Diperbarui tanggal 10/06/2022

Pergerakan Sarekat Islam Melawan Pemerintah Kolonial Belanda

kategori Pendidikan Sejarah / tanggal diterbitkan 10 Juni 2022 / dikunjungi: 105 kali

Sarekat Islam Bergabung ke Volskraad (Dewan Rakyat).

Sarekat Dagang Islam yang awalnya organisasi dagang resmi berganti haluan menjadi organisasi yang tidak hanya menyasar bidang ekonomi saja, tapi juga memperluas cakupannya dengan masuk ke ranah politik dan sosial masyarakat. Hal ini sesuai dengan berubahnya anggaran dasar Sarekat Dagang Islam yang ikut merubah namanya menjadi Sarekat Islam. Perubahan anggaran dasar ini juga diikuti dengan tumbuhnya kesadaran untuk menaikan kesejahteraan Pribumi serta munculnya pemikiran mengenai Pemerintahan Nasional. Sarekat Islam pertama kali mengadakan kongres di Surabaya pada tanggal 26 Januari 1913. Rapat ini menegaskan bahwa Sarekat Islam bukan merupakan organisasi politik dan bukan organisasi yang mencoba menggulingkan pemerintah Belanda. Meki demikian nafas Islam yang terdapat di dalam SI mempercapat perkembangan organisasi ini khususnya di daerah Jawa.

Sarekat Islam yang perkembangannya semakin pesat mendapat perhatian dari pemerintah Belanda. Organisasi ini dianggap berbahaya oleh pemerintah Belanda karna mampu menarik masyarakat untuk bergabung kedalamnya terutama masyarakat Pribumi yang beragama Islam. Beberapa penduduk Eropa dan Cina serta beberapa Pamong praja juga tertarik terhadap Sarekat Islam, termasuk juga Gubernur Jendral Idenburg. Untuk mengantisipasi hal itu pemerintah Belanda memberlakukan kebijakan yang menekan Sarekat Islam.

Pemerintah Belanda memutuskan Sarekat Islam boleh berdiri dan mendapat pengakuan secara hukum sebagai organisasi setempat. Cabang-cabang SI di daerah harus berdiri secara sendiri-sendiri. Hal ini tentu dimaksudkan untuk memecah SI itu sendiri. Kebijakan Pemerintah Belanda untuk memecah SI memberikan pemikiran dari anggotanya untuk membentuk Central Sarekat Islam (CSI). CSI adalah organisasi yang menjadi induk dan mewadahi seluru cabang SI yang ada diaerah. Hal ini bertujuan untuk mempertahankan organisasi itu sendiri agar tetap utuh. Menindaklanjuti rencana pembetukan CSI, SI melakukan kongres di Yogyakarta pada 18-20 April 1914 dengan tujuan kongres adalah membentuk anggaran dasar yang baru membentuk kepengurusan dari CSI. Kongres ini tidak mampu mengahasilkan kesespakatan tentang CSI, karena terjadi peselisihan dalam pemilihan pemimpin SI. Tjokroaminoto dan Goenawan yang terpilih menjadi ketua dan wakil ketua mendapat pertentangan dari antek-antek Samanhoedi yang menganggap Samanhoedi yang harusnya menjadi pemimpin SI serta mereka sendiri yang tak mau kehilangan kedudukannya.

Central Sarekat Islam sendiri akhirnya berdiri pada tahun 1915 di Surabaya.6 CSI sendiri mendapat pengakuan dari pemerintah Belanda melalui Gubernur Idenburg sebagai organisasi yang wilayahnya mencakup seluruh daerah Hindia Belanda.7 Central Sarekat Islam dipimpin oleh dipimpin oleh Tjokroaminoto dan Goenawan sebagai wakilnya sementara Haji Samanhoedi menjadi ketua kehormatan dalam CSI, struktur organisi inilah yang diterima dan disahkan oleh pemerintah Belanda pada tanggal 18 Maret 1916.8 Setelah pembentukan CSI, diadakan kongres nasional yang pertama, dengan tujuan untuk menggalang persatuan penduduk Hindia Belanda.

Sarekat Islam yang diawal pembentukan disebut bukan organisasi politik dan hanya merupakan organisasi sosial yang berfokus di bidang ekonomi, kini mulai menunjukan tajinya dibidang politik. Hal ini terlihat dari penamaan kongresnya yang semula hanya bernama kongres saja kini berubah menjadi kongres Nasional. Penggunaan kata Nasional dimaksudkan bahwa organisasi ini telah tersebar diseluruh wilayah Hindia Belanda dan kongres itu sendiri di ikuti oleh seluruh daerah Hindia Belanda. Kata Nasional juga mencerminkan semangat Nasionalisme yang coba disebarkan oleh para pemimpin Sarekat Islam dengan nilai Islam sebagai dasarnya. Dalam kongres nasional pertama Sarekat Islam Cokroaminoto juga mengemukakan pendapat nya mengenai pemerintah Belanda, ia menganggap bahwa sudah seharusnya masyarakat pribumi diperlakukan dengan adil dan baik oleh pemerintah Belanda karna pemerintah Belanda hanyalah pendatang, ia juga menuntut perbaikan nasib pribumi yang menurutnya sangat memprihatinkan.

Perubahan sikap Sarekat Islam yang kini mencoba menyebarkan semangat Nasionalisme kepada seluruh Pribumi Hindia Belanda, menunjukan bahwa kini organisasi ini mulai memperjuangkan nasib-nasib masyarakat Pribumi dan perlahan-lahan melakukan pegerakan melawan pemerintah Belanda dengan nilai-nilai Islam sebagai dasarnya.12 Sifat Politik Sarekat Islam dituangkan dalam “Keterangan Pokok” dan Program Kerja yang disetujui pada tahun 1917. Dalam keterangan pokok ini dikemukakan bahwa Central Sarekat Islam menjunjung tinggi nilai-nilai ke Islaman dan percaya nilai-nilai Islam memberikan pemikiran mengenai persamaan hidup manusia dan tetap menjunjung tinggi kuasa negeri. Dan program kerja dibagi menjadi delapan point yaitu: politik, pendidikan, agama, keadilan, agraria dan pertanian, keungan dan perpajakan, perlindungan hukum serta nasionalisasi industri-industri penting (Ismail Usman, 2017).

Pandangan Sarekat Islam di dalam bidang politik adalah meminta dibentuknya sebuah dewan-dewan daerah, dan perluasan hak-hak dewan tersebut dengan maksud menjadi sebuah lembaga perwakilan untuk keperluan legislatif. Dalam bidang pendidikan, Sarekat Islam menuntut agar peraturan yang bersikap diskriminatif terhadap siswa dihapuskan, juga wajib belajar sampai berumur 15 tahun harus diberlakukan kepada seluruh penduduk Pribumi, serta sarana pendidikan yang harus diperbaiki. Tuntutan Sarekat Islam dalam bidang agama adalah menuntut dihapuskannya undang-undang yang mengahambat penyebaran Islam, juga pembayaran gaji bagi kiyai dan penghulu serta subsidi bagi lembaga pendidikan. Untuk bidang keadilan Sarekat Islam meminta agar kekuasaan yudikatif dan eksekutif dipisahkan serta di bangun lembaga masing-masing dengan kedudukan hukum yang sama serta menuntut perlindungan hukum bagi warga miskin. Penghapusan kepemilikan tuan tanah dan perbaikan irigasi serta pengadaan ekspansi menjadi perhatian Sarekat Islam dibidang agraria dan pertanian. Islam juga menuntut agar industri-industri penting dinasionalisasikan terutama industri yang bersifat monopoli dan yang menyediakan pelayanan dan barang pokok bagi rakyat. Di bidang keuangan dan perpajakan Sarekat Islam menuntut agar pajak diambil secara proposional serta adanya pajak bagi laba perkebunan. Sarekat Islam juga menuntut agar pemerintah memberikan bantuan bagi koperasi, serta ikut memerangi minuman keras dan candu, perjudian dan prostitusi serta melarang penggunaan tenaga anak-anak. Sarekat Islam melalui tuntutan diatas mencoba melawan pemerintah Belanda dengan memperjuangkan nasib rakyat Pribumi.

Sikap Sarekat Islam yang semakin terbuka membuat pemerintah Belanda mulai curiga dan berhati-hati terhadap organisasi tersebut. Sikap tegas Cokroaminoto sebagai ketua Sarekat Islam dan Abdoel moeis sebagai wakilnya membuat pemerintah Belanda makin berhati-hati terhadap Sarekat Islam. Apalagi Cokroaminoto mengirimkan mosi kepada pemerintah Belanda agar segera dibentuknya dewan rakyat membuat pemerintah belanda semakin memperhatikan organisasi ini. Semua kegiatan yang dilakukan organisasi ini dinilai merugikan pemerintah Belanda. Tapi karena Van Limburg Sitrum gubernur jendral yang menjabat waktu itu merupakan orang yang toleran, maka usulan pembentukan dewan rakyat (Volksraad) diterima dengan direalisasikan pada 18 mei 1917 dan Sarekat Islam diwakili oleh Cokroaminoto dan Abdoel moeis (Maryam, 2017).

Volksraad adalah lembaga legislatif yang merupakan produk dari proses desentralisasi hukum pemerintah Belanda. Lembaga ini hanyalah lembaga konseling umum bagi gubernur jendral yang tidak menjalankan fungsinya sebagai lembaga legislatif sehingga keberadaannya seringkali dianggap sebagai omong kosong belaka. Meskipun begitu anggota Volksraad masih tetap memperjuangkan nasib pribumi. Lembaga ini terdiri dari 38 anggota dan 1 ketua. Dalam Volksraad bangsa Indoesia hanya mendapat sedikit bagian untuk menjadi anggota. Berbanding terbalik dengan bangsa Eropa yang banyak mendapat tempat di Dalam Volksraad (Nazirwan Rohmadi dan Warto, 2019). Masuknya Sarekat Islam kedalam Volksraad awalnya menimbulkan pertentangan dikalangan anggotanya. Beberapa pengurus Central Sarekat Islam semisal Abdul moeis mendukung gagasan bergabungnya Sarekat Islam kedalam dewan rakyat atau Volksraad. Abdul moeis berpendapat bahwa dengan bergabung ke dalam Volksraad dapat memudahkan jalan Sarekat Islam dalam mencapai tujuannya. Sementara anggota lainnya menentang keikutsertaan Sarekat Islam kedalam dewan rakyat.

Semaun salah satu anggota yang menentang bergabungnya Sarekat Islam ke dalam dewan rakyat, Dia berpendapat bahwa dewan rakyat hanyalah organisasi bohong yang sengaja dibentuk oleh pemerintah Belanda untuk mengelabui masyarakat Pribumi agar pemerintah Belanda tetap dapat mengeksploitasi sumber daya di Hindia Belanda, sehingga ide masukanya Sarekat Islam kedalam Volksraad Sangat ditentang oleh Semaun. Usulan Semaun ditolak oleh Abdul Moeis. Moeis menegaskan bahawa Volksraad adalah wadah yang tepat bagi Sarekat Islam dalam menyuarakan keinginan untuk mensejaterahkan masyarakat. Senada dengan Abdu Moeis, Agus Salim juga mendukung masukya Sarekat Islam kedalam Volksraad. Agus Salim berpendapat bawha dewan rakyat adalah lembaga yang dapat memberikan usulan ataupun pertimbangan kepada parlemen sehingga nasib rakyat dapat lebih diperhatikan.

Pada Kongres Sarekat Islam 1917, Semaun menolak gagasan Sarekat Islam untuk masuk kedalam Volksraad. Menurut Semaun organisasi itu hanyalah janji palsu pemerintah Belanda kepada rakyat Pribumi mengenai lembaga legislatif. Di dominasi oleh bangsa Eropa membuat Semaun merasa organisasi ini hanyalah boneka pemerintah Belanda untuk menyenangkan hati rakyat Pribumi. Semaun juga menganggap jika bergabung ke dalam Volksraad sama hal nya dengan mau tunduk dan menjadi budak pemerintah Belanda. Pemikiran Semaun ini mendapat banyak dukungan dari anggota Sarekat Islam yang satu pemikiran dengannya. Meski mendapat dukungan tidak sedikit juga yang menentangg ide Semaun. Abdul Moeis yang merupakan sosok yang mendukung Sarekat Islam bergabung ke dalam Volksraad mengungkapkan pandangannya bahwa dengan bergabungnya Sarekat Islam ke dalam Volksraad akan memudahkan perjungan Sarekat Islam dalam mensejahterakan penduduk Pribumi. Dengan perbedaan pendapat seperti ini Sarekat Islam akhirnya memutuskan untuk tetap bergabung dalam Volksraad, namun dari sini dapat dilihat bahwa benih-benih perpecahan itu mulai terasa.

Pertentangan dan perbedaan pendapat memang mengiringi perjalanan Sarekat Islam dalam bergabung ke Volksraad. Ada yang pro dan ada yang kontra kepada keputusan ini. Abdul Moeis adalah yang paling vokal dalam menyuarakan pendapatnya agar Sarekat Islam bergabung dengan Volksraad hal ini didasari bahwa dengan bergabung ke Volksraad hak masyarakat pribumi akan lebih mudah dibela. Sementara Semaun adalah yang palin menentang Sarekat Islam untuk bergabung kedalam Volksraad, ia berpendapat bahwa Volksraad tidak akan memberi manfaat apa-apa bagi masyarakat pribumi. Meski pada akhirnya banyak anggota Sarekat Islam yang menyetujui ide untuk bergabung kedalam Volksraad karena gagasan bergabung ke dalam Volksraad dipandang sebagai kesempatan yang strategis. Sarekat Islam menggunakan Volksraad sebagai alat untuk melawan pemerintah Belanda, hal ini sebagai upaya perlawanan melalui organisasi tanpa harus melibatkan senjata dan perang.

Sarekat Islam berusaha untuk menumbuhkan kesadaran nasional pada masyarakat Pribumi. Sarekat Islam berusaha untun mengembalikan harga diri bangsa selain juga ikut membantu dibidang ekonomi, sosial, politik dan keagamaan. Sarekat Islam berusaha untuk membangun kembali semangat ekonomi masyarakat untuk meningkatkan perekonomian pribumi. Organisasi ini juga berusaha untuk meningkatkan status sosial masyarakat serta perbedaan yang merendahkah harga diri rakyat Pribumi dan diganti dengan sikap persaudaraan dan kebersamaan. Sarekat Islam juga bertujuan memperbaiki moral masyarakat melalui pendidikan Islam.

Sarekat Islam juga menjadikan kongres sebagai alat untuk memberikan pendidikan bagi masyarakat Bumi Putera mengenai semangat kebangsaan. Serta menuntut diikutsertakannya masyarakat Pribumi di dalam pemerintahan. Voolksraad juga dijadikan alat untuk menyampaikan semua keinginan dan keluh kesah masyarakat. Para pemimpin Sarekat Islam menganggap tugas utama mereka adalah menyadarkan rakyat mengenai hak-haknya yang dilindungi oleh pemerintah terhadap ketidakadilan dan kesewenang wenangan yang terjadi (Soraya Rasyid dan Anisa Tamara, 2020).

Sarekat Islam berjuang melalui Volksraad dilakukan dengan cara kooperatif dengan maksud untuk memperoleh pemerintahan sendiri. Wakil Sarekat Islam yang duduk di Volksraad yaitu Cokroaminoto dan Abdul Moeis memutuskan untuk bergabung dengan sebuah fraksi Radical Concentratie, tujuannya adalah untuk membagun jaringan dengan golongan yang dianggap memiliki kekuatan yang besar. Perjuangan yang dilakukan Sarekat Islam melalui Volksraad nyatanya tidak membuahkan hasil karena berbagi tuntunan yang diberikan kepada Pemerintah Belanda tidak ada yang dikabulkan. Pada periode kedua Voolksraad Sarekat Islam diwakili oleh Haji Agus Salim. Hal ini juga tidak mengalami perubahan karena perjuangan melalui Volksraad selalu menuai kekecewaan, hingga akhirnya Sarekat Islam memutuskan keluar dari dewan rakyat (Volksraad).

Sarekat Islam Mendirikan Sekolah Rakyat

Sarekat Islam pada awalnya dibentuk berdasarkan kondisi ekonomi masyarakat. Kesulitan ekonomi masyarakat yang semakin menjadi-jadi memunculkan gagasan lahirnya organisasi ini. Sarekat Islam sendiri bertujuan untuk memperbaiki situasi dan kondisi masyarakat saat itu yang terjepit oleh kebijakan yang dijalankan oleh Bangsa-Bangsa Asing. Sarekat Islam memang pada awal nya berfokus kepada sektor ekonomi. Namun seiring berjalannya waktu organisasi ini berubah menjadi organisasi Sosial-ekonomi. Sarekat Islam kini juga berfokus untuk memperbaiki kondisi sosial masyarakat Pribumi.

Fokus Sarekat Islam untuk memperbaiki kondisi sosial masyarakat di wujudkan oleh Sarekat Islam melalui jalur pendidikan. Diskriminasi yang terjadi di dalam pendidikan serta sulitnya masyarakat Pribumi untuk mendapatkan pendidikan membuat Sarekat Islam melancarkan gerakan untuk mendirikan sekolah-sekolah Sarekat Islam. Sarekat Islam berpadangan bahwasannya pendidikan merupakan alat yang tepat untuk memperbaiki kondisi sosial rakyat Pribumi. Selain itu lembaga pendidikan Sarekat Islam juga digunakan sebagai alat untuk menanamkan nilai-nilai ke Islaman pada masyarakat Pribumi guna mencegah Kristenisasi yang kerap ada di sekolah-sekolah bentukan bangsa barat (M. A. Gani, 1984).

Bagi Sarekat Islam pendidikan haruslah mampu memebebaskan rakyat Pribumi dari kebodohan. Melalui pendidikan Sarekat Islam juga ingin menyadarkan masyarakat bahwa selama ini mereka belum menggunakan akalnya dengan baik (Mansur, 2013). Sarekat Islam seperti yang dikemukankan Cokroaminoto menginginkan pendidikan bagi masyarakat Pribumi adalah sebagai berikut :

  1. Pengajaran dan pendidikan yang dilaksanakan di dalam sekolah haruslah mampu untuk membentuk peserta didik menjadi Muslim yang sejati dan memiliki Jiwa Nasionalisme yang tinggi.
  2. Nilai-nilai demokrasi haruslah disisipkan dalam praktek pengajaran sebagai usaha menaikan martabat bangsa.
  3. Nilai-nilai keberanian yang bersifat luhur, keikhlasan hati, kesetian dan kecintaan kepada yang benar di tanamkan secara konsisten.
  4. Sikap budi pekerti yang halus dan tingkah laku yang sopan dan santun harus diajarkan di dalam sekolah.
  5. Harus ditanamkan prinsip hidup sederhana dan sikap saleh dalam kehidupan beragam, bermasyarakat dan bernegara.
  6. Prinsip untuk menghargai derajat serta martabat bangsa sendiri juga harus ditanamkan kepada peserta didik.
  7. Pendidikan yang erat kaitannya dengan Nasionalisme tidak boleh membuat peserta didik terpisah dari adat istiadat lingkungan rumahnya.
  8. Pendidikan juga bukan hanya harus mampu menumpuk rasa Nasionalisme tapi juga harus mampu meningkatkan kecerdasan bangsa dan membentuk sifat tanggungjawab dalam kehidupan sehari-hari.
  9. Pendidikan yang diberikan haruslah mampu menangkal pengaruh negatif yang datang dari luar sehingga peserta didik mampu menjadi Muslim yang sejati dan tetap menjunjung tinggi sejarah bangsanya dan adat istiadat daerahnya.
  10. Dalam bidang pendidikan dan pengajaran Sarekat Islam segala ilmu pengetahuan tentang Agama Islam tidak boleh dipisahkan dari ilmu-ilmu keduniaan. Hal ini agar segala tujuan hidup hanya diniatkan kepada Allah.
  11. Pendidikan yang dilakukan Sarekat Islam haruslah mampu membentuk pemuda dan pemudi Muslim yang tetap menjunjung nilai-nilai Islam di dalam kehidupan modern.

Sarekat Islam berusaha menyadarkan masyarakat bahwa pendidikan itu penting. Sarekat Islam juga menginginkan agar masyarakat wajib mendapat pendidikan hingga usia 15 tahun. Usaha Sarekat Islam dalam memajukan pendidikan bagi masyarakat Pribumi ketika mendirikan sekolah-sekolah Sarekat Islam mulai dari jenjang pendidikan TK, SD, SMP, SMA, Sekolah kejuruan hingga Universitas didirikan oleh Sarekat Islam untuk memperbaiki kondisi pendidikan masyarakat Pribumi. Pendidikan yang diberikan Sarekat Islam sangat membantu masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari munculnya tokoh-tokoh yang memiliki pemahaman Agama hasil didikan Sarekat Islam yang membatu memperjuangkan nasib masyarakat. Berkat pendidikan Sarekat Islam derajat dan martabat masyarakat Pribumi menjadi terangkat dan sedikit demi sedikit mampu memperbaiki nasib masyarakat Pribumi.

Penekanan yang dilakukan oleh Pemerintah Belanda terhadap agama Islam coba diatasi oleh Sarekat Islam dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan pendidikan yang telah disebutkan diatas. Sarekat Islam juga berusaha menggalang persatuan anatara umat Islam di Hindia Belanda, meski banyak umat Islam Pribumi yang memiliki wawasan yang rendah mengenai Islam tapi mereka tetap bangga disebut sebagai orang Islam.

Sarekat Islam menganggap pendidikan yang dijalankannya memiliki arti sebagai membebaskan dan memberdayakan masyarakat dan penyadaran masyarakat Indonesia sebagai berikut:

  1. Pendidikan sebagai proses pembebasan dan pemberdayaan.
    Oleh Sarekat Islam pendidikan dijadikan sebagai alat untuk membebaskan masyarakat Indonesia dari kebodohan baik dimasa lalu maupun yang akan datang. Hal ini sesuai dengan Salah satu trilogi Sarekat Islam yang berbunyi “Setinggi-tinggi ilmu pengetahuan. Artinya Allah tidak hanya memerintahkan manusia hanya untuk mencari akherat saja tapi juga memperhatikan bagian dunianya. Dan hanya dengan ilmu pengetahuanlah manusia itu akan mampu diangkat derajatnya. Berangkat dari hal itu SI berusaha memberdayakan masyarakat Indonesia dan membebaskannya dari kebodohan melalui pendidikan. Dengan pendidikan SI menganggap manusia bisa menjadi lebih produkti serta aktif. Pendidikan juga menurut SI mampu membebaskan manusia dari penindasan dan sikap kesewenang-wenangan.
  2. Pendidikan sebagai upaya penyadaran.
    Pendidikan yang dilakukan oleh Sarekat Islam juga merupakan upaya untuk menyadarkan masyarakat bahwa mereka belum menggunakan akal mereka dengan sebaik-baiknya. Karena itu melalui pendidikan Sarekat Islam bertekad untuk membantu masyarakat Pribumi dalam menggunakan akalnya dengan sebaik mungkin agar akal tersebut mampu dimanfaatkan bagi kehidupan dunia maupun akhirat.

Cokroaminoto sebagai salah satu tokoh utama Sarekat Islam memaparkan bahwa sistem pendidikan dan pengajaran Sarekat Islam dapat dibagi dalam 3 tingkatan:

  1. Yang pertama adalah tingkat sekolah dasar yang memerlukan waktu sekitar tujuh tahun untuk menempuh masa pendidikannya. Dari sistem ini diharapkan peserta didik pada usia 12-13 tahun telah menamatkan jenjang sekolah dasar.
  2. Yang kedua adalah tingkat sekolah menengah yang memerlukan waktu empat sampai lima tahun untuk menuntaskan jenjang pendidikannya.
  3. Yang ketiga adalah tingkat universitas atau perguruan tinggi.

Dalam sistem pendidikan ketiga tingakatan itu, ilmu pengetahuan duni dan ilmu pengetahuan akhirat haruslah berjalan dengan beriringan dan berjalan lurus dengan ketentuan ekstra kurikuler yang telah disusun oleh alhi di bidangnya masing-masing. Diharapkan dengan diterapkannya sistem pendidikan kurikuler yang sebanding kearah tujuan ilmu pengetahuan yang ingin dicapai pada tingkatnya masing-masing maka peserta didik setelah tamat dari masing-masing jenjangnya dapat menjadi muslim yang tidak hanya menonjol dari segi dunia tapi juga menonjol dalam urusan agama.

Keseriusan Sarekat Islam dalam bidang pendidikan kian terlihat ketika Sarekat Islam hendak mendirikan sekolah. Pendirian sekolah oleh Sarekat Islam tidak dapat dilepaskan dari sosok Tan Malaka. Tan Malaka yang datang ke Jawa pada 1919 bertujuan menjadi pengajar menarik perhatian dari para petinggi Sarekat Islam. Tan Malaka lalu diajak oleh Semaoen ke Semarang untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak PKI melalui sebuah kursus. Kursus itu mendapat sambutan hangat oleh masyarakat memberikan jalan bagi Sarekat Islam untuk mendirikan lembaga pendidikan lainnya. Pada kongres SI di Yogyakarta Semaoen mengajukan usul untuk mendirikan sekolah. Usulan Semaoen itu diterima dan diwujudkan dengan didirikannya Sekolah Sarekat Islam di Semaran pada tahun 1921 dengan Tan Malaka sebagai kepala sekolah dan tenaga pengajarnya. Dengan murid pertamanya berjumlah 50 orang (Shela Rahmawati).

Kursus maupun lembaga pendidikan lain yang dijalankan oleh Sarekat Islam selalu mendapatkan halangan dari Pemerintah Kolonial melalui Residen Semarang. Hal ini membuat sekolah kesulitan untuk mencari donatur guna membiayai keperluan sekolah. Guna mengatasi hal tersebut Sekolah mengirim murid-muridnya ke perkampungan untuk mencari kasih sayang dari warga setempat. Usaha ini membuahkan hasil bahkan murid sekolah Sarekat Islam bertambah menjadi 120 orang.

Sekolah Sarekat Islam yang berkembang pesat membuat Sarekat Islam kian gencar untuk mempromosikan sekolahnya. Dengan biaya yang murah dan iklim pelajaran yang lebih dekat kearah timur membuat sekolah Sarekat Islam ini mampu menarik minat masyarakat Pribumi. Perkembangan Sekolah Sarekat Islam semakin pesat hal ini dapat dilihat dari dibukanya sekolah Sarekat Islam di daerah Kaliwungu, Nganjuk, Salat Tiga dan Bandung dan daerah-daerah lain yang merupakan basis dari Sarekat Islam lokal.

Sekolah Sarekat Islam memiliki dua tingakatan yaitu tingkatan rendah dan tingakatan menegah. Dalam tingakatan rendah diajarkan pelajaran dasar seperti membaca, menulis dan berhitung. Sementara tingkat menengah adalah kelanjutan dari tingkat rendah. Di sekolah tingkat menengah murid-murid diberikan pelajaran pendidikan agar dapar mengajar di sekolah tingkat rendah. Tan Malaka menjelaskan bahwa sekolah Sarekat Islam diperuntukan bagi kaum Kromo atau kaum miskin yang kesulitan untuk mendapatkan pendidikan dari Pemerintah Kolonial. Tan Malaka juga menjelaskan bahwa tujuan sekolah Sarekat Islam adalah: Pertama untuk memberikan bekal kepada peserta didik dalam menjalani kehidupannya di dunia kapitalis. Hal ini wujudkan oleh sekolah Sarekat Islam dengan memberikan pelajaran berhitung, menulis, sejarah, ilmu bumi, bahasa Jawa, bahasa Melayu dan bahasa Belanda. Kedua memberikan murid-murid kesenangan dan suka cita dengan cara berkumpul denngan sesama murid sekolah. Ketiga menunjukan kewajibannya kepada kaum kromo.

Menurut Tan Malaka pendidikan untuk rakyat Hindia-Belanda harus berakar pada budaya asli masyarakat Pribumi bukan dari budaya yang dibawa Pemerintah Kolonial. Sekolah-sekolah Sarekat Islam juga bertujuan untuk membentuk manusia yang memilik manfaat bagi masyarakat. Diharapkan lulusan dari sekolah-sekolah Sarekat Islam dapat memberikan kontribusi dalam mensejaterahkan masyarakat Pribumi. Perjalanan sekolah Sarekat Islam tidak berlangsung lama. Setelah kesulitan tenaga pengajar yang coba di atasi dengan memperbantukan murid tingkat menengah untuk mengajar di tingkat rendah, sekolah harus menerima dampak perpecahan ideologi yang terjadi di dalam tubuh Sarekat Islam. Ditambah dengan perginya Tan Malaka ke belanda membuat sekolah Sarekat Islam kian tak terurus.

Setelah pecah nya Sarekat Islam, sekolah-sekolah Sarekat Islam berubah menjadi sekolah rakyat. Sekolah yang didirikan Sarekat Islam memang tidak berlangsung lama. Tapi sekolah Sarekat Islam ini mampu memberikan banyak manfaat kepada masyarakat. Salah satunya dengan lahirnya beberapa cendikiawan yang kelak membawa perubahan bagi masyarakat dan bangsa Indonesia itu sendiri.

Sarekat Islam membangun koperasi

Salah satu latar belakang berdirinya Sarekat Islam adalah kondisi ekonomi masyarakat setempat yang tidak mampu bersaing dengan bangsa asing. Hal ini dikarenakan kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kolonial yang menguatkan kedudukan dari bangsa asing itu. Hal ini membuat monopoli perdangan sangat mudah dilakukan oleh bangsa asing tersebut. Perkembangan industri yang terjadi juga merupakan faktor sulitnya masyarakat pribumi untuk bersaing dengan perusahaan yang dijalankan oleh bangsa asing. Bangsa asing yang memiliki peralatan industri yang lebih canggih tidak mampu disaingi oleh masyarakat pribumi yang masih menggunakan peralatan tradisional. Dikuasainya sektor ekonomi membuat bangsa asing juga bersikap semena-mena kepada penduduk setempat. Cina merupakan bangsa asing yang kerap kali berkonflik dengan penduduk pribumi. Di lawean yang merupakan tempat asal muasal dibentuk nya Sarekat Islam oleh Haji Samanhoedi, Cina menguasai sebagian besar industri batik disana, Bangsa Cina juga kerap kali melakukan perundungan terhadap masyarakat Pribumi. Hal inilah yang menjadi dasar lahirnya Sarekat Islam.

Sarekat Islam melakukan beberapa usaha di dalam organisasinya untuk membantu anggotanya yang mengalami kesulitan. Di awal syarat masuk organisasi, calon angota diminta untuk membayar semacam uang pendaftaran. Begitu pula setelah resmi menjadi organisasi para anggota diwajibkan membayar uang kas beberapa bulan sekali. Semua ini adalah usaha untuk membantu anggota Sarekat Islam yang mendapatkan kesulitan ekonomi. Usaha lain yang dilakukan Sarekat Islam dalam memajukan sektor ekonomi masyarakat Pribumi adalah dengan membentuk koperasi. Koperasi bentukan Sarekat Islam juga merupakan hasil kerja sama antara anggotanya. Dengan menjunjung prinsip tolong-menolong para anggota Sarekat Islam bahu-membahu untuk membangun koperasi yang ditujukan kepada anggota Sarekat Islam maupun yang bukan anggota Sarekat Islam.

Kegiatan koperasi Sarekat islam yang berlandaskan ekonomi kerakyatan bertujuan untuk meningkatkan kedudukan para anggotanya. Program ini bertujuan untuk meningkatkan semangat berdagang rakyat Indonesia dan meningkatkan kepentingan materil rakyat Indonesia di bidang lapangan dangan, kerajinan, dan pertanian. Pembentukan koperasi juga sesuai dengan tujuan Sarekat Islam dalam akte notaris tanggal 10 September yang memuat statuten yaitu:

  1. Memajukan perdagangan masyarakat pribumi.
  2. Memberikan bantuan dan pertolongan kepada anggota Sarekat Islam yang terkena musibah melalaui koperasi.
  3. Memberikan peningkatan sosial kepada penduduk pribumi melalui pendidikan jasmani dan rohani.
  4. Memajukan Agama Islam.
    (Kartika Sari, 2011)

Sarekat Islam menganggap bahwa dengan koperasi adalah hal yang paling tepat untuk melawan kapitalisme yang dijalankan oleh Pemerintah Kolonial. Dengan sistem koperasi yang memberikan pinjaman kepada anggotanya, hal ini sedikita banyaknya mampu menyaingi sistem ekonomi kapitalis yang berusaha menanamkam modal sebesar-besarnya. Koperasi juga dipandang oleh Sarekat Islam sebagai wadah yang tepat untuk meningkatkan kemandirian ekonomi pribumi.

Sarekat Islam awalnya membagun koperasi-koperasi rumah tangga. Kemudian koperasi ini berkembang menjadi koperasi toko yang menyediakan kebutuhan pokok sehari-hari dari anggotanya. Pada akhirnya koperasi ini kembali berkembang dan Sarekat Islam mendirikan koperasi batik sebagai kelanjutan dari koperasi-koperasi yang telah didirkan sebelumnya (Itang, 2016).

Sarekat Islam juga berhasil mengembangkan usahanya di bidang ekonomi ke beberapa daerah seperti di Surabaya, dimana pada tahun 1913 terdapat sepuluh koperasi dan toko milik Sarekat Islam. Di Surakarta terdapat juga koperasi milik Sarekat Islam yang menjual kebutuhan pokok. Pada bulan Mei 1913 di Surakarta didirikan dua toko yang menjual kebutuhan pokok sehari-hari serta menjual bahan bakar. Di daerah lain juga didirikan banyak koperasi Sarekat Islam dari tahun 1913 sampai 1914.

Koperasi yang didirikan Sarekat Islam sedikit banyaknya mampu membantu perekonomian masyarakat Pribumi ditengah hempitan kapitalisme bangsa Asing. Koperasi juga menjadi bukti kemandirian ekonomi masyarakat Pribumi. Dengan sistem ekonomi masyarakat yang saling bantu membantu sesama anggotanya, koperasi yang didirikan Sarekat Islam mampu membantu masyarakat Pribumi untuk bersaing dengan Bangsa Asing.

Daftar Pustaka

Ahmad, Tsabit Azhinar. 2014. Sarekat Islam dan Gerakan Kiri di Semarang 1917-1920. Sejarah dan Budaya Tahun kedelapan No 2 Desember (2014).

Aisyah, Siti. 2015. Dinamika Umat Islam pada masa Kolonial Belanda (Tinjauan Historis). Jurnal Rihlah Volume 11 No 1 (2015).

Ajuba, Taufik. 2018. Politik Keagamaan Kolonial : Diskontiniunitas dan Kontiniunitas di Indonesia. Farabi : Jurnal Pemikiran Konstruktif bidang Filsafat dan Dakwah Volume 18 No 2 Desember (2018) 2442-8624.

Eliana, Yunitha Seran. 2007, “Peranan Haji Oemar Said Cokroaminoto dalam perkembangan Sarekat Islam 1912-1934”. Pendidikan Sejarah. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sanatha Darma. Yogyakarta.

Gani. 1984. Citra Dasar dan Pola perjuangan Syarikat Islam. Jakarta : PT. Bulan Bintang.

Gie, Sok Hok. 1999. Dibawah Lentera Merah. Yogyakarta : Yayasan Bentang Budaya. 1999.

Gonggong, Anhar. 1985. HOS. Tjokromainoto. Jakarta : Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.

Kover. 1985. Sarekat Islam Gerakan Ratu Adil ?. Jakarta : Grafiti Pres.

Maftuhin, dkk. 2017. “The Movement Of Sarekat Islam's Politics In Struggling National Independence In 1918-1945”. Jurnal Historica Volume. 1 (2017): Issue. 2. 2252-4673.

Mansur. 2013. “Kontribusi Sarekat Islam dalam Membentuk Masyarakat Madani Melalui Pendidikan”. Inferens: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 7 no 2 Desember (2013).

Maryam. 2017. Gerakan Politik Islam Versus Belanda. Jurnal Tsaqofah dan Tarikh Volume 2 No 11 Juli-Agustus (2017).

Muryanti, Endang. 2010. Muncul dan Pecahnya Sarekat Islam di Semarang 1913-1920. Jurnal Paramitha Volume 20 No 1 (2010) 0854-0039.

Mustakif, Kaffin Muhammad. 2019. Sarekat Dagang Islam (1905-1912) : Between the Savagery Of Veerenidge Oostindische Compagnien (Voc) And The Independent Of Indonesia. International Journal Of Nusantara Islam Vol 7 No 1 (2019).

Muthaharah. 2015. K. H. Samanhudi dan Sjarikat Islam. Jurnal Al-Fikr Volume 19 No 1 (2015).

Nasihin. 2014. Islam dan Kebangsaan: Studi tentang Politik Islam Masa Pergerakan Nasional. Jurnal Rihlah Volume 11 No 1 (2014).

Noer, Deliar. 1973. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Jakarta: LP3S.

Poesponegoro dan Susanto. 1993. Sejarah Nasioanl Indonesia Jilid V. Jakarta: Balai pustaka.

Rahmana, Siti. 2018. Sarekat Islam : Mediasi Perkecuan di Surakarta Awal Abad Ke-20. Juspi : Jurnal Sejarah Peradaban Islam Volume 2 No 1 (2018) 2580-8311.

Rahmawati, Shella. 2016. Peran Tan Malaka di Sekolah Sarekat Islam Semarang 1921-1924. Jurnal. Program Studi Ilmu Sejarah. Jurusan Pendidikan Sejarah. Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Yogyakarta.

Rambe, Riswan. 2018. “Gerakan Ekonomi Islam di Indonesia pada Era Pra Kemerdekaan”. Ekonomi Islam. Program Pasca Sarjana. Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.

Rasyid, Soraya dan Tamara, Anisa. 2020. Sarekat Islam Penggagas Nasionalisme Di Indonesia. Jurnal Rihlah Vol 8 No 1 Januari-Juni (2020) 2580-5762.

Rekclifs. 1981. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta.

Sari, Kartika. 2011. Gerakan Sarekat Islam (SI)-Merah (Persinggungan antara Islam dan Komunis di Indonesia tahun 1920-1926. Sejarah Peradaban Islam Konsentrasi Islam di Indonesia. Program Pasca Sarjana. Institut Agama Islam Negeri Raden Fatah Palembang.

Suradi. 2014. Grand Old Man of The Republic Haji Agus Salim dan Konflik Politik Sarekat Islam. Jakarta: Mata Padi Presindo. 2014.

Susilo, Agus. 2018. Politik Etis dan Pengaruhnya Bagi lahirnya Pergerakan Bangsa Indonesia. Jurnal Historia Volume 6 Nomor 2 (2018) 2337-4713.

Syarif, Muhammad. 2019. Politik Etis Pemerintah Kolonial Hindia Belanda dan Pengaruhnya Terhadap Pesantren. Inovatif Volume 5 No 1 Februari (2019) 2598-3172.

Usman, Ismail. 2017. Sarekat Islam (SI) Gerakan Pembaruan Politik Islam. Jurnal Potret : Jurnal Penelitian dan Pemikiran Islam Vol 21 No 1 Januari-Juni (2017).

Utomo, Budi Cahyo. 1995. Dinamika Pergerakan Kebangsaan Indonesia Dari Kebangkitan Hingga Kemerdekaan. Semarang : IKIP Semarang Press.

Winarni, Retno. 2015. Konflik Politik dalam pegerakan Sarekat Islam 1926. Literasi Volume 5 no 2 (2015).

Yasmis. 2009. Sarikat Islam dalam pergerakan nasional Indonesia (1912-1927). Jurnal Sejarah Lontar Vol 6 no 1 Januari – Juni (2009).