Diperbarui tanggal 15/06/2022

Pendekatan Pembelajaran Ilmiah

kategori Pendekatan Pembelajaran / tanggal diterbitkan 12 Desember 2021 / dikunjungi: 659 kali

Pengertian Pendekatan Pembelajaran Ilmiah (Scientific Approach)

Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, didalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) Pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) Pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach) (Endang. 2014: 39).

Pendekatan saintifik merupakan pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach). Di dalam pembelajaran dengan pendekatan saintifik, peserta didik mengkonstruksi pengetahuan bagi dirinya. Menurut (Permendikbud nomor 81 A Tahun 2013 Tentang Implementasi Kurikulum Pedoman Umum Pembelajaran) bagi peserta didik, pengetahuan yang dimilikinya bersifat dinamis, berkembang dari sederhana menuju kompleks, dari ruang lingkup dirinya dan di sekitarnya menuju ruang lingkup yang lebih luas, dan dari yang bersifat konkrit menuju abstrak. Sebagai manusia yang sedang berkembang, peserta didik telah, sedang, dan/atau akan mengalami empat tahap perkembangan intelektual, yakni sensori motor, pra-operasional, operasional konkrit, dan operasional formal.

Banyak para ahli yang meyakini bahwa melalui pendekatan scientific/ilmiah, selain dapat menjadikan peserta didik lebih aktif dalam mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya, juga dapat mendorong peserta didik untuk melakukan penyelidikan guna menemukan fakta-fakta dari suatu fenomena atau kejadian (Sudrajat, 2013:homepage). Peserta didik dilatih untuk mampu berpikir logis, runut, dan sistematis. Berdasarkan uraian tersebut, dapat ditarik simpulan awal bahwa pembelajaran berbasis pendekatan scientific/ilmiah lebih efektif hasilnya dibandingan dengan pembelajaran tradisional. Pada pembelajaran berbasis pendekatan saintifik/ilmiah, retensi informasi dari guru lebih besar.

Tujuan pembelajaran dengan pendekatan ilmiah

Tujuan pembelajaran dengan pendekatan ilmiah didasarkan pada keunggulan pendekatan tersebut. Beberapa tujuan pembelajaran dengan pendekatan ilmiah adalah:

  1. Untuk meningkatkan kemampuan intelek, khususnya kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa.
  2. Untuk membentuk kemampuan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah secara sistematik.
  3. Terciptanya kondisi pembelajaran dimana siswa merasa bahwa belajar itu merupakan suatu kebutuhan.
  4. Diperolehnya hasil belajar yang tinggi.
  5. Untuk melatih siswa dalam mengomunikasikan ide-ide, khususnya dalam menulis artikel ilmiah.
  6. Untuk mengembangkan karakter siswa (Hosnan. 2014: 36-37).

Prinsip-prinsip pembelajaran dengan pendekatan ilmiah

Beberapa prinsip pendekatan ilmiah dalam kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut:

  1. Pembelajaran berpusat pada siswa.
  2. Pembelajaran membentuk student’s self concept.
  3. Pembelajaran terhindar dari verbalisme.
  4. Pembelajaran memberikan kesempatan pada siswa untuk mengasimilasi dan mengakomodasi konsep, hukum, dan prinsip.
  5. Pembelajaran mendorong terjadinya peningkatan kemampuan berpikir siswa.
  6. Pembelajaran meningkatkan motivasi belajar siswa dan motivasi mengajar guru.
  7. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih kemampuan dalam komunikasi.
  8. Adanya proses validasi terhadap konsep, hukum, dan prinsip yang dikonstruksi siswa dalam struktur kognitifnya (Hosnan. 2014: 37).

Langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan ilmiah (Scientific approach)

Hosnan (2014: 32) proses pembelajaran ilmiah menyentuh tiga ranah pembelajaran, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Proses pembelajaran yang melibatkan ketiga ranah tersebut digambar sebagai berikut:

Untuk mata pelajaran, materi, atau situasi tertentu, sangat mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan secara prosedural. Pada Produktif, Inovatif, Kreatif, Afektif kondisi seperti ini, tentu saja proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilainilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau sifat-sifat nonilmiah. Kemendikbud (2013) menyajikan pendekatan ilmiah dalam pembelajaran secara visual sebagai berikut.

Sejalan dengan gambar diatas, Hosnan (2014: 39) secara komprehensif dan terperinci menjelaskan keterampilan-keterampilan belajar yang membangun pendekatan ilmiah sebagai berikut.

  1. Mengamati (Observing)
    Kegiatan mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning). Metode ini memiliki keunggulan tertentu, seperti menyajikan media obyek secara nyata, peserta didik senang dan tertantang, dan mudah pelaksanaannya. Tentu saja kegiatan mengamati dalam rangka pembelajaran ini biasanya memerlukan waktu persiapan yang lama dan matang, biaya dan tenaga relatif banyak, dan jika tidak terkendali akan mengaburkan makna serta tujuan pembelajaran. Kegiatan mengamati sangat bermanfaat untuk memenuhi rasa ingin tahu peserta didik. Sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi. Kegiatan mengamati dalam pembelajaran dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut ini.
    1. Menentukan objek apa yang akan diamati.
    2. Membuat pedoman pengamatan sesuai dengan lingkup objek yang akan diamati.
    3. Menentukan secara jelas data-data apa yang perlu diobservasi, baik primer maupun sekunder.
    4. Menentukan dimana tempat objek pengamatan.
    5. Menentukan secara jelas bagaimana pengamatan dilakukan untuk mengumpulkan data agar berjalan mudah dan lancar.
    6. Menentukan cara dan melakukan pencatatan atas hasil pengamatan, seperti menggunakan buku catatan, kamera, tape recorder, video perekam, dan alatalat tulis lainnya.
    Menurut Kemendikbud (2013) kegiatan pengamatan dalam proses pembelajaran meniscayakan keterlibatan peserta didik secara langsung. Dalam kaitan ini, guru harus memahami bentuk keterlibatan peserta didik dalam observasi tersebut.
    1. Observasi biasa (common observation).
      Pada observasi biasa untuk kepentingan pembelajaran, peserta didik merupakan subjek yang sepenuhnya melakukan observasi (complete observer). Disini peserta didik sama sekali tidak melibatkan diri dengan pelaku, objek, atau situasi yang diamati.
    2. Observasi terkendali (controlled observation).
      Seperti halnya observasi biasa, pada observasi terkendali untuk kepentingan pembelajaran, peserta didik sama sekali tidak melibatkan diri dengan pelaku, objek, atau situasi yang diamati. Mereka juga tidak memiliki hubungan apa pun dengan pelaku, objek, atau situasi yang diamati. Namun demikian, berbeda dengan observasi biasa, pada observasi terkendali pelaku atau objek yang diamati ditempatkan pada ruang atau situasi yang dikhususkan. Karena itu, pada pembelajaran dengan observasi terkendali termuat nilai-nilai percobaan atau eksperimen atas diri pelaku atau objek yang diobservasi.
    3. Observasi partisipatif (participant observation).
      Pada observasi partisipatif, peserta didik melibatkan diri secara langsung dengan pelaku atau objek yang diamati. Sejatinya, observasi semacam ini paling lazim dilakukan dalam penelitian antropologi khususnya etnografi. Observasi semacam ini mengharuskan peserta didik melibatkan diri pada pelaku, komunitas, atau objek yang diamati. Di bidang pengajaran bahasa, misalnya, dengan menggunakan pendekatan ini berarti peserta didik hadir dan “bermukim” langsung di tempat subjek atau komunitas tertentu dan pada waktu tertentu pula untuk mempelajari bahasa atau dialek setempat, termasuk melibakan diri secara langsung dalam situasi kehidupan mereka.
    Praktik pengamatan dalam pembelajaran hanya akan efektif jika peserta didik dan guru melengkapi diri dengan alat-alat pencatatan dan alat-alat lain, seperti: (1) Tape recorder, untuk merekam pembicaraan; (2) Kamera, untuk merekam objek atau kegiatan secara visual; (3) Film atau video, untuk merekam kegiatan objek atau secara audio-visual; dan (4) Alat-alat lain sesuai dengan keperluan. Instrumen yang digunakan dalam melakukan observasi, dapat berupa daftar cek (checklist), skala rentang (rating scale), catatan anekdotal (anecdotal
    record), catatan berkala, dan alat mekanikal (mechanical device). 

    Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan oleh guru dan peserta didik selama observasi pembelajaran disajikan berikut ini.
    1. Cermat, objektif, dan jujur serta terfokus pada objek yang diobservasi untuk kepentingan pembelajaran.
    2. Banyak atau sedikit serta homogenitas atau heterogenitas subjek, objek, atau situasi yang diobservasi. Makin banyak dan heterogen subjek, objek, atau situasi yang diobservasi, makin sulit kegiatan obervasi itu dilakukan. Sebelum obsevasi dilaksanakan, guru dan peserta didik sebaiknya menentukan dan menyepakati cara dan prosedur pengamatan.
    3. Guru dan peserta didik perlu memahami apa yang hendak dicatat, direkam, dan sejenisnya, serta bagaimana membuat catatan atas perolehan observasi.
  2. Menanya (Questioning)
    Langkah kedua dalam pembelajaran saintifik adalah bertanya. Bertanya di sini dapat pertanyaan dari guru atau dari murid. Di dalam pembelajaran kegiatan bertanya berfungsi:
    1. Membangkitkan rasa ingin tahu, minat, dan perhatian peserta didik tentang suatu tema atau topik pembelajaran.
    2. Mendorong dan menginspirasi peserta didik untuk aktif belajar, serta mengembangkan pertanyaan dari dan untuk dirinya sendiri.
    3. Mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik sekaligus menyampaikan rancangan untuk mencari solusinya.
    4. Menstrukturkan tugas-tugas dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan sikap, keterampilan, dan pemahamannya atas substansi pembelajaran yang diberikan.
    5. Membangkitkan keterampilan peserta didik dalam berbicara, mengajukan pertanyaan, dan memberi jawaban secara logis, sistematis, dan menggunakan bahasa yang baik dan benar.
    6. Mendorong partisipasi peserta didik dalam berdiskusi, berargumen, mengembangkan kemampuan berpikir, dan menarik simpulan.
    7. Membangun sikap keterbukaan untuk saling memberi dan menerima pendapat atau gagasan, memperkaya kosa kata, serta mengembangkan toleransi sosial dalam hidup berkelompok.
    8. Membiasakan peserta didik berpikir spontan dan cepat, serta sigap dalam merespon persoalan yang tiba-tiba muncul.
    9. Melatih kesantunan dalam berbicara dan membangkitkan kemampuan berempati satu sama lain.
    Dengan memberi kesempatan siswa bertanya atau menjawab pertanyaan guru menumbuhkan suasana pembelajaran yang akrab dan menyenangkan.
  3. Mencoba (Experimenting)
    Langkah selanjutnya adalah mencoba (experimenting). Kegiatan yang dilakukan adalah mengumpulkan informasi/eksperimen. Kegiatan belajarnya adalah melakukan eksperimen, membaca sumber lain, mengamati objek/kejadian/ aktivitas, wawancara dengan narasumber. Hasil belajar yang nyata akan diperoleh peserta didik dengan mencoba atau melakukan percobaan, terutama untuk materi atau substansi yang sesuai.

    Aplikasi eksperimen dapat mengembangkan berbagai ranah tujuan belajar, yaitu sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Aktivitas pembelajaran yang nyata untuk ini adalah:
    1. Menentukan tema atau topik sesuai dengan kompetensi dasar menurut tuntutan kurikulum;
    2. Mempelajari cara-cara penggunaan alat dan bahan yang tersedia dan harus disediakan;
    3. Mempelajari dasar teoritis yang relevan dan hasil-hasil eksperimen sebelumnya;
    4. Melakukan dan mengamati percobaan;
    5. Mencatat fenomena yang terjadi, menganalisis, dan menyajikan data;
    6. Menarik simpulan atas hasil percobaan; dan
    7. Membuat laporan dan mengkomunikasikan hasil percobaan.
    Agar pelaksanaan percobaan dapat berjalan lancar maka guru harus melakukan: (1) Merumuskan tujuan eksperimen yang akan dilaksanakan murid (2) Guru bersama murid mempersiapkan perlengkapan yang dipergunakan (3) Perlu memperhitungkan tempat dan waktu (4) Guru menyediakan kertas kerja untuk pengarahan kegiatan murid (5) Guru membicarakan masalah yang akan dijadikan eksperimen (6) Membagi kertas kerja kepada murid (7) Murid melaksanakan eksperimen dengan bimbingan guru, dan (8) Guru mengumpulkan hasil kerja murid dan mengevaluasinya, bila dianggap perlu didiskusikan secara klasikal.
  4. Mengolah informasi (Associating)
    Istilah “menalar” dalam kerangka proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah yang dianut dalam Kurikulum 2013 untuk menggambarkan bahwa guru dan peserta didik merupakan pelaku aktif. Titik tekannya tentu dalam banyak hal dan situasi peserta didik harus lebih aktif daripada guru. Istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk pada kemamuan mengelompokkan beragam ide dan  mengasosiasikan beragam peristiwa untuk kemudian memasukannya menjadi penggalan memori. Selama mentransfer peristiwa-peristiwa khusus ke otak, pengalaman tersimpan dalam referensi dengan peristiwa lain. Pengalamanpengalaman yang sudah tersimpan di memori otak berelasi dan berinteraksi dengan pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia. Proses itu dikenal sebagai asosiasi atau menalar.

    Menurut teori asosiasi, proses pembelajaran akan berhasil secara efektif jika terjadi interaksi langsung antara pendidik dengan peserta didik. Pola interaksi itu dilakukan melalui stimulus dan respons (S-R). Teori ini dikembangan berdasarkan hasil eksperimen Thorndike, yang kemudian dikenal dengan teori asosiasi. Jadi, prinsip dasar proses pembelajaran yang dianut oleh Thorndike adalah asosiasi, yang juga dikenal dengan teori Stimulus-Respon (S-R). Menurut Thorndike, proses pembelajaran, lebih khusus lagi proses belajar peserta didik terjadi secara perlahan atau bertahap, bukan secara tiba-tiba. 

    Teori asosiasi ini sangat efektif menjadi landasan menanamkan sikap ilmiah dan motivasi pada peserta didik berkenaan dengan nilai-nilai instrinsik dari pembelajaran partisipatif. Dengan cara ini peserta didik akan melakukan peniruan terhadap apa yang nyata diobservasinya dari kinerja guru dan temannya di kelas. Aplikasi pengembangan aktivitas pembelajaran untuk meningkatkan daya asosiasi peserta didik dapat dilakukan dengan cara berikut ini.
    1. Guru menyusun bahan pembelajaran dalam bentuk yang sudah siap sesuai dengan tuntutan kurikulum.
    2. Guru tidak banyak menerapkan metode ceramah atau metode kuliah. Tugas utama guru adalah memberi instruksi singkat tapi jelas dengan disertai contoh-contoh, baik dilakukan sendiri maupun dengan cara simulasi.
    3. Bahan pembelajaran disusun secara berjenjang atau hierarkis, dimulai dari yang sederhana (persyaratan rendah) sampai pada yang kompleks (persyaratan tinggi).
    4. Kegiatan pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati
    5. Setiap kesalahan harus segera dikoreksi atau diperbaiki
    6. Perlu dilakukan pengulangan dan latihan agar perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan atau pelaziman.
    7. Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang nyata atau otentik.
    8. Guru mencatat semua kemajuan peserta didik untuk kemungkinan memberikan tindakan pembelajaran perbaikan.
    Seperti telah dijelaskan di atas, ada dua cara melakukan asosiasi, yaitu dengan logika induktif dan deduktif. Logika induktif merupakan cara menarik kesimpulan dari fenomena atau atribut-atribut khusus untuk hal-hal yang bersifat umum. Sedangkan logika deduktif merupakan cara menarik kesimpulan dari pernyataan-pernyataan atau fenomena yang bersifat umum menuju pada hal yang bersifat khusus. Dengan pola ini siswa dapat mengolah informasi dengan logika induktif dari percobaan yang telah dilakukan sebelumnya, dan dengan menggunakan logika deduktif dengan membandingkan teori-teori yang telah ada dengan hasil percobaannya.
  5. Membentuk Jejaring (Networking)
    Networking adalah kegiatan siswa untuk membentuk jejaring pada kelas. Kegiatan belajarnya adalah menyampaikan hasil pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya. Langkah ini memberikan keuntungan kepada siswa dalam meningkatkan rasa percaya diri dan kesungguhan dalam belajar. Guru berfungsi sebagai fasilitator tentang kegiatan ini. Jejaring pembelajaran disebut juga pembelajaran kolaboratif. Pembelajaran kolaboratif merupakan suatu fisafat personal, lebih dari sekedar teknik pembelajaran di kelas-kelas sekolah. Kolaborasi esensinya merupakan filsafat interaksi dan gaya hidup manusia yang menempatkan dan memaknai kerja sama sebagai srtuktur interaksi yang dirancang untuk memudahkan mencapai tujuan bersama. Pada pembelajaran kolaboratif kewenangan guru fungsi guru bersifat direktif atau manajer belajar, sebaliknya peserta didiklah yang harus lebih aktif. Dalam peristiwa kolaboratif itu peserta didik berinteraksi dengan empati, saling menghormati, dan menerima kekurangan atau kelebihan masing-masing.

Dengan cara ini, akan tumbuh rasa aman, sehingga memungkinkan peserta didik menghadapi aneka perubahan dan tuntutan belajar secara bersama-sama. Lebih dari 2400 tahun lalu Confucius menyatakan: apa yang saya dengar, saya lupa, apa yang saya lihat saya ingat, apa yang saya lakukan saya paham. Silberman telah memodifikasi penyataan tersebut menjadi: apa yang saya dengar saya lupa, apa yang saya dengar dan lihat saya ingat, apa yang saya dengar, lihat, dan diskusikan saya mulai paham, apa yang saya dengar, lihat, diskusikan, dan lakukan, saya memperoleh pengetahuan dan keterampilan, apa yang saya ajarkan kepada yang lain, saya pemiliknya (Silberman. 2002: 1). Dengan mengkomunikasikan dan asosiasi yang telah dilakukan peserta didik dalam pembelajaran akan memperkuat penguasaan siswa terhadap materi pelajaran yang telah disajikan dalam pembelajaran.

Karakteristik Pendekatan Scientific

Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 61 A Tahun 2014 lampiran VII, pendekatan scientific memiliki karaktereristik sebagai berikut:

  1. Berpusat pada siswa. Pendekatan scientific berpusat pada siswa (student centered), hal ini sesuai dengan pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai subjek belajar dan guru berperan sebagai fasilitator yaitu memberikan kemudahan kepada siswa melakukan aktivitas belajar.
  2. Memberikan pengalaman langsung. Pendekatan scientific dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa (direct experiences). Siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata (konkrit) sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak.
  3. Bersifat fleksibel. Pendekatan scientific bersifat luwes (fleksibel) dimana guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya, bahkan mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan dimana sekolah dan siswa berada.
  4. Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa. Siswa diberi kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya sesuai dengan minat dan kebutuhannya.
  5. Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan (Depdikbud 2013).

Sedangkan menurut Daryanto (2014:53) pembelajaran dengan pendekatan scientific memiliki karakteristik sebagai berikut:

  1. Pembelajaran berpusat pada siswa,
  2. Pembelajaran membentuk students self concept,
  3. Pembelajaran terhindar dari verbalisme,
  4. Pembelajaran memberikan kesempatan pada siswa untuk mengamisilasi dan mengakomodasi konsep, hukum, dan prinsip,
  5. Pembelajaran mendorong terjadinya peningkatan kemampuan berfikir siswa,
  6. Pembalajaran meningkatkan motivasi belajar siswa dan motivasi mengajar guru,
  7. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih kemampuan dalam komunikasi,
  8. Adanya proses validasi terhadap konsep, hukum, dan prinsip yang dikontruksi siswa dalam struktur kognitfnya.

Sementara Yusuf (2014:homepage) menyatakan bahwa sebuah metode dapat dikatakan sebagai pendekatan scientific apabila memenuhi 7 (tujuh) kriteria yaitu:

  1. Materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan atau dongeng semata.
  2. Penjelasan guru, respon siswa, dan interaksi edukatif guru-siswa terbebas dari prasangka yang serta merta, dan pemikiran yang menyimpang dari alur berpikir logis.
  3. Mendorong dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis, analistis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran,
  4. Mendorong dan menginspirasi siswa mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari materi pembelajaran.
  5. Mendorong dan menginspirasi siswa mampu memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran.
  6. Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggungjawabkan
  7. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas, namun menarik sistem penyajiannya.

Kelebihan dan Kekurangan Pendekaatan Scientific

Menurut Daryanto (2014:85), pendekatan scientific memiliki beberapa kelebihan dan juga kekurangan yaitu sebagai berikut:

Kelebihan

Kelebihan dari pendekatan scientific yaitu

  1. Proses pembelajaran lebih terpusat pada siswa sehingga memungkinkan siswa aktif dalam pembelajaran.
  2. Langkah-langkah pembelajarannya sistematis sehingga memudahkan guru untuk memanajemen pelaksanaan pembelajaran.
  3. Memberi peluang guru untuk lebih kreatif, dan mengajak siswa untuk aktif dengan berbagai sumber belajar,
  4. Langkah-langkah pembelajaran melibatkan keterampilan proses sains dalam mengonstruksi konsep, hukum atau prinsip.
  5. Proses pembelajarannya melibatkan proses-proses kognitif yang potensial dalam merangsang perkembangan intelek, khususnya keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa.
  6. Selain itu juga dapat mengembangkan karakter siswa.

Kekurangan

Sedangkan kekurangan dari pendekatan scientific yaitu tidak semua guru memiliki ketrampilan serta kreativitas tinggi untuk menciptakan lingkungan belajar dengan menggunakan pendekatan scientific sehingga apabila guru tidak trampil dan kreatif, maka pembelajaran tidak dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Dan belum semua guru mendapat kesempatan untuk mengikuti pelatihan mengajar efektif dengan pendekatan scientific.