Diperbarui tanggal 15/06/2022

Model Pembelajaran ARIAS

kategori Model-model Pembelajaran / tanggal diterbitkan 30 Desember 2021 / dikunjungi: 870 kali

Pengertian Model Pembelajaran ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, Satisfaction)

Model pembelajaran Assurance, Relevance, Interest, Assessment, Satisfaction (ARIAS) merupakan sebuah model pembelajaran yang dimodifikasi dari model pembelajaran ARCS yang dikembangkan oleh John M. Keller dengan menambahkan komponen Assessment pada keempat komponen model pembelajaran tersebut. Model pembelajaran ARCS ini dikenal secara luas sebagai Keller’s ARCS Model of motivasion. Dalam kegiatan pembelajaran guru tidak hanya percaya bahwa akan mampu dan berhasil, melainkan juga sangat penting menanamkan rasa percaya diri siswa bahwa mereka merasa mampu dan dapat berhasil. Demikian juga penggantian kata attention menjadi interest, karena pada kata interest (minat) sudah terkandung pengertian attention (perhatian). Dengan kata interest tidak hanya sekedar menarik minat/perhatian siswa pada awal kegiatan melainkan tetap memelihara minat/perhatian siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung.

Untuk memperoleh akronim yang lebih baik dan lebih bermakna maka urutannyapun dimodifikasi menjadi assurance, interest, assessment, dan satisfaction. Makna dari modifikasi ini adalah usaha pertama dalam kegiatan pembelajaran untuk menanamkan rasa yakin/percaya pada siswa. Kegiatan pembelajaran ada relevansinya dengan kehidupan siswa, berusaha menarik dan memelihara minat/perhatian siswa. Kemudian diadakan evaluasi dan menumbuhkan rasa bangga pada siswa dengan memberi penguatan (reinforcement). Dengan mengambil huruf awal dari masingmasing komponen menghasilkan kata ARIAS sebagai akronim. Oleh karena itu, model pembelajaran yang sudah dimodifikasi ini disebut model pembelajaran ARIAS.

Menurut Rahman dan Amri (2014), Model pembelajaran ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, Dan Satisfaction) adalah usaha pertama dalam kegiatan pembelajaran untuk menanamkan rasa yakin /percaya pada siswa. Kegiatan pembelajaran ada relevansinya dengan kehidupan siswa, berusaha menarik dan memelihara minat/perhatian siswa. Model pembelajaran ARIAS terdiri dari lima komponen yaitu: Assurance (Percaya diri), Relevance (Sesuai dengan kehidupan siswa), Interest (Minat dan perhatian siswa), Assessment (Evaluasi), Dan Satisfaction (Penguatan)

Penggunaan Model Pembelajaran ARIAS

Penggunaan model pembelajaran ARIAS perlu dilakukan sejak awal, sebelum guru melakukan kegiatan pembelajaran di kelas. Model pembelajaran ini digunakan sejak guru atau perancang merancang kegiatan pembelajaran dalam bentuk satuan pelajaran misalnya. Satuan pelajaran sebagai pegangan (pedoman) guru kelas dan satuan pelajaran sebagai bahan/materi bagi siswa. Satuan pelajaran sebagai pegangan bagi guru disusun sedemikian rupa, sehingga satuan pelajaran tersebut sudah mengandung komponen-komponen ARIAS. Artinya, dalam satuan pelajaran itu sudah tergambarkan usaha/kegiatan yang akan dilakukan untuk menanamkan rasa percaya diri pada siswa, mengadakan kegiatan yang relevan, membangkitkan minat/perhatian siswa, melakukan evaluasi dan menumbuhkan rasa dihargai/bangga pada siswa.

Guru atau pengembang sudah merancang urutan semua kegiatan yang akan dilakukan, strategi atau metode pembelajaran yang akan digunakan, media pembelajaran apa yang akan dipakai, perlengkapan apa yang dibutuhkan, dan bagaimana cara penilaian akan dilaksanakan. Meskipun demikian pelaksanaan kegiatan pembelajaran disesuaikan dengan situasi, kondisi dan lingkungan siswa, dan juga agar menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan dimengerti, kata-kata yang jelas dan kalimat yang sederhana tidak berbelit-belit sehingga maksudnya dapat dengan mudah ditangkap dan dicerna siswa. Bahan/materi agar dilengkapi dengan gambar yang jelas dan menarik dalam jumlah yang cukup. Gambar dapat menimbulkan berbagai macam khayalan/fantasi dan dapat membantu siswa lebih mudah memahami bahan/materi yang sedang dipelajari.

Demikian juga halnya dengan satuan pelajaran sebagai bahan/materi untuk siswa. Bahan/materi tersebut harus disusun berdasarkan model pembelajaran ARIAS. Bahasa, kosa kata, kalimat, gambar atau ilustrasi, pada bahan/materi dapat menumbuhkan rasa percaya diri pada siswa, bahwa mereka mampu, dan apa yang dipelajari ada relevansi dengan kehidupan mereka. Bentuk, susunan dan isi
bahan/materi dapat membangkitkan minat/perhatian siswa, memberi kesempatan kepada siswa untuk mengadakan evaluasi diri dan siswa merasa dihargai yang dapat menimbulkan rasa bangga pada mereka. Siswa dapat membayangkan/mengkhayalkan apa saja, bahkan dapat membayangkan dirinya sebagai apa saja. Bahan/materi disusun sesuai urutan dan tahap kesukarannya perlu dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menimbulkan keingintahuan dan memungkinkan siswa dapat mengadakan evaluasi sendiri.

Komponen Model Pembelajaran Arias

Telah disampaikan sebelumnya bahwa model pembelajaran ARIAS terdiri atas lima komponen. Komponen tersebut merupakan satu kesatuan yang diperlukan dalam sebuah pembelajaran yang baik, Morris dalam (Aunurrahman, 2009). Secara lebih lanjut, komponen-komponen tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:

  1. Assurance (percaya diri)
    Dalam masalah ini, percaya diri yang dimaksud adalah rasa percaya diri pada siswa.hal ini berkaitan dengan sikap percaya atau yakin akan berhasil atau yang berhubungan dengan harapan untuk berhasil. Sikap percaya, yakin atau harapan akan berhasil mendorong individu bertingkah laku untuk mencapai suatu keberhasilan. Menurut Woodruff seperti yang dikutip oleh Trianto (2009) bahwa sesungguhnya belajar tidak terjadi tanpa minat/perhatian. Dengan demikian, betapa penting bagi guru untuk menanamkan sikap percaya diri ini pada siswa guna mendorong dan memotivasi diri mereka untuk berhasil dan berprestasi secara optimal sehingga mampu bersaing dengan teman-temannya dalam pembelajaran. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk mempengaruhi sikap percaya diri adalah:
    1. Membantu siswa menyadari kekuatan dan kelemahan diri serta menanamkan pada siswa gambaran diri positif terhadap diri sendiri. Menghadirkan seseorang yang terkenal dalam suatu bidang sebagai pembicara, memperlihatkan video tapes atau potret seseorang yang telah berhasil (sebagai model), misalnya merupakan salah satu cara menanamkan gambaran positif terhadap diri sendiri dan kepada siswa. Menurut Martin dan Briggs penggunaan model seseorang yang berhasil dapat mengubah sikap dan tingkah laku individu mendapat dukungan luas dari para ahli. Menggunakan seseorang sebagai model untuk menanamkan sikap percaya diri menurut Bandura seperti dikutip Gagne dan Briggs (1979) sudah dilakukan secara luas di sekolahsekolah.
    2. Menggunakan suatu patokan, standar yang memungkinkan siswa dapat mencapai keberhasilan (misalnya dengan mengatakan bahwa kamu tentu dapat menjawab pertanyaan di bawah ini tanpa melihat buku).
    3. Memberi tugas yang sukar tetapi cukup realistis untuk diselesaikan/sesuai dengan kemampuan siswa (misalnya memberi tugas kepada siswa dimulai dari yang mudah berangsur sampai ke tugas yang sukar). Menyajikan materi secara bertahap sesuai dengan urutan dan tingkat kesukarannya menurut Keller dan Dodge seperti dikutip Reigeluth dan Curtis dalam Gagne (1987) merupakan salah satu usaha menanamkan rasa percaya diri pada siswa.
    4. Memberi kesempatan kepada siswa secara bertahap mandiri dalam belajar dan melatih suatu keterampilan.
    Dari beberapa cara yang dapat digunakan di atas dapat disimpulkan bahwa sikap percaya diri, yakin akan berhasil ini perlu ditanamkan kepada siswa untuk mendorong mereka agar berusaha dengan maksimal guna mencapai keberhasilan yang optimal. Dengan sikap yakin, penuh percaya diri dan merasa mampu dapat melakukan sesuatu dengan berhasil, siswa terdorong untuk melakukan sesuatu kegiatan dengan sebaik-baiknya sehingga dapat mencapai hasil yang lebih baik dari sebelumnya atau dapat melebihi orang lain.
  2. Relevance (relevansi)
    Relevance atau relevansi ini berarti dalam pelaksanaan model pembelajaran ARIAS, harus berkaitan dengan pengalaman siswa atau sesuai dengan kehidupan nyata siswa. Siswa akan merasa terdorong dan antusias untuk mempelajari sesuatu yang ada relevansinya dengan kehidupan mereka, dan memiliki tujuan yang jelas. Sesuatu yang memiliki arah, tujuan dan sasaran yang jelas serta ada manfaat dan relevan dengan kehidupan akan mendorong individu untuk mencapai tujuan tersebut. Mereka juga akan mengetahui kesenjangan antara kemampuan yang telah dimiliki dengan kemampuan baru itu sehingga kesenjangan tadi dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan sama sekali.

    Dalam kegiatan pembelajaran, para guru perlu memperhatikan unsur relevansi ini. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan relevansi dalam pembelajaran adalah:
    1. Mengemukakan tujuan sasaran yang akan dicapai. Tujuan yang jelas akan memberikan harapan yang jelas (konkrit) pada siswa dan mendorong mereka untuk mencapai tujuan tersebut (DeCecco,1968). Hal ini akan mempengaruhi hasil belajar mereka.
    2. Mengemukakan manfaat pelajaran bagi kehidupan siswa baik untuk masa sekarang dan/atau untuk berbagai aktivitas di masa mendatang.
    3. Menggunakan bahasa yang jelas atau contoh-contoh yang ada hubungannya dengan pengalaman nyata atau nilai- nilai yang dimiliki siswa. Bahasa yang jelas yaitu bahasa yang dimengerti oleh siswa. Pengalaman nyata atau pengalaman yang langsung dialami siswa dapat menjembataninya ke hal-hal baru. Pengalaman selain memberi keasyikan bagi siswa, juga diperlukan secara esensial sebagai jembatan mengarah kepada titik tolak yang sama dalam melibatkan siswa secara mental, emosional, sosial dan fisik, sekaligus merupakan usaha melihat lingkup permasalahan yang sedang dibicarakan (Semiawan, 1991).
    4. Menggunakan berbagai alternatif strategi dan media pembelajaran yang cocok untuk pencapaian tujuan.
    Dengan demikian dimungkinkan menggunakan bermacam-macam strategi dan/atau media pembelajaran pada setiap kegiatan pembelajaran. Dengan cara di atas Siswa akan terdorong mempelajari sesuatu kalau apa yang akan dipelajari ada relevansinya dengan kehidupan mereka, dan memiliki tujuan yang jelas. Sesuatu yang memiliki arah tujuan, dan sasaran yang jelas serta ada manfaat dan relevan dengan kehidupan akan mendorong individu untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan tujuan yang jelas mereka akan mengetahui kemampuan apa yang
    akan dimiliki dan pengalaman apa yang akan didapat.
  3. Interest (minat/perhatian)
    Komponen ketiga model pembelajaran ARIAS adalah interest, yaitu aspek yang berhubungan dengan minat/perhatian siswa. Menurut Woodruff seperti dikutip oleh Trianto (2009) bahwa sesungguhnya belajar tidak terjadi tanpa ada minat/perhatian. Keller seperti dikutip Reigeluth (1987) menyatakan bahwa dalam kegiatan pembelajaran minat/perhatian tidak hanya harus dibangkitkan melainkan juga harus dipelihara selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk membangkitkan dan menjaga minat/perhatian siswa antara lain:
    1. Menggunakan cerita, analogi, sesuatu yang baru, menampilkan sesuatu yang lain/aneh yang berbeda dari biasa dalam pembelajaran. Guru bisa menyampaikan cerita baik fiktif maupun non fiktif kepada siswa agar mereka tertarik dan antusias terhadap pembelajaran yang akan/sedang berlangsung.
    2. Memberi kesempatan pada siswa untuk aktualisasi diri. Misalnya siswa dipersilakan untuk bertanya, berpendapat atau bahkan berdemonstrasi didepan kelas.
    3. Mengadakan variasi dalam kegiatan pembelajaran. Menurut Lesser seperti dikutip Gagne dan Driscoll (1988) variasi dari serius kehumor, dari cepat kelambat, dari suara keras ke yang sedang, dan mengubah gaya mengajar.
    4. Mengadakan komunikasi non verbal dalam kegiatan pembelajaran seperti demonstrasi dan simulasi yang menurut Gagne dan Briggs (1979) dapat dilakukan untuk menarik minat/perhatian siswa.
    Dari beberapa cara di atas dalam membangkitkan minat/perhatin siswa dalam proses pembelajaran sangatlah menunjang dalam keberhasilan suatu pembelajaran, oleh karena itu seorang guru dituntut untuk dapat membangkitkan minat dan perhatian siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung.
  4. Assessment (penilaian)
    Assessment yaitu yang berhubungan dengan evaluasi terhadap siswa. Evaluasi merupakan suatu bagian pokok dalam pembelajaran yang memberikan keuntungan bagi guru dan murid. Bagi guru menurut Deale yang dikutip Lefrancois (1982) evaluasi merupakan alat untuk mengetahui apakah yang telah diajarkan sudah dipahami oleh siswa untuk memonitor kemajuan siswa sebagai individu maupun sebagai kelompok, untuk merekam apa yang telah siswa capai, dan untuk membantu siswa dalam belajar. Agar evaluasi yang dilakukan dapat memberikan manfaat sebagaimana yang diharapkan, maka evaluasi harus dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip yang tepat. Arikunto (2009) mengemukakan bahwa ada satu prinsip umum dan penting dalam kegiatan evaluasi, yaitu adanya triangulasi atau hubungan erat tiga komponen, yaitu antara tujuan, kegiatan pembelajaran, dan evaluasi. Evaluasi terhadap siswa dilakukan untuk mengetahui sampai sejauh mana kemajuan yang telah mereka capai.

    Apakah siswa telah memiliki kemampuan seperti yang dinyatakan dalam tujuan pembelajaran. Evaluasi tidak hanya dilakukan oleh guru tetapi juga oleh siswa untuk mengevaluasi diri mereka sendiri (self assessment) atau evaluasi diri. Evaluasi diri dilakukan oleh siswa terhadap diri mereka sendiri, maupun terhadap teman mereka. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan Martin dan Briggs seperti dikutip Bohlin (1987) bahwa evaluasi diri secara luas sangat membantu dalam pengembangan belajar atas inisiatif sendiri. Dengan demikian, evaluasi diri dapat mendorong siswa untuk meningkatkan apa yang ingin mereka capai. Ini juga sesuai dengan apa yang dikemukakan Morton dan Macbeth seperti dikutip Beard dan Senior (1980) “bahwa evaluasi diri dapat mempengaruhi hasil belajar siswa”. Oleh karena itu, untuk mempengaruhi hasil belajar siswa evaluasi perlu dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan evaluasi antara lain adalah:
    1. Mengadakan evaluasi dan memberi umpan balik terhadap kinerja siswa.
    2. Memberikan evaluasi yang obyektif dan adil serta segera menginformasikan hasil evaluasi kepada siswa.
    3. Memberi kesempatan kepada siswa mengadakan evaluasi terhadap diri sendiri.
    4. Memberi kesempatan kepada siswa mengadakan evaluasi terhadap teman.
      Hal ini akan mendorong siswa untuk berusaha lebih baik lagi dari sebelumnya agar mencapai hasil yang maksimal. Mereka akan merasa malu kalau kelemahan dan kekurangan yang dimiliki diketahui oleh teman mereka sendiri. Evaluasi terhadap diri sendiri merupakan evaluasi yang mendukung proses belajar mengajar serta membantu siswa meningkatkan keberhasilannya.
  5. Satisfaction (penguatan)
    Satisfaction yaitu yang berhubungan dengan rasa bangga, puas atas hasil yang dicapai. Dalam teori belajar satisfaction adalah reinforcement (penguatan). Siswa yang telah berhasil mengerjakan atau mencapai sesuatu merasa bangga/puas atas keberhasilan tersebut. Keberhasilan dan kebanggaan tersebut menjadi penguat bagi siswa tersebut untuk mencapai keberhasilan berikutnya. Evaluasi terhadap siswa dilakukan untuk mengetahui sampai sejauh mana kemajuan yang telah mereka capai. Apakah siswa telah memiliki kemampuan seperti yang dinyatakan dalam tujuan pembelajaran. Evaluasi tidak hanya dilakukan oleh guru tetapi juga oleh siswa untuk mengevaluasi diri mereka sendiri (self assessment) atau evaluasi diri. Evaluasi diri dilakukan oleh siswa terhadap diri mereka sendiri, maupun terhadap teman mereka. Hal ini akan mendorong siswa untuk berusaha lebih baik lagi dari sebelumnya agar mencapai hasil yang maksimal. Mereka akan merasa malu kalau kelemahan dan kekurangan yang dimiliki diketahui oleh teman mereka sendiri.

    Evaluasi terhadap diri sendiri merupakan evaluasi yang mendukung proses belajar mengajar serta membantu siswa meningkatkan keberhasilannya. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan Martin dan Briggs seperti dikutip Bohlin (1987) bahwa evaluasi diri secara luas sangat membantu dalam pengembangan belajar atas inisiatif sendiri. Dengan demikian, evaluasi diri dapat mendorong siswa untuk meningkatkan apa yang ingin mereka capai. Ini juga sesuai dengan apa yang dikemukakan Morton dan Macbeth seperti dikutip Beard dan Senior (1980) bahwa evaluasi diri dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Oleh karena itu, untuk mempengaruhi hasil belajar siswa evaluasi perlu dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan evaluasi antara lain adalah:
    1. Mengadakan evaluasi dan memberi umpan balik terhadap kinerja siswa.
    2. Memberikan evaluasi yang obyektif dan adil serta segera menginformasikan hasil evaluasi kepada siswa.
    3. Memberi kesempatan kepada siswa mengadakan evaluasi terhadap diri sendiri.
    4. Memberi kesempatan kepada siswa mengadakan evaluasi terhadap teman.

Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran ARIAS

Adapun kelebihan dan kelemahan yang terdapat dalam pembelajaran arias seperti yang dikemukakan oleh Rahman dan Amri (2014).

Model ARIAS mempunyai kelebihan yaitu:

  1. Siswa sama-sama aktif dalam kegiatan belajar mengajar.
  2. Siswa tertantang untuk lebih memperbaiki diri.
  3. Siswa termotivasi untuk berkompetisi yang sehat antar siswa.
  4. Membantu siswa dalam memahami materi pelajaran.
  5. Membangkitkan rasa percaya diri pada siswa bahwa mereka mampu.

Kelemahan Model ARIAS

  1. Jika siswa tidak tergugah untuk aktif maka proses penyampaian materi kurang dipahami.
  2. Harus memerlukan ekstra dari tenaga, waktu, pemikiran, peralatan, dan keterampilan dari seorang pengajar.
  3. Sulit untuk dilakukan evaluasi secara kualitatif karena metode menekankan kepada psikologis siswa.
  4. Untuk memberikan hasil yang optimal diperlukan kemampuan komunikasi guru yang baik dan memiliki kemampuan persuasive yang tinggi sehingga bisa menumbuhkan semangat belajar siswa.

Adapun menurut Adiartanti (2011) mengemukakan beberapa kelebihan dan kekurangan model pembelajaran arias antara lain:

Kelebihan :

  1. Siswa merasa kegiatan pembelajaran yang mereka ikuti memiliki nilai, bermanfaat dan berguna bagi kehidupan mereka.
  2. Siswa akan terdorong mempelajari sesuatu yang akan dipelajari dan memiliki tujuan yang jelas.
  3. Sesuatu yang memiliki arah tujuan, dan sasaran yang jelas serta ada manfaat mendorong individu untuk mencapai tujuan tersebut.

Kekurangan :

  1. Untuk siswa yang kurang pintar akan susah mengikuti.
  2. Siswa terkadang susah untuk mengingat.
  3. Siswa yang malas susah untuk belajar mandiri.

Sintak Model Pembelajaran ARIAS

Model pembelajaran harus memiliki unsur-unsur yang menjadi konsep dasar yaitu teori yang mendasari, sintaks, prinsip reaksi, sistem sosial, sistem pendukung, dampak instruksional, dan dampak pengiring. Untuk itu agar ARIAS dapat dikatakan suatu model pembelajaran maka harus memiliki unsur-unsur di atas. Secara umun sintaks model pambelajaran ARIAS adalah sebagai berikut.

Tabel Sintaks Model Pembelajaran ARIAS

Fase Prinsip Reaksi
Assurance (A)

Menanamkan rasa yakin/percaya pada siswa, memotivasi siswa.

  1. Guru meningkatkan harapan siswa untuk berhasil dengan menyusun materi pembelajaran dari yang mudah ke yang sukar.
  2. Guru meningkatkan rasa percaya diri siswa dengan memberikan umpan balik yang positif.
  3. Mengingatkan konsep yang telah dipelajari yang merupakan materi prasyarat.
  4. Guru mengulang materi prasyarat yang telah dipelajari dengan metode bervariasi, misalnya dengan metode tanya jawab.
Relevance (R)

Menyampaikan tujuan pembelajaran/kompetensi dasar yang akan dicapai.

  1. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran/kompetensi dasar agar siswa memahami arah pembelajaran.
  2. Guru menjelaskan manfaat materi yang dipelajari dengan kehidupan sehari-hari dan peranan materi tersebut dengan mata pelajaran lain.
Interest (I)

Menarik dan memelihara minat/perhatian siswa.

  1. Guru menjelaskan tentang konsep/ materi dengan menggunakan metode/strategi yang bervariasi. Misalnya: belajar kooperatif dan diskusi kelas dengan menggunakan LKS.

Memberikan bimbingan belajar.

  1. Siswa menanyakan hal-hal yang belum dipahami dalam mengerjakan tugas pada guru.
  2. Guru membantu siswa yang mengalami kesulitan mengerjakan tugas.
Assessment (A)

Mengecek kegiatan pembelajaran.

  1. Siswa mempresentasikan hasil pengerjaan LKS dengan memberikan alasan/penjelasan dari hasil kerjanya (self assessment) dan tanggapan dari siswa lain terhadap hasil kerjanya (assessment terhadap teman).
  2. Guru meminta siswa menjelaskan bagaimana ia sampai pada penggunaan pemecahan masalah tersebut.
  3. Guru memberikan umpan balik tentang kebenaran mengerjakan tugas dan guru memberikan penguatan verbal dan non verbal verbal kepada siswa yang hasil kerjanya sudah bagus.
Satisfaction (S)

Memperkuat retensi dan transfer.

  1. Siswa menarik kesimpulan dan merangkum materi yang telah dipelajari.
  2. Guru memberikan penguatan dan penghargaan yang pantas, baik secara verbal maupun non verbal kepada siswa yang telah berhasil menampilkan keberhasilannya.
  3. Mengevaluasi hasil belajar siswa
  4. Guru memberikan tes kepada siswa untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap materi yang sudah dipelajari.
  5. Guru memberikan tugas kepada siswa agar mereka bisa menerapkan materi yang sudah dipelajari.Memperkuat retensi dan transfer.

Sistem sosial dari model pembelajaran ARIAS yaitu bercirikan lingkungan belajar yang sistematis, bermakna dan sederhana sehingga siswa merasa nyaman mengikuti kegiatan pembelajaran. Siswa aktif berinteraksi dengan seluruh peserta belajar dalam kelas, interaksi ini berlangsung secara berkesinambungan sehingga guru tidak mendominasi pembelajaran. Ini akan memberikan kesempatan pada siswa untuk mengembangkan kemampuan penalarannya dan siswa lebih dihargai mengemukakan ide-ide yang ada dalam pikirannya. Sistem pendukung adalah segala sesuatu yang dibutuhkan siswa untuk dapat menggali informasi yang sesuai dan yang diperlukan dalam mencapai tujuan pengajaran, misalnya; LKS, buku penunjang, dan rencana pembelajaran. Dampak pengiringnya yaitu siswa mempunyai rasa percaya diri dalam mengemukakan pendapat yang dimiliki, tumbuhnya minat dan perhatian siswa terhadap pembelajaran fisika serta motivasi siswa untuk belajar semakin besar.