Diperbarui tanggal 15/06/2022

Kemampuan Literasi Matematika

kategori Pendidikan Matematika / tanggal diterbitkan 15 Juni 2022 / dikunjungi: 134 kali

Pengertian Literasi Matematika

Dalam PISA 2015 (OECD, 2013:5) matematika diartikan sebagai berikut:

Mathematical literacy is an individual’s capacity to formulate, employ, and interpret mathematics in a variety of contexts. It includes reasoning mathematically and using mathematical concepts, procedures, facts and tools to describe, explain and predict phenomena. It assists individuals to recognise the role that mathematics plays in the world and to make the wellfounded judgments and decisions needed by constructive, engaged and reflective citizens.

Literasi matematika diartikan sebagai kemampuan seorang individu merumuskan, menggunakanan dan menafsirkan matematika dalam berbagai konteks. Termasuk didalamnya bernalar secara matematis dan menggunakan konsep, prosedur, fakta dan alat matematika dalam menjelaskan suatu fenomena.

Literasi matematika membantu seseorang untuk memahami peran atau kegunaan matematika di dalam kehidupan sehari-hari sekaligus menggunakannya untuk membuat keputusan-keputusan yang tepat sebagai warga negara yang membangun, peduli dan berpikir. Menurut Ojose (dalam Sari, 2015:714) literasi matematika merupakan pengetahuan untuk mengetahui dan mengunakan dasar matematika dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan menurut Stecey & Tuner (dalam Sari, 2015:714) mengartikan literasi dalam konteks matematika adalah untuk memiliki kekuatan untuk menggunakan pemikiran matematika dalam pemecahan masalah sehari-hari agar lebih siap menghadapi tantangan kehidupan. Melengkapi pendapat sebelumnya, Steen, Turner & Burkhard (dalam Sari, 2015:714) menambahkan kata efektif dalam pengertian literasi matematika. Literasi matematika dimaknai sebagai kemampuan untuk mengunakan pengetahuan dan pemahaman matematis secara efektif dalam menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari. Seseorang yang literatur matematika tidak cukup hanya mampu mengunakan pengetahuan dan pemahamannya saja akan tetapi juga harus mampu untuk menggunakannya secara efektif. Menurut Kusumah (2011:3) literasi matematika adalah bahwa literasi matematis mengandung kemampuan menyusun serangkaian pentanyaan, merumuskan, memecahkan, dan menafsirkan permasalahan yang didasarkan pada konteks yang ada.

Secara umum pendapat di atas menekankan pada hal yang sama yaitu bagaimana mengunakan pengetahuan matematika guna memecahkan masalah sehari-hari secara lebih baik dan efektif. Dalam proses memecahkan masalah ini, seseorang yang memiliki literasi matematika akan menyadari atau memahami konsep matematika mana yang relevan dengan masalah yang dihadapinya. Dari kesadaran ini kemudian berkembang pada bagaimana merumuskan masalah tersebut kedalam bentuk matematisnya untuk kemudian di selesaikan.

Indikator Kemampuan Literasi Matematika

Organisation for Economic Co-operation and Development OECD (2013:28) mengemukakan indikator yang terdapat dalam kemampuan literasi matematika mencakup tiga komponen yang dimiliki kemampuan literasi matematika yaitu proses matematika, konten matematika, dan konteks matematika. Definisi literasi matematika yang mengacu pada kapasitas individu untuk merumuskan, menggunakan, dan menafsirkan matematika. Tiga kata ini, "merumuskan", "menggunakan" dan "menafsirkan", menyediakan struktur yang berguna dan bermakna untuk mengatur proses matematika yang menggambarkan apa yang dilakukan individu untuk menghubungkan konteks masalah dengan konten matematika dalam menyelesaikan masalah.

Adapun menurut OECD (2013:28-30) proses, konten, dan konteks pembelajaran matematika yang menjadi indikator penilaian kemampuan literasi matematis siswa adalah sebagai berikut:

  1. Mampu merumuskan masalah matematis (formulating situations mathematically)
    Kata “merumuskan” dalam definisi literasi matematika mengacu pada siswa yang mampu merancang penyelesaian untuk masalah yang disajikan dalam bentuk kontekstual. Dalam proses merumuskan situasi secara matematis, siswa menentukan di mana mereka bisa memilih bagian yang penting dalam menganalisa, mengatur, dan memecahkan masalah. Siswa dapat menerjemahkan dari masalah dunia nyata ke dalam model matematika dan dapat menyelesaikan masalah dunia nyata dengan struktur matematis, dan dalam bentuk representasi.
  2. Mampu menggunakan konsep, fakta, prosedur dan penalaran secara sistematis (employing mathematical concept, facts, procedures, and reasoning)
    Kata “menggunakan” dalam definisi literasi matematika mengacu pada individu yang mampu menerapkan matematika konsep, fakta, prosedur, dan penalaran untuk memecahkan masalah yang diformulasikan matematis untuk memperoleh kesimpulan matematika. Dalam proses menggunakan konsep matematika, fakta, prosedur dan alasan untuk memecahkan masalah, siswa melakukan prosedur matematika yang diperlukan untuk mendapatkan hasil dan menemukan solusi matematika (misalnya: melakukan perhitungan aritmatika, memecahkan persamaan, membuat deduksi logis dari asumsi matematis, melakukan manipulasi simbolik, mengekstraksi informasi matematika dari tabel dan grafik, mewakili dan memanipulasi bentuk dalam ruang, dan menganalisis data).
  3. Menafsirkan, menerapkan, dan mengevaluasi hasil dari suatu proses matematika (interpreting, applying, and evaluating mathematical outcomes)
    Kata “menafsirkan” yang digunakan dalam definisi literasi matematika berfokus pada kemampuan siswa untuk memikirkan solusi matematika, hasil, atau kesimpulan dan menafsirkannya dalam konteks masalah kehidupan nyata. Hal ini melibatkan menerjemahkan solusi matematika atau penalaran kembali ke konteks masalah dan menentukan apakah hasilnya masuk akal dalam konteks masalah. Siswa yang terlibat dalam proses ini dapat dipanggil untuk membangun dan mengkomunikasikan penjelasan dan argumen dalam konteks masalah, merefleksikan proses pemodelan dan hasilnya.

Literasi matematika yang dimiliki siswa dilihat bagaimana cara siswa dalam menggunakan kemampuan dan keahlian matematika untuk menyelesaikan permasalahan. Permasalahan mungkin terjadi di berbagai macam situasi atau konteks yang berhubungan dengan tiap individu. Mathematical competencies harus diaktifkan untuk menyambungkan ke realita kehidupan nyata dimana permasalahan muncul dengan matematika dan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Setiap proses literasi matematika memiliki aktivitas-aktivitas yang bisa diketahui seperti dalam Tabel berikut:

Proses LiterasiAktivitas
Memformulasikan situasi secara matematika (formulate)
  1. mengidentifikasi aspek-aspek matematika dalam permasalahan yang terdapat pada situasi konteks nyata serta mengidentifikasi variabel yang penting,
  2. mengubah permasalahan menjadi bahasa matematika atau model matematika,
  3. memahami aspek-aspek permasalahan yang berhubungan dengan masalah yang telah diketahui, konsep matematika, fakta atau prosedur.
menerapkan konsep, fakta, prosedur dan penalaran matematika (employ)
  1. merancang dan mengimplementasikan strategi untuk menemukan solusi matematika,
  2. menggunakan alat dan teknologi matematika untuk membatu mendapatkan solusi yang tepat,
  3. menerapkan fakta, aturan, algoritma dan struktur matematika ketika mencari solusi.
mengiterpretasikan, menggunakan dan mengevaluasi hasil matematika (interpret)
  1. menginterpretasikan kembali hasil matematika ke dalam masalah nyata,
  2. mengevaluasi alasan-alasan yang reasonable dari solusi matematika ke dalam masalah nyata,
  3. memahami bagaimana realita memberikan dampak terhadap hasil dan perhitungan dari prosedur atau model matematika dan bagaimana penerapan dari solusi yang didapatkan apakah sesuai dengan konteks perrmasalahan.

Dalam penelitian ini diamati beberapa aktivitas siswa dalam proses literasi matematika yaitu pada proses memformulasikan situasi secara matematika, peneliti mengamati aktivitas siswa seperti mengidentifikasi aspek-aspek matematika dalam permasalahan yang terdapat pada situasi konteks nyata serta mengidentifikasi variabel yang penting, mengubah permasalahan menjadi bahasa matematika atau model matematika, dan memahami aspek-aspek permasalahan yang berhubungan dengan masalah yang telah diketahui, konsep matematika, fakta atau prosedur.

Proses berikutnya adalah menerapkan konsep, fakta, prosedur dan penalaran matematika, dalam proses ini peneliti mengamati aktivitas siswa seperti merancang dan mengimplementasikan strategi untuk menemukan solusi matematika, menggunakan alat dan teknologi matematika untuk membatu mendapatkan solusi yang tepat, serta menerapkan fakta, aturan, algoritma dan struktur matematika ketika mencari solusi. Selanjutnya proses mengiterpretasikan, menggunakan dan mengevaluasi hasil matematika. Pada proses ini peneliti mengamati aktivitas siswa seperti menginterpretasikan kembali hasil matematika ke dalam masalah nyata, mengevaluasi alasan-alasan yang reasonable dari solusi matematika ke dalam masalah nyata, memahami bagaimana realita memberikan dampak terhadap hasil dan perhitungan dari prosedur atau model matematika dan bagaimana penerapan dari solusi yang didapatkan apakah sesuai dengan konteks perrmasalahan.

Hubungan Kemampuan Literasi Matematika Siswa Dengan Pemecahan Masalah

Literasi matematika diartikan sebagai kemampuan seorang individu merumuskan, menggunakanan dan menafsirkan matematika dalam berbagai konteks. Termasuk didalamnya bernalar secara matematis dan menggunakan konsep, prosedur, fakta dan alat matematika dalam menjelaskan suatu fenomena (OECD, 2013:5). Polya (1973:3) mendefinisikan bahwa pemecahan masalah sebagai usaha mencari jalan keluar dari suatu kesulitan.

Secara umum pendapat di atas menekankan pada hal yang sama yaitu bagaimana mengunakan pengetahuan matematika guna memecahkan masalah sehari-hari secara lebih baik dan efektif. Dalam proses memecahkan masalah ini, seseorang yang memiliki literasi matematika akan menyadari atau memahami konsep matematika mana yang relevan dengan masalah yang dihadapinya. Dari kesadaran ini kemudian berkembang pada bagaimana merumuskan masalah tersebut kedalam bentuk matematisnya untuk kemudian di selesaikan.

Proses LiterasiAktivitasTahapan Pemecahan Masalah
Memformulasikan situasi secara matematika (formulate)
  1. mengidentifikasi aspek-aspek matematika dalam permasalahan yang terdapat pada situasi konteks nyata serta mengidentifikasi variabel yang penting,
  2. mengubah permasalahan menjadi bahasa matematika atau model matematika,
  3. memahami aspek-aspek permasalahan yang berhubungan dengan masalah yang telah diketahui, konsep matematika, fakta atau prosedur.
  1. Memahami masalah soal;
  2. Melaksanakan rencana menyelesaikan soal;
menerapkan konsep, fakta, prosedur dan penalaran matematika
  1. merancang dan mengimplementasikan strategi untuk menemukan solusi matematika,
  2. menggunakan alat dan teknologi matematika untuk membatu mendapatkan solusi yang tepat,
  3. menerapkan fakta, aturan, algoritma dan struktur matematika ketika mencari solusi.
Melaksanakan rencana menyelesaikan soal;
mengiterpretasikan, menggunakan dan mengevaluasi hasil matematika (interpret)
  1. menginterpretasikan kembali hasil matematika ke dalam masalah nyata,
  2. mengevaluasi alasan-alasan yang reasonable dari solusi matematika ke dalam masalah nyata,
  3. memahami bagaimana realita memberikan dampak terhadap hasil dan perhitungan dari prosedur atau model matematika dan bagaimana penerapan dari solusi yang didapatkan apakah sesuai dengan konteks perrmasalahan.
Melihat kembali;

Daftar Pustaka

Aklimawati. 2015. Pengaruh Penerapan Metode Inquiri Terhadap Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa. Jurnal Peluang 4 (1): 49-55. ISSN: 2302-5158.

Dimyati & Mudjiono. 2013. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Fathani, A. H. 2016. Pengembangan Literasi Matematika Sekolah dalam Perspektif Multiple Intellegences. EduSains 4 (2): 136-150. ISSN: 2338- 4387.

Johar, R. 2012. Domain Soal PISA untuk Literasi Matematika. Jurnal Peluang 1(1):30-41. ISSN: 2302-5158.

Mahdiansyah & Rahmawati. 2014. Literasi Matematika Siswa Pendidikan Menengah: Analisis Menggunakan Desain Tes Internasional dengan Konteks Indonesia. Jurnal pendidikan dan kebudayaan 20 (4).

Mujulifah, M., Sugiatno & Hamdani. 2014. Literasi Matematis Siswa Dalam Menyederhanakan Ekspresi Aljabar. OECD. 2013. A teacher’s guide to PISA mathematical literacy. ISBN: 978-1- 74286-226-2

Puspitasari, A., Setiawani, S. & Sri L.N.D. 2015. Analisis Kemampuan Literasi Matematika Siswa Kelas X MIPA 5 SMA Negeri 1 Ambulu Berdasarkan Kemampuan Matematika. Artikel ilmiah mahasiswa.

Sari, R.H.N. 2015. Literasi Matematika: Apa, Mengapa dan Bagaimana?. ISBN: 978-602-73403-0-5.

Setiawan, H., Dafiq & Lestari, N.D.S. 2014. Soal Matematika Dalam Pisa Kaitannya Dengan Literasi Matematika Dan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi. Prosiding Seminar Nasional Matematika Universitas Jember.

Sukerti, N.W. 2016. Analisis Literasi Matematika Konsep Bentuk Bangun Datar Pada Siswa Tunagrahita. Jurnal pendidikan khusus UNS Surabaya.

Turmudi, Hidayat, A.S., Prabawanto, S & Aljupri. 2014. Pengembangan Pembelajaran Matematika Dengan Pemodelan (Mathematical Modeling) Berbasis Realistik untuk Mahasiswa. Jurnal Pengajaran MIPA 19 (1):1-18.