Diperbarui tanggal 10/06/2022

Pengaruh Gerakan Sarekat Islam Terhadap Perjuangan Bangsa Indonesia Melawan Pejajah

kategori Pendidikan Sejarah / tanggal diterbitkan 10 Juni 2022

Pengaruh Sarekat Islam di Bidang Politik

Sarekat Islam memiliki peranan penting dalam usaha mencapai kemerdekaan Indonesia. Sarekat Islam bisa disebut sebagai organisasi politik pertama yang menggunakan cara modern dalam hal ini diplomasi dan bersifat kooperatif untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Sarekat Islam memakai banyak cara dalam memperjuangkan nasib Pribumi di Indonesia. Mulai dari berjuang melalui gerakan buruh dan partai politik serta bergabung dengan federasi Nasional dan Internasional untuk memperkuat kedudukan Sarekat Islam. Semua hal itu di tempuh oleh Sarekat Islam dengan tujuan untuk memperbaiki nasib warga Pribumi.

Latar Belakang didirikannya Sarekat Islam adalah karena menurunya perekonomian masyarakat sebagai akibat dimonopolinya perdagangan oleh bangsa Belanda dan bangsa Cina. Dominasi bangsa Cina atas industri batik yang ada di lawean membuat Haji Samanhoedi berinisiatif untuk mendirikan Sarekat Dagang Islam dengan tujuan untuk membantu para pedagang Pribumi Muslim dalam bersaing dengan bangsa Cina. Juga pembagian kelas sosial yang dilakukan oleh Pemerintah Belanda yang menempatkan kaum Bumiputera dilapisan terbawah membuat rakyat Pribumi kerap kali mendapat perlakuan sewenang-wenang dari bangsa Asing khususnya bangs Cina. Hal ini menjadi alasan lain didirkannya Sarekat Dagang Islam. Hingga dari awal pendirian Sarekat Dagang Islam sampai berganti nama menjadi Sarekat Islam, organisasi ini merupakan organisasi yang bersifat sosial ekonomi (Azmi. Abdul Muis, 1984).

Sarekat Islam awalnya adalah organisasi yang tidak bersifat politik, hal ini ditegaskan di dalam kongres Sarekat Islam di Solo pada 1913 yang menyatakan bahwa organisasi ini bukan merupakan organisasi politik. Tetapi arah pergerakan Sarekat Islam sedikit banyak berubah sejak berubahnya anggaran dasar pada tahun 1912. Perubahan anggaran dasar mendorong munculnya pemikiran untuk mensejahterakan rakyat serta mendorong munculnya konsepsi mengenai pemerintah Nasional. Dengan nilai-nilai ke Islamana sebagai dasarnya Sarekat Islam berusaha untuk memperjuangkan nasib rakyat. Serta bergantinya tampuk kepemimpinan Sarekat Islam dari Haji Samanhoedi ke Cokroaminoto pada tahun 1912 semakin memperjelas gerakan politik Sarekat Islam.

Sifat politik Sarekat Islam terlihat jelas dari nama kongres tahunanya. Awalnya kongres tahunan Sarekat Islam hanya bernama kongres saja, tapi kini ditambahkan kata Nasional sehingga menjadi Kongres Nasional. Kata Nasional mencerminkan tiga hal bagi Sarekat Islam, yang Pertama kata Nasional menegaskan bahwa organisasi Sarekat Islam telah menyebar di seluruh wilayah Hindia Belanda, ke Dua kata Nasional digunakan karena peserta yang menghadiri kongres Sarekat Islam merupakan anggota Sarekat Islam lokal yang berasal dari banyak daerah Hindia Belanda, dan yang ke Tiga kata Nasional mencerminkan usaha yang dilakukan oleh para pemimpin Sarekat Islam untuk menyebarkan  kesadaran Nasional ke seluruh masyarakat Pribumi di setiap daerah Hindia Belanda dengan menjadikan nilai-nilai Islam sebagai landasannya.

Sifat Politik Sarekat Islam dituangkan kedalam “Keterangan Pokok” dan program kerja yang disetujui oleh kongres nasional Sarekat Islam pada tahun 1917. Keterangan pokok ini menyebutkan bahwa Sarekat Islam yakin bahwa Agama Islam itu memberikan pemikiran mengenasi persamaan derajat manusia dengan tetap memberikan kepercayaan penuh terhadap pemerintah yang berkuasa. Sarekat Islam juga yakin bahwa Islam merupakan agama yang memuat akhlak budi pekerti yang baik yang dapat mendidik masyarakat Pribumi. Sarekat Islam juga mengharapkan hancurnya kapitalisme serta tidak mengakuinya suatu golongan rakyat berkuasa di atas golongan rakyat lainnya.

Sarekat Islam mengusung program kerja yang dibadi menjadi Delapan point yaitu politik, pendidikan, agama, agraria, keadilam, industri, keuangan dan perpajakan. Di bidang politik Sarekat Islam meminta agar dibentuknya suatu dewan rakyat dan dibentuknya dewan-dewan daerah sebagai bagian membentuk lembaga perwakilan sesungguhnya untuk keperluan legislatif. Dalam pemilihan dewan desa hak pilih haruslah diberikan kepada warga Pribumi yang berusia 18 tahun ke atas dan untuk dewan lainnya harus berusia 21 tahun, dengan syarat dapat membaca dan menulis dalam bahasa apapun serta menguasai bahasa melayu secukupnya. Sarekat Islam juga menuntu dihapuskannya kerja paksa dan sistem izin berpergian dengan maksud agar hak-hak politik yang diajukan dapat berjalan dengan baik.

Bidang pendidikan juga menjadi perhatian Sarekat Islam seperti yang tertuang di program kerjanya. Sarekat Islam menuntut agar diskriminasi di sekolah di hapuskan. Juga dilaksanakanya wajib belajar bagi tiap penduduk hingga umur 15 tahun. Serta perbaikan fasilitas sekolah dan penambahan jumlah sekolah. Di bidang Agama Sarekat Islam menuntut agar segala peraturan yang menghambat penyebaran Islam untuk dihapuskan, pembayaran gaji bagi kyai dan penghulu, subsidi bagi lembaga pendidikan Islam dan pengakuan hari-hari besar Islam.

Sarekat Islam juga memberikan tuntutan di bidang keadalian yang dianggap selama ini tidak sesuai dengan keiginan masyarakat Pribumi. Sarekat Islam meminta agar kekuasaan eksekutif dan yudikatif dipisahkan dan menuntut agar hukum diberlakukan sama rata bagi seluruh penduduk Hindia Belanda. Juga menuntut perlindungan hukum bagi warga miskin. Dalam bidang agraria, Sarekat Islam meminta agar dihapuskannya “Milik Tuan Tanah” serta perbaikan irigasi. Sarekat Islam juga menuntu agar industri penting seperti industri yang menghasilkan bahan pokok masyarakat untuk dinasionalisasikan dan mengambil alih perusahaan yang dimonopoli oleh Pemerintah Belanda. Sarekat Islam juga menuntut agar keuntungan perkebunan juga dikenakan pajak serta pajak yang ditetapkan diminta agar sesuai dengan porsinya.

Sarekat Islam menginginkan agar kemerdekaan bagi seluruh Pribumi di Hindia Belanda dalam bidang politik dan ekonomi. Sarekat Islam ingin agar hak-hak masyarakat Pribumi di dalam bidang kenegaraan dan pemerintahan di bebaskan dan diberikan kekuasaan sepenuhnya sehingga dapat menetukan dan merancang nasib bangsanya sendiri. Dalam kemerdekaan ekonomi Sarekat Islam meminta agar segala bentuk kapitalisme dihapuskan agar masyarakat Pribumi mampu menjalankan roda perekonomiannya sendiri dengan bebas.

Sarekat Islam juga menuntu dibentuk nya sistem pemerintahan yang demokratis dan konstitusional. Bukanya sistem pemerintahan yang bersifat komunis atau fasis. Semua ini menurut Sarekat Islam hanya dapat dicapai melalui persatuan seluruh masyarakat Pribumi Hindia Belanda. Sarekat Islam juga menuntu didirikannya lembaga legislatif sebagai bentuk perwujudan sistem demokrasi karena anggota lembaga legislatif hanya diakaui melalui pemilu. Hal ini sesuai dengan mosi yang disampaikan oleh Cokroaminoto yang dikenal sebagai “Mosi Cokroaminoto” pada tahun 1916 yang menuntut didirikanya lembaga parlemen yang anggotanya dipilih melalui pemilihan umum dan membentuk sebuah pemerintahan yang bertanggung jawab kepada parlemen.

Sarekat Islam muncul ditengah masyarakat dengan menyebarkan pemikiran mengenai kebangsaan, nasionalisme, serta kemerdekaan. Pemikiran ini mengalir bersama dengan nilai-nilai ke islaman sehingga mudah diterima di masyarakat. Sarekat Islam berusaha keras memperjuangkan hak-hak masyarakat Pribumi dalam segalam bidang. Sarekat Islam berjuang dengan cara kooperatif dalam jalur politik. Sarekat Islam lebih memilih diplomasi yang dianggap jauh lebih efektif ketimbang berperang melawan Pemerintah Belanda yang sudah terbukti tidak efektif.

Jalan politik Sarekat Islam kembali terlihat saat Sarekat Islam mendirikan CSI (Central Sarekat Islam) sebagai organisasi yang mewadahi Sarekat Islam lokal yang ada di daerah-daerah. Central Sarekat Islam dijadikan media untuk menampun aspirasi masyarakat Pribumi serta menyatakan tuntutan kepada Pemerintah Belanda. Sarekat Islam tidak hanya fokus untuk menjalankan gerakan dalam memperjuangkan nasib masyarakat Pribumi, sarekat juga memberikan pengetahuan mengenai pemerintahan kepada rakyat Pribumi memanfaatkan forum-forum Central Sarekat Islam sebagai persiapan mendirikan Pemerintahan Nasional sendiri.

Cokroaminoto menegaskan bahwa tujuan Sarekat Islam berpolitik adalah agar dapat duduku di dalam dewan rakyat (Volksraad) dan agar memiliki pemerintahan sendiri. Perjuangan Sarekat Islam makin terlihat jelas ketika bergabung dengan Volksraad pada tahun 1918. Sebelum bergabung dengan Volksraad Sarekat Islam lebih dulu memanfaatkan kondisi politik yang kacau balau akibat perang dunia I melalui aksi Indie Werbar yang diusung oleh Pemerintah Belanda. Aksi Indie Werbar adalah aksi mengumpulka kekuatan dari seluruh penduduk Hindia Belanda untuk membela Hindia Belanda dari serangan musuh. Sekilas aksi ini tidak menguntung bagi masyarakat Pribumi sehingga bergabung dengan aksi Indie Werbar di tentang oleh beberapa anggota Sarekat Islam salah satunya Semaun. Tetapi para pemimpin Central Sarekat Islam melihat ini sebagai peluang untuk memperbaiki nasib rakyat Pribumi. Sarekat Islam mau mendukung aksi ini asalkan hak politik masyarakat Pribumi diperluas oleh pemerintah Belanda.

Bergabung dengan Volksraad dianggap sebagai peluang yang paling baik oleh Sarekat Islam dalam usaha memperjuangkan nasib rakyat Pribumi. Volksraad merupakan organisasi yang dibentuk dengan tujuan memberikan nasehat kepada gubernur jendral dalam mengambil keputusan. Volksraad juga merupakan pendampin kekuasaan legislatif. Dengan bergabung ke organisasi ini Sarekat Islam menganggap perjuangan bagi nasib masyarakat Pribumi akan jauh lebih mudah karena keluhan-keluhan dan keinginan yang dimiliki masyarakat Pribumi dapat disampaikan di dalam Volksraad dan menjadi pertimbangan bagi gubernur jendral dalam mengambil keputusan.

Bergabung dengan Volksraad juga memiliki keuntungan yang lainnya selain yang telah disebutkan diatas. Abdul Moeis anggota Sarekat Islam yang mendukung bergabungnya Sarekat Islam ke dalam Volksraad mengatakan bahwa Volksraad merupakan tempat belajar bagi seluruh orang dalam hal ilmu politik, tempat perdebatan antara golongan satu dengan golongan lain dalam memperjuangkan haknya serta tempat berorasi mengeluarkan suara untuk mendukun golongan lain yang lebih lemah. Nilai-nilai dalam Volksraad ini sangat penting sebagai pondasi awal dalam membentuk Pemerintahan yang mandiri bagi Pribumi Indonesia.

Sarekat Islam dalam berjuang di dalam Volksraad menggunakan cara-cara yang kooperatif. Para pemimpin Sarekat Islam sadar bahwa mereka memiliki tanggungjawab untuk menyadarakan masyarakat mengenai hak-haknya sebagai suatau bangsa serta menuntut keadilan bagi masyarakat Pribumi dan mengahapuskan kesewenag-wenangan. Sarekat Islam berusaha sekali untuk mendengarkan seluruh keluh kesah masyarakat Pribumi terutama keinginan masyarakat Pribumi untuk memperoleh hak-haknya sebagai suatu bangsa serta diikut sertakannya masyarakat Pribumi dalam suatu pemerintahan Naisonal. Keluhan-keluhan ini disampaikan oleh Sarekat Islam kepada Pemerintah Belanda melalui Volksraad sebagai lembaga yang mewakili masyarakat.

Sarekat Islam juga bergabung dengan fraksi oposisi yang ada di Volksraad untuk menggalang kekuatan fraksi itu bernama Radicale Concentratie. Radicale Concentratie adalah fraksi yang menuntut agar Volksraad menjadi dewan yang sungguh-sungguh. Abdul Muis juga membahkan agar Volksraad membela kaum yang lemah. Selain bergabung dengan Radicale Concentratie di dalam Volksraad Sarekat Islam juga bergabung dengan Democratische Concentratie di luar Volksraad fraksi ini juga menuntut agar Volksraad difungsikan secara sungguh-sungguh.

Sarekat Islam yang kian menjadi gerakan politik mengalami masalah internal di dalam organisasinya. Paham komunis ajaran Snevliet menyusupi tubuh Sarekat Islam dan mempengaruhi para anggota Sarekat Islam salah satunya Semaun dan Darsono. Hal ini kerap kali membuat pertentangan dalam tubuh Sarekat Islam sendiri dimana nilai ke Islaman dan komunis itu tidak dapat disatukan. Hal ini membuat lemah kedudukan Sarekat Islam. Meskipun golongan radikal yang ada di dalam Sarekat Islam juga mengiginkan kemerdekaan bagi penduduk Pribumi namun cara yang ditempuh oleh golongan ini kerap kali bertentangan dengan nilai-nilai ke Islaman.

Perpecahan akhirnya tak bisa dielakan lagi ketika pada tahun 1920 Sarekat Islam melakukan disiplin partai dan mengusir secara paksa orang-orang yang berhaluan Komunis dari Sarekat Islam. Hal ini membuat Sarekat Islam pada akhirnya terpecah menjadi dua yaitu Sarekat Islam merah dibawah pimpinan Semaun yang berkedudukan di Semarang. Dan Sarekat Islam putih dibawah pimpinan Agus Salim dan Cokroaminoto yang berkedudukan di yogyakarta.

Perpecahan yang terjadi di dalam tubuh Sarekat Islam memang membuat kedudukan organisasi ini melemah. Tapi kedua organisasi hasil perpecahan itu tetap menjalankan tugasnya untuk memerdekakan Pribumi dengan caranya masing-masing. Kedua organisasi itu bahkan kian kental dengan bau politik setelah secara resmi berubah menjadi partai politik Sarekat Islam merah berubah menjadi Partai Komunis Indonesia dan Sarekat Islam putih berubah menjadi Partai Sarekat Islam.

Perjuangan Sarekat Islam membuahkan hasil yang dirasakan oleh masyarakat Pribumi. Rakyat semula tidak mengetahui apa yang menjadi hak-haknya dan hanya mengetahui apa yang menjadi kewajibannya. Semenjak hadirnya Sarekat Islam rakyat jadi mengetahui apa yang menjadi hak-haknya dan apa yang menjadi tanggungjawabnya. Rakyat kini tau hak-hak mereka yang harusnya mereka peroleh dari pemerintah dan menuntut hak-hak itu kepada pemerintah. Sarekat Islam juga memupuk rasa persaudaraan antar rakyat Pribumi.

Rakyat juga menyadari tentang harga dirinya dan nilai-nilai kemanusiaan yang selama ini di injak-injak oleh bangsa asing. Kesadaran ini membuat masyarakat Pribumi ikut berperan aktif dalam memperjuangkan nasib bangsa. Rakyat juga menganggap Sarekat Islam merupakan organisasi yang dapat membantu memperjuangkan nasib Pribumi itu sendiri. Rakyat juga mulai memiliki keberanian untuk mengemukakan keluhan-keluhan dari semua yang selama ini dilakukan oleh bangsa asing.

Kehadiran Sarekat Islam juga membuat rakyat mampu mengajukan tuntutan-tuntutan di dalam forum yang disediakan oleh Sarekat Islam. Tuntutan-tuntutan itu ditampung oleh Sarekat Islam. Dan oleh Sarekat Islam tuntutan-tuntutan itu dibawa kedalam Volksraad. Kesinambungan antara rakyat dan Sarekat Islam membuat perjuangan Sarekat Islam jauh lebih mudah karena kita rakyat juga telah memikirkan nasibnya sendiri. Hal ini tidak lepas dari kesadaran yang diberikan oleh Sarekat Islam yang mempengaruhi rakyat Pribumi itu sendiri. Sarekat Islam menjadi organisasi yang mampu mengumpulkan anggotanya dari seluruh wilayah Hindia Belanda. Pemahaman yang diberikan Sarekat Islam membuat munculnya semangat Nasionalisme di dalam masyarakat. Dengan nilai-nilai ke Islaman yang sejalan dengan semangat Nasionalisme masyarakat membuat Sarekat Islam mudah diterima didalam masyarakat. Hadirnya Sarekat Islam mampu mempengaruhi masyarakat untuk bersama-sama saling membantu dalam memperbaiki nasibnya sendiri.

Sarekat Islam memberikan dampak yang signifikan di dalam bidang politik bagi masyarakat Pribumi. Sarekat Islam menumbuhak semangat kebangsaan dikalangan Pribumi dan memberikan pemikiran kepada Pribumi untuk merebut kembali hak-hak miliknya dan mengembalikan harga diri bangsa. Sarekat Islam memberikan pengetahuan dasar tentang politik kepada masyarakat Pribumi melalui forum-forum bentukan Sarekat Islam. Sarekat Islam juga bergabung dengan Volksraad sebagai usaha memperbaiki nasib Pribumi dan mempersiapkan diri agar dapat memiliki Pemerintahan sendiri. Keinginan yang kuat dari Sarekat Islam untuk membentuk pemerintahan sendiri dan mengembalikan hak-hak politik masyarakat membuat Sarekat Islam terus berjuang meski Sarekat Islam sempat dimasuki pengaruh komunis.

Pengaruh Sarekat Islam di Bidang Sosial.

Lahirnya Sarekat Islam tidak terlepas dari kondisi sosial masyarakat Pribumi yang saat itu kerap kali mendapat penindasan dari bangsa asing. Kebijakan Pemerintah Belanda yang selalu merugikan masyarakat Pribumi juga membuat kondisi bertambah buruk. Di tambah lagi pembagian kelas sosial yang dilakukan Pemerintah Belanda yang menempatkan masyarakat Pribumi di lapisan paling bawah, membuat masyarakat Pribumi sering kali diinjak-injak dan diperlakukan sewenang-wenang oleh bangsa asing.

Permasalahan diskriminasi yang dialami oleh masyarakat Pribumi menjalar hampir keseluruh lapisan kehidupan. Dalam bidang ekonomi masyarakat Pribumi kerap kali kalah bersaing dengan bangsa Asing karena monopoli yang dilakukan. Di bidang pendidikan masyarakat Pribumi sulit untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Pendidikan yang mereka dapatkan hanyalah pendidikan yang seadanya saja. Di bidang politik, hak-hak masyarakat untuk ikut di dalam pemerintahan sangat dibatasi bahkan saat itu organisasi politik pun dilarang berdiri. Di bidang Agama, masyarakat Pribumi yang mayoritas memeluk Agama Islam tidak memiliki kebebasan dalam menjalankan perintah Agamanya. Mereka justru mendapat tekanan dari nilai-nilai Agama Kristen yang coba diterapkan oleh Pemerintah Belanda di dalam kehidupan sehari-hari.

Berangkat dari Permasalahan tersebut Sarekat Islam lahir untuk memperbaiki kondisi masyarakat Pribumi yang semerawut. Sarekat Islam merupakan organisasi sosial-ekonomi. Sarekat Islam lahir sebagai bentuk simpati dari kalangan menengah ke atas terhadap kondisi Pribumi yang begitu memilukan. Sarekat Islam menjunjung tinggi nilai-nilai ke Islaman sebagai landasan pergerakannya. Hal ini dikarenakan Islam adalah agama yang sesuai dengan nilai-nilai sosial masyarakat dan juga karean mayoritas masyarakat Pribumi adalah Muslim sehingga organisasi ini mudah diterima di masyarakat.

Islam merupakan landasan dari Sarekat Islam, hal ini dapat dilihat dari trilogi landasan prinsip Sarekat Islam. Pertama adalah sebersih-bersihnya Tauhid, dalam perjuangannya selain iman dan taqwa Sarekat Islam menganggap diperlukannya Tauhid, semua gerak langkah yang dilakukan haruslah diniatkan karena Allah. Karena hanya Allah lah yang dapat membantu masyarakat untuk mencapai tujuannya. Setinggi-tingginya ilmu pengetahuan menjadi yang kedua dalam landasan prinsip Sarekat Islam. Sarekat Islam menganggap manusi diciptakan bukan hanya untuk mecapai tujuan akhirat saja tetapi ada juga bagian dunia yang dipersiapkan untuk manusia. Tetapi jangan sampai dunia membuat manusia terpana sehingga diperlukanlah ilmu untuk mengarahkan manusia kepada tujuan yang sebenarnya dan membantu manusia dalam mencapai tujuannya.

Landasan Prinsip Sarekat Islam yang terakhir adalah Sepandai-pandai siasah. Siasah maksudnya ialah politik. Maksudnya adalah selain menguasai ilmu politik, yang lebih penting adalah bagaimana menerapkannya. Bagi Sarekat Islam politik tidak lah dapat dipisahkan dari Islam itu sendiri juga selalu berkaitan dengan tingginya ilmu pengetahuan. Politik yang baik hanya akan terlaksana bila sesuai dengan ajaran agama Islam dan memiliki ilmu yang cukup untuk menerapkannya.

Tujuan berdirinya Sarekat Islam dalam jangka waktu pendek adalah untuk menjalin perasudaraan sesama Muslim, saling tolong menolong sesama anggotanya, membina kerja sama antar anggotanya, menciptakan usaha yang halal yang tidak bertentangan dengan aturan Pemerintah pusat maupun Pemerintah daerah serta menciptakan kehidupan makmur seluruh rakyat demi kesejahteraan Negeri. Dalam jangka panjang Sarekat Islam bertujuan untuk mencapai Islamisasi yang makin mantap bagi seluruh masyarakat Muslim Indonesia. Dan untuk mewujudkan semua itu maka diperlukan suatu pemerintahan sendiri yang terbebas dari campur tangan pihak lain.

Sarekat Islam berjuang memperbaiki nasib Pribumi dengan sistem persaudaraan. Hal ini dapat dilihat dari salah satu prinsip kerja Sarekat Islam yaitu saling membantu sesama anggotanya. Haji Samanhoedi selaku pendiri Sarekat Islam, menginginkan agar setiap anggota organisasi memiliki pemikiran bahwa organiasi Sarekat Islam adalah milik bersama karena dengan kebersamaan inilah organisasi ini dapat kuat dalam menghadapi Bangsa Cina dan Pemerintah Belanda.

Sarekat Islam menginginkan tidak adanya perbedaan antara sesama umat. Hal ini sesuai dengan ajaran Islam yang tidak pernah membagi umat kedalam kasta atau kelas-kelas sosial. Sarekat Islam juga menuntut agar hukum yang berlaku sama terhadap pria dan perempuan. Hak-hak asasi masyarakat Pribumi juga harus dipenuhi oleh Pemerintah Belanda. Menurut Sarekat Islam hal ini menjadi penting karea masyarakat Pribumi sudah lama ditindas oleh Bangsa Belanda. Sarekat Islam juga menginginkan agar warga Muslim diberikan kebebasan dalam menjalankan ajaran agam Islam.

Sarekat Islam berjuang dengan penuh semangat untuk memperbaiki nasib Pribumi. Sarekat Islam memilih jalur kooperatif untuk berjuang melawan bangsa Asing, hal ini sesuai dengan nilai-nilai ke Islaman. Sarekat Islam menggunakan Volksraad untuk menyampaikan tuntutan-tuntutan masyarakat Pribumi yang menginginkan perbaikan di dalam kehidupannya. Sarekat Islam juga menuntut agar Pemerintah Belanda lebih memperhatikan lagi pendidikan bagi masyarakat Pribumi dan memberikan kebebasan dalam menjalankan perintah Agama bagi masyarakat Muslim. Sarekat Islam juga menggunakan jalur dakwah untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai nilai-nilai kehidupan. Hal ini dimaksudkan untuk mengubah kondisi masyarakat.

Sarekat Islam sangat memperhatikan masalah sosial di kalangan masyarakat Pribumi. Perlakuan sewenang-wenang dari bangsa Asing yang menjatuhkan harga diri Bangsa sangat ditentang oleh Sarekat Islam. Seperti kebiasaan “Salam” dan “Jongkok” pegawai kepada atasan dinila sangat merendahkan harga diri Pribumi. Sarekat Islam menganggap hal ini tak perlu dilakukan karena Sarekat Islam menganggap manusia dilahirkan dengan harga diri yang sama sehingga Bangsa Asing tidak selayaknya memperbudak masyarakat Pribumi. Karena itu Sarekat Islam berusaha memperbaiki masalah ini (Yunita Elia Sheran).

Sarekat Islam juga berusaha untuk menghapuskan kesenjangan sosial yang ada di antara kaum Pribumi. Oleh Pemerintah Belanda Pribumi dibagi menjadi bangsawan dan rakyat jelat. Kaum bangsawan banyak mendapat dukungan dari Pemerintah Belanda karena kaum bangsawan memiliki kekuasaan dan mau bekerja sama dengan pemerintah Belanda. Sementara kaum rakyat jelata yang tidak memiliki apa-apa menjadi golongan yang tertindas karena mendapat perlakuan kasar dari bangsawan, Pemerintah Belanda dan Bangsa Asing. Hal inilah yang ingin dihilangkan oleh Sarekat Islam karena sama-sama masyarakat Pribumi harusnya bersatu bukannya saling menjatuhkan.

Usaha Sarekat Islam untuk memperbaiki moral masyarakat Pribumi dapat kembali dilihat pada tahun 1913. Pada tahun ini Sarekat Islam melakukan kampanye untuk membasmi “7 M”, Main (Judi), Madon (Nafsu Seks), Minum (Mabuk), Madat (Candu), Mangan (Makan Berlebihan), Maling (Mencuri), Misuh (Memaki). Tujuh M ini dinilai oleh Sarekat Islam sebagai penyakit masyarakat yang sangat berbahaya dan bertentangan dengan ajaran Agama Islam sehingga perlu untuk dibasmi. Hal ini juga dimaksudkan agar terciptanya masyarakat yang jauh lebih bermartabat.

Sarekat Islam sangat menginginkan persatuan umat Islam di Hindia Belanda, Hal ini dimaksudkan untuk melawan agama Kristen yang dibawa oleh Pemerintah Belanda. Pemerintah Belanda berusaha untuk menyebarkan Agama Kristen yang dibawa nya ke kawasan Hindia Belanda. Pemerintah Belanda menggunakan kekuasaan yang dimilikinya untuk menyebarluaskan Agama Kristen di Hindia Belanda. Nilai-nilai Agama Kristen perlahan-lahan diterapkan di dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, seperti misalnya hari minggu dilarang bekerja. Pemerintah Belanda juga memanfaatkan lembaga pendidikan untuk menyebarluaskan Agama Kristen. Di tambah lagi dengan peraturan-peraturan yang menekan agama Islam semakin membuat warga Pribumi Muslim terterkan.

Sarekat Islam juga berusaha memperbaiki kehidupan masyarakat melalui jalur pendidikan. Pendidikan merupakan hal yang penting yang dapat membantu memperbaiki kehidupan Pribumi. Tetapi pendidikan yang diberikan kepada Pribumi oleh Pemerintah Belanda sama sekali tidak menguntungkan masyarakat Pribumi itu sendiri. Hal ini tidak lain karena tujuan dari pendidikan yang diberikan Pemerintah Belanda adalah agar warga Pribumi semakin patuh kepada Pemerintah Belanda. Belum lagi lembaga pendidikan yang di susupi misionaris oleh pemerintah Belanda untuk menyebarkan agama Kristen makin membuat pendidikan bagi Pribumi justru makin mengkhawatirkan (Mansur).

Efek dari hadirnya Sarekat Islam bagi masyarakat Muslim dapat dilihat dari semenjak hadirnya Sarekat Isam masjid-masjid dan langgar-langgar menjadi ramai bukan hanya pada hari Jum’at tapi juga pada hari lainnya. Hal ini sangat penting bagi masyarakat karena mereka masih berpegang teguh kepada Al-Quran dan agama Islam dapat tetap berkembang ditengah maraknya Penginjilan yang dilakukan oleh Pemerintah Belanda.

Tojkroaminoto menginginkan agar Sarekat Islam dalam hal Ibadah dan Syariat untuk tidak membesar-besarkan masalah Furu, menghindarkan Sarekat Islam dari bahaya yang mengancam, dan diluar umat Islam tidak boleh ikut campur dalam urusan ke Islaman. Hal ini berati mereka yang beragama Kristen di larang ikut campur dalam urusan Agama Islam (Yunita elia sheran). Kekuatan nilai-nilai Ke Islaman Sarekat Islam kembali terlihat ketika organiasi itu disusupi oleh paham komunis. Paham komunis yang bertenrangan dengan Islam membuat sering terjadi perselisihan dalam tubuh Sarekat Islam. Nilai-nilai ke Islaman dalam Sarekat Islam sendiri pada akhirnya mampu untuk menyingkirkan Paham Komunis dari Sarekat Islam. Meski bertentngan dengan ajaran agama Islam sesungguhnya penganut paham komunis dalam tubuh Sarekat Islam juga menginginkan perbaikan nasib bagi masyarakat Pribumi. Hal ini dibuktikan dengan gerakan yang dilakukan oleh Sarekat Islam pimpinan Semaun untuk menolong rakyat Pribumi meski dengan cara yang radikal. Semaun juga ikut mendirikan sekolah dan kursus bagi masyarakat Pribumi.

Kehadiran Sarekat Islam menjadi angin segar bagi masyarakat Pribumi di Hindia Belanda. Sarekat Islam menjadi organisasi yang memperjuangkan nasib Pribumi. Berlandaskan nilai-nilai ke Islaman Sarekat Islam berusaha untuk memperbaiki keadaan masyarakat Pribumi. Mulai dari mendirikan sekolah, mengirimkan tuntutan dan berdakwah adalah usaha yang dilakukan Sarekat Islam untuk membawa umat menjadi lebih baik lagi.

Pengaruh Sarekat Islam di Bidang Ekonomi

Sarekat Islam lahir dilatar belakangi oleh kondisi ekonomi masyarakat Pribumi yang sangat buruk. Perdangan dimonopoli oleh Bangsa Belanda dan Bangsa Cina. Dengan kebijakan yang selalu menguntungkan kedua Bangsa tersebut membuat masyarakat Pribumi kesulitan untuk bersaing di dalam perdagangan. Hal inilah yang menjadi latar belakang lahir nya gerakan Sarekat Islam. Dengan maksud memperbaiki kondisi perekonomian masyarakat Pribumi Sarekat Islam lahir dengan nama awal Sarekat Dagang Islam yang didirikan oleh Haji Samanhudi di Surakarta 1905. Perekonomian masyarakat Pribumi yang memburuk disebabkan oleh kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh Pemerintah Belanda yang banyak merugikan masyarakat Pribumi. Tanam paksa merupakan salah satu kebijakan Pemerintah Belanda yang banyak merugikan masyarakat Pribumi. Belum lagi kebijakan lain seperti Undang-undang Agraria yang juga membuat Pribumi merugi. Semua kebijkan itu dibuat untuk keuntungan jutaan Gulden yang dirasakan bangsa Asing. Keuntungan itu berbanding terbalik dengan penderitaan yang dirasakan masyarakat Pribumi (Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Noto Susanto).

Perubahan orientasi ekonomi dari perkebunan menjadi sistem industri turut juga mempengaruhi ekonomi Masyarakat Pribumi. Majunya sistem komunikasi dan transportasi membuat perekonomian menjadi berkembang pesat. Hal ini mendorong tumbuhnya pabrik-pabrik industri dan perusahaan di berbagai kota di Hindia Belanda. Tumbuhnya perkantoran ini mendorong masyarakat desa berbondong-bondong pindah ke kota untuk mengadu nasib mencari pekerjaan. Kurangnya tanah pertanian di desa juga menjadi salah satu sebab perpindahan penduduk dari desa ke kota. Tapi Perpindahan penduduk dari desa ke kota ini nyatanya tidak cukup untuk menaikan taraf ekonomi masyarakat. Masyarakat Pribumi justru didik untuk dijadikan pekerja murah di kantor-kantor milik pemerintah Belanda (Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Noto Susanto).

Perekonomian masyarakat Pribumi Hindia Belanda semakin terpuruk setelah diberlakukannya politik pintu terbuka oleh Pemerintah Belanda. Politik pintu terbuka mengizinkan pihak swasta untuk menanamkan modal di Hindia Belanda dan mengelolanya sendiri. Hal ini membuat para pedagang Pribumi kesulitan untuk bersaing dengan perusahan swasta milik Bangsa Asing. Hal ini selain karena kemampuan perusahaan swasta menggunakan teknologi muktahir yang mempermudah produksi, juga banyaknya kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah Belanda yang lebih menguntungkan pihak asing, apalagi dengan pembagian kelas sosial oleh Pemerintah Belanda yang menempatkan masyarakat Pribumi di kelas terbawah makin membuat perekonomian masyarakat Pribumi terpuruk (Riswan Rambe).

Kondisi perekonomian yang demikian mendapatkan kecaman dari kaum terpelajar Pribumi. Banyak organisasi didirikan dengan tujuan membantu mensejahterakan masyarakat salah satunya Sarekat Dagang Islam. Sarekat Dagang Islam hadir ditengah masyarakat sebagai organisasi yang bertujuan untuk memajukan ekonomi masyarakat dengan menjunjung nilai-nilai ke islaman. Sarekat Dagang Islam merangkul para pedagang Islam yang ada di Indonesia untuk bersatu dan membuat perkumpulan. Para pedagang Jawa, Sumatera, dan beberapa warga Arab bergabung dengan perkumpulan ini (Korver).

Sarekat Dagang Islam didirikan oleh haji Samanhoedi di Lawean Surakarta. Organisasi ini berisikan para pedagang batik yang berusaha melawan monopoli perdagangan yang dilakukan oleh bangsa Cina. Cina menguasai ekspor dan penyaluran bahan pembuatan batik. Mereka berhasil mempengaruhi harga yang membuat masyarakat Pribumi kesulitan untuk membelinya. Dengan sulitnya mendapatkan bahan baku pembuatan batik membuat beberapa perusahan batik dibeberapa daerah bangkrut serta ada pula yang menjual perusahaan nya ke orang Cina. Kondisi ini membuat prihatin Haji Samanhoedi yang merupakan salah satu pedagang Batik di Surakarta untuk mendirikan Sarekat Dagang Islam dengan maksud menjadi wadah bagi para pedagang dalam bersaing dengan pedagang Cina dengan cara membantu satu sama lain sesama pedagang Muslim Pribumi (Yasmis).

Sarekat Dagang Islam menjunjung asas kerakyatan yang memiliki gagasan untuk memperjuangkan nasib rakyat Pribumi yang miskin dan sengsara. Serta menjunjung asas sosial ekonomi yang dituangkan dalam tujuan awal didirikannya Sarekat Dagang Islam oleh Haji Samanhudi sebagai berikut : Satu mengutamakan sosila ekonomi, Dua mempersatukan pedagang-pedangan batik, Tiga mempertinggi derajat Bumiputera, dan Empat memajukan agama dan sekolah-sekolah Islam (M. A. Gani).

Sarekat Dagang Islam yang telah berubah menjadi Sarekat Islam tidak melupakan fokusnya untuk tetap fokus kepada bidang ekonomi hal ini seperti yang tertuang dalam anggaran dasar Sarekat Islam 10 November 1912 : Satu Memajukan perdagangan, Dua memberikan pertolongan kepada anggota yang mendapat kesulitan, Tiga memajukan kepentingan rohani dan jasmani Bumiputera, Empat memajukan kehidupan Agama Islam. Meskipun telah berganti nama tetapi Sarekat Islam tidak melupakan tujuan awalnya sebagai organisasi yang membantu menaikan tingkat ekonomi masyarakat Pribumi (Muljono dan Sutrisno Kutoyo).

Sarekat Islam melakukan usaha untuk membantu perekonomian Pribumi dimulai dari dalam organisasinya itu sendiri. Di dalam organiasi Sarekat Islam terdapat sumbangan tahunan dan sumbangan bulan tiap anggotanya. Bagi anggota yang baru bergabung diwajibkan untuk membayar uang masuk sebesar 30 Sen. Hal ini dimaksudkan untuk dijadikan tabungan apabila nanti ada anggota Sarekat Islam yang membutuhkan bantuan secara finansial dapat menggunakan tabungan organiasi untuk menolongnya. Di awal pendiriannya Sarekat Islam juga punya perusahaan surat kabar sebagai salah satu badan usahanya (Takashi Shiraishi, 1997).

Sarekat Islam mulai melakukan kegiatan di luar organiasi untuk memajukan perekonomian masyarakat Pribumi. Salah satu usaha yang dilakukan adalah dengan mendirikan koperasi-koperasi yang modalnya didapatkan melalui sumbangan anggotanya. Koperasi yang didirikan dimaksudkan agar para anggota Sarekat Islam mampu memenuhi kebutuhannya sehari-hari dengan harga yang murah. Hal ini juga diharapkan mampu meningkatkan taraf ekonomi masyarakat (Roni Tabroni).

Koperasi yang didirikan Sarekat Islam sedikit banyaknya mampu membantu masyarakat Pribumi. Pada 1913 sampai 1914 banyak koperasi yang didirikan oleh Sarekat Islam dibanyak daerah. Daerah seperti Surabaya dan Surakarta menjadi pusat berdirinya koperasi Sarekat Islam. Dengan hadirnya koperasi ini banyak masyarakat Pribumi yang memilih belanja di koperasi ini selain karena harganya murah mereka juga hanya mau membeli produk dari pedagang Muslim seperti yang digemakan oleh Sarekat Islam agar membeli produk pedagang Muslim jangan pedagang Cina (Roni Tabroni). Koperasi yang digalang oleh Sarekat Islam menjadi bukti suksesnya Sarekat Islam dalam mengelola permodalan dari anggotanya. Permodalan ini didapat dengan cara menjual saham kepada para anggotanya. Koperasi ini juga menjadi bukti sukses ekonomi Pribumi dapat bersaing dengan ekonomi Asing (Kuntowijoyo, 1994). Koperasi juga di anggap sebagai jalan yang tepat untuk melawan kapitalisme karena pengelolaan modal atau uang yang ada dikoperasi dianggap sebagai salah satu cara untuk melawan kapitalisme (M. A. Gani).

Sarekat Islam juga berusaha mendirikan badan usaha yang lebih besar untuk meningkatkan perekonomian masyarakat Pribumi. Seperti bank dan Asuransi yang direncanakan didirikan oleh para pemimpin SI pada tahun 1913 serta perusahaan impor dan ekspor. Hal ini dimaksudkan untuk menyaingi perusahaan dagang Cina. Untuk menjalankan usaha ini dilakukan pengumpulan modal oleh Sarekat Islam, hasilnya di Yogyakarta dibentuk perusahan dengan cara melakukan perjanjian kredit dengan Dinas Pembentukan Usaha Kredit Rakyat Yogyakarta. Setelah itu Sarekat Islam juga banyak mendirikan badan-badan usaha di berbagai daerah serta mendukung program-program ekonomi di beberapa daerah (Roni Tabroni).

Sarekat Islam di Bogor berencana membentuk perusahan perdagangan serta melakukan proyek bangunan dan barang yang tidak bergerak pada 1914. Sementara SI di Banyumas berencana membentuk perusahan dagang dibidang tekstil dan tembakau. Di Temanggung ada usaha untuk mendorong hasil pertanian tembakau untuk menyaingi perusahaan Cina. Pada akhir 1913 sebuah percetakan dan perusahaan dagang didirikan di Kudus. Di Bengkulu di dirikan sebuah perusahaan penangkutan. Di Palembang Sarekat Islam membeli kapal motor untuk disewakan. Di Kalimantan tenggara Sarekat Islam berhasil membeli sebuah kapal Uap pada 1915 untuk pelayaran sungai. Usaha yang dilakukan Sarekat Islam ini bertujuan untuk memajukan ekonomi masyarakat Pribumi dan menyaigi perusahan Asing serta perusahan milik Cina. Usaha yang dilakukan oleh Sarekat Islam ini sedikit banyaknya mampu membantu perekonomian masyarakat Pribumi (Roni Tabroni).

Sarekat Islam selain membentuk koperasi dan badan usaha untuk membantu perekonomian rakyat Pribumi juga membentuk perserikatan-perserikatan pekerja untuk melawan kapitalisme pemerintah Belanda. Seperti dibentuknya Perserikatan Pegawai Bumiutera (PBB) 1916, perkumpulan para sopir Jawa serta perkumpulan lain yang muncul yang oleh Sarekat Islam dijadikan menyerupai organiasi Kaum Buruh agar perserikatan atau perkumpulan yang ada jauh lebih terpusat dan pergerakan yang dilakukan jauh lebih terarah (Eliana Yunitha Seran).

Perkumpulan Sarekat Islam selain fokus mendirikan badan-badan usaha untuk menunjang perekonomian rakyat juga fokus untuk memberikan edukasi dan solusi kepada masyarakat mengenai ekonomi. Ini dilakukan karena ada beberapa badan usaha yang didirikan oleh Sarekat Islam tidak berjalan semestinya dan malah bangkrut. Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan masyarakat Pribumi mengenai sistem ekonomi, sehingga sering terjadi kerugian di badan-badan usaha milik Sarekat Islam dan dibeberapa kasus juga terjadi korupsi dan penyelewengan. Karena itu Sarekat Islam menganggap pendidikan merupakan hal yang penting untuk memperbaiki kehidupan ekononomi masyarakat Pribumi. Sehingga Sarekat Islam menuntut agar dibukanya sekolah-sekolah yang layak bagi masyarakat Pribumi (A. P. E. Kover).

Sarekat Islam juga berusaha mendengarkan keluhan-keluhan masyarakat Pribumi mengenai sistem ekonomi umumnya mengenai pajak, kerja rodi dan tanah partikelir. Sarekat Islam menganggap pajak terlalu merugikan masyarakat Pribumi serta sikap sewenang-wenang dalam menetapkan pajak dan menagih pajak yang memberatkan masyarakat Pribumi. Sarekat Islam juga menampung keluhan rakyat Pribumi tentang beratnya kerja rodi. Juga keluhan para petani yang mendapat tekanan dari perusahan-perusahan industri untuk menyewakan tanah nya dengan harga yang sangat murah. Hal-hal inilah yang membuat Sarekat Islam mulai mengirimkan tuntutan-tuntutan kepada Pemerintah Belanda agar memperbaikai sistem perekonomian (A. P. E. Kover).

Sarekat Islam juga memempuh jalan diplomasi untuk memperjuangkan perbaikan ekonomi Pribumi dengan mengirimkan tuntutan-tuntutan kepada Pemerintah Belanda. Sarekat Islam menuntut perlindungan hukum bagi warga miskin. Mengahapus kepemilikan tuan tanah serta menuntut perbaikan irigasi. Tuntutan Sarekat Islam yang lainnya adalah menuntut untuk dinasionalisasikannya industri-industri penting terutama industri yang dimonopoli oleh Pemerintah Belanda serta industri yang menyediakan kebutuhan bahan pokok masyarakat. Sarekat Islam juga menuntut agar pajak diambil secara proposional dan laba perkebunan juga terkena pajak serta menuntut Pemerintah Belanda memberikan bantuan kepada koperasi-koperasi rakyat Pribumi (Deliar Noer).

Perjuangan ekonomi yang dilakukan Sarekat Islam tidak hanya ditempuh melalui jalur kooperatif tetapi ada juga yang radikal. Hal ini tidak terlepas dari masuknya pengaruh Komunis ke dalam tubuh Sarekat Islam yang menyebabkan sebagian anggota Sarekat Islam berpaham Komunis. Gerakan komunis di dalam tubuh Sarekat Islam yang diketuai oleh Semaun menganggap cara yang dilakukan Sarekat Islam selama ini terlalu lembut dalam memperjuangkan nasib ekonomi rakyat Pribumi, sehingga sering tidak diperhatikan oleh Pemerintah Belanda (Cahyo Budi Utomo).

Pemogokan menjadi jalan yang dipilih oleh Semaun untuk memperjuangkan nasib ekonomi masyarakat Pribumi. Pemogokan awalnya juga merupakan ide dari Sarekat Islam itu sendiri. Pemogokan akan dilakukan bila jalan-jalan damai yang ditempuh tidak membuahkan hasil. Sarekat Islam juga akan memberikan pengarahan agar pemogokan yang dilakukan dapat berjalan dengan tertib. Pemogokan juga sebaiknya dibatasi hanya pada satu pabrik dan satu tempat saja (Deliar Noer).

Pemogokan yang dilakukan oleh Semaun lebih bersifat radikal. Semaun mengkordinasikan kaum buruh agar jauh lebih militan dalam melancarkan protes. Pemogokan yang dilakukan Semaun memakan korban pertama dengan dipecatnnya 15 karyawan toko mabel. Semaun dengan menggunakan embel-embel Sarekat Islam menuntut agar jam kerja buruh dikurangi menjadi 8 jam, pegawai yang melakukan pemogokan tetap menerima gaji serta pegawai yang dipecat mendapat pesangon 3 bulan gaji. Usaha Semaun cukup berhasil karena tuntutan itu dikabulkan. Pemogokan-pemogokan yang dilakukan cukup berhasil karena buruh-buruh Bumiputera mengalami kerasahan dari inflasi yang terus terjadi sementara Pemerintah Belanda mendapat untung yang besar (Sok Hok Gie).

Semaun juga memperjuangkan nasib warga Pribumiyang ada di tanah-tanah partikelir dengan caranya sendiri. Ia berusaha membebaskan penduduk-penduduk yang tinggal di tanah partikelir yang mendapat pemerasan dari tuan tanah. Langkah pertama yang dilakukan semaun adalah menulis surat kepada tiap tuan tanah yang ada di Semarang, agar mengikhlaskan tanahnya untuk dijual kepada Pemerintah Belanda dan meminta Pemerintah Belanda dengan suka rela menurunkan harga sewanya menjadi setengahnya bagi masyarakat Pribumi. Semaun juga menuntut agar kerja rodi yang dilakukan dihapuskan karena begitu merugikan dan memberatkan kaum Pribumi (Sok Hok Gie).

Sarekat Islam yang memang awalnya berfokus pada bidang ekonomi tidak melupakan tujuan awalnya berdiri untuk memperjuangkan nasib Pribumi dibidang ekonomi. Berbagai cara dilakukan Sarekat Islam untuk mencegah Kapitalisme dan Imprelisme yang dilakukan bangsa Asing, salah satunya dengan mendirikan koperasi dan industri-industri untuk menunjang perekonomian masyarakat. Sarekat Islam juga menggandeng anggotanya untuk saling membantu sesama anggota Sarekat Islam. Pembinaan juga dilakukan oleh Sarekat Islam kepada golongan Pribumi yang tingkat ekonominya lemah. Memperjuangkan nasib buruh dengan menuntut diperbaikinya aturan mengenai jam kerja dan upah serta membina petani dan masyarakat pengerajin (M. A. Gani).

Usaha yang dilakukan Sarekat Islam memang ada yang bersifat radikal seperti pemogokan-pemogokan yang di kepalai oleh Semaun. Tapi hal ini tetap bertujuan agar perekonomian masyarakat Pribumi semakin membaik. Sarekat Islam yang berusaha memperbaiki kehidupan perekonomian Pribumi memberikan dampak yang baik bagi masyarakat Pribumi itu sendiri. Industri dan perekonomian Pribumi makin berkembang dan mampu bertahan di tengan sistem monopoli Pemerintah Belanda dan gempuran perusahaan Swasta. Buruh dan Petani pun nasibnya berubah dengan jam kerja dan upah yang kini disesuaikan serta pajak yang kini jauh lebih proposional.

Daftar Pustaka

Ahmad, Tsabit Azhinar. 2014. Sarekat Islam dan Gerakan Kiri di Semarang 1917-1920. Sejarah dan Budaya Tahun kedelapan No 2 Desember (2014).

Aisyah, Siti. 2015. Dinamika Umat Islam pada masa Kolonial Belanda (Tinjauan Historis). Jurnal Rihlah Volume 11 No 1 (2015).

Ajuba, Taufik. 2018. Politik Keagamaan Kolonial : Diskontiniunitas dan Kontiniunitas di Indonesia. Farabi : Jurnal Pemikiran Konstruktif bidang Filsafat dan Dakwah Volume 18 No 2 Desember (2018) 2442-8624.

Eliana, Yunitha Seran. 2007, “Peranan Haji Oemar Said Cokroaminoto dalam perkembangan Sarekat Islam 1912-1934”. Pendidikan Sejarah. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sanatha Darma. Yogyakarta.

Gani. 1984. Citra Dasar dan Pola perjuangan Syarikat Islam. Jakarta : PT. Bulan Bintang.

Gie, Sok Hok. 1999. Dibawah Lentera Merah. Yogyakarta : Yayasan Bentang Budaya. 1999.

Gonggong, Anhar. 1985. HOS. Tjokromainoto. Jakarta : Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.

Kover. 1985. Sarekat Islam Gerakan Ratu Adil ?. Jakarta : Grafiti Pres.

Maftuhin, dkk. 2017. “The Movement Of Sarekat Islam's Politics In Struggling National Independence In 1918-1945”. Jurnal Historica Volume. 1 (2017): Issue. 2. 2252-4673.

Mansur. 2013. “Kontribusi Sarekat Islam dalam Membentuk Masyarakat Madani Melalui Pendidikan”. Inferens: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 7 no 2 Desember (2013).

Maryam. 2017. Gerakan Politik Islam Versus Belanda. Jurnal Tsaqofah dan Tarikh Volume 2 No 11 Juli-Agustus (2017).

Muryanti, Endang. 2010. Muncul dan Pecahnya Sarekat Islam di Semarang 1913-1920. Jurnal Paramitha Volume 20 No 1 (2010) 0854-0039.

Mustakif, Kaffin Muhammad. 2019. Sarekat Dagang Islam (1905-1912) : Between the Savagery Of Veerenidge Oostindische Compagnien (Voc) And The Independent Of Indonesia. International Journal Of Nusantara Islam Vol 7 No 1 (2019).

Muthaharah. 2015. K. H. Samanhudi dan Sjarikat Islam. Jurnal Al-Fikr Volume 19 No 1 (2015).

Nasihin. 2014. Islam dan Kebangsaan: Studi tentang Politik Islam Masa Pergerakan Nasional. Jurnal Rihlah Volume 11 No 1 (2014).

Noer, Deliar. 1973. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Jakarta: LP3S.

Poesponegoro dan Susanto. 1993. Sejarah Nasioanl Indonesia Jilid V. Jakarta: Balai pustaka.

Rahmana, Siti. 2018. Sarekat Islam : Mediasi Perkecuan di Surakarta Awal Abad Ke-20. Juspi : Jurnal Sejarah Peradaban Islam Volume 2 No 1 (2018) 2580-8311.

Rahmawati, Shella. 2016. Peran Tan Malaka di Sekolah Sarekat Islam Semarang 1921-1924. Jurnal. Program Studi Ilmu Sejarah. Jurusan Pendidikan Sejarah. Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Yogyakarta.

Rambe, Riswan. 2018. “Gerakan Ekonomi Islam di Indonesia pada Era Pra Kemerdekaan”. Ekonomi Islam. Program Pasca Sarjana. Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.

Rasyid, Soraya dan Tamara, Anisa. 2020. Sarekat Islam Penggagas Nasionalisme Di Indonesia. Jurnal Rihlah Vol 8 No 1 Januari-Juni (2020) 2580-5762.

Rekclifs. 1981. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta.

Sari, Kartika. 2011. Gerakan Sarekat Islam (SI)-Merah (Persinggungan antara Islam dan Komunis di Indonesia tahun 1920-1926. Sejarah Peradaban Islam Konsentrasi Islam di Indonesia. Program Pasca Sarjana. Institut Agama Islam Negeri Raden Fatah Palembang.

Suradi. 2014. Grand Old Man of The Republic Haji Agus Salim dan Konflik Politik Sarekat Islam. Jakarta: Mata Padi Presindo. 2014.

Susilo, Agus. 2018. Politik Etis dan Pengaruhnya Bagi lahirnya Pergerakan Bangsa Indonesia. Jurnal Historia Volume 6 Nomor 2 (2018) 2337-4713.

Syarif, Muhammad. 2019. Politik Etis Pemerintah Kolonial Hindia Belanda dan Pengaruhnya Terhadap Pesantren. Inovatif Volume 5 No 1 Februari (2019) 2598-3172.

Usman, Ismail. 2017. Sarekat Islam (SI) Gerakan Pembaruan Politik Islam. Jurnal Potret : Jurnal Penelitian dan Pemikiran Islam Vol 21 No 1 Januari-Juni (2017).

Utomo, Budi Cahyo. 1995. Dinamika Pergerakan Kebangsaan Indonesia Dari Kebangkitan Hingga Kemerdekaan. Semarang : IKIP Semarang Press.

Winarni, Retno. 2015. Konflik Politik dalam pegerakan Sarekat Islam 1926. Literasi Volume 5 no 2 (2015).

Yasmis. 2009. Sarikat Islam dalam pergerakan nasional Indonesia (1912-1927). Jurnal Sejarah Lontar Vol 6 no 1 Januari – Juni (2009).