Diperbarui tanggal 3/06/2022

Pembelajaran Sains untuk Anak Usia Dini

kategori Pendidikan Anak Usia Dini / tanggal diterbitkan 3 Juni 2022 / dikunjungi: 129 kali

Pengertian Sains Anak Usia Dini

Dari sudut bahasa, sains atau science (bahasa Inggris), berasal dari bahasa Latin, yaitu arti kata scientia artinya pengetahuan. Dari bahasa Jerman, hal itu merujuk pada kata wisseschaft, yang memiliki pengertian pengetahuan yasg tersusun atau terorgarisasikan secara sistematis. Sedangkan menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) sendiri sains diartikan sebagai ilmu pengetahuan pada umumnya, pengetahuan sistematis tentang alam dan dunia fisik, termasuk didalamnya, botani, fisika, kimia, geologi, zoologi, dan sebagainya. Menurut Amien (dalam Mursid.2015:80) mendefinisikan sains sebagai bidang ilmu alamiah, dengan ruang lingkup zat dan energi, baik yang terdapat pada makhluk hidup maupun tak hidup, lebih banyak mendiskusikan alam (natural science) seperti fisika, kimia, dan biologi. Menurut Putra (2013:41) sains adalah suatu cara untuk mempelajari suatu aspek-aspek tertentu dari alam secara terorganisir, sistematik, dan melalui metode-metode saintifik yang terbakukan. Menurut Juwita (dalam Yulianti.2010:42), mengartikan sains sebagai produk dan proses. Sebagai produk, sains merupakan batang tubuh pengetahuan yang terorganisir dengan baik tentang dunia fisik dan alami. Sebagai proses, sains merupakan kegiatan pelacakan, dilakukan dan percobaan. Beberapa pendapat menganai definisi sains diatas maka dapat disimpulkan bahwa sains merupakan ilmu yang dapat diuji dan dibuktikan keberadaannya dan dikembangkan secara bersistem dengan kaedah-kaedah tertentu melalui pengamatan dan eksperimen secara teori.

Pengembangan pada pembelajaran sains untuk anak, memiliki peranan yang penting dalam membantu merangsang kemampuan dan pembentukan sumber daya manusia yang diharapkan. Pentingnya pembekalan sains pada anak usia dini akan semakin tinggi apabila menyadari bahwa kita hidup dalam dunia yang dinamis, berkembang dan berubah secara terus menerus bahkan semakin menuju masa depan, semakin kompleks ruang lingkupnya, dan tentunya akan semakin memerlukan sains. Salah satu hasil belajar dalam aspek kognisi adalah anak dapat mengenal konsep-konsep sains sederhana. Artinya pengetahuan sains di sini merupakan bagian dari aspek kognitif anak. Maka dari itu kita ketahui bahwa pembekalan sains memang seharusnya dapat diberikan dan diajarkan pada anak sejak usianya masih dini. Karena sains dianggap penting, adapun pendapat dari Mursid (2015:83) pembelajaran sains memberikan manfaat yaitu sebagai bekal ilmu pengetahuan kepada anak tentang alam dan segala isinya yang memberikan makna terhadap kehidupannya di masa yang akan datang. Menurut Bell (Nurhafizah,2017:106) secara umum sains dibagi tiga aspek salah satunya yaitu aspek sains sebagai proses, dalam proses anak belajar bagaimana melakukan sains dengan eksplorasi seperti mengamati mengklasifikasikan objek, mengukur dan lain-lain. Suyanto (dalam Yulianti, 2010:26) menyatakan bahwa keterampilan proses sains dasar yaitu pengamatan, pengukuran, penalaran, menggunakan bilangan dan mengkomuunikasikan hasil pengamatan. Adapun menurut Muntomimah (2014:77) indikator sains yang harus di capai menurut yaitu : mengamati, membandingkan, mengklasifikasi, mengukur, berkomunikasi, kesimpulan sederhana, memprediksi.

Berdasarkan pendapat-pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa Pengetahuan konsep sains anak yang dimaksud merupakan suatu ilmu yang dimiliki anak yang didapat dari proses pengamatan (observasi), menggolongkan, memprediksi, mengkomunikasi dan pengukuran melalui pengalaman yang telah diperolehnya, yang akan berguna di kehidupannya di masa yang akan datang.

Tujuan Sains Untuk Anak Usia Dini

Anak dapat memperoleh pengetahuan sains melalui pengalaman yang didapatkannya, baik secara langsung di lingkungan maupun dari dunia pendidikan dimana pendidik dapat memberikan pembelajaran yang berbasis sains. Adapun menurut Mursid (2015:82) tujuan sains pada anak usia dini, antara lain:

  1. Membantu menumbuhkan minat untuk mengenal dan mempelajari benda-benda serta kejadian di lingkungan sekitarnya.
  2. Membantu agar memahami dan mampu menerapkan berbagai konsep sains untuk menjelaskan gejala-gejala dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Membantu agar dapat mengenal dan memupuk rasa cinta kepada alam sekitar sehingga menyadari keagungan Tuhan Yang Maha Esa.

Menurut Leeper (dalam Mursid.2015:82), bahwa tujuan sains bagi anak usia dini adalah sebagai berikut:

  1. Agar anak-anak memiliki kemampuan memecahkan masalah yang dihadapinya melalui penggunaan metode sains, sehingga anak-anak terbantu dan menjadi terampil dalam menyelesaikan berbagai hal yang dihadapinya.
  2. Agar anak memiliki skap ilmiah. Hai-hal yang mendasar, misalnya : tidak cepat-cepat dalam mengambil keputusan, dapat melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang, berhati-hati terhadap informasi yang diterima diterima serta bersfat terbuka.
  3. Agar anak-anak mendapatkan pengetahuan dan informasi ilmiah yang lebih baik dan dapat dipercaya, artinya informasi yang diperoleh anak berdasarkan pada standar keilmuan yang semestinya, karena informasi yang disajikan merupakan hasil temuan dan rumusan yang objektif serta sesuai dengan kaidah-kaidah keilmuan yang menaunginya.
  4. Agar anak lebih berminat dan tertarik untuk menghayati sains yang berada dan ditemukan di lingkungan dan alam sekitarnya.

Menurut Putra (2013:51) sains merupakan pengetahuan yang mempelajari, menjelaskan, serta menginvestigasi fenomena alam dengan segala aspeknya yang bersifat empiris. Sains juga merupakan proses atau metode dan produk. Sains juga dianggap sebagai aplikasi dan sarana untuk mengembangkan sikap dan nilai-nilai tertentu.

Menurut Samatowa (2018:7) adapun tujuan sains pada anak usia dini yaitu sebagai berikut:

  1. Membantu pemahaman anak tentang konsep sains dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari.
  2. Membantu melekatkan aspek-aspek yang terkait dengan keterampilan proses sains, sehingga pengetahuan dan gagasan tentang alam sekitar dalam diri anak menjadi berkembang.
  3. Membantu menumbuhkan minat pada anak untuk mengenal dan mempelajari benda-benda serta kejadian di luar lingkungan.
  4. Memfasilitasi dan mengembangkan sikap ingin tahu, tekun, terbuka, mawas diri, bertanggung jawab, bekerjasama dan mandiri dalam kehidupannya.
  5. Membantu anak agar mampu menerapkan berbagai konsep sains untuk menjelaskan gejala-gejala alam dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
  6. Membantu anak agar mampu menggunakan teknologi sederhana yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
  7. Membantu anak untuk dapat mengenal dan memupuk rasa cinta terhadap alam sekitar, sehingga menyadari kebesaran dan keagungan Tuhan YME.

Prinsip Sains di Taman Kanak-Kanak

Pada pembelajaran sainspun memiliki beberapa prinsip-prinsip yang melekat pada pembelajaran, khususnya untuk pembelajaran sains anak usia dini. Adapun prinsip-prinsi sains pada anak usia dini menurut Mursid (2015:83) yaitu:

  1. Konkret dan dapat dilihat langsung.
    Anak dapat dilatih untuk membuat hubungan sebab akibat jika dapat dilihat secara langsung.
  2. Bersifat pengalaman.
    Pembelajaran hendaknya menekankan pada proses mengenalkan anak dengan berbagai benda, fenomena alam.
  3. Seimbang antara kegiatan fisik dan mental.
    Dalam pembelajaran sains kegiatan anak berinteraksi dengan benda dikenal dengen hands on science. Anak dapat menggunakan kelima inderanya untuk melakukan observasi terhadap berbagai benda, gejala benda, dan gejala peristiwa.
  4. Berhati-hati dengan pertanyaan “mengapa”.
    Bagi anak usia dini, kemampuan menjawab dengan hubungan sebab akibat belum berkembang, pertanyaan “mengapa” sering diartikan “untuk apa” sehingga jawabannya bukan hubungan sebab akibat, melainkan hubungan fungsional.
  5. Sesuai tingkat perkembangan anak.
    Pembelajaran untuk anak usia dini harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak, baik usia maupun dengan kebutuhan individual anak.
  6. Sesuai kebutuhan individual.
    Selain disesuaikan dengan kelompok usia anak, pembelajaran anak usia dini perlu memperhatikan kebutuhan individual.
  7. Mengembangkan kecerdasan.
    Pembelajaran anak usia dini hendaknya tidak menjejali anak dengan hafalan, tetapi mengembangkan kecerdasannya.
  8. Sesuai langgam belajar anak.
    Tipe kecerdasan dan modalitas belajar yang berbeda menyebabkan anak-anak belajar dengan cara yang berbeda.
  9. Kontekstual dan multikonteks.
    Pembelajaran anak usia dini harus kontekstual dan menggunakan banyak konteks.
  10. Terpadu.
    Pembelajaran anak usia dini sebaiknya bersifat terpadu atau terintegrasi.
  11. Menggunakan esensi bermain.
    Pembelajaran anak usia dini menggunakan prinsip belajar, bermain, bernyanyi.
  12. Belajar kecakapan hidup.
    Pendidikan anak usia dini mengembangkan diri anak secara menyeluruh (the whole child).
  13. Belajar dari benda konkret.
    Mengajarkan angka 1, 2, dan 3 akan lebih baik jika berkoresponden dengan benda, misalnya 1 dengan 1 biji, 2 dengan 2 biji, 3 dengan 3 biji.

Menurut Yulianti (2010:24) pendekatan sains pada anak Taman Kanak-Kanak dan Raudhatul Athfal hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip yang berorientasi pada kebutuhan anak dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak. Salah satu kebutuhan perkembangan anak adalah rasa aman. Oleh karena itu jika kebutuhan fisik anak terpenuhi dan merasa aman secara psikologis, maka anak akan belajar dengan baik. Dengan demikian berbagai jenis kegiatan pembelajaran hendaknya dilakukan melalui analisa kebutuhan yang disesuaikan dengan berbagai aspek perkembangan dan kemampuan pada masing-masing anak. Tidak terkecuali pada pembelajaran sains, minat sains anak dapat dibangkitkan melalui bermain sains yang dirancang agar anak bisa bersosialisasi dengan teman, membangkitkan motivasi dan rasa ingin tahu.
  2. Bermain sambil belajar.
    Kegiatan bermain anak diajak untuk bereksplorasi, menemukan dan memanfaatkan obyek-obyek yang dekat dengannya, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Bermain bagi anak juga merupakan suatu proses kreatif untuk bereksplorasi, mempelajari keterampilan yang baru dan bermain dapat menggunakan symbol untuk menggambarkan dunia.
  3. Selektif, kreatif, dan inovatif. Materi sains yang disajikan dipilih sedemikian rupa sehingga dapat disajikan melalui bermain. Proses pembelajaran dilakukan melalui kegiatan-kegiatan yang menarik, membangkitkan rasa ingin tahu, memotivasi anak untuk berfikir kritis dan menemukan hal-hal baru. Pengelolaan dalam pembelajaran hendaknya dilakukan secara dinamis, artinya anak tidak dijadikan sebagai objek melainkan subjek dalam proses pembelajaran. Kegiatan belajar di taman kanak-kanak dirancang untuk membentuk prilaku dan mengembangkan kemampuan dasar yang ada pada diri anak usia taman kanak-kanak, dalam pelaksanaan pembelajaran sains harus disesuaikan dengan tahap-tahap perkembangan anak.
    Sains dapat mengajarkan dan menyiapkan anak di dalam kehidupan sehari-harinya baik untuk dirinya sendiri maupun di kehidupan bermasyarakat, adapun menurut Wonorahardjo (2010:205) bahwa dalam kenyataannya sains maupun ilmuwannya harus hidup di tengah masyarakat. Artinya sains maupun ilmuwan dalam masyarakat memainkan peranan yang penting. Menurut Yager (1996) (dalam Fatonah & Prasetyo, 2014:10) mengemukakan bahwa ada lima domain utama dalam pembelajaran sains, yaitu domain konsep proses, kreativitas, sikap dan aplikasi.

Ruang Lingkup Sains untuk Anak Usia Dini

Menurut Mursid (2015:89) secara khusus lingkup kajian untuk pendidikan anak usia dini biasanya menggambarkan tentang program sains yang meliputi:

  1. Studi tentang tumbuh-tumbuhan.
  2. Studi tentang binatang atau hewan.
  3. Studi tentang hubungan antara tumbuhan dan hewan, serta
  4. Studi tentang hubungan antara aspek-aspek kehidupan dan lingkungannya.

Beberapa konsep sains yang dapat dipelajari anak usia Taman Kanak-Kanak dengan bermain sambil belajar adalah sebagai berikut (Yulianti.2010:43):

  1. Mengenali benda di sekitarnya menurut ukuran (pengukuran), termasuk dalam topik ini adalah menimbang, mengukur dan menakar.
  2. Balon tiup lalu dilepaskan, udara bergerak.
  3. Benda-benda dimasukkan ke dalam air (terapung, melayang, tenggelam).
  4. Benda-benda yang dijatuhkan.
  5. Percobaan dengan magnet.
  6. Mengamati dengan kaca pembesar.
  7. Mencoba dan membedakan bermacam-macam rasa, bau, dan suara.
  8. Pencampuran warna.
  9. Proses pertumbuhan tanaman.

Menurut Mursid (2015:89) topik-topik pembelajaran sains untuk anak usia dini, biasanya meliputi:

  1. Pengetahuan tentang binatang, matahari dan planet.
  2. Kajian tentang tanah, batuan dan pegunungan.
  3. Kajian tentang cuaca atau musim.
  4. Kajian terkait dengan ilmu-ilmu hayati atau biologi meliputi botani, zoologi, dan ekologi.

Menurut Mursid (2015:152-153) bahan kajian sains yang berkaitan dengan pemahaman konsep dan penerapanya yaitu:

  1. Memiliki pengetahuan, pamahaman, dan aplikasinya tentang makhluk hidup dan proses kehidupan.
  2. Memiliki pengetahuan, pamahaman, dan aplikasinya tentang materi dan sifatnya.
  3. Memiliki pengetahuan, pamahaman, dan aplikasinya tentang energi dan perubahannya.
  4. Memiliki pengetahuan, pamahaman, dan aplikasinya tentang bumi dan alam semesta, dan
  5. Memiliki pengetahuan, pamahaman, dan aplikasinya tentang hubungan antara sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat.

Perlengkapan main atau alat yang dapat digunakan untuk anak dalam mendukung pembelajaran sains dapat guru rencanakan sesuai dengan materi yang akan diberikan pada anak, seperti menurut Yulianti, dkk (2013:113) Alat Bermain Sains yang dapat digunakan adalah:

  1. Tikar warna alat ini untuk menunjukkan pencampuran warna.
  2. Cakram warna, alat ini juga dapat digunakan untuk menunjukkan pencampuran warna menjadi warna putih.
  3. Kupu-kupu mencari bunga, alat ini merupakan alat bermain sains topik magnet.
  4. Mengail ikan, alat ini juga dapat digunakan untuk menunjukkan benda benda yang dapat ditarik magnet dan benda yang tak dapat ditarik magnet dari paku dan kabel bekas.
  5. Elektro magnet.
  6. Buah-buahan dari lilin alat ini dapat digunakan untuk peraga gravitasi.
  7. Alat perlengkapan minum tiruan untuk alat permainan edukatif topik gravitasi.
  8. Kaca pembesar dari air dan plastik.
  9. Telepon dari gelas bekas air mineral plastikmerupakan ABS bunyi.
  10. Penggaris bunga, penggaris matahari dll merupakan penggaris buatan se-bagai ABS topik mengukur.
  11. Boneka binatang dari perca.

Menurut Ward (2010:43) ketika merencanakan jenis sains yang akan disampaikan pada anak, aktivitas dan ide-ide pengajaran dikembangkan seharusnya mempertimbangkan umur dan kemampuan anak. Beberapa skema sains yang dipublikasikan mencakup aktivitas dan gagasan yang tidak sesuai dengan cara pembelajaran anak umur tertentu. Akibatnya guru sering mengidentifikasikan aktivitas ini sebagai aktivitas yang menunjukkan macetnya sains.

Tingkat Capaian Pengetahuan Sains Anak Usia Dini

Adapun tingkat pencapaian perkembangan anak usia 5-6 tahun pada lingkup perkembangan kognitif khususnya dalam pengetahuan sains menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2009 Tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini yaitu sebagai berikut:

  1. Mengklasifikasi benda berdasarkan fungsi.
  2. Menunjukkan aktivitas yang bersifat eksploratif dan menyelidik (seperti: apa yang terjadi ketika air ditumpahkan).
  3. Menyusun perencanaan kegiatan yang akan dilakukan.
  4. Mengenal sebab-akibat tentang lingkungannya (angin bertiup menyebabkan daun bergerak, air dapat menyebabkan sesuatu menjadi basah.)
  5. Menunjukkan inisiatif dalam memilih tema permainan (seperti: ”ayo kita bermain pura-pura seperti burung”).
  6. Memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Adapun indikator penilaian sains yang harus di capai menurut Muntomimah (2014:77) yaitu:

  1. Mengamati
  2. Membandingkan
  3. Mengklasifikasi
  4. Mengukur
  5. Berkomunikasi
  6. Kesimpulan sederhana
  7. Memprediksi

Sedangkan Menurut Suyanto (dalam Yulianti. 2010:26) pengenalan sains Taman Kanak-Kanak dan Raudhatul Athfal dilakukan untuk mengembangkan kemampuan sebagai berikut:

  1. Eksplorasi dan investigasi, yaitu kegiatan untuk mengamati dan menyelidiki objek dan fenomena alam.
  2. Mengembangkan keterampilan proses sains dasar, seperti melakukan pengamatan, mengukur, mengomunikasikan hasil pengamatan, dan sebagainya.
  3. Mengembangkan rasa ingin tahu, rasa senang, dan mau melakukan kegiatan ingkuiri atau penemuan.
  4. Memahami pengetahuan tentang berbagai benda, baik ciri, struktur, maupun fungsinya.

Adapun keterampilan proses sains untuk anak usia dini menurut Samatowa (2018:92-93) sebagai berikut:

  1. Mengamati (Observasi)
    • Mengidentifikasi ciri-ciri suatu benda/peristiwa.
    • Mengidentifikasi perbedaan dan persamaan berbagai benda/peristiwa.
    • Mencocokkan gambar dengan uraian tulisan/benda.
    • Mengurutkan berbagai peristiwa yang terjadi secara simultan.
    • Memberikan uraian mengenai suatu benda atau peristiwa.
  2. Mengklasifikasikan( menggolongkan)
    • Mengelompokan benda/peristiwa.
    • Mengelompokan benda/peristiwa.
    • Menemutunjukkan (mengidentifikasi) pola dari suatu seri pengamatan.
    • Mengemukakan/mengetahui alasan pengelompokkan.
    • Pengelompokkan.
    • Memberikan nama kelompok berdasarkan ciri-ciri khususnya.
    • Mengurutkan kelompok berdasarkan keinklusifan.
  3. Meramakan (memprediksi)
    • Membuat dugaan berdasarkan pola-pola atau hubungan informasi/ukuran/hasil obeservasi.
    • Mengantisipasi suatu peristiwa berdasarkan pola atau kecenderungan.
  4. Mengomunikasikan
    • Mengutarakan suatu gagasan.
    • Menunjukkan hasil kegiatan.
    • Menggunakan berbagai sumber informasi.
    • Mendengarkan dan menanggapi gagasan-gagasan orang lain.
    • Melaporkan suatu peristiwa atau kegiatan secara sistematis dan jelas.
  5. Pengukuran
    • Menentukan alat dan pengukuran yang diperlukan dalam suatu penyelidikan atau percobaan.
    • Menemutunjukkan hal-hal yang berubah atau harus diubah pada suatu pengamatan atau pengukuran
    • Merencanakan bagaimana hasil.
    • Pengukuran, perbandingan untuk memecahkan suatu masalah.
    • Ketelitian dalam penggunaan alat dan pengukuran dalam suatu percobaan.

Manfaat Pengenalan Sains Anak Usia Dini

Pembelajaran sains menekankan pada pemberian pengalaman langsung. Dengan begitu, anak perlu di bantu untuk mampu mengembangkan sejumlah pengetahuan yang menyangkut kerja ilmiah dan pemahaman konsep serta aplikasinya. Bahan kajian kerja ilmiah menurut Mursid (2015:92) adalah:

  1. Mampu menggali pengetahuan melalui penyelidikan/penelitian.
  2. Mampu mengkomunikasikan pengetahuannya.
  3. Mampu mengembangkan keterampilan berfikir.
  4. Mampu mengembangkan sikap dan nilai imiah.

Belajar sains memfokuskan kegiatan pada penemuan dan pengolahan informasi melalui mengamati, mengukur, mengajukan peranyaan, mengklasifikasikan, memecahkan masalah, dan sebagainya menurut Mursid (2015:92). Menurut Yulianti (2010:42) sangat penting bagi anak-anak untuk ikut berpartisipasi dalam proses ilmiah, karena keterampilan yang akan mereka dapatkan bisa dibawa kedaerah-daerah perkembangan lainnya dan akan bermanfaat selama hidupnya.Pembelajaran sains pada anak usia dini sangat penting untuk memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada anak tentang alam dan segala isinya yang memberikan makna terhadap kehidupannya dimasa yang akan datang.(Mursid , 2015:83).

Daftar Pustaka

Fatonah, S & Prasetyo, ZK. 2014. Pembelajaran SAINS. Yogyakarta : Penerbit Ombak.

Haenilah. 2015. Kurikulum dan Pembelajaran PAUD. Yogyakarta. Media Akademi.

Haslinda. 2016. Model Pengembangan Pembelajaran Sentra Bahan Alam Melalui Pendekatan Saintifik Pada Anak Usia Dini Di Raudhatul Athfal Kelas B. Pascasarjana Administrasi Pendidikan. Universitas Negeri Makassar. Makassar.

Ismawati, P & Farihah, N. 2018. Penerapan Pembelajaran Sentra Bahan Alam/Sains terhadap Perkembangan Kreativitas Anak Kelompok B di RA Salafiyah Syafi’iyah Klinterejo Sooko Mojokerto. Indonesian Journal of Early Childhood Educaton. 2 (1). 91-112.

Kusniati, dkk. 2017. Meningkatkan Keterampilan Sains Anak Melalui Kegiatan Eksplorasi Bahan Alam (Penelitian Tindakan Pada Sentra Bahan Alam Kelompok BDi Tk Az-Zahroh Serang-Banten). Jurnal Penelitian dan Pengembangan PAUD. 4 (1). 1-80. ISSN : 2355-830X.

Muntomimah, S. 2014. Peningkatan Kemampuan Sains Melalui Sentra Bahan Alam. Jurnal Pendidikan Usia Dini. 8(1). 73-80.

Nurhafizah. 2017. Strategi Pengembangan Kemampuan Sains Anak Taman Kanak-Kanak di Koto Tangah Padang. Jurnal Anak Usia Dini dan Pendidikan Anak Usia Dini. 3 (3b). 103-115. P-ISSN: 2599-0438; E-ISSN: 2599-042X.

Putra, SR. 2013. Desain Belajar Mengajar Kreatif Berbais Sains. Jogjakarta : DIVA Press.

Rahmawati, S & Purbaningrum, E. 2017. Pengaruh Pembelajaran Sentra Bahan Alam Terhadap Kemampuan Sains Anak Kelompok B. Jurnal PAUD Teratai. 6 (3). 1-5.