Diperbarui tanggal 30/04/2022

Model Pembelajaran Problem Posing

kategori Model-model Pembelajaran / tanggal diterbitkan 30 April 2022

Pengertian Model Problem Posing

Problem posing merupakan istilah yang pertama kali dikembangkan oleh ahli pendidikan asal Brasil, Paulo Freire dalam bukunya Pedagogy of the Oppressed (1970). Problem Posing Learning (PPL) merujuk pada strategi pembelajaran yang menekankan pemikiran kritis demi tujuan pembebasan. Sebagai model pembelajaran, PPL melibatkan tiga keterampilan dasar, yaitu menyimak (listening), berdialog (dialogue), dan tindakan (action). Banyak model yang sudah dikembangkan sejak Freire pertama kali memperkenalkan istilah itu. Salah satunya adalah buku Freire for the Classroom: A Sourcebook for Liberatory Teaching yang diedit oleh Ira Shor. Ketika guru menerapkan PPL di ruang kelas, mereka harus berusaha mendekati peserta didiknya sebagai partner dialog agar dapat menciptakan atmosfer harapan, cinta, kerendahan hati, dan kepercayaan (Huda, 2015).

Suryanto mengartikan bahwa kata problem sebagai masalah atau soal sehingga pengajuan masalah dipandang sebagai suatu tindakan merumuskan masalah atau soal dari situasi yang diberikan. Silver mencatat bahwa istilah “menanyakan soal” biasanya diaplikasikan pada tiga bentuk aktivitas kognitif yang berbeda, yaitu sebagai berikut:

  1. Menanyakan per solusi: seorang peserta didik membuat soal dari situasi yang diadakan.
  2. Menanyakan di dalam solusi: seorang peserta didik merumuskan ulang soal seperti yang telah diselesaikan.
  3. Menanyakan setelah solusi: seorang peserta didik memodifikasi tujuan dan kondisi soal yang sudah diselesaikan untuk membuat soal-soal baru.


Problem Posing dan Relevansinya dalam Pembelajaran

Pengajuan masalah berkaitan dengan kemampuan guru memotivasi peserta didik melalui perumusan situasi yang menantang sehingga peserta didik dapat mengajukan pertanyaan yang dapat diselesaikan dan berakibat kepada peningkatan kemampuan mereka dalam memecahkan masalah. Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, guru hendaknya memilih strategi yang melibatkan peserta didik aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, maupun social. Sebagaimana definisi mengajar di negera-negara yang sudah maju, “Teaching is the guidance of learning (mengajar adalah bimbingan kepada peserta didik dalam proses belajar).” Definisi ini menunjukkan bahwa yang aktif adalah peserta didik, yang mengalami proses belajar. Sedangkan, guru hanya membimbing, menunjukkan jalan dengan memperhitungkan kepribadian peserta didik. Kesempatan untuk berbuat dan aktif berpikir lebih banyak diberikan kepada peserta didik.

Hal tersebut sangat berkaitan dengan metode pengajuan soal. Pengajuan soal merupakan kegiatan yang mengarah pada sikap kritis dan kreatif. Sebab, dalam metode pengajuan soal, peserta didik diminta untuk membuat pertanyaan dari informasi yang diberikan. Padahal, bertanya merupakan pangkal semua kreasi. Orang yang memiliki kemampuan mencipta (berkreasi) dikatakan memiliki sikap kreatif. Selain itu, dengan pengajuan soal, peserta didik diberi kesempatan aktif secara mental, fisik, dan sosial serta memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menyelidiki dan juga membuat jawaban.

Pengajuan soal dapat meningkatkan kemampuan belajar peserta didik karena pengajuan soal merupakan sarana untuk merangsang kemampuan tersebut. Dengan membuat soal, peserta didik perlu membaca informasi yang diberikan dan mengkomunikasikan pertanyaan secara verbal maupun tertulis. Menulis pertanyaan dari informasi yang ada dapat menyebabkan ingatan peserta didik jauh lebih baik. Kemudian, dalam pengajuan soal peserta didik diberikan kesempatan menyelidiki dan menganalisis informasi untuk dijadikan soal. Kegiatan menyelidiki tersebut bagi peserta didik menentukan apa yang dipelajari, kemampuan menerapkan penerapan dan perilaku selama kegiatan belajar. Hal tersebut menunjukkan kegiatan pengajuan soal dapat memantapkan kemampuan belajar peserta didik (Thobroni, 2015).

Problem Posing Secara Kelompok atau Individu

Menurut Thobroni (2015), pengajuan masalah atau soal dapat dilakukan secara kelompok atau individu. Secara umum, pengajuan masalah oleh peserta didik dalam pembelajaran, baik secara kelompok maupun individu merupakan aspek yang penting. Tingkat pemahaman dan penguasaan peserta didik terhadapat materi yang dipelajarinya dapat dilihat melalui pertanyaan yang diajukannya.

Pengajuan Masalah Secara Kelompok

Pengajuan masalah secara kelompok merupakan salah satu cara untuk membangun kerja sama yang saling menguntungkan. Dimyati dan Mudjiono dalam Thobroni (2015) mengemukakan bahwa tujuan utama pembelajaran dengan cara berkelompok adalah untuk:

  1. Memberi kesempatan kepada setiap peserta didik untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah secara rasional.
  2. Mengembangkan sikap sosial dan semangat bergotong royong dalam kehidupan.
  3. Mendinamiskan kegiatan kelompok dalam belajar sehingga tiap anggota merasa diri sebagai bagian ke yang bertanggung jawab.
  4. Mengembangkan kemampuan kepemimpinan-kepemimpinan pada setiap anggota kelompok dalam pemecahan masalah kelompok.

Dalam kaitannya dengan bekerja sama dalam kelompok belajar, Goos, Galbraith, dan Renshaw dalam Thobroni (2015) memberikan tiga pengertian yang berbeda, yaitu:

  1. Paralel activity: peserta didik bekerja sama secara paralel dalam kelompok dengan sedikit pertukaran ide atau gagasan.
  2. Peer tutoring: peserta didik mengerjakan soal secara bersama-sama dalam kelompok dan salah seorang peserta didik yang lebih pintar menjadi pengendali jalannya kerja sama.
  3. Collaboration yang meliputi Cooperative Learning Strategy (CLS). Strategi ini menuntut peserta didik bekerja sama dalam kelompoknya terhadap masalah yang sama dan tidak ada di antara mereka yang boleh mengerjakannya sendiri-sendiri.

Pengajuan masalah melalui kelompok dapat membantu peserta didik dalam memikirkan ide secara lebih jauh antara sesama anggota di dalam kelompok. Dengan demikian, pengajuan masalah secara kelompok dapat menggali pengetahuan, alasan serta pandangan antara satu peserta didik dan peserta didik yang lain.

Pengajuan Masalah Secara Individu

Pengajuan masalah secara individu yang dimaksud adalah proses pembelajaran yang berlangsung di dalam kelas, dengan seorang guru sebagai fasilitator dan diikuti oleh peserta didik di dalam kelas. Selanjutnya, secara perorangan atau individu, peserta didik mengajukan dan menjawab pertanyaan tersebut, baik secara verbal maupun tertulis berdasarkan situasi/informasi yang telah diberikan oleh guru. Sama halnya dengan pengajuan masalah (soal) secara kelompok, pengajuan masalah secara individu juga memiliki kelebihan. Pertanyaan yang diajukan secara individu berpeluang untuk dapat diselesaikan (solvable) daripada terlebih dahulu dipikirkan secara matang, sungguh-sungguh, dan tanpa intervensi pikiran dari peserta didik lainnya, dapat menjadi lebih berbobot. Selain itu, aktivitas peserta didik berupa pertanyaan, tanggapan, saran dan kritikan dapat membantu peserta didik untuk lebih mandiri dalam belajar.

Tujuan dan Manfaat Problem Posing

Menurut pendapat beberapa ahli yang dikutip oleh Tatag dalam Thobroni (2015), metode pengajuan soal (problem posing) dapat:

  1. Membantu peserta didik dalam mengembangkan keyakinan dan kesukaan terhadap pelajaran sebab ide-ide peserta didik dicobakan untuk memahami masalah yang sedang dikerjakan dan dapat meningkatkan kemampuannya dalam pemecahan masalah
  2. Membentuk peserta didik bersikap kritis dan kreatif
  3. Mempromosikan semangat inkuiri dan membentuk pikiran yang berkembang dan fleksibel
  4. Mendorong peserta didik untuk lebih bertanggung jawaban dalam belajarnya
  5. Mempertinggi kemampuan pemecahan masalah sebab pengajuan soal memberi penguatan-penguatan dan memperkaya konsep-konsep dasar
  6. Menghilangkan kesan keseraman dan kekunoan dalam belajar
  7. Memudahkan peserta didik dalam mengingat materi pelajaran
  8. Memudahkan peserta didik dalam memahami materi pelajaran
  9. Mendorong peserta didik untuk lebih banyak membaca
  10. Membantu memusatkan perhatian pada pelajaran

Penerapan Pembelajaran Problem Posing

Problem posing merupakan model pembelajaran yang mengharuskan peserta didik menyusun pertanyaan sendiri atau memecahkan suatu soal menjadi pertanyaan-pertanyaan yang lebih sederhana yang mengacu pada penyelesaian soal tersebut. Dalam pembelajaran problem posing menempati posisi yang strategis. Peserta didik harus menguasai materi dan urutan penyelesaian soal secara mendetail. Hal tersebut akan dicapai jika peserta didik memperkaya khazanah pengetahuannya tak hanya dari guru, tetapi perlu belajar secara mandiri (Thobroni, 2015).

Suryanto dalam Thobroni (2015) menjelaskan tentang problem posing adalah perumusan soal agar lebih sederhana atau perumusan ulang soal yang ada dengan beberapa perubahan agar lebih sederhana dan dapat dikuasai. Hal ini terjadi pada soal-soal yang rumit. Model pembelajaran problem posing ini mulai dikembangkan di tahun 1997 oleh Lyn D.  dan awal mulanya diterapkan dalam mata pelajaran matematika. Selanjutnya, model ini dikembangkan pula pada mata pelajaran yang lain.

Pada prinsipnya, model pembelajaran problem posing adalah suatu model pembelajaran yang mewajibkan para peserta didik untuk mengajukan soal sendiri melalui belajar soal (berlatih soal) secara mandiri. Dengan demikian, penerapan model pembelajaran problem posing adalah sebagai berikut. Guru menjelaskan materi pelajaran kepada para peserta didik dan memberikan latihan soal secukupnya. Penggunaan alat peraga untuk memperjelas konsep sangat disarankan. Peserta didik diminta mengajukan 1 atau 2 buah soal yang menantang dan peserta didik yang bersangkutan harus mampu menyelesaikannya. Tugas ini dapat pula dilakukan secara kelompok. Pada pertemuan berikutnya, secara acak, guru menyuruh peserta didik untuk menyajikan soal temuannya di depan kelas. Dalam hal ini, guru dapat menentukan peserta didik secara selektif berdasarkan bobot soal yang diajukan oleh peserta didik (Thobroni, 2015).

Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Problem Posing

Menurut Thobroni (2015) terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan dari model pembelajaran problem posing, diantaranya sebagai berikut:

Kelebihan

  1. Mendidik murid berpikir kritis
  2. Peserta didik aktif dalam pembelajaran
  3. Belajar menganalisis suatu masalah
  4. Mendidik anak percaya diri sendiri

Kekurangan

  1. Memerlukan waktu yang cukup banyak
  2. Tidak bisa digunakan di kelas-kelas rendah
  3. Tidak semua murid terampil bertanya

Tipe Pembelajaran Problem Posing

Silver dan Cai dalam Thobroni (2015) menjelaskan bahwa pengajuan soal mandiri dapat diaplikasikan dalam tiga bentuk aktivitas kognitif, yaitu sebagai berikut.

  1. Pre-solution Posing
    Pre-solution posing, yaitu jika seorang peserta didik membuat soal dari situasi yang diadakan. Jadi, guru diharapkan mampu membuat pertanyaan yang berkaitan dengan pernyataan yang dibuat sebelumnya.
  2. Within Solution Posing
    Within solution posing, yaitu jika seorang peserta didik mampu merumuskan ulang pertanyaan soal tersebut menjadi sub-sub pertanyaan baru yang urutan penyelesaiannya seperti yang telah diselesaikan sebelumnya. Jadi, diharapkan peserta didik mampu membuat sub-sub pertanyaan baru dari sebuah pertanyaan yang ada pada soal yang bersangkutan.
  3. Post-solution Posing
    Post-solution posing, yaitu jika seorang peserta didik memodifikasi tujuan atau kondisi soal yang sudah diselesaikan untuk membuat soal yang baru yang sejenis.

Daftar Pustaka

Amri, S., 2013, Pengembangan Model dan Pembelajaran dalam Kurikulum 2013.  Surabaya: Prestasi Pustaka.

Asriningsih, T.M., 2014, Pembelajaran Problem Posing untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa. Jurnal Gamatika, 5(1) : 19-28. 

Huda, M., 2015, Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran: Isu-Isu Metodis dan Paradigmatis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 

Lutfi, A., 2016, Problem Posing dan Berpikir Kreatif. Prosiding Seminar Matematika dan Pendidikan Matematika, Hal 88-98. 

Mahmudi, A., 2007, Meningkatkan Kreativitas Siswa Melalui Problem Posing. Pythagoras, 3 (1): 43-50. 

Meutia, H. dan Sulastri, R., 2018, Pendekatan Problem Posing Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Konsep dan Berpikir Kreatif Siswa SMA. Jurnal Dedikasi Pendidikan, 2 (1): 42-50. 

Nuriyawan, H. Ashadi dan Setyowati, 2016, Penerapan Model Pembelajaran Problem Posing Dilengkapi Media Pembelajaran Lembar Kerja Peserta didik (LKS) Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar dan Keterampilan Proses Sains Peserta didik pada Materi Stoikiometri Kelas X Semester Genap SMA Negeri 1 Sukaharjo Tahun Pelajaran 2015/2016. Jurnal Pendidikan Kimia, 5 (3) : 77- 86. 

Sriwenda, A. Mulyani, B. dan Yamtinah, S., 2013, Penerapan Pembelajaran Model Problem Posing untuk Meningkatkan Kreativitas dan Prestasi Belajar Peserta didik pada Materi Laju Reaksi Kelas XI IPA 5 SMA Negeri 1 Boyolali Tahun Pelajaran 2012/2013. Jurnal Pendidikan Kimia, 2 (2) : 1-6. 

Suryani, L.B. Nugroho, A. dan Martini, K.S., 2015, Implementasi Model Pembelajaran Problem Posing Dilengkapi LKS untuk Meningkatkan Kemampuan Analisis dan Prestasi Belajar Materi Konsep Mol Peserta didik Kelas X SMA N 8 Surakarta Tahun Pelajaran 2013/2014. Jurnal Pendidikan Kimia, 4 (4) : 186-192.

Trianto, 2007, Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta : Prestasi Pustaka.