Diperbarui tanggal 10/03/2023

Morfologi Burung

kategori Flora dan Fauna / tanggal diterbitkan 10 Maret 2023 / dikunjungi: 3.53rb kali

Burung adalah hewan yang termasuk dalam kelas Aves atau avian. Mereka memiliki ciri-ciri khas seperti sayap yang memungkinkan mereka terbang, paruh yang digunakan untuk makan dan memburu mangsa, serta bulu yang melapisi tubuh mereka dan memiliki banyak fungsi, seperti menjaga suhu tubuh, menarik pasangan, dan menunjukkan status sosial. Ada lebih dari 10.000 spesies burung yang diketahui di seluruh dunia, dengan beragam ukuran, bentuk, warna, dan perilaku. Beberapa spesies burung hidup di lingkungan air, seperti bebek dan angsa, sedangkan yang lainnya hidup di lingkungan darat seperti ayam dan merpati. Ada juga burung yang hidup di lingkungan hutan, seperti burung hantu dan burung merak.

Taksonomi burung berdasarkan Arctos Collaborative Collection Management Solution (2018) adalah:

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Aves

Burung berdasarkan susunan taksonominya terdiri dari 38 ordo yaitu Struthioniformes, Rheiformes, Tinamiformes, Apterygiformes, Casuariiformes, Anseriformes, Galliformes, Phoenicopteriformes, Podicipediformes, Columbiformes, Pteroclidiformes, Mesitornithiformes, Eurypygiformes, Phaethontiformes, Caprimulgiformes, Apodiformes, Opisthocomiformes, Cuculiformes, Gruiformes, Otidiformes, Musophagiformes, Gaviiformes, Sphenisciformes, Procellariiformes, Pelecaniformes, Charadriiformes, Accipitriformes, Strigiformes, Coliiformes, Leptosomatiformes, Trogoniformes, Bucerotiformes, Piciformes, Coraciiformes, Coraciiformes, Falconiformes, Psittaciformes, dan, Passeriformes (Lepage et al., 2014).

Jumlah jenis burung di Indonesi pada tahun 2018 adalah 1.771 jenis. Pada tahun 2019 jumlah jenis burung di Indonesia meningkat menjadi 1.777 jenis. Jumlah jenis burung ini mencangkup jenis-jenis burung penetap maupun burung migran. Penambahan jumlah jenis ini disebabkan adanya perubahan taksonomi dan adanya catatan baru untuk daftar burung Indonesia. Enam jenis yang merupakan catatan baru di Indonesia di antaranya salah satu jenis burung perancah Eurasian Oystercatcher Haematopus ostralegus (), poksai kepala-botak (Garrulax calvus), jenis burung sikatan Zappey’s Flycatcher (Cyanoptila cumatilis), sikatan-burik sulawesi (Muscicapa sodhii), cikrak rote (Phylloscopus rotiensis), dan kedidi paruh-sendok (Calidris pygmaea). Beberapa diantaranya adalah jenis burung migran yang pertama kali tercatat di Indonesia (Junaid, 2019).

Karakteristik Burung

Burung merupakan kelompok hewan yang memiliki karakteristik khas yaitu dengan tubuh yang ditutupi oleh bulu. Seperti halnya mamalia, burung termasuk golongan hewan homoiotermal yang dapat mengatur dan mempertahankan suhu tubuhnya guna penyesuaian diri dengan lingkungannya. Burung berkembang biak dengan cara bertelur. Sebagian besar burung melakukan pergerakan dengan terbang, tetapi ada juga burung yang berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dengan melompat, berjalan, merayap, berenang, dan meluncur (Iskandar, 2017).

Burung memiliki beberapa karakteristik tubuh yang memungkinkannya dapat terbang diantaranya yaitu memiliki tubuh yang ditutupi oleh bulu yang menumpuk dan anti air, memiliki rahang yang kuat, tidak memiliki gigi, memiliki kerangka tubuh banyak terreduksi dan didukung oleh tulang-tulang berlubang dan tulang-tulang yang berbentuk pipih. Selain itu, burung juga memiliki susunan organ dalam tubuh yang tersusun tepat dibagian sentral abdomen tubuh sehingga burung memiliki keseimbangan yang baik. Burung juga memiliki saluran pencernaan yang pendek dan kantong kemih yang tereliminasi (Pettingill, 1970).

Morfologi Burung

Morfologi burung terdiri dari beberapa bagian utama yaitu kepala, badan, sayap dan ekor. Pemahaman dari bagian-bagian tubuh burung sangat diperlukan dalam proses identifikasi burung. Identifikasi jenis burung umum dilakukan dengan menganalisis karakteristik morfologi tubuh bagian luar burung, sehingga pada proses melakukan identifikasi jenis burung diperlukan pengetahuan mengenai istilah (terminologi) bagian-bagian tubuh burung. Terminologi burung secara keseluruhan dapat dilihat dari Gambar 1.

morfologi burung

Gambar 1. Morfologi Burung, MacKinnon et al., 2010

Selain terminologi burung, dalam melakukan identifikasi juga perlu melihat beberapa morfologi dari beberapa tipe dari bagian-bagian tubuh burung. Adapun beberapa bagian tubuh burung biasanya dijadikan karakter identifikasi adalah paruh, sayap, ekor, dan kaki burung.

Paruh Burung

Paruh burung merupakan salah satu ciri khas dari hewan ini. Paruh terdiri dari dua bagian yang kuat dan keras, yang digunakan untuk mencabik-cabik dan memotong makanan, membangun sarang, dan juga sebagai alat pertahanan. Berbagai jenis burung memiliki bentuk dan ukuran paruh yang berbeda-beda, yang disesuaikan dengan jenis makanannya. Misalnya, burung pemakan biji-bijian seperti burung pipit dan burung kenari memiliki paruh kecil dan tajam untuk memotong biji-bijian kecil, sedangkan burung pemakan ikan seperti burung camar dan pelikan memiliki paruh besar dan kuat yang digunakan untuk menangkap ikan di air.

Selain itu, paruh juga dapat memberikan petunjuk tentang perilaku dan karakteristik burung tertentu. Misalnya, burung pemakan serangga seperti burung merpati memiliki paruh pendek dan lebar, sementara burung predator seperti burung elang memiliki paruh panjang dan tajam. Paruh juga dapat digunakan sebagai alat komunikasi, dengan beberapa jenis burung menggunakan bentuk dan gerakan paruh untuk mengekspresikan perasaan seperti agresi, kecemasan, atau keterikatan. Berdasarkan jenis makanannya burung dapat terbagi menjadi beberapa golongan diantaranya yaitu burung pemakan daging (karnivor), pemakan serangga (insektivor), pemakan buah-buahan, pemakan madu, pemakan ikan atau binatang air, dan pemakan campuran (omnivor) (Iskandar, 2017).

Paruh burungGambar 2. Paruh burung, Ali (1979)

Terdapat beberapa istilah paruh burung yang berkaitan erat dengan jenis pakan yang dimakan oleh burung, dianataranya yaitu paruh pemotong (cutting), paruh pencabik dan penusuk (tearing dan pearcing flesh),paruh penghancur biji (seed crushing), paruh pencari madu (probing), paruh pencari serangga pahat kayu (wood chiseling), paruh pencarimakan di area berlumpur (mud probing), paruh penepis makanan pada area lumpur (a sieve for strining mud), serta paruh pematuk dan penyambar ikan (gripping fish) (Iskandar, 2017).

Ekor Burung

Ekor burung adalah bagian tubuh burung yang terletak di belakang badannya. Ekor burung terdiri dari rangka tulang yang dilapisi oleh bulu-bulu yang membentuk ekor burung. Bentuk dan ukuran ekor burung juga bervariasi tergantung pada spesies burungnya. Ekor burung memiliki banyak fungsi dalam kehidupan burung, seperti membantu dalam terbang dan keseimbangan tubuh saat sedang mendarat atau mematikan kecepatan terbang. Selain itu, ekor juga dapat digunakan untuk menunjukkan status sosial burung, dengan burung jantan biasanya memiliki ekor yang lebih panjang dan indah daripada burung betina.

Beberapa jenis burung memiliki ekor yang dapat diatur dan diubah bentuknya untuk membantu dalam penerbangan. Misalnya, burung pemakan serangga seperti burung layang-layang memiliki ekor yang tipis dan panjang yang dapat dilipat ke atas dan ke bawah saat terbang, sementara burung merpati memiliki ekor yang lebar dan bulat yang membantu dalam manuver saat terbang. Pada beberapa spesies burung, ekor juga dapat digunakan sebagai alat komunikasi atau penampilan saat kawin. Misalnya, burung merak memiliki ekor yang indah dan berwarna-warni yang mereka tampilkan pada saat kawin untuk menarik perhatian pasangan.

Ekor merupakan salah satu karakter dalam identifikasi burung. Ekor burung terdiri dari bermacam-macam bentuk (Gambar 3). Beberapa karakteristik dari ekor burung adalah berbentuk square, notched, forked, elongated outer feathers, elongated outer feathers with rackets, elongated centralfeathers, rounded, wedge-shaped, graduated, dan pointed (Iskandar, 2017).

Ekor burungGambar 3. Tipe ekor burung, King dan Dickinson (1975)

Kaki Burung

kaki merupakan salah satu karakter identifikasi burung yang dapat membantu mengenali spesies burung tertentu. Setiap spesies burung memiliki bentuk dan ukuran kaki yang berbeda-beda, yang disesuaikan dengan kebutuhan dan lingkungan tempat burung tersebut hidup. Bentuk dan ukuran kaki burung juga berhubungan dengan perilaku dan cara hidupnya. Burung predator seperti burung rajawali memiliki kaki yang besar dan kuat dengan cakar yang tajam untuk menangkap dan membunuh mangsa mereka. Sementara itu, burung pemakan biji-bijian seperti burung pipit memiliki kaki yang kecil dan ramping untuk berjalan di atas tanah atau di antara rerumputan.

Selain itu, warna dan bentuk sisik-sisik pada kaki burung juga dapat membantu mengenali spesies burung tertentu. Misalnya, burung merak memiliki sisik-sisik kaki yang khas berwarna biru kehijauan yang memudahkan untuk mengidentifikasi spesies ini. Karakteristik kaki burung juga dapat memberikan petunjuk tentang habitat dan lingkungan tempat mereka hidup. Burung laut seperti albatros dan penguin memiliki kaki yang berselaput, sehingga mereka dapat berenang dengan baik di dalam air. Sementara itu, burung yang hidup di atas pohon seperti burung nuri memiliki kaki yang kuat dan berkuku panjang untuk dapat memanjat dan berpegangan pada ranting-ranting pohon

Beberapa macam bentuk kaki burung yaitu perching, gasping and starking prey, climbing, clinging, running, leaf-walking, dan swimming (Gambar 4).

Kaki BurungGambar 4. Tipe kaki burung, Ali (1979)

Menurut (Tamam,2016) kaki pada burung memiliki tipe yang berbagai macam diantaranya:

  • Kaki dengan tipe bertengger, dibedakan menjadi beberapa macam, misalnya:?Passerine:hallux yang melekat dengan jari-jari lain. pada Zygodactyla: terdapat 2 jari jari kedepan, dan 2 yang lain posisi ke belakang
  • Kaki dengan tipe?berjalan, pada hallux terangkat sehingga kedudukannya lebih tinggi dari pada yang lainnya
  • Kaki dengan tipe berenang: tipe kaki ini dibedakan atas berbagai macam misalnya pada,Palmata: 3 jari depannya dihubungkan oleh selaput ke 1 bebas. Pada Totipalmata: pada keempat jarinya dihubungkan dengan selaput yang halus .

Kepala Burung

Menurut Tamam (2016) Kepala burung terdiri dari beberapa bagian organ yang diantaranya:

  • Terdapat Lubang atau nures yang terletak pada bagian paruh atas
  • Terdapat sera atau cere , yang merupakan pangkal paruh atasnya tidak berbulu, dan ini menjadi tempat hidung yang berupa tonojolan kulit
  • Kulit yang berbulu halus mengelilingi mata
  • Disudut mata terdapat membran niktitans yang bisa di tarik ketika menutup mata
  • Terdapat lubang telinga yang tidak memiliki daun telinga dan posisinya terletak dosdokaudal mata serta didalamnya terdapat membran timpani.
  • Terdapat paruh (rostum) yang terbagi menjadi dua bagian atas dan bawah dan tanduk adalah bahan pembentukannya .

Pada paruh burung memiliki bentuk yang berkarakteristik dari kehidupan spesies burung. Salah satu kegiatan Makan, membangun sarang, dan mempertahankan diri adalah termasuk fungsi utama dari paruh tersebut . (Corbeil dan archault, 2009). hal ini lah yang membuat”paruh-paruh burung yang”beragam dapat membuat?burung hidup berdampingan”tanpa persaingan besar terhadap makanan (Scott, 2010).

Burung memiliki bagian mulut yang terproyeksi sebagai”paruh (Rostrum) hal ini terbentuk oleh Maxila di bagian mulut atas dan mandibula dibagian mulut bawah. Bagian?luarnya dilapisi oleh pembungkus zat tadukkan salah satunya pada jenis kelompok burung Neornithes yang tidak bergigi. kulit melapisi tubuh ,”pada kulit terdapat bulu, bulu ini lah yang disebut derivat epidermis bentuk yang ringan, fleksibel, dan sebagai pembungkus tubuh”yang sangat resisten (Jasin, 1992).

Kepala BurungGambar 5. Tipe kepala burung, wikimedia.org

Sayap Burung

Kebanyakan burung tulang tulangnya memiliki struktur internal yang mirip sarang lebah dan terisi dengan udara. Bulu pada burung terdiri dari batang pusat yang terisi udara, bulu halus”(vane) adalah helaian tempat tumbuhnya . helaian ini tersusun atas barbus yang memiliki cabang-cabang kecil, atau bisa disebut barbula. Burung terdapat bulu kontur dan bulu halus. Bulu pada kontur yaitu bulu yang kaku, dan berbentuk acrodinamis pada sayap dan tubuhnya. Hal ini mengakibatkan barbulanya memiliki kait yang terkait ke barbula pada barbus yang bersebelahan. Saat membersihkan bulu, burung menyusuri setiap bulu kontur dengan paruhnya, membetulkan posisi kait dan menyatukan barbus menjadi bentuk yang tempat. Sedangkan pada bulu halus tidak memiliki kait, dan susunan barbusnya bebas menghasilkan bulu yang sangat halus yang menyediakan insulasi dengan memerangkap udara (Campbell, jilid 2, 2008)

Terbang adalah adaptasi pada burung yang paling jelas yang digerakkan oleh sayap dan bulunya. Bulu pada burung terbuat dari protein β-keratin, dan ditentukan juga pada sisik reptil lain. Bentuk dan?susunan bulu nya membentuk sayap menjadi airfoil- permukaan inilah yang menghasilkan gaya angkat di udara, dan ilustrasi nya seperti aerodinamika,sayap pada bagian pesawat terbang. Energi untuk mengepakkan sayap nya berasal dari kontraksi otot-otot pektoral (dada) yang besar dan terhambat di sternum (tulang lunas dada). (Campbell, jilid 2, 2008)

Sayap BurungGambar 6. Sayap Burung, Mackinnon, 2010

Persebaran Burung

Burung secara umum dapat ditemukan tersebar di berbagai kawasan di dunia. Burung dapat ditemukan di daerah pedesaan, kota, atas permukaan laut, puncak-puncak gunung yang dingin, hingga di daerah-daerah yang bersuhu panas (Iskandar, 2017). Berdasarkan pembagian zoogeografi persebaran jenis-jenis burung di Indonesia dapat dibedakan menadi 3 kelompok besar, yaitu jenis-jenis burung khas di kawasan Indonesia Barat, kawasan Indonesia Timur, dan daerah-daerah peralihan di Indonesia. Di kawasan Indonesia bagian barat seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Bali memiliki jenis-jenis burung yang hampir sama dengan jenis-jenis burung di daratan Asia. Sementara itu, di kawasan Indonesia bagian timur seperti Papua memiliki jenis-jenis burung yang hampir serupa dengan burung-burung yang ada di Australia. Sedangkan, di daerah-daerah peralihan seperti Sulawesi dan Maluku memiliki jenis-jenis burung khas yang berbeda dengan jenis-jenis burung yang ditemukan di kawasan Indonesia bagian barat dan kawasan Indonesia bagian timur (Iskandar, 2017).

Habitat Burung

Habitat burung adalah lingkungan atau tempat tinggal alami di mana burung tersebut dapat ditemukan dan hidup. Setiap spesies burung memiliki preferensi habitat yang berbeda-beda, yang ditentukan oleh kebutuhan makanan, perlindungan dari predator, tempat berkembang biak, dan faktor lingkungan lainnya.

Berikut adalah beberapa contoh habitat burung:

  1. Hutan: Beberapa spesies burung hidup di hutan atau hutan tropis seperti burung merpati, burung hantu, dan burung kakatua.
  2. Pantai dan lautan: Burung pelikan, camar, dan bangau sering ditemukan di dekat pantai dan laut.
  3. Padang rumput dan padang gurun: Burung pemakan serangga seperti burung layang-layang dan burung kicau seperti burung pipit sering hidup di padang rumput dan padang gurun.
  4. Danau dan sungai: Burung air seperti angsa, bebek, dan burung camar biasanya hidup di sekitar danau dan sungai.
  5. Perkotaan: Beberapa spesies burung seperti burung merpati dan burung gagak dapat ditemukan di kota dan area perkotaan.

Habitat burung dapat pula diartikan sebagai suatu alamat tempat burung tersebut dapat ditemukan. Pada umumnya habitat burung berkaitan dengan relung (niche) burung tersebut pada habitatnya (Iskandar, 2017). Pada umumnya habitat burung merupakan suatu tempat yang sesuai dengan persyaratan untuk hidup jenis burung tersebut. Habitat burung dapat berupa tempat untuk mencari makan, tempat untuk berbiak, dan tempat untuk bersarang seerta tempat perlindungan diri dari amcaman bahaya (Iskandar, 2017).

Daerah untuk mencari makan bagi anekaragam jenis burung dapat bermacam-macam. Hal terrsebut antara lain tergantung dari jenis pakan, kebiasaan makan, dan cara makan burung tersebut. Selain itu kebiasaan makan dan pemilihan pakan burung biasanya berkaitan erat dengan bentuk bagian-bagian tubuh burung, terutama bagian paruh dari burung (Iskandar, 2017). Daerah untuk berbiak bagi jenis-jenis burung sangat khas. Hal tersebut berkaitan erat dengan tempat dimana burung membuat sarang atau tempat burung menyiapkan tempat berbiak. Selain itu, kebiasaan burung dapat juga menentukan tempat berbiaknya (Iskandar, 2017).