Diperbarui tanggal 16/06/2022

Metode Pembelajaran Struktur Analisis Sintesis

kategori Metode Pembelajaran / tanggal diterbitkan 16 Juni 2022

Pengertian Metode Struktur Analisis Sintesis (SAS)

Pengajaran membaca di SD/MI merupakan dasar untuk tingkat pendidikan yang lebih tinggi, seandainya dasar tersebut kurang kuat niscaya pengaruhnya cukup besar dan sangat terasa bagi siswa dan juga pada gurunya. Pengajaran membaca bertujuan agar siswa memiliki pengetahuan dasar yang dapat digunakan sebagai dasar untuk membaca. Pengajar diarahkan untuk memperkuat kemampuan berbahasa lisan siswa. Metode merupakan rencana keseluruhan bagi penyajian bahan bahasa secara rapi dan terib, yang tidak ada bagian-bagiannya yang berkontradiksi, dan kesemuanya berdasarkan pada pendekatan yang di pilih.

Menurut Supriyadi (1996) pengertian metode SAS adalah suatu pendekatan cerita di sertai dengan gambar yang didalamnya terkandung unsur analitik sintetik. Menurut Djausak (1996) menyatakan bahwa metode SAS adalah suatu pembelajaran membaca permulaan yang didasarkan atas pendekatan cerita yakni cara memulai mengajar menulis dengan menampilkan cerita yang di ambil dari dialog peserta didik dan guru atau peserta didik dengan peserta didik. A.S. Broto mengatakan bahwa metode SAS khusus di sediakan untuk belajar membaca dan menulis di kelas rendah di SD/MI. lebih luas lagi metode SAS dapat di gunakan dalam berbagai bidang pelajaran.

Dalam proses operasionalnya metode SAS mempunyai langkah-langkah berlandaskan operasional dengan urutan struktur menampilkan keseluruhan, analitik melakukan proses penguraian, sintetik melakukan penggabungan kembali kepada bentuk struktur semula”. Pada prinsipnya, model SAS memiliki langkah operasional dengan urutan, struktural menampilkan keseluruhan, analitik melakukan proses penguraian, sintetik melakukan penggabungan kembali kepada bentuk struktural semula. Jassin (1979) mengatakan bahwa ”Metode SAS merupakan metode yang dikembangkan berdasarkan landasan psikologis (Ilmu jiwa totalitas menyatakan bahwa keseluruhan itu merupakan suatu kesatuan, dan bukan sekadar jumlah unsur – unsur yang membentuknya”. Dengan landasan ini pulalah membaca permulaan berlangsung secara stuktural, analisa, sintesa), landasan pedagogis (prinsip – prinsip landasan ini ialah: anak diperlakukan sebagai seorang pribadi, eksplorasi, rasa aman, bahan yang logis dan bermakna, bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan anak), landasan linguistik (dalam pelajaran membaca permulaan hendaknya diperhitungkan kemungkinan kesukaran yang akan dialami anak, yang disebabkan oleh perbedaan latar belakang bahasa ibu pada setiap anak).

Membaca permulaan bukanlah sekadar untuk dapat membaca dan menulis saja, melainkan diharapkan agar anak dapat berkembang menjadi manusia dewasa yang mampu menggunakan kepandaiannya membaca untuk menambah pengetahuan dan memperkembangkan pribadinya lebih lanjut. Subana (1998) mendefinisikan teknik pelaksanaan pembelajaran, ”Metode SAS yakni keterampilan menulis kartu hurup, kartu suku kata, kartu kata dan kartu kalimat, sementara sebagian siswa mencari huruf, suku kata dan kata, guru dan sebagian siswa menempel kata-kata yang tersusun sehingga menjadi kalimat yang berarti”.

Proses operasional metode SAS mempunyai langkah-langkah dengan urutan yaitu:

  1. stuktur yaitu menampilkan keseluruhan,
  2. analitik yaitu melakukan proses penguraian,
  3. sintetik yaitu melakukan penggalan pada struktur semula.

 

 

Sesuai dengan kurikulum guru juga mencari ketuntasan belajar sebagai tolak ukur pembelajaran. Jika pembelajaran belum tuntas maka perlu di adakan tindak lanjut berupa remedi atau tugas rumah. Jika pembelajaran sudah tuntas maka perlu di adakan pengayaan dengan melatih membaca anak agar lebih lancar dan memberi dikte anak lebih sering agar anak lebih mandiri tanpa di tuntun guru.

Dari beberapa pendapat di atas maka dapat di simpulkan bahwa metode struktur analitik sintetik (SAS) adalah jalan atau cara yang dapat dilakukan dalam kegiatan belajar mengajar membaca permulaan di kelas rendah yang menampilkan keseluruhan dan memperkenalkan sebuah kalimat utuh, melakukan proses penguraian dan penggabungan kembali ke bentuk struktur semula. Sesuai dengan kandungan kurikulum pendidikan dasar bahwa proses pembelajaran dilaksanakan secara tematis dan kontekstual, kemudian bahan pembelajaran bahasa Indonesia dengan menggunakan metode SAS ini disandarkan pada konteks kehidupan sehari-hari. Hal ini dilakukan dengan memilih tema yang sesuai selain itu, perlu juga dipertimbangkan urutan perkembangan siswa dalam mempelajari bahasa, yaitu dengan menyajikan urutan menyimak atau mendengarkan, memahami, menirukan, dan menggunakan bahasa sesuai dengan lingkungannya.

Dalam Nunu Mahnun (2016) disebutkan bahwa Metode Sturuktur Analisis Sintesis (SAS) merupakan metode yang dikembangkan oleh PKMM (Pembaharuan Kurikulum dan Metode Mengajar) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI yang diprogramkan pada tahun 1974 yang didasarkan pada psikologi anak, linguistik struktural, fonik sintesis. Metode ini terutama dikembangkan dalam pengajaran membaca dan menulis di sekolah dasar meskipun di kembangkan pula di tingkat sesudahnya dan dalam mata pelajaran lainya.

Metode sas

Metode SAS yang didasarkan pada psikologi anak yaitu:

  1. Setelah anak-anak membagi kalimat atau kata menjadi bunyi-bunyi huruf secara individu, mereka kemudian dapat menggabungkan bunyi-bunyi huruf tersebut menjadi suku kata dan kemudian menggabungkan suku kata menjadi kata (pendekatan dari bawah ke atas).
  2. Mereka kemudian membaca keseluruhan kalimat dengan membaca semua kata.

Metode SAS yang didasarkan pada linguistik struktural yaitu:

  1. SAS berakar dari linguistik struktural karena SAS mengakui bahwa kalimat terdiri dari beberapa kata dan kata terdiri dari beberapa suku kata dan suku kata terdiri dari beberapa huruf.
  2. Untuk belajar membaca, anak-anak harus mengenali dan berpindah antara dua struktur yang berbeda (pendekatan atas ke bawah dan bawah ke atas).

Pendekatan SAS

Metode SAS yang didasarkan pada fonik sintesis yaitu:

SAS berakar dari fonik sintesis karena SAS mengakui bahwa bagian penting dalam belajar membaca adalah mengetahui bahwa huruf-huruf yang menghasilkan bunyi. Bahwa huruf i bunyinya seperti /iiiii/ ketika kita menyebutnya. Pembaca pemula, ketika dihadapkan dengan sebuah kata yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, dapat membaca kata tersebut jika mereka membunyikan setiap huruf dan kemudian menggabungkan atau mensintesa bunyi-bunyi tersebut sebagaimana terlihat dalam kata untuk membentuk kata.

Langkah-Langkah Pembelajaran Metode SAS

Dalam pelaksaan metode SAS, pembelajaran di laksanakan dengan cara- cara sebagai berikut:

  1. Merekam Bahasa Anak
    Bahasa yang di gunakan oleh anak di dalam percakapan mereka, di rekam untuk di gunakan sebagai bahan bacaan. Karena bahasa yang di gunakan sebagai bahan bacaan adalah bahasa anak sendiri maka anak tidak akan mengalami kesulitan.
  2. Menampilkan Gambar Sambil Bercerita.
    Dalam hal ini, guru memperlihatkan gambar kepada anak, sambil bercerita sesuai dengan gambar tersebut. Kalimat-kalimat yang di gunakan guru dalam bercerita itu di gunakan sebagai pola dasar bahan bacaan.
  3. Membaca Gambar
    Guru memperlihatkan gambar seorang ibu yang sedang memegang sapu, sambil mengucapkan kalimat “ini ibu”. Anak melanjutkan membaca gambar tersebut dengan bimbingan guru.
  4. Membaca Gambar Dengan Kartu Kalimat
    Setelah peserta didik dapat membaca gambar dengan lancar, guru menempatkan kartu kalimat di bawah gambar. Untuk memudahkan pelaksanaannya dapat di gunakan media berupa papan selip atau papan flanel, kartu kalimat, kartu kata, kartu huruf, dan kartu gambar. Dengan menggunakan kartu-kartu dan papan selip atau flanel, untuk menguraikan dan menggabungkan kembali akan lebih mudah.
  5. Membaca Kalimat Secara Struktural (S)
    Setelah anak mulai membaca tulisan di bawah gambar, sedikit demi sedikit gambar di kurangi sehingga akhirnya mereka dapat membaca tampa di bantu gambar. Dalam hal ini yang di gunakan kartu-kartu kalimat serta papan selip atau papan flanel. Misalnya:

    Ini bola

    Ini bola nina

    Ini bola Lina

  6. Proses Analitik (A)
    Sesudah anak dapat membaca kalimat, mulailah menganalisi kalimat itu menjadi kata, kata menjadi suku kata, suku kata menjadi kalimat. Misalnya:

    Ini     bola

    Ini      bola      Nina

    Ini      bola       Lina

  7. Proses Sintetik (S)
    Setelah anak mengenal huruf-huruf dalam kalimat yang di gunakan, huruf- huruf itu di rangkaikan lagi menjadi susku kata, suku kata menjadi kata, dan kata menjadi kalimat seperti semula. Misalnya:

    I ni      bo la

    I ni       bo la      Ni na

    I ni       bo la      Ni na

Secara utuh, proses SAS tersebut sebagai berikut:

Ini   bola
I  ni      bo  la
I  n  i           b  o  l  a
I  ni      bo   la
Ini bola

Berdasarkan pemaparan kutipan di atas maka dapat disimpulkan bahwa menetapkan langkah-langkah pelaksanaan metode SAS itu sangat perlukan, karena dengan langakah-langkah metode SAS yang berurutan dari struktural menampilkan keseluruhan, analitik melakukan proses penguraian, sintetik melakukan penggabungan kembali kepada bentuk struktural semula. Metode SAS juga selain menampilkan keseluruhan, penguraian dan penggabungan kembali juga menggunakan kartu huruf, kartu kata, kartu suku kata, kartu kalimat dan gambar hal ini yang akan mempermudah peserta didik untuk membaca permulaan.

Daftar Pustaka

Candra Dewi. Penggunaan Metode SAS (Struktural Analitik Sintetik) Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Menulis Permulaan Siswa Sekolah Dasar. Bahastra Vol. XXXVIII No. 1 Tahun 2018 | 2548 – 4583

Dedi Siswanto. 2019. Pelaksanaan Metode SAS Dalam Kegiatan Belajar Mengajar Membaca Dan Menulis Permulaan Di Kelas 2 SDN 2 Lolu. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran. E-Issn : 2623-2340Vol. 2, No. 2, Hal. 47-51.

Kd. Jimi Kusuma Dewi, Ign. I Wyn. Suwatra, Dan Ni Wyn. Arini. 2014. Penggunaan Metode Stuktur Analitik Sintetik (SAS) Untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Menulis Permulaan Pada Siswa Kelas I SD Negeri 7 Bungkulan. E-Journal Mimbar Pgsd Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan Pgsd .Vol. 2 No. 1 

Kurniasih, I dan B. Sani. 2015. Ragam Pengembangan Model Pembelajaran Untuk Meningkatkan Profesionalitas Guru. Kata Pena. Jakarta. Malik Thachir, 1994. Pandai Membaca Dan Menulis I. Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.

Nurul Hidayah. 2016. Peningkatkan Kemampuan Membaca Permulaan Dengan Menggunakan Metode Struktur Analitik Sintetik (SAS) Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Pada Peserta Didik Kelas II C Semester Ii Di MIN 6 Bandar LampungT.A 2015/2016. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Dasar. Volume 3 Nomor 1 Juni 2016.

Silvia Sandi Wisuda Lubis. Pengembangan Metode SAS Dalam Meningkatkan Keterampilan Membaca Permulaan Siswa. Dosen Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan Uin Ar-Raniry.

Subana, M. dan Sunarti. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia Bandung: Pustaka Setia.