Diperbarui tanggal 15/04/2022

Motivasi Kerja

kategori Umum / tanggal diterbitkan 15 April 2022

Pengertian Motivasi Kerja

Istilah motivasi berasal dari kata kerja latin movere (menggerakkan). Ide tentang pergerakan ini tercermin dalam ide-ide common sense mengenai motivasi, seperti sebagai sesuatu yang membuat diri kita memulai pengerjaan tugas, menjaga diri kita tetap mengerjakan tugas, dan membantu diri kita menyelesaikannya. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa motivasi merupakan suatu proses diinisiasikannya dan dipertahankannya aktivitas yang diarahkan pada pencapaian tujuan (Schunk, Pintrich & Meece, 2012: 6). Lebih lanjut Wursanto (1989: 131) menjelaskan bahwa motivasi adalah alasan-alasan, dorongan-dorongan yang ada di dalam diri manusia yang menyebabkan ia melakukan sesuatu atau berbuat sesuatu. Motivasi timbul karena dua faktor, yaitu faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Menurut Robbins dan Judge (2012: 222) menyatakan bahwa motivasi sebagai proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya. Motivasi umum berkaitan dengan usaha untuk mencapai tujuan apapun.

Menurut Terry (2009: 130) menyatakan bahwa motivasi dapat diartikan sebagai mengusahakan supaya seseorang dapat menyelesaikan pekerjaan dengan semangat karena ia ingin melaksanakannya. Menurut Kasmir (2016: 190) motivasi kerja merupakan dorongan bagi seseorang untuk melakukan pekerjaan. Jika karyawan memiliki dorongan yang kuat dari dalam dirinya atau dorongan dari luar dirinya, maka kryawan akan terdorong untuk melakukan sesuatu dengan baik. Lebit lanjut dikatakan Usman (2013: 276) motivasi kerja dapat diartikan sebagai keinginan atau kebutuhan yang melatarbelakangi seseorang sehingga ia terdorong untuk bekerja.

Menurut Newston dan Davis dalam Usman (2013: 279) mereka berpendapat bahwa memberikan motivasi dengan asumsi bahwa setiap manusia cenderung mengembangkan pola motivasi tertentu sebagai hasil dari lingkungan budaya tempat manusia hidup. Pola ini sebagai sikap yang memengaruhi cara-cara orang memandang pekerjaan dan menjalani kehidupan mereka. Empat pola motivasi yang sangat penting adalah prestasi, afiliasi, kompetensi, dan kekuasaan.

  1. Prestasi
    Dorongan untuk mengatasi tantangan, untuk maju, untuk berkembang, untuk mendapatkan yang terbaik, menuju pada kesempurnaan.
  2. Afiliasi
    Dorongan untuk berhubungan dengan orang lain secara efektif atas dasar sosial, dorongan ingin memiliki sahabat sebanyak-banyaknya.
  3. Kompetensi
    Dorongan untuk mencapai hasil kerja dengan kualitas tinggi, dorongan untuk mencapi keunggulan kerja, keterampilan memecahkan, dan berusaha keras untuk berinovasi, tidak mau kalah dengan kerja orang lain.
  4. Kekuasaan
    Dorangan untuk memengaruhi orang dan situasi.

Menurut Uno (2016: 71) motivasi kerja merupakan salah satu faktor yang turut menentukan kinerja seseorang. Besar atau kecilnya pengaruh motivasi pada kinerja seseorang tergantung pada seberapa banyak intensitas motivasi yang diberikan. Berdasarkan uraian di atas yang dimaksud dengan motivasi kerja adalah dorongan yang terbentuk dari sikap seorang guru dalam melaksanakan tugas sebagai tenaga pendidik, yang berasal dari dalam diri maupun luar diri seorang guru. Seorang guru yang memiliki motivasi kerja yang kuat dalam melaksanakan tugasnya cenderung memiliki kinerja yang tinggi, dalam memotivasi dirinya sendiri.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Kerja

Motivasi kerja guru mendorong dan menggerakkan guru untuk dapat melaksanakan tugas-tugas yang ditetapkan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Uno (2016: 73) menjelaskan dimensi dan indikator yang mempengaruhi motivasi kerja dapat dilihat pada Tabel berikut.

NoDimensiIndikator
1Motivasi Internal
  • Tanggung jawab guru dalam melaksanakan tugas
  • Melaksanakan tugas dengan target yang jelas
  • Memiliki tujuan yang jelas dan menantang
  • Ada umpan balik atas hasil pekerjaannya
  • Memiliki perasaan senang dalam bekerja
  • Selalu berusaha untuk mengungguli orang lain
  • Diutamakan prestasi dari apa yang dikerjakannya
2Motivasi Eksternal
  • Selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kebutuhan kerjanya
  • Senang memperoleh pujian dari apa yang dikerjakannya
  • Bekerja dengan harapan ingin memperoleh insentif
  • Bekerja dengan harapan ingin memperoleh perhatian dari teman dan atasan

Menurut Malone dalam Uno (2016: 66) membedakan dua bentuk motivasi yang meliputi motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik timbul tidak memerlukan rangsangan dari luar karena memang telah ada dalam diri individu sendiri, yaitu sesuai atau sejalan dengan kebutuhan. Sedangkan motivasi ekstrinsik timbul karena adanya rangsangan dari luar individu.

Menurut Schunk, Pintrich & Meece (2012: 357) motivasi intrinsik mengacu pada motivasi melibatkan diri dalam sebuah aktivitas karena nilai/manfaat aktivitas itu sendiri (aktivitas itu sendiri merupakan sebuah tujuan akhir). Individu-individu yang termotivasi secara intrinsik mengerjakan tugas-tugas karena mereka mendapati bahwa tugas-tugas tersebut menyenangkan. Partisipasi pengerjaan tugas merupakan penghargaan eksplisit atau pembatasan eksternal lainnya. Sedangkan, motivasi ekstrinsik adalah motivasi melibatkan diri dalam sebuah aktivitas sebagai suatu cara mencapai tujuan. Individu-individu yang termotivasi secara ekstrinsik mengerjakan tugas-tugas karena mereka menyakini bahwa partisipasi tersebut akan menyebabkan berbagai konsekuensi yang diinginkan, seperti mendapatkan hadiah, menerima pujian dari pimpinan, atau terhindar dari hukuman.

Menurut Wursanto (1989: 131-132) menyatakan bahwa faktor intrinsik merupakan faktor dari dalam diri manusia yang dapat berupa: (1) sikap; (2) kepribadian; (3) pendidikan; (4) pengalaman; (5) pengetahuan; dan (6) cita-cita. Sedangkan faktor ekstrinsik adalah faktor dari luar diri manusia dapat berupa : (1) gaya kepemimpinan seorang atasan; (2) dorongan atau bimbingan seseorang; dan (3) perkembangan situasi dan sebagainya.

Lebih lanjut Schunk, Pintrich & Meece (2012: 359) menyatakan bahwa motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik bergantung pada waktu dan konteks. Keduanya mencirikan individu-individu pada suatu waktu tertentu dalam kaitanya dengan suatu aktivitas tertentu. Aktivitas yang sama bisa jadi secara intrinsik atau secara ekstrinsik memotivasi orang yang berbeda. Karena motivasi intrinsik bersifat kontekstual, maka motivasi intrinsik dapat berubah seiring waktu. Perubahan yang tiba-tiba pada level motivasi intrinsik bukanlah hal yang tidak lazim, karena motivasi intrinsik itu sendiri merupakan motivasi yang dipengaruhi dari dalam diri individu itu sendiri. Melakukan sesuatu karena diri menginginkannya dapat dengan mudah berubah menjadi melakukannya karena diri perlu melakukannya.

Meskipun demikian, mengerjakan sebuah tugas karena alasan intrinsik bukan hanya lebih menyenangkan, melainkan juga ada bukti bahwa seluruh tingkat pendidikan, motivasi intrinsik berkaitan positif dengan pembelajaran, motivasi, dan persepsi kompetensi diri, serta berkaitan negatif dengan kecemasan (Gottfried dalam Schunk, Pintrich & Meece, 2012: 359). Berbagai manfaat ini barangkali terjadi karena guru secara intrinsik termotivasi melakukan aktivitas-aktivitas yang meningkatkan kinerja guru. Berdasarkan pendapat yang telah dikemukakan diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja dipengaruhi oleh faktor internal maupaun faktor eksternal. Pengaruh faktor internal dan eksternal mendorong seseorang untuk lebih antusias dalam melaksanakannya pekerjaannya, sehingga dapat mempengaruhi perubahan pada tingkah laku individu-individu pada suatu waktu tertentu dan mampu mendorong seseorang untuk meningkatkan pekerjaannya dan menghasilkan kinerja yang maksimal.