Diperbarui tanggal 28/02/2023

Pengertian Perundungan

kategori Bimbingan dan Konseling / tanggal diterbitkan 28 Februari 2023 / dikunjungi: 267 kali

Pengertian Perundungan (Bullying)

Kata bullying berasal dari Bahasa Inggris, yaitu dari kata bull yang berarti banteng yang senang menyeruduk kesana kemari. Sedangkan di Indonesia perilaku bullying lebih dikenal dengan dengan sebutan penindasan, perundungan, perisakan, atau pengintimidasian yaitu adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Perilaku ini dapat menjadi suatu kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial atau fisik. Hal ini dapat mencakup pelecehan secara lisan atau ancaman, kekerasan fisik atau paksaan dan dapat diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu, mungkin atas dasar ras, agama, gender, seksualitas, atau kemampuan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) perundungan berasal dari kata rundung yang memiliki arti menggangu; mengusik terus menerus; menyusahkan. (www.kbbi.web.id diakses pada 1 Agustus 2019 pukul 20.12 WIB).

Menurut Murphy dalam Arumsari (2017:31) Bullying adalah intimidasi yang dilakukan seseorang atau kelompok dengan sengaja berusaha untuk menyakiti korban secara emosional atau fisik. Bullying biasanya terjadi berulang-ulang dari waktu ke waktu. Kekuasaan adalah bagian penting bullying dan mencoba untuk mendapatkan kekuasaan dan kontrol atas siswa lain. Menurut Tattum dan Tattum dalam Elvigro (2014:3), “bullying is the willful, conscious desireto hurt another and put him/her under stress”. Sedangkan menurut Rigby K, perilaku bullying dapat terjadi secara individual ataupun berkelompok yang dilakukan seorang anak ataupun kelompok secara konsisten dimana tindakan tersebut mengandung unsur melukai bagi anak yang jauh lebih lemah dibanding pelaku.Tindakan tersebut dapat melukai secara fisik atau psikis anak atau kelompok lain karena pada umumnya bullying dapat dilakukan secara fisik atau verbal yang berupa kata-kata kasar bahkan dapat berupa hal lain di luar keduanya.

Dari beberapa pendapat yang telah dikemukakan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa perundungan (bullying) merupakan suatu perilaku negatif yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang yang dilakukan secara berulang-ulang baik secara verbal maupun fisik sehingga dapat merugikan orang lain.

Bentuk – Bentuk Perundungan (Bullying)

Perilaku bullying yang terjadi di lingkungan pergaulan khususnya di lingkungan pergaulan sekolah sangat beraneka ragam. Adapun menurut Coloroso dalam Sari Y.P & Azwar W (2017:352) mengelompokkan bullying dalam beberapa bentuk yaitu : pertama, bullying secara verbal yaitu berupa pemberian julukan nama, celaan, fitnah, kritikan kejam, penghinaan, pernyataan - pernyataan yang bernuansa ajakan seksual atau pelecehan seksual, terror, surat-surat yang mengintimidasi, tuduhan-tuduhan yang tidak benar kasak-kusuk yang keji dan keliru, gosip dan sebagainya. Kedua, bullying secara fisik berupa memukuli, menendang, menampar, mencekik, menggigit, mencakar, meludahi, dan merusak serta menghancurkan barang-barang milik anak yang tertindas. Ketiga, bullying secara relasional pelemahan harga diri korban secara sistematis melalui pengabaian, pengucilan atau penghindaran. Keempat, bullying secara elektronik yaitu Bullying elektronik merupakan bentuk perilaku bullying yang dilakukan pelakunya melalui sarana elektronik seperti komputer, handphone, internet, website, chatting, e-mail, SMS dan sebagainya.

Secara umum bertuk-bentuk bullying dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori: bullying fisik, verbal dan psikologis. Seperti yang dijelaskan Tim Yayasan SEJIWA dalam Sugiariyanti (2009:103) berikut ini:

  1. Bullying fisik
    Adalah jenis bullying yang kasat mata, siapapun bisa melihatnya karena terjadi sentuhan atau kontak fisik antara pelaku dan korbannya. Contoh: menampar, menendang, meludahi, melempar dengan barang, mengancam dengan menggunakan senjata.
  2. Bullying verbal
    Adalah jenis bullying yang juga bisa terdeteksi karena melalui kata-kata dan bisa tertangkap indera pendengaran kita. Contoh: memaki, menghina, menuduh, menebar gosip, memfitnah, mengejek.
  3. Bullying psikologis
    Adalah jenis bullying yang berbahaya karena tidak tertangkap mata atau telinga kita jika tidak cukup peka untuk mendeteksinya. Jenis ini terjadi diam- diam dan di luar pemantauan guru. Sedangkan O’moore dan Minton dalam Elvigro (2014:4) menambahkan, ada bullying jenis lain yang melibatkan agresi secara tidak langsung dan melalui media elektronik yaitu cyber bullying. Bullying jenis ini memanfaatkan perkembangan teknologi seperti fasilitas internet dan elektronik (Kamera, komputer, perekam video/audio, ponsel). Dari alat-alat tersebut, pelaku dapat mengirimkan pesan teks, gambar atau video yang sifatnya mengancam, menyebar rumor dan teror.

Faktor- Faktor Penyebab Terjadinya Perilaku Perundungan (Bullying)

Peurndungan (Bullying) bukanlah suatu perilaku yang terjadi dengan begitu saja tapi terjadi dengan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor penyebab perundungan (bullying) sendiri cukup beragam. Menurut Morison, dkk. Bullying dapat disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut (Eliiot dalam Elvigro, 2014:12):

  1. Perbedaan kelas/senioritas, ekonomi, agama, gender dan etnisitas/ rasisme
  2. Tradisi senioritas
  3. Keluarga yang tidak rukun
  4. Situasi sekolah yang tidak harmonis dan diskriminatif
  5. Adanya karakter individu atau kelompok seperti dendam, iri, adanya semangat ingin menguasai korban unruk meningkatkan popularitas grupnya.
  6. Persepsi nilai yang salah atas perilaku korban.

Sedangkan Menurut Astuti dalam Arumsari (2017:35) faktor-faktor yang mempengaruhi bullying sebagai berikut:

  1. Pengaruh keluarga pada bullying anak. Kompleksitas masalah keluarga seperti ketidakhadiran ayah, ibu menderita depresi, kurangnya komunikasi antara orang tua dan anak, perceraian orang tua dan ketidakmampuan sosial ekonomi, merupakan faktor penyebab tindakan agresi yang signifikan.
  2. Karakter anak sebagai pelaku. Anak sebagai pelaku umumnya adalah anak yang selalu berperilaku agresif, baik secara fisik maupun verbal, anak pendendam atau iri hati.
  3. Adanya tradisi siswa secara “turun menurun”. Tradisi ini termasuk senioritas. Bullying yang terjadi di lingkungan sekolah kecendrungan disebabkan oleh senioritas, di lingkungan sekolah kakak kelas merasa memiliki hak dan kedudukan yang tinggi sehingga kecendrungan memiliki ego yang tinggi dan memiliki kekuatan yang kuat untuk melakukan tindakan bullying.
  4. Bullying terjadi jika pengawasan dan bimbingan etika dari guru rendah, sekolah dengan kedisplinan yang sangat kaku, bimbingan yang tidak layak dan peraturan yang tidak konsisten. Lingkungan sekolah yang tidak kondusif dan pengawasan yang kurang dari semua pihak sekolah akan memicu terjadinya perilaku bullying.

Karakteristik Korban dan Pelaku Perundungan (Bullying)

Korban Perundungan (Bullying)

Dalam hal ini terdapat beberapa karakteristik peserta didik yang menjadi korban perundungan (bullying) menurut Elvigro (2014:9) Untuk karakteristik korban atau target bullying sendiri cenderung diasosiasikan dengan orang-orang dengan ciri-ciri self esteem rendah, pasif, kutu buku, pendiam, merasa dirinya lemah dan tak berdaya.

Karakteristik anak yang rentan menjadi korban bullying yaitu :

  1. anak yang baru di lingkungannya;
  2. anak termuda di sekolah;
  3. anak yang pernah mengalami trauma;
  4. anak penurut;
  5. anak yang perilakunya dianggap mengganggu orang lain;
  6. anak yang tidak mau berkelahi;
  7. anak yang pemalu;
  8. anak yang miskin atau kaya;
  9. anak yang ras suku etnisnya dipandang inferior oleh pelaku;
  10. anak yang agamanya dipandang inferior oleh pelaku;
  11. anak yang cerdas, berbakat atau memiliki kelebihan;
  12. anak gemuk atau kurus;
  13. anak yang memiliki ciri fisik yang berbeda dengan orang lain;
  14. anak yang berada di tempat yang keliru pada saat yang salah (Coloroso, 2007 dalam Arumsari, 2017:36 )

Pelaku Perundungan (Bullying)

Menurut Elvigro (2014:8) pelaku bullying cenderung mempunyai sifat ataupun bersikap agresif, menyukai kekerasan, suka mendominasi orang lain, terikat dengan status orangtuanya yang terpandang, menjengkelkan, misterius, sering terlibat perkelahian dengan banyak orang dan mempunyai popularitas di sekolah atau di lingkungannya. National Youth Violena Pevention memaparkan bahwa pada umumnya, pelaku memiliki rasa percaya diri dan harga diri yang tinggi, cenderung bersikap pro terhadap kekerasan, tipikal berwatak keras, impulsif, dan mudah marah serta toleransi yang rendah terhadap rasa frustasi ( Sanders, 2003 dalam Elvigro, 2014:21).

Sedangkan menurut Berns dalam Sugiariyanti (2009:103) mengungkapkan bahwa Karakteristik Pelaku (Bully) adalah sebagai berikut:

  1. Mempunyai kebutuhan untuk merasa berkuasa dan unggul
  2. Biasanya secara fisik lebih kuat daripada teman sebayanya
  3. Impulsif, mudah marah dan frustrasi
  4. Umumnya pembangkang, tidak patuh pada aturan dan agresif
  5. Menunjukkan empati yang kurang terhadap orang lain dan terlibat dalam perilaku anti sosial
  6. Cenderung mempunyai konsep diri yang relatif tinggi

Dampak Terhadap Korban dan Pelaku Perundungan (Bullying)

Terhadap Korban Perundungan (Bullying)

Hasil studi yang dilakukan oleh National Youth Violena Pevention Resource Center ( Sanders, 2003 dalam Elvigro, 2014:20) menunjukan bahwa bullying dapat membuat remaja merasa ketakutan dan cemas, dapat mempengaruhi konsentrasi belajar di sekolah dan menuntun mereka untuk menghindari sekolah. Menurut Banks dalam Elvigro (2014:20-21) juga mengemukakan bahwa perilaku bullying memberikan kontribusi terhadap rendahnya tingkat kehadiran /absensi kelas, rendahnya prestasi akademik di sekolah, rendahnya harga diri, tingginya depresi, tingginya kenakalan remaja, dan kejahatan orang dewasa. Selain itu, juga dapat memicu penurunan skor tes IQ (kecerdasan) seseorang dan melemahkan daya analisis siswa.

Menurut Sampurno dalam Elvigro (2014:9), mereka yang mendapat perlakuan bullying di sekolah cenderung akan menjadi malas ke sekolah, mudah emosional untuk alasan sepele, menjadi sangat pemalu, tidak berani bertatap muka dengan orang banyak, raut wajahnya tampak tidak bahagia, dihantui kegelisahan dan ketidaknyamanan dengan berbagai situasi diluar rumah untuk bermain, mengambil/menempuh rute lain saat berangkat atau pulang sekolah, dan produktivitasnya di sekolah akan semakin memburuk.

Terhadap Pelaku Perundungan (Bullying)

Siswa yang terperangkap dalam perilaku bullying tidak akan mengembangkan hubungan yang sehat baik intrapersonal maupun interpersonal, kurang cakap memandang segala sesuatu dari perspektif yang lain (memiliki sudut pandang yang sempit), tidak memiliki empati dan akan menganggap bahwa dirinya yang paling kuat dan disukai, sehingga mampu mempengaruhi pola hubungan sosialnya di masa mendatang. (Coloroso, 2006 dalam Elvigro, 2014:21) Dengan melakukan bullying, pelaku akan beranggapan bahwa mereka memiliki kekuasaan terhadap keadaan. Jika dibiarkan terus-menerus tanpa intervensi, perilaku bullying ini dapat menyebabkan terbentuknya perilaku lain berupa kekerasan terhadap anak dan perilaku kriminal lainnya.