Diperbarui tanggal 12/04/2022

Kemampuan Bertanya

kategori Belajar dan Pembelajaran / tanggal diterbitkan 12 April 2022

Pengertian Kemampuan Bertanya

Bertanya merupakan ucapan verbal yang meminta respon dari seseorang yang dikenai. Respons yang diberikan dapat berupa pengetahuan sampai dengan hal-hal yang merupakan hasil pertimbangan. Jadi bertanya merupakan stimulus efektif yang mendorong kemampuan berpikir (Hasibuan dan Moedjiono:2009). Selanjutnya Majid (2014:234) mengungkapkan bahwa “Bertanya adalah salah satu teknik untuk menarik perhatian para pendengarnya, khususnya menyangkut hal-hal penting yang menuntut perhatian dan perlu dipertanyakan.

Berdasarkan definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan bertanya adalah kemampuan ucapan verbal untuk menarik perhatian para pendengar yang meminta jawaban yang menyangkut hal-hal penting khususnya dalam pembelajaran.  Wajib bagi seorang guru ketika di kelas untuk bertanya pada siswa, untuk mengetahui sejauh mana kemampuan yang diperoleh selama proses pembelajaran, sedangkan siswa diharuskan untuk menjawab pertanyaan yang diberikan guru. Hal ini sebagai faedah antar kedua belah pihak. Lalu bagaimana jika siswa yang bertanya dan guru yang menjawab? Saat ini, bertanya tidak hanya harus dilakukan oleh guru, tetapi juga oleh siswa itu sendiri. Siswa diharapkan untuk aktif dan mandiri dalam pembelajaran, sesuai kurikulum 2013 sekarang yang berbasis karakter dan  kompetensi. Mencari dan mengumpulkan materi untuk meningkatkan pengetahuannya sendiri tanpa tergantung pada guru.

Siswa yang bertanya pada guru menunjukkan rasa keingintahuannya terhadap sesuatu dan guru bertugas untuk memberikan jawaban, penjelasan serta pemahaman tentang pertanyaan siswa. Tujuan guru mengajukan pertanyaan pada siswa adalah untuk meningkatkan aktivitas belajar di kelas, seperti mengembangkan kemampuan berpikir/bernalar, mengemukakan gagasan dan pendapat, meningkatkan partisipasi siswa, memusatkan perhatian dan membangkitkan rasa ingin tahu siswa (Didi Supriadie dan Deni Darmawan, 2012: 155).

Jenis-Jenis Pertanyaan

Menurut taksonomi Bloom (dalam Hasibuan dan Moedjiono:2009) pertanyaan dikategorikan sebagai berikut:

  1. Pertanyaan pengetahuan (recall question atau knowledge question)
    Pertanyaan pengetahuan atau pertanyaan ingatanadalah pertanyaan yang menghendaki siswa untuk mengenal atau mengingat kembali materi telah dipelajari. Kata-kata tanya yang dapat pertanyaan ingatan antara lain: siapa, apa, dimana, kapan, dan sebutkan.
  2. Pertanyaan pemahaman (comprehensionquestion)
    Pertanyaan ini menuntut siswa untuk menjawab pertanyaan dengan jalan mengorganisasi informasi-informasi yang pernah diterimanya dengan kata-kata sendiri, atau menginterprestasikan atau membaca informasi yang digambarkan melalui grafik dengancara membandingkan.
  3. Pertanyaan penerapan (application question)
    Pertanyaan yang menuntut siswa memberi jawaban tunggal dengan cara menerapkan/mengaplikasikan pengetahuan, informasi, aturan-aturan, kriteria, dan lain- lain yang pernah diterimanya
  4. Pertanyaan analisis (analysis synthesis)
    Pertanyaan yang menuntut siswa untuk menemukan jawaban
  5. Pertanyaan sintesis (synthesis question)
    Ciri pertanyaan ini ialah jawabannya yang benar tidak tunggal, artinya lebih dari satu dan menuntut siswa untuk berpikir kreatif.
  6. Pertanyaan evaluasi (evaluation question)
    Siswa dituntut untuk menjawab dengan cara memberikan penilaian atau pendapatnya atas baik dan buruk benar dan salah berdasarkan pengetahuan yang ia miliki.

Teknik Bertanya

Menurut Majid (2014:236) ada beberapa komponen-komponen teknik bertanya antara lain:

  1. Pengungkapan pertanyaan secara jelas dansingkat
    Pertanyaan hendaknya diajukan dengan jelas dan singkat atau tidak bertele-tele, serta terlihat berkaitan antara jalan pikiran yang satu dengan yang lainnya. Hindari kebiasaan- kebiasaan yang buruk dalam bertanya.
  2. Pemberian acuan
    Siswa mengajukan pertanyaan sesuai informasi oleh guru sebagai acuan yang terkait dengan materi, maka pertanyaan yang diajukan sesuai dengan indikator materi atau tidak melenceng dengan materi.
  3. Pemusatan
    Siswa mengajukan pertanyaan luas (terbuka) yang kemudian mengubahnya menjadi pertanyaan yang sempit.Pertanyaannya bersifat spesifik.
  4. Pemindahan giliran
    Siswa mengajukan pertanyaan untuk melengkapi pertanyaan siswa lain.
  5. Penyebaran
    Siswa mengajukan pertanyaan siswa lain dan siswa juga mengajukan pertanyaan kepada guru.
  6. Pemberian waktu berpikir dan pemberian tuntunan
    Penyampaian pertanyaan tidak tergesa-gesa diajukan dengan jelas dan memberi kesempatan berpikir kepada penjawab serta mengulangi pertanyaan jika belum jelas

Indikator Kemampuan Bertanya

Indikator kemampuan bertanya diperoleh berdasarkan dari aspek penyampaian dan kualitas pertanyaan, yang mencakup konten pertanyaan,sikap dalam penyampaian, gaya berbicara dalam bertanya, dan redaksikalimat pertanyaan.

  1. Konten (isi pertanyaan)
    Menurut Brown (1997: 43) Konten atau isi pertanyaan adalah kandungan materi  dalam pertanyaan yang diajukan oleh siswa ketika pembelajaran berlangsung. Hal ini penting untuk mengetahui sejauh mana kandungan pertanyaan yang disampaikan siswa, apakah berisi atau tidak. Isi suatu pertanyaan tentu mencerminkan karakter si penanya dan kualitas pertanyaannya, yang kemudian mengarah pada mutu pertanyaan. Mutu pertanyaan adalah sebanding dengan jawaban yang diperoleh dari pertanyaan itu. Pertanyaan yang berkualitas juga akan memperoleh jawaban yang berkualitas pula. Aspek yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah kesesuaian pertanyaan dengan topik dan pemahaman pertanyaan. 

    Isi pertanyaan sesuai dengan topik dimaksudkan agar pertanyaan tidak menyimpang dan sesuai materi yang sedang dibahas. Pertanyaan yang menyimpang juga akan memperoleh jawaban yang menyimpang pula. Bahkan siswa akan memperoleh cemooh dan ditertawakan siswa lainnya. Oleh karena itu, pengamatan terhadap aspek ini sangat diperlukan untuk melihat sejauh mana pemikiran siswa.  Isi pertanyaan mudah dipahami oleh siswa lain agar tidak terjadi kesalahpahaman. Dikarenakan kesalahpahaman akan menyebabkan perbedaan pemahaman, sehingga isi pertanyaan/pesan yang disampaikan oleh penanya harus dapat tersampaikan dengan baik dan jelas. Terjadinya perbedaan pesan merupakan gangguan dalam berkomunikasi, yang sering disebut noise. Noise merupakan salah satu unsur dalam proses komunikasi yang dapat menghambat keefektifan komunikasi (C. Asri Budiningsih, 2003: 75). Oleh karena itu, pengamatan terhadap pemahaman pertanyaan siswa sangat diperlukan.
  2. Sikap
    Menurut Saifuddin Azwar, 2002 Sikap adalah suatu bentuk reaksi terhadap suatu obyek, memihak atau tidak memihak yang merupakan keteraturan tertentu dalam hal perasaan, pemikiran, dan predisposisi tindakan seseorang terhadap suatu aspek di lingkungan sekitarnya sikap yang muncul pada setiap individu memangberbeda-beda. Begitu pula pada siswa yang menyikapi suatu pembelajaran dimana guru sedang menyampaikan materi di kelas, juga sebaliknya, guru menyikapi perilaku siswa dalam menerima materi yang diberikan. 

    Dalam hal ini, sikap yang dimaksud adalah sikap siswa ketika bertanya. Sikap berkaitan dengan cara yang nampak atau terlihat ketika siswa sedang atau akan menyampaikan pertanyaan. Terdapat beberapa aspek yang dapat diamati dari sikap bertanya siswa, yaitu mengacungkan tangan, membaca buku ketika bertanya, dan kepercayaan diri dalam menyampaikan pertanyaan pada siswa lainnya. Keberanian dalam mengacungkan tangan memang tidak semua siswa mampu melakukannya, terlebih ketika dalam situasi yang formal, yaitu dalam pembelajaran di kelas ataupun sedang dalam seminar/rapat. Secara umum, siswa yang akan bertanya tentu mengacungkan tangan terlebih dahulu sebelum menyampaikan pertanyaannya. Mengacungkan tangan merupakan cara atau aktivitas belajar yang dilakukan ketika siswa ingin menyampaikan sesuatu hal, baik itu pertanyaan ataupun pernyataan. Mengacungkan tangan menandakan siswa tersebut berani untuk berbicara menyampaikan pemikirannya. 

    Siswa SMA yang memasuki masa remaja sedang mengalami proses pencarian dan pembentukan identitas diri. Siswa lebih nyaman berkelompok dengan teman sebayanya. Teman sebaya dianggap sebagai orang yang sepaham dan mengerti dirinya. Oleh karena itu, jika temannya memilih “A”, ia juga akan ikut memilih “A”, jika temannya mencontek, ia juga ikut mencontek, sehingga jika temannya salah, ia juga akan ikut salah. Hal inilah yang secara tidak langsung mempengaruhi karakter siswa. Siswa menjadi malu dan kurang percaya terhadap kemampuannya sendiri, padahal dirinya mampu. Dalam hal bertanya, dapat dilihat seberapa tinggi tingkat kepercayaan diri siswa terhadap argumentasi dan pertanyaan yang disampaikannya.
  3. Suara
    Menurut Saifuddin Azwar, 2002 Suara yang dimaksud dalam hal ini lebih pada aspek berbicara. Berbicara dalam ucapan secara verbal atau lisan yang digunakan dalam mengajukan pertanyaan. Dalam hal ini, kejelasan lafal dan keras lembutnya suara yang dikeluarkan siswa ketika bertanya. Terjadinya proses komunikasi antara siswa yang bertanya dengan siswa yang diberi pertanyaan. Oleh karena itu, terdapat beberapa aspek yang dapat diukur terkait pengkomunikasian pertanyaan yaitu mengenai kelancaran, 
    Kelancaran dalam menyampaikan kalimat pertanyaan berpengaruh pada isi pertanyaan itu sendiri, sehingga tak jarang memerlukan pengulangan. Sisipan “ah?...”, “anu ...”, “ee ...”, dan sebagainya merupakan kebiasaan yang sering diucapkan siswa ketika berbicara non-textbook. Gangguan itulah yang menyebabkan pengulangan pertanyaan yang disampaikan siswa. 

    Kejelasan lafal lebih tertuju pada pengucapan kata ketika berbicara. Kata yang tidak jelas pengucapannya juga akan menyebabkan kesalahan informasi, seperti waktu menjadi batu, lamban menjadi tambal, tambang menjadi lambang, dan lain sebagainya. Jelas tidaknya pelafalan juga dapat disebabkan daerah asal siswa dan faktor bawaan. 
    Keras lembutnya suara dikarenakan karakter dari tiap siswa. Siswa perempuan memiliki suara yang lebih lembut dan pelan dibanding laki-laki, namun ada juga yang tidak seperti itu. Kebiasaan berbicara dalam keseharian berpengaruh terhadap suara yang dikeluarkan siswa, juga karakter siswa itu sendiri. Oleh karena itu, ketika siswa di sekolah tentu diharapkan siswa mampu berkomunikasi dengan guru dan siswa lainnya. Gangguan yang muncul dari aspek kelancaran, kejelasan dan keras lembutnya harus mampu diatasi oleh siswa. Ketiga aspek tersebut sangat penting untuk diamati baik dalam bertanya maupun berpendapat.
  4. Redaksi kalimat
    Menurut C.Asri Budiningsih, 2003 Redaksi kalimat adalah susunan kalimat dari pertanyaan yang disampaikan siswa. Pemilihan kata dalam kalimat pertanyaan yang tepat dan tidak berbelit-belit akan memudahkan siswa penanya dan siswa penjawab dalam memahami pertanyaannya. Aspek yang diamati yaitu susunan kalimat pertanyaan dan pemilihan kata yang digunakan siswa dalam bertanya. Kedua hal tersebut dapat menunjukkan kemampuan siswa dalam merangkai kata- kata dalam bertanya maupun berpendapat. 

    Susunan kalimat pertanyaan berkaitan dengan panjang tidaknya pertanyaan. Pertanyaan yang panjang dapat membuat siswa yang ditanya mengalami kebingungan, namun jika susunan struktur kalimat yang digunakan sudah sesuai maka akan membuat siswa semakin jelas dengan pertanyaan tersebut. Pertanyaan yang cukup panjang biasanya merupakan pertanyaan hasil analisis siswa. Berbeda jika pertanyaan siswa cukup singkat yang hanya menuntut jawaban ya/tidak atau jawaban akan konsep atau definisi suatu hal. 

    Penggunaan dan pemilihan kata yang mudah dipahami tidak akan menimbulkan pengulangan kembali, baik siswa penanya dengan siswa yang ditanya akan sama-sama diuntungkan. Akan berbeda jika kata-kata yang digunakan tidak dimengerti siswa yang ditanya, seperti penggunaan istilah asing dan kata ilmiah, dimana tidak semua siswa mengerti akan arti dari kata-kata tersebut. Oleh karena itu, akan lebih baik jika siswa menggunakan kata- kata sesuai kemampuannya, agar isi pertanyaan dapat diterima dengan baik.