Diperbarui tanggal 5/06/2022

Pengaruh Bermain Lari Estafet Terhadap Kemampuan Kerjasama Anak Usia Dini

kategori Pendidikan Anak Usia Dini / tanggal diterbitkan 4 Juni 2022 / dikunjungi: 105 kali

Teori Bermain Anak Usia Dini

Frederich Whilhelm Froebel merupakan seorang yang mendirikan sekolah taman milik anak atau “cinrder of chidren” dia adalah orang yang pertama yang memiliki ide untuk membelajarkan anak diluar rumah. Konsep belajar menurut Froebel lebih efektif melalui bermain dan lebih dititik beratkan pada pembelajaran keterampilan motorik kasar dan motorik halus. Conny R. Semiawan (2008: 19-20) mengungkapkan bahwa permainan adalah berbagai kegiatan yang sebenarnya dirancang dengan maksud agar anak dapat meningkatkan beberapa kemampuan tertentu berdasarkan pengalaman belajar. Permainan adalah alat bagi anak untuk menjelajahi dunianya dari yang tidak anak kenal sampai pada yang anak ketahui dan dari yang tidak dapat diperbuatnya sampai mampu melakukannnya.

Menurut Sujiono (2013: 118) mengungkapkan tentang mengembangkan kognitif anak melalui permainan anak usia dini belajar melalui panca inderanya dan melalui hubungan fisik dengan lngkungan. Kebutuhan sensori motor anak didukung ketika kesempatan untuk berhubungan luas atau diluar lapangan. Mengemukakan tahapan bermain pada anak usia dini sebagai berikut:

  1. Bermain Fungsional
    Bermain ini berupa gerakan yang bersifat sederhana dan berulangulang contohnya berlari-lari, mendorong dan menarik mobil-mobilan.
  2. Bermain Membangun (consstructivisme play)
    Kegiatan bermain ini untuk membentuk sesuatu menciptakan bangunan dengan otot permainan yang tersedia contohnya menyusun plazzle, lego dan balok kayu.
  3. Bermain pura-pura (make believe play)
    Anak menirukan kegiatan oramg yang dijumpainya sehari-hari atau berperan /atau memainkan tokoh-tokoh dalam film kaitan atau dongeng. Yang dimaksud bermain pura-pura dan aplikasinya dalam teori Smilanky adalah dramatic play, dimana anak melakukan peran imajinasi atau memerankan tokoh yang dikenalnya melalui film/ dongeng / cerita lebih ditekankan pada bermain makna. Contoh: dokter-dokteran, meniru tukang bakso, polisi-polisian dan sebagianya.
  4. Bermain dengan peraturan (game with rules)
    Dalam kegiatan bermain ini, anak sudah memahami dan bersedia mematuhi peraturan permaina. Aturan permainan asalkan tidak menyimpang jauh dari aturan umumnya. Misalnya bermain olah raga, bermain tali, bermain monopoli, dan lain sebagainya.

Lari Estafet

Faruq (2016: 75) lari estafet atau lari sambug dalam mengembangkan keterampilan gerak membutuhkan kerjasama dan tanggung jawab masingmasing anggota kelompok untuk bisa menyelesaikan tugas dengan sebaikbaiknya dan menunjukan kemampuan keterampilan gerak sebaik mungkin.

Menurut Priatna (Aulia, 2018: 3) “lari estafet adalah salah satu lomba lari pada perlombaan atletik yang dilaksanakan bergatian atau beranting. Perbedaan lari estfafet dilakukan oleh 4 orang yang berlari sambung-menyambung mencapai garis finis”. Menurut Hermawan (2017: 2) menyatakan bahwa lari estafet adalah lari yang dilakukan secara bergantian. Dalam satu regu lari estafet terdapat empat orang pelari, seperti yang dikemukakan kedua pendapat diatas, Ardiansyah dan Tuasikal (2016: 181) juga mengemukakan bahwa lari estafet adalah salah satu lomba lari pada perlombaan atletik yang dilaksanakan secara bergantian atau beranting. Lari ini dilakukan bersambung dan bergantian membawa tongkat dari garis star sampai ke garis finis.

Menurut Wiarto (Lupita, 2018: 38) “Estafet adalah sebuah latihan yang dilakukan dengan cara memberikan tongkat dari satu tempat ke tempat lainnya. Latihanini dilakukan hingga semua anggota telah melakukannya (berikan waktu untuk kompetisi) Dari berbagai pedapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa lari estafet adalah keteampilan yang menggunakan gerak dan membutuhkan keja sama antar kelompok atau regu yang dilaksanak secara bergantian. Dalam satu regu terdapat empat orang pelari yang dilaksanakan dengan cara bergantian dengan membawa tongat.

Cara dalam Lari Estafet

Terdapat dua cara dalam permainan lari estafet seperti yang dijelaskan Faruq (2016: 76) seperti berikut:

  1. Pergantian diluar
    Pergantian tongkat dengan cara pergantian diluar anak-anak melakukan secara bersama dengan pasangan. Pasangan yang ada dibelakang berlari dengan cepat sambil membawa tongkat estafet dengan tangan kiri dan diterima dengan tangan kanan. Setelah bisa melakukan secara berpasangan anak-anak bisa melakukan secara berpasangan anak-anak bisa melakukan dengan cara dengan menambahkan pasangan, misalkan dengan pelari ketiga setelah menerima tongkat, tongkat dipindah ke tangan kiri demikian juga untuk pelari selanjutnya. Apabila anak-anak sudah mempraktikkan sampai tiga orang maka dalam satu kelompok dalam jarak yang dekat, setelah semua bisa melakukan maka dapat dilakukan lari estafet dengan jarak yang jauh atau ukuran hampir sebenarnya.
  2. Pengertian didalam
    Melakukan pengertian didalam atau memeragakan keterampilan gerak ini dapat dilakukan dengan cara berkelompok juga, mulai dari kelompok kecil sampai dengan kelompok besar. Apa bila sudah bisa semua maka diadakan lomba estafet antar kelomok yang bertujuan untuk mematangkan kemampuan keterampilan gerak ini adalah sipemegang tongkat berlari dengan membawa tongkat dan ketika akan sampai pada pelari ketiga dan seterusnya mengganti pegangan dari tangan kiri ke kanan. Perlu diingat semua bahwa sebelum melakukan lari estafet anak-anak selalu membiasakan diri melakukan pemanasan sehingga otot-otot tungkai siap melakukan aktivitas gerak estafet dan sesudah selesai melakukan gerakan pendinginan. Selain itu biasakan juga membawa botol minum sendiri yang berisi air normal.

Teknik Bermain Estafet

Sumarjilah (Aulia, 2018: 5) Teknik dalam permaianan lari estafet ini adalah:

  1. Pelari pertama menggunakan start jongkok
  2. Pelari kedua hingga seterusnya menggunakan start melayang (berdiri).
  3. Aba-aba menggunakan kata-kata seperti “Bersedia, siap, Ya”, bisa juga dengan memberikan aba-aba dengan menghitung “1-3”atau sebaliknya.
  4. Teknik dalam memberi dan menerima tongkat/benda untuk anak usia dini pelari pertama anak memberikan tongkat menggunakan tangan kanan, kemudian pelari kedua menerima menggunakan tangan kiri, seterusnya hingga garis finish.

Dalam melakukan aktivitas bermain, selalu ada langkah-langkah dalam pelaksanaannya. Langkah-langkah dalam melaksanakan aktivitas bermain estafet adalah sebagai berikut:

  1. Anak berdiri di tempat yang guru sediakan, kemudian guru menjelaskan aturan main sambil memperagakan cara bermainnya. Keaktifan anak dalam bermain menandakan anak memahami akan aturan dalam permainan yakni, anak harus bekerjasama dalam memindahkan benda dari satu tempat ke tempat yang lain sesuai waktu yang guru tentukan.
  2. Anak dibagi menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 4 orang anak, setiap anak melakukan kerjasama dalam permainan sesuai dengan aturan. Misalnya anak harus berada ditempat yang ditentukan hingga permainan berakhir, anak memindahkan benda satu per satu, dan lain sebagainya
  3. Anak berlomba untuk memindahkan benda dari satu tempat ke tempat yang lain secara cepat dan tepat dengan cara menyerahkan benda tersebut dari satu anak ke anak lainnya sesuai dengan aturan yang berbeda-beda disetiap pertemuan. Misalnya anak harus memindahkan benda dengan cara melompat, berjongkok, melempar, dan lain sebagainya
  4. Setelah waktu berakhir, guru melakukan tanya jawab pada setiap anak dalam kelompok untuk mengetahui perkembangan berpikir simbolik pada anak misalnya meminta anak untuk menyebutkan jumlah benda yang berhasil dipindahkan, menyebutkan urutan lambang bilangan 1-10 pada benda yang dipindahkan, dan lain sebagainya (Winendra dalam Lupita, 2018: 59)

Kelebihan dan Kekurangan Bermain Estafet

Terdapat kelebihan serta kekurangan dari setiap permainan yang dilakukan pada pembelajaran bagi anak usia dini. Begitu pula dengan bermain estafet, terdapat kelebihan yang yang dapat dirasakan baik oleh anak maupun oleh guru dalam proses belajar dan pembelajaran. Winendra (dalam Lupita, 2018: 60) Berikut ini merupakan kelebihan dari bermain estafet:

  1. Dapat mengembangkan anak dalam berpikir simbolik yakni pada saat menghitung jumlah benda yang berhasil dipindahkan saat bermain estafet, menyebutkan urutan lambang bilangan 1-10 pada benda yang dipindahkan, dan lain sebagainya.
  2. Dapat meningkatkan sikap kooperatif pada anak, karena dalam bermain estafet anak melakukan kerjasama dengan teman dalam kelompok saat memindahkan benda dari satu tempat ke tempat lainnya.
  3. Dapat mengembangkan fisik-motorik pada anak saat memindahkan benda dari satu tempat ke tempat lainnya.
  4. Dapat meningkatkan perkembangan bahasa anak yakni dalam berkomunikasi secara lisan baik dengan teman dalam kelompok maupun dengan guru.
  5. Dapat menumbuhkan rasa antusiasme pada diri anak, karena dalam bermain estafet dikemas dalam bentuk perlombaaan yang tentunya terdapat kelompok yang menang dan kalah sehingga anak terpacu untuk semangat dalam bermain agar dapat memenangkan perlombaan tersebut.

Selain kelebihan, terdapat pula kekurangan dari bermain estafet yakni:

  1. Dapat membuat anak-anak yang menunggu giliran dalam bermain estafet merasa bosan dan enggan untuk bermain.
  2. Jika salah satu anak dalam kelompok tidak memahami aturan dalam bermain, maka aktivitas bermain yang dilakukan akan terhambat.

Aktivitas Bermain Estafet

Aktivitas bermain merupakan kegiatan belajar yang sangat menyenangkan bagi anak, karena bermain adalah kegiatan utama bagi anak usia dini. Melalui aktivitas bermain, berbagai kemampuan yang dimiliki anak dapat dikembangkan dan ditingkatkan, seperti nilai agama dan moral, fisik- motorik, kognitif, bahasa, sosial emosional, serta seni. Menurut Montolalu dkk. (2009: 29) “Aktivitas bermain merupakan suatu rangkaian usaha kegiatan di TK. Kegiatan yang dilakukan membutuhkan pengaturan lingkungan bermain dan belajar serta alatalat permainan yang dibutuhkan anak.”

Dalam merencanakan dan mengatur aktivitas bermain, guru hendaknya menyediakan tempat dan menciptakan situasi yang menyenangkan sehingga dapat merangsang anak untuk melakukan berbagai kegiatan yang sesuai dengan minat dan aspek pengembangan anak. Salah satu aktivitas bermain yang dapat menjadi referensi bagi guru dalam pembelajaran adalah dengan melakukan aktivitas bermain estafet. Berdasarkan pendapat yang diungkapkan oleh ahli di atas dapat disimpulkan bahwa aktivitas bermain estafet merupakan suatu kegiatan pembelajaran yang dikemas dalam bentuk permainan estafet dengan menggunakan aturan yang ditentukan. Anak melakukan permainan dalam berkelompok. Setiap kelompok melakukan kerjasama dalam berlomba untuk memindahkan tongkat atau benda lainnya dari satu tempat ke tempat yang lain dengan cara menyerahkan benda dari satu anak ke anak lainnya sesuai waktu yang guru tentukan. Setelah waktu berakhir, guru melakukan tanya jawab pertanyaan sederhana pada setiap anak dalam kelompok untuk mengetahui perkembangan berpikir simbolik pada anak misalnya meminta anak untuk menyebutkan jumlah benda yang berhasil dipindahkan, menyebutkan urutan lambang bilangan 1-10 pada benda yang dipindahkan, dan lain sebagainya.

Kaitan Kemampuan Kerjasama dengan Bermain Lari Estafet

Pendidik memberi pengertian pentingnya kerjasama dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari kepada anak lewat contoh bermain. Misalnya bermain lari estafet dimana dalam permainan ini anak akan bekerjasama dan bertanggung jawab dalam bermain. Kerjasama atau pembagian tugas dan pembagian peran antara anak-anak yang terlibat dalam permainan, untuk mencapai tujuan tertentu. Kegiatan seperti ini biasanya tampak pada anak usia lima tahun, akan tetapi perkembangannya tergantung pada latar belakang orangtua, sejauh mana mereka memberi kesempatan dan dorongan kepada anak agar anak mau bergaul dengan teman sebayanya.

Menurut Faruq (2016: 75) lari estafet atau lari sambug dalam mengembangkan keterampilan gerak membutuhkan kerjasama dan tanggung jawab masing-masing anggota kelompok untuk bisa menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya dan menunjukan kemampuan keterampilan gerak sebaik mungkin.

 

Daftar Pustaka

Ardiyansah dan Tuasikal. 2016. Modifikasi Permainan Lari Estafet Untuk Meningkatkan Gerak Dasar Manipulatif Anak Tunagrahita Ringan. Jurnal Pendidikan Olahraga dan Kesehatan. 04 (01).1-8.

Aulia Rahmah. 2018. Peningkatan Perkembangan Motorik Kasar Anak Usia 4-5 Tahun Melalui Permainan Lari Estafet Di Tk Para Bintang Kota Jambi Tahun Ajaran 2017-2018. Jurnal. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Jambi. 

Lupita Reza Melati. 2018. Pengembangan Alat Permainan Estafet Sebagai Media Pembelajaran Dalam Perkembangan Anak Usia Dini. Jurnal. Universitas Islam Negeri Randen Intan Lampung

Masitoh, dkk. 2007. Strategi Pembelajaran TK. Jakarta Universitas Terbuka SPA. 2003. Menjadi pendidik Profesional. Jogjakarta Bina Insania

Susanto, A. 2012. Perkembangan Anak Usia Dini Pengantar Dalam Berbagaiaspeknya. Jakarta: Kencana Predana Media Group.

Sujiono, Yuliani Nurani. 2013. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: PT Indeks.

Saputra, Rian. 2018. Cara menghitung effect size. http://tutorimaru.blogspot.com/2018/02/cara-menghitung-effectsize.html. diakses pada tanggal 15 Mei 2019.

Tadkiroatun Musfiroh, dkk. 2007. Cerdas Melalui bermain. Jakarta Grasindo Tim Pusdi PAUD Lemlit UNY. 2009. Panduan Pembelajaran untuk Menstimulasi Keterampilan Sosial Anak Bagi Pendidik TK. Yogyakarta: Logung Pustaka.

Yudha M. Saputra, dkk. 2005. Pembelajaran Kooperatif Untuk Meningkatkan Ketrampilan Anak. Jakarta. Depdiknas.

Zahwa, Nabila Az. 2017. Kemampuan Kerja Sama Anak Usia Dini Ditinjau dari Urutan Kelahiran di Kelompok B RA Al-Karomah Kauman Batang. Skripsi.