Diperbarui tanggal 12/05/2022

Model Pembelajaran SiMaYang

kategori Model-model Pembelajaran / tanggal diterbitkan 1 Mei 2022

Pengertian Model Pembelajaran SiMaYang

Model pembelajaran SiMaYang yang dikemabangkan oleh Sunyono merupakan model pembelajaran berbasis multiple representasi yang dikembangkan dengan menkombinasikan teori faktor interaksi (tujuh konsep dasar) yang mempengaruhi kemampuan peserta didik untuk mempresentasikan representasi eksternal fenomena sains (Sch?nborn dan Anderson, 2009) kedalam kerangka model IF-SO (Waldrip, 2010). Selain itu model pembelajaran SiMaYang juga disusun dengan berdasarkan pada teori belajar konstruktivisme, teori pemrosesan informasi,teori model mental, dan teori model 7 faktor tentang kemampuan peserta didik dalam mengintepretasikan representasi eksternal. (Sunyono, 2015). Fenomena sains dapat dijelaskan dengan tiga level representasi yang berbeda, yaitu makroskopik, submikroskopik dan simbolik. Berpikir dalam tiga dimensi representasi tersebut merupakan tuntutan disiplin ilmu sains, yang membedakan dengan disiplin ilmu lain. (Meidayanti. 2015).

Menurut Sunyono (2015) tujuan dari model pembelajaran SiMaYang ini dikembangkan adalah:

  1. Membelajarkan konsep-konsep yang bersifat abstrak dengan melibatkan interaksi ketiga fenomena sains (makro, submikro, an simbolik)
  2. Meingkatkan keterampilan berpikir melalui daya imajinasi dalam menumbuhkan model mental mahasiswa
  3. Meningkatkan rasa percaya diri sehingga menumbuhkan keyakinan pada dirinya untuk berhasil dalam memahami fenomena-fenomena abstrak dalam kehidupan nyata

Model pembelajaran SiMaYang dikembangkan terdiri dari 4 tahapan, yaitu orientasi, eksplorasi-imajinasi, internalisasi dan evaluasi. Keempat fase dalam model pembelajaran yang dikembangkan ini memiliki ciri dengan berakhiran “si” sebanyak lima “si”. Fase-fase tersebut tidak selalu berurutan bergantung pada konsep yang dipelajari oleh peserta didik, terutama pada fase dua (eksplorasi-imajinasi). Misalnya pada pembelajaran sains untuk topic stoikiometri dapat diajarkan dengan urutan fase orienasi, eksplorasi-imajinasi, internalisasi, dan evaluasi. Namun, untuk topic struktur atom, maka urutan fasenya dapat di ubah menjadi orientasi, imajinasi-eksplorasi, internalisasi, dan evaluasi. Oleh sebab itu, fase-fase model pembelajaran yang dikembangkan ini disusun dalam bentuk layang-layang dan selanjutnya dinamakan Si-5 layang-layang atau dapat juga disingkat SiMaYang (Sunyono, 2015).

Pada tahap eksplorasi-imajinasi siswa diberi kesempatan untuk melakukan pembayangan mental (imajinasi) terhadap representasi yang sedang dihadapi, sehingga dapat mentransformasikan fenomena representasi tersebut dari level yang satu ke level yang lain. Dengan demikian, kemampuan berpikir kreatif dapat dilihat dari bagaimana siswa melakukan interprestasi dan transformasi terhadap representasi fenomena sains yang sedang dihadapi (Sunyono, 2012).

Fase-Fase Model Pembelajaran Si-5 Layang-Layang

Dimana penjelasan dari tahap-tahap tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Tahap orientasi.
    Pada tahap orientasi, aktivitas guru/dosen yang harus dilakukan adalah menyampaikan tujuan pembelajaran dan memberikan motivasi dengan memberikan gambaran tentang fenomena tentang sains yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, sehingga peserta didik dapat lebih termotivasi dalam mempelajari sains. Pemberian motivasi ini dapat dilakukan melalui reviu materi pembelajaran minggu sebelumnya dan/atau pemberian pertanyaan-pertanyaan untuk mengetahui pengetahuan awal peserta didik yang berhubungan dengan topic yang akan dibahas dan merupakan peristiwa-peristiwa yang dijumpai dalam kehidupan manusia dan kegiatannya sehari-hari. (Sunyono, 2015).
  2. Tahap eksplorasi-imajinasi
    Tahap eksplorasi-imajinasi adalah tahap pembelajaran yang dirancang oleh guru/dosen yang memungkinkan peserta didik membangun pengetahuan melalui Orientasi peningkatan pemahaman terhadap suatu fenomena dengan cara menelusuri informasi melalui berbagai sumber, selanjutnya guru/dosen menciptakan aktivitas peserta didik dalam meningkatkan kemampuan berfikir kritis dan kreatif berdasarkan pengetahuan yang telah diperoleh dengan melakukan imajinasi representasi (Sunyono, 2015).
  3. Tahap internalisasi
    Tahap internalisasi merupakan proses pemasukan nilai pada seseorang yang akan membentuk pola pikirnya dalam melihat makna realitas pengalaman (objek yang telah dipelajari). Dengan kata lain, tahap ini merupakan perwujudan dari hasil ekspolari-imajinasi, sehingga pada tahap ini akan tertanam nilai, prinsip, konsep, dan hokum pada peseta didik dengan baik (Sunyono, 2015).
  4. Tahap evaluasi
    Tahap evaluasi merupakan tahap akhir dari pembelajaran dengan model SiMaYang, yaitu tahap untuk mendapatkan umpan balik dari keseluruhan atau beberapa pertemuan pembelajaran di kelas. Tahap ini adalah tahap akhir dari fase model SiMaYang, dimana pada tahap inilah dapat dilihat hasil dari keseluruhan fase Pada tahap ini dilakukan penilaian terhadap kemajuan belajar peserta didik, seperti: posttest untuk setiap kali selesai pembelajaran (setiap pertemuan) sebagai acuan dalam memperbaiki pembelajaran berikutnya, pemberian tugas rumah, dan penilaian akhir pembelajaran (tes formatif dan sumatif) (Sunyono, 2015).

Sintak dari model pembelajaran SiMaYang memiliki aktivitas guru sebagai berikut:

  1. Fase I: Orientasi
    1. Menyampaikan tujuan pembelajaran
    2. Memberikan motivasi dengan berbagai fenomena sains yang terkait dengan pengalaman peserta didik
  2. Fase II: Eksplorasi – Imajinasi
    1. Mengenalkan konsep materi dengan memberikan beberapa abstraksi yang berbeda mengenai fenomena sains secara verbal atau dengan demonstrasi dan juga menggunakan visualisasi: gambar, grafik, atau simulasi atau animasi, dan atau analogi dengan melibatkan peserta didik untuk menyimak dan bertanya jawab.
    2. Memberikan bimbingan pada peserta didik untuk melakukan imajinasi representasi terhadap fenomena sains yang sedang dihadapi secara kolaboratif (berdiskusi).
    3. Mendorong dan memfasilitasi diskusi peserta didik untuk mengembangkan pemikiran kritis dan kreatif dalam membuat interkoneksi diantara level-level fenomena sains dengan menuangkannya ke dalam lembar kegiatan peserta didik. Misalnya: diberikan gambar sub-mikro tentang reaksi, pesrta didik dapat menyimpulkan peristiwa yang terjadi dan peserta didik dapat membuat gambar sub-mikro tentang fenomena tersebut bila diberikan informasi verbal tentang fenomena yang lain yang serupa.
  3. Fase III: Internalisasi
    1. Membimbing dan memfasilitasi peserta didik dalam mengartikulasikan/ mengkomunikasikan hasil pemikirannya melalui presentasi hasil kerja kelompok
    2. Memberikan dorongan kepada peserta didik lain untuk memberikan komentar atau menanggapi hasil kerja dari kelompok peserta didik yang sedang presentasi
    3. Memberikan latihan atau tugas untuk menciptakan aktivitas individu dalam mengartikulasikan imajinasinya (latihan individu tertuang dalam lembar kegiatan (LK) yang berisi pertanyaan dan/atau perintah untuk membuat interkoneksi ketiga level fenomena sains dan/atau berisi teka-teki silang belajar sains (TTSBS)
  4. Fase IV: Evaluasi
    1. Memberikan reviu terhadap hasil kerja peserta didik.
    2. Memberikan tugas-tugas untuk berlatih menginterkoneksikan ketiga level fenomena sains.
    3. Melakukan evaluasi diagnostic, formatif, dan sumatif.

Model Pembelajaran SiMaYang Tipe II

Model pembelajaran SiMaYang hanya berlaku untuk pmbelajaran diperguruan tinggi. Oleh sebab itu, agar pembelajaran sains di tingkat sekolah dapat di terapkan, maka model pembelajaran ini perlu disesuaikan, mengingat karakteristik siswa dan mahasiswa yang berbeda. Disamping itu dengan lahirnya kurikulum baru dengan paradigm pembelajaran dengan pendekatan saintifik, maka model pembelajaran SiMaYang juga perlu disesuaikan. (Sunyono, 2015). Model pembelajaran SiMaYang Tipe II merupakan keterpaduan antara pendekatan saintifik dengan model pembelajaran SiMaYang. Pembelajaran dengan pendekatan saintifik memiliki keunggulan, antara lain: (1) meningkatkan kemampuan intelek, khususnya kemampuan berpikir tingkat tinggi, (2) membentuk kemampuan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah secara sistematik, (3) terciptanya kondisi pembelajaran dimana siswa merasa bahwa belajar itu merupakan suatu kebutuhan, (4) diperolehnya hasil belajar yang tinggi dan (5) untuk melatih siswa dalam mengkomunikasikan ide. (Nurmala. 2015).

Ciri-ciri model SiMaYang tipe II

Menurut Sunyono (2015) model pembelajaran SiMaYang tipe II memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Model pembelajaran SiMaYang tipe II hanya cocok untuk topik-topik sains yang bersifat abstrak yang didalamnya mengandung level makro, sub-mikro dan simbolik. Ada keberagaman visual (gambar, diagram, grafik, animasi, dan analogi) yang dapat merangsang siswa dalam menggunakan kemampuan berpikirnya dalam membuat interkoneksi di antara level-level fenomena sains.
  2. Siswa memiliki peran yang aktif dalam menelusuri informasi (pengetahuan konseptual), menemukan sifat-sifat pola, rumus-rumus, simbol-simbol, dan penyelesaian masalah, melalui proses mengamati dan membayangkan dengan imajinasinya.
  3. Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan potensi kognitifnya dalam membangun model mental terutama melalui kegiatan eksplorasi pengetahuan dan imjinasi representasi.
  4. Menekankan aktivitas siswa dalam belajar baik secara kelompok maupun individu.
  5. Guru/dosen juga berperan sebagai mediator, dalam hal ini guru/dosen memediasi kegiatan diskusi kelompok yang dilakukan siswa, sehingga ada sharing pengetahuan diantara siswa sendiri dengan fasilitasi dari guru/dosen.
  6. Ada bimbingan dan bantuan dari guru/dosen kepada siswa yang mengalami kesulitan, baik dalam belajar secara kelompok maupun ketika latihan secara individu.
  7. Siswa diberi kesempatan untuk mengkomunikasikan dan mengartikulasikan hasil kerjanya (belajarnya) kepada teman dan guru/dosen melalui kegiatan presentasi.

Sintak Model Pembelajaran SiMaYang Tipe II

SiMaYang tipe II merupakan perbaikan dari model pembelajaran SiMaYang yang di gabungkan dengan pendekatan saintifik. Hasil perbaikan model SiMaYang ini dinamakan model saintifik SiMaYang tipe-II atau SiMaYang tipe-II. Menurut Sunyono dan Yuliant, 2014, sintak pembelajaran SiMaYang tipe-II diuraikan pada tabel 2.2

NoFaseAktivitas GuruAktivitas Siswa
1Fase I: Orientasi
  1. Menyampaikan tujuan pembelajaran.
  2. Memberikan motivasi dengan berbagai fenomena yang terkait dengan pengalaman siswa.
  1. Menyimak penyampaian tujuan sambil memberikan tanggapan.
  2. Menjawab pertanyaan dan menanggapi
2Fase II: Eksplorasi-IM majinasi
  1. Mengenalkan konsep dengan memberikan beberapa abstraksi yang berbeda mengenai fenomena alam (demonstrasi dan juga visualisasi atau simulasi atau animasi, dan atau analogi) dengan melibatkan siswa.
  2. Mendorong, membimbing, dan memfasilitasi diskusi siswa untuk membangun model mental dan membuat interkoneksi diantara level-level fenomena alam dan/atau membuat transformasi dari level fenomena yang satu ke level lain yang dituangkan ke dalam lembar kegiatan siswa (LKS).
  1. Menyimak (mengamati) dan Tanya jawab dengan guru tentang fenomena yang diperkenalkan (Menanya).
  2. Melakukan penelusuran informasi melalui webpage/weblog dan/ atau buku teks (Menggali informasi)
  3. Bekerja dalam kelompok untuk melakukan imajinasi terhadap fenomena alam melalui (LKS).
3Fase III: Internalisasi
  1. Membimbing dan memfasilitasi siswa dalam mengartikulasikan/ mengkomunikasikan hasil pemikirannya melalui presentasi hasil kerja kelompok.
  2. Memberikan latihan atau tugas dalam mengartikulasikan imajinasinya dalam lembar kegiatan siswa yang berisi pertanyaan dan/atau perintah untuk membuat interkoneksi ketiga level fenomena alam (makro,sub-mikro,dan simbolik.
  1. Perwakilan kelompok presentasi terhadap hasil kerja kelompok (Mengomunikasikan).
  2. Memberikan tanggapan/ pertanyaan terhadap kelompok yang sedang presentasi (Menanya dan menjawab).
  3. Melakukan latihan melalui LKS (Menggali informasi dan mengasosiasi).
4Fase IV: Evaluasi
  1. Mengevaluasi kemajuan belajar siswa dan mereviu hasil kerja siswa.
  2. Memberikan tugas latihan interkoneksi tiga level fenomena alam (makro, mikro dan simbolik).
Menyimak hasil reviu dari guru dan menyampaikan hasil kerjanya (mengomunikasikan), serta bertanya tentang pembelajaran yang akan datang.

Menurut Sunyono (2015) dalam menerapkan model pembelajaran SiMaYang tipe II, setiap tahap pada sintaks harus dioperasionalkan di dalam rencana pembelajaran.

Tahap orientasi

Pada tahap orientasi aktivitas guru/dosen yang harus dilakukan adalah menyampaikan tujuan pembelajaran dan memberikan motivasi dengan memberikan gambaran tentang fenomena sains yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, sehingga siswa dapat lebih termotivasi dalam mempelajari sains. Pemberian motivasi ini dapat dilakukan melalui reviu pembelajaran materi pembelajaran minggu sebelumnya dan/atau pemberian pertanyaan-pertanyaan untuk mengetahui pengetahuan awal siswa yang berhubungan dengan topik yang akan dibahas dan merupakan peristiwa-peristiwa yang dijumpai dalam kehidupan manusia.

Tahap eksplorasi-imajinasi

Tahap eksplorasi-imajinasi adalah tahap pembelajaran yang dirancang oleh guru/dosen yang memungkinkan siswa membangun pengetahuan melalui peningkatan pemahaman terhadap suatu fenomena dengan cara menelusuri informasi melalui berbagai literatur. Selanjutnya guru/dosen menciptakan aktivitas siswa dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif berdasarkan pengetahuan yang telah diperoleh dengan melakukan imajinasi representasi. Pada tahap ini, pembelajaran lebih ditekankan pada konseptualisasi masalahmasalah sains yang sedang dihadapi berdasarkan kegiatan diskusi, eksperimen/demonstrasi dan pelacakan informasi melalui buku teks atau internet. Strategi yang digunakan untuk memperluas dan memperdalam pengetahuan dengan menerapkan strategi belajar aktif. Oleh sebab itu, pada tahap eksplorasi konseptual, aktivitas guru/dosen yang harus dilakukan adalah mengenalkan konsep yang akan dibahas secara verbal dengan bantuan media visual (gambar sub-mikro atau animasi) atau demostrasi. Pengenalan konsep ini lebih dititik beratkan pada pengenalan awal konsep dengan menunjukkan tiga level fenomena sains (makro, sub-mikro, dan simbolik) atau dua level fenomena (sub-mikro dan simbolik) melalui gambar sub-mikro atau digram atau grafik atau animasi.

Pengenalan konsep ini bukan berarti guru/dosen memberikan penjelasan secara detail terhadap topik yang akan dibahas, namun merupakan pengantar pendahuluan yang dapat menciptakan rasa ingin tahu siswa dalam menelusuri informasi melalui berbagai literatur. Selama guru/dosen memberikan pengenalan konsep, siswa diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan, komentar, atau tanggapan terhadap apa yang disampaikan guru/dosen. Setelah guru/dosen memberikan pengenalan konsep awal, kemudian guru/dosen memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperdalam dan memperluas informasi melalui buku atau internet. Penelusuran informasi pada tahap ini dilakukan oleh siswa secara berkelompok. Pengelompokan siswa dilakukan pada tahap awal pembelajaran (tahap orientasi) atau ditetapkan pada pertemuan awal pembelajaran. Pada tahap ini, selain siswa memperoleh informasi dari guru/dosen dan memperoleh pengetahuan dari penelusuran informasi, siswa juga diberi kesempatan untuk melakukan pembayangan mental (imajinasi) terhadap representasi yang sedang dihadapi, sehingga dapat mentransformasikan fenomena representasi tersebut dari level yang satu ke level yang lain. Dengan demikian kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa dapat dilihat dari bagaimana siswa melakukan interpretasi dan transformasi terhadap representasi fenomena sains yang dihadapi. Kemampuan bepikir kritis dapat dicapai ketika siswa dapat melakukan interpretasi terhadap representasi yang dihadapi dengan membuat suatu kesimpulan, komentar, atau melakukan perhitungan matematis, sedangkan kemampuan berpikir kratif, ketika siswa dapat melakukan transformasi representasi dari level sub-mikro ke level makro dan simbolik atau sebaliknya.

Tahap internalisasi

Tahap internalisasi merupakan proses pemasukan nilai pada seseorang yang akan membentuk pola pikirnya dalam melihat makna realitas pengalaman (objek yang telah dipelajari. Dengan kata lain tahap ini merupakan perwujudan dari hasil eksplorasi dan imajinasi, sehingga pada tahap ini diharapkan akan tertanam nilai, prinsip, konsep, dan hukum pada siswa dengan baik. Internalisasi nilai, prinsip, konsep, hukum, dan konsep dilakukan melalui kegiatan presentasi hasil kerja kelompok (diskusi) dan tugas/latihan untuk dikerjakan secara individu oleh siswa. Aktivitas guru/dosen yang harus dilakukan pada tahap internalisasi adalah:

  1. Memediasi jalannnya diskusi kelas, memberikan kesempatan pada siswa dari kelompok lain untuk bertanya, memberikan komentar atau tanggapan terhadap hasil kerja kelompok yang sedang presentasi, serta mereviu jawaban/komentar/tanggapan dari siswa.
  2. Memberikan latihan / tugas individu kepada siswa dalam bentuk LKPD.
  3. Membimbing dan memberikan bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam menyelasaikan LKPD. Pemberian bantuan ini, guru/dosen hanya memberikan arahan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan atau komentar “pancingan” yang mengarahkan siswa untuk menemukan jawabannya sendiri.

Tahap evaluasi

Tahap evaluasi merupakan tahap akhir dari pembelajaran dengan model SiMaYang tipe II, yaitu tahap untuk mendapatkan umpan balik dari keseluruhan atau beberapa pertemuan pembelajaran di kelas. Pada tahap ini dilakukan penilaian terhadap kemajuan belajar siswa, seperti: postes untuk setiap kali selesai pembelajaran (setiap pertemuan) sebagai acuan dalam memperbaiki pembelajaran berikutnya, pemberian tugas rumah, dan penilaian akhir pembelajaran (tes formatif dan sumatif). Oleh sebab itu pada tahap ini, aktivitas yang dilakukan oleh seorang guru/dosen bersama-sama dengan siswa adalah:

  1. Bersama-sama siswa melakukan reviu terhadap hasil penyelesaian LKPD individu.
  2. Memeberikan postes untuk setiap pertemuan (jika memungkinkan), guna melihat kemajuan belajar siswa yang akan digunakan sebagai acuan dalam memperbaiki proses pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
  3. Memberikan tugas rumah yang berisi pertanyaan atau tugas praktik dengan interkoneksi antar level fenomena sains, sehingga siswa dapat berlatih dan memperbaiki kekurangannya dalam melakukan interpretasi dan transformasi fenomena representasi sains.

Kekurangan dan Kelebihan Model Pembelajaran SiMaYang Tipe-II

Menurut Sunyono (2015) Kelebihan dari model pembelajaran SiMaYang antara lain:

  1. Model pembelajaran SiMaYang mampu meningkatkan kualitas proses pembelajaran yang ditunjukkan dengan munculnya berbagai aktivitas pembelajaran. Pada pembelajaran SiMaYang dominasi guru dalam pembelajaran SiMaYang dapat diminimalkan dan memberikan peran guru sebagai fasilitator dan mediator.
  2. Model pembelajaran SiMaYang merupakan model pembelajaran yang menyenangkan. Hasil kajian empiris menunjukkan lebih dari 80% peserta didik memberikan respon positif dan senang dengan pelaksanaan pembelajaran menggunakan model SiMaYang.
  3. Model pembelajaran SiMaYang mampu membangun model mental peserta didik dalam upaya memahami materi pembelajaran dengan kategori “baik” atau dengan karakteristik “target” serta peningkatan model mental tersebut lebih tinggi dibanding pembelajaran konvensional.
  4. Model pembelajaran SiMaYang memiliki ciri kolaboratif, kooperatif, dan imajinatif yang tertuang dalam fase eksplorasi-imaginasi dan internalisasi dapat dijadikan alternatif model pembelajaran yang mampu mensejajarkan peserta didik berkemampuan awal rendah dengan peserta didik berkemampuan sedang dan tinggi dalam membangun model mental.
  5. Model pembelajaran SiMaYang dapat dipandang sebagai model “terpadu” yang menggabungkan media TIK dengan berbagai fenomena biologi dan menggabungkan media tersebut dengan berbagai aktivitas peserta didik, aktivitas guru, interaksi antar peserta didik, dan interksi antara guru dengan peserta didik.
  6. Model pembelajaran SiMaYang mampu menciptakan lingkungan belajar yang kaya akan aktivitas pembelajaran, baik yang bersifat individual maupun yang bersifat kolaboratif, sekaligus mampu membelajarkan peserta didik arti pentingnya kerjasama dan menghargai hasil kerja orang lain.
  7. Model pembelajaran SiMaYang mampu memberikan dorongan atau motivasi kepada peserta didik untuk mengasah kemampuan imajinasinya dalam memahami fenomena yang bersifat abstrak. Kekuatan imajinasi peserta didik dalam pembelajaran dengan model SiMaYang mampu meningkatkan kemampuan dalam melakukan interpretasi dan transformasi ketiga level fenomen alam.

Disamping memiliki kelebihan, model pembelajaran SiMaYang menurut Sunyono (2015) ternyata juga memiliki keterbatasan, antara lain:

  1. Model pembelajaran SiMaYang hanya mampu meningkatkan model mental peserta didik dengan N-Gain kategori “sedang”. Mayoritas model mental dengan karekteristik “konsensus”, sedangkan dengan model mental dengan kategori “sangat baik” atau model mental “target” danpat ditumbuhkan (pada kisaran 10%-25%). Hal ini disebabkan untuk menumbuhkan model mental “target” (kategori “sangat baik”) memerlukan waktu yang tidak singkat dan perlu latihanterus menerus.
  2. Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model SiMaYang yang memerlukan infrastruktur yang memadai (seperti listrik, fasilitas internet, dan komputer). Seringnya listrik padam pada saat pembelajaran dapat menjadi hambatan keterlaksanaan dan keberhasilan pembelajaran dengan menggunakan model SiMaYang.
  3. Pelaksanaan pembelajaran ddengan menggunakan model SiMaYang memerlukan kesiapan fasilitas jaringan internet dengan kapasitas dan kecepatan yang memadai sehingga dapat diakses oleh banyak peserta didik pada saat bersamaan. Lambatnya akses internet menjadi salah kedala yang sangat berarti dalam pembelajaran dengan menggunakan model SiMaYang.
  4. Model pembelajaran SiMaYang mengharuskan pengguna model memiliki kemampuan IT yang cukup baik. Kurangnya kemampuan IT dari pengguna model dapat menjadi hambatan keterlaksanaan model pembelajaran SiMaYang.
  5. Membutuhkan waktu yang cukup lama dalam menyiapkan perangkat pembelajaran dan jika tidak dipersiapkan dengan baik, pembelajaran dapat menyita waktu yang cukup lama.