Diperbarui tanggal 29/04/2022

Metakognisi

kategori Belajar dan Pembelajaran / tanggal diterbitkan 29 April 2022

Pengertian Metakognisi

Metakognisi terdiri dari dua kata yaitu “meta” dan “kognisi”. Kata meta berasal dari yunani yang berarti “tentang”. Istilah metakognisi diperkenalkan oleh Flavell pada tahun 1976. Istilah metakognisi dikenal dalam perkembangan psikologi dibidang pendidikan (metacognition) yang pada intinya menggali pemikiran orang berpikir “thinking about thinking” (Husamah, 2013). Wellman dalam Rery (2015) menyatakan bahwa metakognisi adalah suatu bentuk kognisi, proses berpikir urutan kedua atau lebih tinggi yang melibatkan kontrol aktif atas proses kognitif. Hal ini dapat hanya didefinisikan sebagai berpikir tentang berpikir atau kognisi seseorang tentang kognisi. Metakognisi sebagai suatu bentuk kognisi, atau proses imunisasi meliputi tingkat berpikir yang lebih tinggi, melibatkan pengendalian terhadap aktivitas kognitif. Sedangkan Sternberg (2008) menjelaskan metakognisi merupakan kemampuan untuk memikirkan tentang dan mengontrol proses-proes berpikir kita sendiri dan cara-cara untuk meningkatkan kemampuan berpikir kita.

Metakognisi merupakan suatu istilah yang diperkenalkan oleh Flavell pada tahun 1976 dan menimbulkan banyak perdebatan pada pendefinisiannya. Hal ini berakibat bahwa metakognisi tidak selalu sama di dalam berbagai macam bidang penelitian psikologi, dan juga tidak dapat diterapkan pada satu bidang psikologi saja. Namun demikian, pengertian metakognisi yang dikemukakan oleh para peneliti bidang psikologi, pada umumnya memberikan penekanan pada kesadaran berpikir seseorang tentang proses berpikirnya sendiri (Gredler, 2013).

Berdasarkan beberapa pengertian metakognisi diatas disimpulkan bahwa metakognisi adalah suatu kesadaran tentang kognitif kita sendiri, bagaimana kognitif kita bekerja serta bagaimana mengaturnya. Kemampuan ini sangat penting terutama untuk keperluan efisiensi penggunaan kognitif kita dalam menyelesaikan masalah. Secara ringkas metakognitif dapat diistilahkan sebagai “thingking about thingking”.

Menurut Preisseisen dalam Yamin (2013) metakognisi terdiri atas empat keterampilan yakni, problem solving, decision making, critical thinking, dan creative thinking.

  1. Problem solving (pemecahan masalah) merupakan kemampuan individu dalam memecahkan masalah melalui pengumpulan fakta, analisis informasi, menyusun berbagai alternatif pemecahan, dan memilih pemecahan yang paling efektif. Untuk menjadi problem solver yang handal dibutuhkan jam terbang yang tinggi, dan disini perlu penguasaan metode keilmuan sebagai pisau bedah terhadap masalah yang dihadapi.
  2. Desicion making (pengambilan keputusan) merupakan kemampuan individu untuk memilih suatu keputusan yang terbaik dari berbagai pilihan yang ada. Keputusan yang diambil tentunya berdasar pengalaman atau informasi, pertimbangana etika dan tata nilai, dan disertai alasan-alasan rasional. Kemampuan dalam desicion making dapat menggambarkan tingkat kematangan dan kebijakan seseorang.
  3. Critical thinking (Berpikir kritis) merupakan kemampuan individu untuk berpikir kritis dalam menanggapi suatu konsep, pendapat, dan kebijakan. Berpikir kritis tentunya mendasarkan pada logika rasional, dan mampu membaca kesenjangan antara konsep dengan realitas, antara das solen dan das sein atau menganalisis dengan berdasarkan pada sesuatu yang sifatnya given dari tuhan.
  4. Creative thinking (Berpikir kreatif) merupakan kemampuan suatu individu untuk berpikir kreatif atau mencipta dan memodifikasi sesuatu yang baru dengan berdasarkan pada konsep-konsep, hukum-hukum, logika, dan intuisi yang dimiliki.

Keempat keterampilan tersebut merupakan satu-kesatuan yang terintegrasi, artinya pada saat seseorang memecahkan masalah maka dengan sendirinya individu tersebut telah melakukan tindakan pengambian kesimpulan berdasarkan nalar kritisnya dan kreasi dengan dirinya.

Komponen Metakognisi

Pada umumnya, teori-teori tentang kemampuan metakognitif mendapat inspirasi dari penelitian J.H Flavel mengenai pengetahuan metakognitif dan penelitian A.L. Brown mengenai metakognitif atau pengontrolan pengaturan diri selama pemecahan masalah. Akan tetapi, kalau dilihat lebih jauh ke belakang, ternyata riset-riset tentang metakognisi memiliki akar sejarah yang panjang dalam bidang psikologi, terutama yang memfokuskan perhatiannya pada perkembangan kognitif, memori, pemrosesan eksekutif, dan strategi belajar (Desmita, 2016).

Desoete dalam Rudi Aswadi, dkk (2018) menyatakan ada empat komponen keterampilan metakognisi, yaitu:

  1. Orientasi atau kemampuan prediksi berkaitan dengan aktivitas seseorang melakukan pekerjaan secara lambat, bila permasalahan (tugas) itu mudah atau sudah dikenal.
  2. Kemampuan perencanaan mengacu pada kegiatan berpikir awal seseorang tentang bagaimana, kapan dan mengapa melakukan tindakan guna mencapai tujuan melalui serangkaian tujuan khusus menuju pada tujuan utama permasalahan.
  3. Kemampuan monitoring mengacu pada kegiatan pengawasan seseorang terhadap strategi kognitif yang digunakannya selama proses pemecahan masalah guna mengenali masalah dan memodifikasi rencana.
  4. Kemampuan evaluasi yang didefinisikan sebagai verbalisasi mundur yang dilakukannya setelah kejadian berlangsung, dimana seseorang melihat kembali strategi yang telah ia gunakan dan apakah strategi tersebut mengarahkannya pada hasil yang diinginkan atau tidak.

NCREL (North Central Regional Education Laboratory) dalam Yamin (2013) mengemukakan secara umum tentang metakognisi, bahwa metakognisi memuat tiga komponen dasar yaitu: (1) mengembangkan rencana tindakan (2) mengatur atau memonitoring rencana tindakan (3) mengevaluasi rencana tindakan.

Sebelum peserta didik mengembangkan rencana tindakan perlu menanyakan kepada dirinya sendiri tentang hal-hal berikut:

  1. Pengetahuan awal apa yang membantu dalam memecahkan tugas ini?
  2. Petunjuk apa yang digunakan dalam berpikir?
  3. Apa yang pertama saya lakukan?
  4. Mengapa saya membaca pilihan (bagian) ini?
  5. Berapa lama saya mengerjakan tugas ini secara lengkap?

Selama peserta didik merencanakan tindakan perlu mengatur/memonitoring dengan menanyakan pada dirinya sendiri tentang hal berikut:

  1. Bagaimana saya melakukannya?
  2. Apakah saya berada pada jalur yang benar?
  3. Bagaimana saya meneruskannya?
  4. Informasi penting apa yang perlu diingat?
  5. Apakah saya perlu pindah pada petunjuk lain?
  6. Apakah saya mengatur langkah–langkah bergantung pada kesulitan?
  7. Apa yang perlu dilakukan jika saya tidak mengerti?

Setelah peserta didik selesai melaksanakan rencana tugas, peserta didik akan melakukan evaluasi yaitu:

  1. Seberapa baik saya melakukannya?
  2. Apakah saya memerlukan pemikiran khusus yang lebih banyak atau yang lebih sedikit dari yang saya pikirkan?
  3. Apakah saya dapat mengerjakan dengan cara yang berbeda?
  4. Apakah saya perlu kembali pada tugas itu untuk mengisi kekurangan pada ingatan saya?

Indikator-indikator Metakognisi

Dengan pemahaman tentang metakognisi tersebut dapat diketahui bahwa metakognisi memiliki komponen yaitu perencanaan, pemantauan, dan penilaian atau evaluasi. Berikut indikator-indikator dalam metakognisi:

Indikator Perencanaan

  1. Dapat menyatakan apa yang diketahui dalam soal
  2. Dapat menyatakan apa yang ditanyakan dalam soal
  3. Mampu memahami informasi – informasi penting dalam soal
  4. Mampu memahami masalah yang diajukan

Indikator Pemantauan

  1. Dapat menunjukkan informasi yang dipantau
  2. Dapat memahami informasi yang dipantau
  3. Dapat menerapkan konsep yang benar
  4. Dapat menerapkan konsep yang sama dalam masalah lain

Indikator Penilaian

  1. Menuliskan jawaban akhir
  2. Yakin dengan jawaban akhirnya
  3. Mampu menjelaskan jawaban akhir

Pengetahuan Metakognisi

Pengetahuan metakognisi meliputi usaha monitoring dan refleksi atas pikiran-pikiran saat ini (Desmita, 2016). Yamin (2013) menjelaskan bahwa pengetahuan metakognitif adalah pengetahuan tingkat tinggi yang digunakan untuk memonitor dan mengatur proses-proses pengetahuan seperti penalaran, pemahaman mengatasi masalah, belajar dan sebagainya.
Bruning dkk dalam Yamin (2013) membagikan metakognisi pada tiga macam pengetahuan, yaitu:

  1. Pengetahuan deklarasi (declarative knowledge), adalah pengetahuan yang dapat dideklarasikan, melalui kata-kata dan sistem-sistem simbol dengan segala jenisnya (braille, bahasa isyarat, tari, atau notasi musik, simbol matematika, dan sebagainya). Dengan demikian pengetahuan deklaratif merupakan aktivitas dalam mengintegrasikan ide-ide baru dengan pengetahuan yang sudah ada dan mengkonstruksikan sebuah pemahaman.
  2. Pengetahuan prosedural (procedural knowledge), merupakan pengetahuan yang menyajikan urutan-urutan dan langkah-langkah dalam merangkai dan mengerjakan sesuatu pekerjaan, seperti mendemostrasikan penyambungan kabel pada stop kontak listrik, yang dimulai melepas baut, membuka ujung kabel, menyambungnya dengan kontak, dan seterusnya.
  3. Pengetahuan kondisional (conditional knowledge), merupakan pengetahuan gabungan pengetahuan deklaratif dan prosedural, seseorang dapat menerapkan pengetahuan prosedural tatkala menyelesaikan soal matematika, dan menerapkan pengetahuan deklaratif tatkala harus ditunjukkan dengan kata atau isyarat lainnya.

Adapun Kelebihan dan Kekurangan Metakognisi

1. Kelebihan

Adapun kelebihan metakognisi adalah sebagai berikut:

  1. Dapat merubah siswa pasif menjadi siswa aktif dalam proses pembelajaran,
  2. Siswa lebih mudah memahami materi dan bebas mengeluarkan pendapat,
  3. Menambah wawasan guru dengan menggunakan berbagai macam metode pembelajaran,
  4. Adanya praktik langsung membuat siswa mudah memahami materi , dan
  5. Merangsang siswa untuk berpikir kritis terhadap suatu permasalahan.

2. Kekurangan

Adapun kekurangan dari metakognisi yaitu:

  1. Guru butuh kesiapan dalam proses pembelajaran,
  2. Manajemen waktu,
  3. Kondisi dan situasi tempat pelaksanaan harus kondusif,
  4. Tidak dapat berjalan dengan baik tanpa adanya motivasi siswa.

Daftar Pustaka

  1. Anita., dan Woolfolk. 2004. Educational Psychology. Boston : Pearson Educational
  2. Kolencik, P.L. & Hillwig, S.A. 2011. Encouraging Metacognition Supporting Learners Through Metacognitive Teaching Strategies. New York : Peter Lang.