebih percaya diri. Hal tersebut telah terealisasikan dalam pelaksanaan sistem among dimana siswa dididik dengan penuh kasih sayang. Guru bertugas memberikan dorongan, semangat dan memberikan contoh kepada siswa dalam berkarya, serta diberikan kebebasan dalam berkarya berdasarkan pengalaman dan usahanya sendiri dan tidak memberikan tekanan kepada siswa sehingga jiwa merdekanya tidak hilang maka dari pada itu Ki Hadjar Dewantara mengharamkan hukuman disiplin dengan paksaan atau kekerasan karena itu akan menghilangkan jiwa merdeka anak.

Hal tersebut sejalan dan relevan dengan pendidikan pada saat ini dimana guru tidak diperkenankan untuk menghukum siswa dengan melakukan kontak fisik yang dapat melukai siswa ataupun tidak sampai terluka seperti mencubit, memukul, dan tindakan kekerasan lainnya. Banyak fakta yang terjadi bahwa guru yang melakukan hal tersebut akan dikenakan sanksi hukuman pidana. karena hal tersebut sudah diatur dengan sebaik-baiknya dalam peraturan perundangan-undangan. Tertera dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan atau Permendikbud No. 82 Tahun 2015 tentang pencegahan dan penanggulangan tindak kekerasan di lingkungan satuan pendidikan, menyatakan bahwa tindak kekerasan yang dilakukan sekolah maupun antar sekolah, dapat mengarah kepada suatu tindakan kriminal dan menimbulkan trauma bagi peserta didik. Disisi lain dalam pasal 11 dan pasal 12 Permendikbud No. 82 tahun 2015 menyebutkan sanksi terhadap oknum pelaku tindak kekerasan dilakukan secara proporsional dan berkeadilan sesuai tingkatan dan akibat tindak kekerasan.17 Kedua tujuan tersebut dapat dikatakan hampir sama yang menginginkan peserta didik yang beriman dan bertaqwa, berakhlak, sehat, dan mandiri atau merdeka lahir batin.

Pendekatan Pendidikan

Pendekatan pendidikan dalam penerapan kurikulum 2013 lebih menekankan pada pendekatan pendidikan Konstruktivisme dan pendekatan saintifik. Pendekatan konstruktivisme merupakan sebuah konstruksi pengetahuan yang bersifat aktif dan personal. Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Von Glaserfeld yaitu tokoh yang menirukan gerakan konstruktivisne, konstruktivisme berakar pada asumsi bahwa pengetahuan, tidak peduli bagaimana pengetahuan itu didefinisikan, terbentuk di dalam otak manusia, dan subjek yang berpikir tidak memiliki alternatif selain mengkonstruksikan apa yang diketahuinya berdasarkan pada pengalamannya sendiri. Semua pikiran yang didasarkan pada pengalaman sendiri dan bersifat subjektif. Dalam pandangan Konstruktivisme kebenaran itu sangat relatif. Oleh sebab itu banyak sekali teori di bidang ilmu kognitif yang memasukkan jenis konstruktivisme tertentu, karena teori-teori tersebut berasumsi bahwa individu-individu mengkonstruksikan struktur kognitifnya sendiri pada saat menginterpretasikan pengalamannya dalam situasi tertentu.

Pengetahuan selalu menjadi akibat dari suatu konstruksi kognitif dari kenyataan yang terjadi melalui aktivitas seseorang. Berdasarkan teori konstruktivisme pengetahuan bukanlah kumpulan fakta dari suatu kenyataan yang sedang dipelajari melainkan sebagai konstruksi kognitif seseorang terhadap objek, pengalaman maupun lingkungannya. Terdapat beberapa strategi pembelajaran konstruktistik yaitu belajar aktif, belajar mandiri, belajar kooperatif dan kolaboratif, generative learning, dan model pembelajaran kognitif. Belajar aktif yang dimaksudkan adalah suatu pendekatan dalam pengelolaan sistem pembelajaran melalui cara-cara belajar aktif dan mandiri. Peranan guru sebagai penyedia sarana bagi peserta didik untuk dapat belajar. Peran guru dan peserta didik dalam konteks belajar aktif menjadi sangat penting. Guru juga berperan sebagai fasilitator yang membantu memudahkan peserta didik belajar sebagai narasumber.

Tyler 1996 menyebutkan rancangan pembelajaran konstruktivisme sebagai berikut:

  1. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengemukakan gagasan dalam bahasanya sendiri.
  2. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berfikir tentang pengalamannya sendiri sehingga menjadi lebih kreatif dan imajinatif.
  3. Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mencoba gagasan baru.
  4. Memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang dimiliki oleh peserta didik.
  5. Mendorong peserta didik untuk memikirkan perubahan gagasan mereka.
  6. Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.

Dalam pembelajaran Konstruktifisme, konstruktor pengalaman aktif memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut:

  1. Belajar merupakan sebuah proses aktif. Pembelajar secara aktif mengkonstruksikan belajarnya dari berbagai macam input yang diterimanya. Hai tersebut menginginkan bahwa peserta didik perlu bersikap aktif agar dapat belajar secara efektif.
  2. Anak-anak belajar dengan baik dengan menyelesaikan berbagai konflik kognitif melalui pengalaman, refleksi, dan metakognisi.
  3. Belajar adalah mencari makna, peserta didik secara aktif berusaha mengkonstruksikan berbagai kegiatan belajar seputar ide-ide besar dan eksplorasi yang memungkinkan peserta didik mengkonstruksikan makna.

Asumsi-asumsi dasar dari konstruktivisme seperti diungkapkan oleh merril 1991 adalah sebagai berikut:

  1. Pengetahuan dikonstruksikan melalui pengalaman
  2. Belajar adalah penafsiran personal tentang dunia nyata
  3. Belajar adalah sebuah proses aktif di mana makna dikembangkan berdasarkan pengalaman
  4. Pertumbuhan konseptual berasal dari negosiasi makna, saling berbagi tentang perspektif ganda dan pengubahan representatif mental melalui pembelajaran kolaboratif
  5. Belajar dapat dilakukan dalam setting yang nyata.

Dasar pertama dari pendekatan konstruktivisme dalam pendidikan adalah teori Konvergensi. Teori Konvergensi berpandangan bahwa perkenbangan intelektualitas anak tidak hanya dilihat dari faktor pembawaan atau lingkungan saja. Akan tetapi, perpaduan antara keduanya, sinergitas antara faktor bawaan sejak lahir dan faktor eksternal atau faktor ajar dan bimbingan dalam sebuah pengalaman. William stern berpendapat bahwa saat lahir anak sudah dibekali baik pembawaan yang baik maupun pembawaan yang buruk. Dalam proses perkembangan anak, baik faktor pembawaan maupun faktor lingkungan lingkungan sama-sama memiliki peranan penting. Bakat yang bersifat hereditas dibawa sejak lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai. Sebaliknya, lingkungan yang tidak baik tidak dapat menghasilkan perkembangan anak yang optimal jika memang anak tidak memiliki bakat yang baik. Berdasarkan pandangan ini dapat disimpulkan bahwa hasil pendidikan bergantung pada pembawaan dan lingkungan.

Konstruktivisme memiliki kaitan yang sangat erat dengan pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik merupakan proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif mengonstruksikan konsep, hukum ataupun prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati, merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisa data, menarik kesimpulan dan mengkomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang ditemukan. Pendekatan saintifik dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik dalam mengenal, memahami berbagai materi menggunakan pendekatan ilmiah, bahwa informasi yang bisa berasal dari mana saja, kapan saja, dan tidak bergantung kepada pada informasi yang dimiliki oleh guru. Oleh karena itu, kondisi pembelajaran yang diharapkan hendaknya dapat mendorong peserta didik lebih aktif dan tidak terlalu bergantung kepada guru dan bisa mencari tahu sumber data sendiri. Penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran melibatkan proses, seperti mengamati, mengklasifikasikan, mengukur, meramalkan, menjelaskan, dan menyimpulkan. Dalam melaksanakan proses-proses tersebut, bantuan guru diperlukan. Akan tetapi bantuan guru tersebut semakin berkurang dengan semakin bertambah dewasanya peserta didik atau semakin tingginya kelas peserta didik. Dengan demikian pendekatan saintifik ini juga menuntut siswa lebih aktif, mandiri dan mencari tahu sendiri tentang pengetahuannya berdasarkan penelitian dan pengalaman yang telah dilakukannya.

Aliran Konstruktivisme dan pendekatan saintifik ini sangat relevan dengan pemikiran pendidikan Ki Hadjar Dewantara sebab Ki Hadjar Dewantara merupakan tokoh pemikir yang menganut paham Konstruktivisme hal tersebut sangat jelas dengan pemikirannya yang mengatakan bahwa pendidikan sebagai tuntunan. Menurut Ki Hadjar Dewantara pendidikan merupakan tuntunan bagi seluruh kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia serta sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

Maksudnya adalah bahwa hidup tumbuhnya anak-anak terletak diluar harapan atau keinginan para pendidik. Anak-anak dibiarkan berkreativitas sesuai dengan keinginan, bakat serta dengan lingkungannya. Anak-anak sebagai makhluk, manusia, dan benda hidup, sehingga mereka hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri atau bawaan. Menurut Ki Hadjar Dewantara kekuatan kodrati atau bawaan sejak lahir yang ada pada diri anak-anak itu merupakan segala kekuatan yang ada dalam diri anak. Maka dari pada itu, para pendidik hanya dapat memberikan tuntunan terhadap anak-anak didiknya dalam memperbaiki karakter anak-anak didik. Akan tetapi, pendidikan juga perlu menghubungkan keduanyanya yaitu antara kodrat atau faktor bawaan sejak lahir dengan lingkungan anak. Penghubungan diantara kedua hal tersebut dapat dikatakan dengan salah satu dasar dari teori konstruktivisme yaitu teori konvergensi.

Relevasi pendekatan pendidikan Konstruktivisme dan saintifik tersebut juga terdapat pada pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang merdeka. Merdeka yang dimaksudkan oleh Ki Hadjar Dewantara bukan hanya merdeka secara fisik akan tetapi merdeka secara lahir dan batin dimana dalam pendidikan peserta didik bebas mengaktualisasikan dirinya, berkreatifitas, bebas berpendapat sesuai dengan kemampuan dan pengalamannya. Akan tetapi, tetap mendapatkan pengawasan dari guru untuk menghalangi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi apabila kebebasan tersebut tidak sesuai dengan hakikat merdeka dan dapat membawa dampak buruk bagi peserta didik dan orang-orang disekitarnya. Peserta didik tidak dikekang dan ditekankan pada sesuatu yang ditetapkan oleh guru. Sama halnya dengan pendekatan pembelajaran saat ini bahwa tugas dan peranan guru dalam proses pembelajaran hanya sebagai fasilitator menyediakan sarana dan prasarana, motivator memberikan motivasi seperti menyemangati peserta dan sebagai controller mengawasi peserta didik agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Teori Konstruktivisme sosial juga relevan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara. sebab dalam teori ini menjelaskan bahwa perkembangan pembelajaran anak juga dipengaruhi kebudayaannya, termasuk budaya lingkungan keluarga. Kebudayaan menciptakan dua macam kontribusi terhadap perkembangan intelektual anak. Pertama, melalui kebudayaan anak mendapatkan kandungan hasil dari hasil pemikirannya, yaitu pengetahuannya. Kedua, kebudayaan di sekelilingnya menyediakan bagi anak-anak proses-proses atau memberi makna terhadap hasil pemikiran, kebudayaan mengajarkan peserta didik tentang apa berpikir itu dan bagaimana berpikir itu.

Materi pembelajaran

Ki Hadjar Dewantara menekankan materi pembelajaran pada materi pendidikan budi pekerti. Materi pembelajaran budi pekerti yang dikembangkan oleh Ki Hajar Dewantara dapat diambil dari bahan yang bersifat spontan, cerita rakyat atau dongeng, legenda lakon dalam pertunjukkan sandiwara ataupun wayang, babad dan sejarah, cerita-cerita dalam buku-buku karya sastrawan atau pujangga terkenal, kitab-kitab suci agama, adat istiadat yang berlaku.28 Materi-materi tersebut diajarkan sesuai dengan tingkat perkembangan usia anak didik. Berikut merupakan materi pendidikan budi pekerti menurut Ki Hadjar Dewantara:

  1. Taman Indria dan Taman Anak 5-8 Tahun materi isi pengajaran budi pekerti bagi anak yang masih sekolah di sekolah ini berupa pengajaran yang masih berupa pengajaran yang bersifat spontan yang mengarahkan anak kepada kebaikan yang memenui syarat bebas yaitu sesuai dengan kodrat hidup anak.
  2. Taman muda 9-12 tahun anak-anak diberi peringatan tentang segala tingkah laku kebaikan dalam hidupnya sehari-hari.
  3. Taman dewasa 14-16 tahun anak mulai dilatih dengan mengerjakan segala yang sulit dan berat dengan niat yang disengaja.
  4. Taman madya dan Taman Guru 17-20 tahun dalam jenjang ini, mereka mendapatkan pengajaran etik yaitu hukum kesusilaan. Jadi tidak hanya bentuk-bentuk kesusilaan, tetapi juga tentang dasar-dasar kebangsaan, kemanusiaan keagamaan, filsafat, kenegaraan, kebudayaan, adat istiadat dan sebagainya.

Materi pembelajaran Ki Hadjar Dewantara diberikan disesuai dengan usia dan tingkat perkembangan anak. Hal tersebut Relevan dengan pendidikan saat ini sebab pendidikan saat ini melakukan langkah-langkah penguatan materi ysng terdapat didalam kurikulum dengan cara meniadakan materi yang tidak esensial atau tidak relevan bagi peserta didik, mempertahankan materi yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 bab 1 ketentuan umum pasal 1 ayat 8 yang berbunyi jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, dengan tujuan yang akan dicapai dan kemampuan yang dikembangkan. Dalam asal 1 ayat 11 dijelaskan bahwa tahapan tersebut dimulai dari tahap awal yaitu pendidikan dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menegah Atas.

Prinsip Penyelenggaraan Pendidikan

Prinsip penyelenggaraan pendidikan terdapat atau tercantum jelas dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 4 salah satunya terdapat pada ayat 1 yakni pendidikan dilakukan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminasi dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa. Dalam hal ini dapat dilihat bahwa prinsip pendidikan itu atas dasar, demokratis, kemanusiaan, keagamaan dan kebudayaan.

Prinsip penyelenggaraan pendidikan tersebut memiliki kesesuaian dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Ki Hadjar Dewantara memiliki pandangan yang hampir sama dengan sistem pendidikan saat ini yaitu mengandung nilai keagamaan, kemanusiaan dan, kebudayaan. Bagi belaau asas kebudayaan kebangsaan itu dapat menuju ke arah yang sesuai dengan kecerdasan bangsa disetiap zamannya, kemajuan dunia dan kepentingan hidup rakyat pada tiap zaman dan keadaan.32 Beliau juga menjelaskan bahwa pendidikan merupakan usaha kebudayaan yaitu usaha yang dilakukan untuk memberikan tuntunan kepada anak melalui kebudayaan dan membuat bakat anak yang juga dipengaruhi lingkungan sekitarnya tidak menjadikannya semakin buruk dikarenakan tuntunan yang diberikan melalui kebudayaan tersebut.

Prinsip atas dasar kemanusiaan menurut Ki Hadjar Dewantara adalah menciptakan anak-anak yang yang memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi yang dapat dilihat dari kesucian hati atau kebaikan dan memiliki rasa cinta kasih terhadap sesama manusia dan terhadap segala makhluk ciptaan Tuhan. Menurut Ki Hadjar Dewantara kemanusiaan merupakan keharusan serta kesanggupan manusia untuk menuntut kecerdasan dan karakter yang baik untuk dirinya sendiri dan masyarakat sekitar, menimbulkan kebudayaan kebangsaan yang bercorak khusus berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan. Sebab manusia merupakan makhluk sosial yang hidup ditengah-tengah masyarakat dan memiliki ketergantungan satu sama lain dan mampu berhubungan dengan baik ditengah-tengah masyarakat dengan adab dan nilai kemanusiaan itulah yang menjadi dasar ataupun prinsip kuat taman siswa yang melahirkan anak-anak yang memiliki jiwa kemanusiaan. Dengan prinsip kemanusiaan ini terlihat jelas bahwa anak diajarkan untuk siap dan bisa dengan sebaik mungkin dalam menghadapi kehidpan ditengah-tengah masyarakat.

Daftar Pustaka

Abdullah, Taufik dan Abdurrahman. 1985. Ilmu Sejarah dan Historiografi. Jakarta: PT Gramedia.

Acetylena, Sita. 2018. Pendidikan Karakter Ki Hadjar Dewantara. Malang: Madani.

Agung, Leo.2016. Sejarah Intelektual.Yogyakarta: Ombak.

Dewantara, Ki Hajar. 2011. Bagian Pertama Pendidikan.Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.

Dewantara, Ki Hadjar. 2015. Tamansiswa Badan Perjuangan Kebudayaan dan Pendidikan Mengusir Penjajah dan Memanusiakan Manusia. Yogyakarta:UST Press.

Dewantara. Ki Hadjar. 2009. Menuju Manusia Merdeka. Yogyakarta: Leutika Djaja, Wahyudi. 2015. Sejarah Eropa dari Eropa Kuno Hingga Eropa Modern. Yogyakarta: Ombak.

Eka Novianti, Upik Dyah. 2012. Ki Hadjar Dewantara Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Yogyakarta: Arti Bumi Intaran.

Garvey, Brian dan Krug, Mary. 2015. Model-Model Pembelajaran Sejarah di Sekolah Menengah. Yogyakarta: Ombak.

Wiryopranoto, Suhartono dkk. 2017. Ki Hadjar Dewantara Perjuangan Dan Pemikirannya. Jakarta: Museum Kebangkitan Nasional.

Octaniati, Ovi. 2019. Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam Bidang Pendidikan 1922-1957. [Skripsi]. Universitas Jambi

Rahardjo, Suparto. 2018. Ki Hajar Dewantara Biografi Singkat 1889- 1559. Jogjakarta: Garasi.

Surjomihardjo, Abdurrachman.1986. Ki Hadjar Dewantara dan Taman Siswa dalam Sejarah Indonesia Modern. Jakarta: Sinar Harapan.

Soeratman, Darsiti. 1983. Ki Hadjar Dewantara. Jakarta: Proyek Inventaris dan Dokumentasi Sejarah Nasional.

Soewito, Hadi. 1991. Soewardi Soerjaningrat dalam Pengasingan. Jakarta: Balai Pustaka