Diperbarui tanggal 12/04/2022

Pengertian Miskonsepsi

kategori Umum / tanggal diterbitkan 4 Januari 2022 / dikunjungi: 575 kali

Pengertian Miskonsepsi

Miskonsepsi atau salah konsep adalah suatu konsep yang tidak sesuai dengan pengertian ilmiah atau pengertian yang diterima para pakar dalam bidang itu, bentuk miskonsepsi dapat berupa konsep awal, kesalahan, hubungan yang tidak benar antara konsep-konsep, pandangan yang naïf (Suparno, 2005). Menurut pendapat Noval dalam Suparno (2005) bahwa miskonsepsi merupakan suatu interpretasi konsep-konsep dalam suatu pernyataan yang tidak dapat diterima. Adapun Brown dalam Suparno (2005) menjelaskan miskonsepsi merupakan suatu pandangan yang naif dan mendefinisikan sebagai gagasan yang tidak sesuai dengan pengertian ilmiah yang sekarang diterima. Sedangkan menurut Fowler dalam Suparno (2005) menjelaskan dengan lebih rinci arti miskonsepsi. Ia memandang miskonsepsi sebagai pengertian yang tidak akurat akan konsep. Penggunaan konsep yang salah. Klasifikasi contoh-contoh yang salah. Kekacauan konsep-konsep yang berbeda, dan hubungan hirarki konsep-konsep yang tidak benar. Dari beberapa teori di atas tergambarkan dengan jelas bahwa miskonsepsi adalah sebuah interpretasi pandangan naif dan definisi yang tidak akurat terhadap suatu konsep yang tidak dapat diterima karena bertentangan pengertian ilmiah.

Miskonsepsi mencakup pemahaman dan pemikiran yang tidak berdasarkan pada informasi yang tepat. Berarti miskonsepsi dapat dipandang sebagai suatu konsepsi yang melekat dan stabil dibenak siswa yang menyimpang dari konsepsi yang dikemukakan oleh para ahli yang bisa menyesatkan para siswa dalam memahami fenomena alamiah dan melakukan eksplanasi ilmiah. Menurut Suparno dalam (Syahrul & Setyarsih, 2015) dalam proses pembelajaran, siswa selalu diarahkan untuk bisa memahami materi pembelajaran dengan sebaikbaiknya. Faktanya, selama proses pembelajaran siswa tidak selalu menyerap informasi sepenuhnya, terlebih lagi pada mata pelajaran Fisika yang memuat banyak konsep ilmiah. Sehingga adakalanya apa yang dipahami siswa mengenai suatu konsep ilmiah sering kali berbeda dengan konsep yang dianut oleh para ahli fisika pada umumnya. Ketidaksesuaian pemahaman konsep tersebut seringkali disebut sebagai miskonsepsi atau konsep alternatif. Definisi yang tidak akurat dalam suatu konsep yang tidak dapat diterima karena ketidaksesuaian dengan pengertian ilmiah.

Suwarto (2013:76-77) menambahkan miskonsepsi adalah konsep yang tidak cocok dengan konsep para ilmuwan. Konsep tersebut dibangun berdasarkan akal sehat terhadap pengalaman sehari-hari dan dan pengetahuan. Miskonsepsi ialah ketidakpahaman siswa terhadap suatu konsep karena berdasarkan pengalaman pribadi dan pemikirannya saja (Dykstra, 2016:27). Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa miskonsepsi ialah pemahaman seseorang terhadap suatu konsep yang tidak sesuai dengan para pakar di bidangnya.

Penyebab Miskonsepsi

Miskonsepsi terjadi tidak terlepas dari penyebab yang menjadi faktor miskonsepsi. Secara umum, Miskonsepsi disebabkan oleh diri siswa, guru yang mengajar, cara mengajar, konteks dalam pembelajaran dan buku teks. Penyebab dari diri siswa pun beragam seperti prakonsepsi yang dimiliki siswa sebelum memperoleh pelajaran, lingkungan masyarakat sekitar tempat tinggal siswa, serta pengalaman hidup dan pengalaman menangkap pengertian dari peristiwa yang dialami. Kemampuan siswa juga dapat berpengaruh dalam miskonsepsi tersebut.

Kesalahan itu bisa dimengerti sesuai dengan filsafat konstruktivisme di mana pengetahuan merupakan hasil konstruksi siswa. Kebebasan mengkrontruksi maupun keterbatasan dalam mengkonstruksi mampu membuat siswa mengalami miskonsepsi meskipun guru mengajar secara tepat dan dengan buku yang baik. Guru yang salah mengajar dan salah dalam memahami bahan ajar mempunyai andil yang besar dalam meningkatkan miskonsepsi siswa. Miskonsepsi yang disebabkan oleh salah mengajar cukup sulit untuk diperbaiki, karena siswa beranggapan bahwa semua penjelasan yang diberikan guru adalah benar. Maka dari itu guru harus menguasai bahan ajar dengan benar. Sama halnya dengan buku teks yang salah mengungkapkan konsep akan membingungkan siswa dan miskonsepsi siswa semakin berkembang. Selain itu ada beberapa metode mengajar terkadang menimbulkan miskonsepsi siswa karena menekankan pada satu metode mengajar. Metode pembelajaran yang dibuat bervariasi dengan penekanan konsep pada setiap materi pelajaran akan meminimalkn miskonsepsi pada siswa.

Suparno (2005) menjelaskan bahwa penyebab miskonsepsi pada siswa disebabkan oleh diri siswa sendiri, guru/pengajar, buku teks, konteks, dan metode mengajar. Penyebab miskonsepsi tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

  1. Penyebab siswa dapat berupa prakonsepsi atau konsep awal yang salah, pemikiran asosiatif, pemikiran humanistik, reasoning yang tidak lengkap/salah, intuisi yang salah, tahap perkembangan kognitif siswa, kemampuan siswa, dan minat belajar siswa rendah.
  2. Penyebab guru/pengajar seperti guru tidak kompeten, tidak menguasai bahan ajar, tidak memberikan kesempatan untuk siswa mengungkapkan gagasan, serta relasi guru dan siswa tidak baik.
  3. Penyebab pada buku teks miskonsepsi terjadi ketika buku teks salah menulis terutama penulisan rumus, penjelasan yang keliru, tingkat kesulitan buku yang terlalu tinggi bagi siswa.
  4. Penyebab pada konteks misalnya dari pengalaman siswa, bahasa sehari-hari yang berbeda, teman diskusi yang salah, keyakinan dan agama, penjelasan orang tua atau orang lain yang keliru, serta perasaan senang atau tidak senang, bebas atau tertekan.
  5. Penyebab cara mengajar, misalnya penjelasan yang hanya berisi ceramah dan menulis, langsung ke dalam bentuk matematika, tidak mengungkapkan miskonsepsi siswa, tidak mengkoreksi tugas siswa yang salah, model analogi yang kurang tepat, model demonstrasi yang sempit dan lain - lain.

Cara Mendeteksi Miskonsepsi

Teknik mendeteksi miskonsepsi dengan menggunakan peta konsep (concept map), tes multiple choice dengan reasoning terbuka, tes essai tertulis, wawancara diagnosis, diskusi dalam kelas, praktikum dengan tanya jawab (Suparno, 2005). Beberapa peneliti menggunakan cara–cara tersebut untuk saling melengkapi, seperti halnya tes multiple choice dengan reasoning terbuka. Amir dkk dalam Suparno (2005), menggunakan tes pilihan ganda (multiple choice) dengan pertanyaan terbuka di mana siswa harus menjawab dan menulis mengapa siswa mempunyai jawaban seperti itu. Dengan demikian siswa diberi kebebasan memberikan alasan, akan tetapi alasan–alasannya sudah ditetapkan atau dipilihkan. Dari paparan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa tes pilihan ganda dengan pertanyaan terbuka memberikan ruang bagi siswa mengemukakan pendapat tentang konsep yang ditemuinya sendiri.