Diperbarui tanggal 30/04/2022

Integrasi Model pembelajaran Problem Base Learning dan Scaffolding

kategori Model-model Pembelajaran / tanggal diterbitkan 30 April 2022

Pendahuluan

Model pembelajaran Problem Base Learning (PBL) atau pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah model pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. Di dalam kelas yang menerapkan pembelajaran berbasis masalah, peserta didik bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah dalam dunia nyata. Strategi pembelajaran berbasis masalah dengan scaffolding yang dapat meningkatkan berpikir kreatif adalah pola kegiatan pembelajaran yang harus dilakukan oleh pendidik sebagai pembimbing, fasilitator maupun motivator, dan peserta didik, baik di rumah (tugas), maupun di kelas. Pendidik sebagai pengampu dan penanggung jawab diharapkan dapat membantu (scaffolding) peserta didik untuk terlibat di dalam proses pembelajaran secara maksimal serta dapat menumbuhkan keterampilan berpikir kreatifnya. Didalam strategi ini scaffolding akan diberikan dalam bentuk bimbingan dan pengarahan, penguatan, motivasi, dalam rangka penyelesaian masalah (Ernawati, 2020).

Model pembelajaran PBL memiliki banyak kelebihan, namun juga memiliki kelemahan yang harus diantisipasi oleh guru. Memasukkan unsur scaffolding ke dalam sintaks PBL sangatlah dibutuhkan untuk mengantisipasi kelemahan metode pembelajaran ini . Metode pembelajaran scaffolding merupakan salah satu metode yang dapat digunakan oleh guru, dengan memberikan bimbingan, dorongan (motivasi), perhatian kepada siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran yang memadukan PBL dengan scaffolding ini diharapkan dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan analisisnya dalam pelajaran kimia, karena pada pembelajaran ini siswa mendapat bantuan (scaffolding) di setiap fase PBL sesuai dengan kebutuhannya (Farah, dkk, 2015). Dari pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran PBL dengan scaffolding adalah model pembelajaran yang bertujuan untuk menciptakan suasana kelas yang aktif, membuat peserta didik untuk belajar dari permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari dan dalam proses pembelajarannya guru memberikan pendekatan scaffolding dalam langkah-langkah pelaksanaan model PBL.

Desain Pembelajaran PBL dengan Scaffolding

Strategi scaffolding merupakan strategi pembelajaran yang dapat memberikan layanan pembelajaran sesuai dengan kemampuan yang dimiliki siswa. Siswa dapat belajar dengan kecepatan yang sesuai dengan kemampuannya sehingga mereka dapat mengerjakan soal-soal yang diperoleh dengan baik dan benar. Kusworo dan Hardinto dalam Astuti, dkk (2015) menyatakan bahwa strategi pembelajaran scaffolding dirancang untuk mengatasi kesulitan siswa dalam memahami materi sesuai kemampuannya sehingga dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang materi yang disajikan oleh guru.

Penerapan strategi pembelajaran berbasis masalah dengan scaffolding berdasarkan pada masalah yang dihadapi, sifat materi, karakteristik media, konten yang dicapai, keterlibatan dan karakteristik peserta didik. Spesifikasi rancangan strategi pembelajaran yang dikembangkan adalah sebagai berikut: berbasis masalah dengan scaffolding, menerapkan pendekatan saintifik, memberi kesempatan kepada peserta didik untuk dapat mengembangkan kemampuan berpikir kreatifnya, student centre, kontektual, konstruktivis, menggunakan metode diskusi, tanya jawab dan penugasan. Scaffolding akan diberikan dalam bentuk: (1) Bimbingan penyelesaian tugas ringkasan materi oleh siapa saja yang paham tentang materi kimia. (2) Diskusi/bimbingan perumusan masalah dan penyelesaiannya. (3) Pengarahan dan motivasi pada saat diskusi kelompok maupun klasikal serta tahapan finalisasi penyelesaian masalah. (4) Penguatan agar peserta didik memiliki rasa percaya diri pada saat menyampaikan hasil berpikir kreatifnya serta meyakini kebenaran hasil diskusi. (5) Fasilitas untuk semua aktivitas pembelajaran (Ernawati, 2020).

Pendapat (Nabila, dkk, 2017) scaffolding dideskripsikan sebagai bantuan yang diberikan kepada peserta didik oleh orang yang memiliki pengetahuan lebih seperti guru atau teman sebaya dalam menyelesaikan tugas yang tidak mampu dilaksanakannya. Pemberian bantuan harus disesuaikan dengan Zona Proximal Development (ZPD) peserta didik scaffolding merupakan praktik berdasarkan konsep Vgotsky mengenai ZPD yang dapat diartikan sebagai Daerah Perkembangan Terdekat. Menurut Vgotsky perkembangan kemampuan seseorang dapat dibedakan ke dalam dua tingkat, yaitu tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial. Tingkat perkembangan aktual tampak dari kemampuan seseorang untuk menyelesaikan tugas-tugas atau memecahkan berbagai masalah secara mandiri. Sedangkan tingkat perkembangan potensial tampak dari kemampuan potensial dari kemampuan seseorang untuk menyelesaikan tugas-tugas dan memecahkan masalah ketika dibawah bimbingan orang dewasa atau ketika berkolaborasi dengan teman sebaya yang lebih kompeten.

Dengan pernyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran berbasis masalah dengan scaffolding yaitu dalam hal ini guru memberikan bantuan dalam memecahkan masalah. Bantuan yang diberikan sesuai dengan usia dan tahap perkembangan kognitifnya. Selanjutnya guru juga menerapkan pendekatan saintifik yang dapat membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikir kreatifnya.

Tahapan dalam pembelajaran PBL dengan Scaffolding

Tahapan model pembelajaran berbasis masalah dengan scaffolding dan berpikir kreatif:

  1. Orientasi masalah
    Orientasi terhadap masalah yang akan diselesaikan merupakan tujuan utama model pembelajaran berbasis masalah, karena masalah merupakan dasar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Masalah yang digunakan sebaiknya berasal dari peserta didik, dan terjadi di lingkungan. Dengan demikian masalah memenuhi kriteria : (a) autentik, (b) jelas, (c) mudah dipahami, (d) luas dan sesuai dengan tujuan pembelajaran dan (e) bermanfaat. Hal ini akan membiasakan mereka untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Agar masalah yang akan dibahas tidak menyimpang dari tujuan pembelajaran, maka pada penetapan masalah yang akan dibahas, harus dibimbing (scaffolding) oleh pendidik, (khususnya untuk kelompok penanggungjawab).
    Scaffolding diberikan dalam bentuk bimbingan dengan menerapkan metode diskusi. Diskusi didahului dengan presentasi ringkasan materi dan 6 item (tentatif) masalah serta penyelesaiannya, oleh salah seorang anggota, yang telah dipersiapkan melalui diskusi kelompok. Dari ke 6 permasalahan tersebut dipilih 3 (tentatif), untuk dibahas di kelas. Penyelesaian ke 3 masalah tersebut juga dibimbing/diarahkan (scaffolding) oleh pendidik. Sehingga pada saat finalisasi penyelesaian masalah, kelompok ini dapat mempresentasikan dengan penuh percaya diri. Proses bimbingan dilakukan minimal dua minggu sebelum hari pembahasan di kelas.
  2. Diskusi kelompok/pengorganisasian peserta didik
    Pada tahap ini, dilakukan diskusi untuk menetapkan strategi yang akan digunakan dalam penyelesaian masalah. Hal-hal yang dilakukan pada tahapan ini adalah: (1) Mencocokkan masalah yang akan dibahas secara klasikal dengan ke 6 masalah yang telah mereka rumuskan bersama di dalam tugas diskusi kelompok (tugas rumah). (2) Menyusun strategi penyelesaian masalah, termasuk membagi tugas kepada setiap anggota kelompok untuk mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan dalam penyelesaian masalah. (3) Mencari serta mengumpulkan informasi/data/fakta untuk penyelesaian masalah. (4) Menganalisis/mengolah informasi/data/fakta yang diperoleh, selanjutnya dikonstruksi menjadi alternatif penyelesaian masalah. Scaffolding diberikan dengan cara membimbing/mengarahkan peserta didík dalam mengolah informasi/data/fakta yang diperoleh.
  3. Diskusi klasikal penyelesaian masalah.
    Pada tahap ini dilakukan penerapan strategi (pembagian tugas setiap anggota kelompok), mengolah informasi/data/fakta, konstruksi hasil penyelesaian masalah dalam bentuk presentasi, serta penyajian penyelesaian masalah di dalam diskusi klasikal. Semua partisipan mempunyai kesempatan untuk menyampaikan hasil konstruksi penyelesaian masalah. Satu permasalahan minimal ditanggapi oleh tiga partisipan. Sehingga pada tahap ini semua partisipan diberi kesempatan untuk menyämpaikan hasil berpikir kreatifnya yang sudah didiskusikan dalam kelompoknya. Selanjutnya difinalisasi oleh kelompok penanggung jawab. Finalisasi penyelesaian masalah, merupakan hasil diskusi/scaffolding dengan guru mata pelajarannya, yang dilaksanakan satu minggu sebelum diskusi klasikal.
  4. Scaffolding tahap I
    Pemberian masukan komentar (scaffolding) oleh pendidik bertujuan untuk memperjelaskan dan memfinalkan penyelesaian masalah serta memotivasi peserta didik untuk menemukan/memunculkan masalah baru yang terjadi di dalam diri atau di lingkungannya dan masih berhubungan dengan tema atau permasalahan pada tahap I.
  5. Elaborasi
    Penyampaian masalah baru dari partisipan, minimal dua (tentatif, tergantung pada waktu yang tersedía), sebagai bentuk elaborasi dari topik yang sedang dibahas. Semua partisipan mempunyai kesempatan untuk menyampaikan masalah baru yang timbul setelah pembahasan masalah tahap 1. Masalah yang ditampilkan diharapkan merupakan proses pemantapan pemahaman, karena lebih terperinci dan memperluas wawasan peserta didik terhadap topik yang sedang dibahas, setelah mendapatkan arahan atau motivasi dari pendidik.
  6. Diskusi Klasikal Elaborasi
    Tahap ini sebagai bentuk evaluasi dari hasil dan proses penyelesaian masalah tahap I, yang dilaksanakan dalam diskusi klasikal. Pada tahap ini juga dilakukan refleksi dari hasil evaluasi terhadap masalah dan proses penyelesaiannya oleh pendidik, agar peserta didik mendapatkan cara berpikir praktis, kritis dan kreatif dalam menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Satu permasalahan, ditanggapi oleh tiga partisipan. Scaffolding diberikan dengan cara membimbing mengarahkan peserta didik dalam mengolah informasi/data/fakta yang diperoleh. Berarti pada tahap ini peserta didik telah memiliki pengalaman dan dapat mengembangkan keterampilan berpikir kreatifnya dalam menyelesaikan masalah.
  7. Scaffolding tahap II
    Scaffolding pada tahap II ini diberikan dalam bentuk finalisasi terhadap penyelesaian masalah oleh pendidik. Dengan demikian pemahaman peserta didik terhadap penyelesaian permasalahan yang sedang dibahas menjadi bertambah rinci, luas serta mantap. Pada tahap ini keretampilan berpikir kreatif khususnya untuk aspek elaborasi, telah dimiliki oleh peserta didik (Ernawati, 2020).

Daftar Pustaka

Astuti, Dewi, P., Rasmiwetti dan Abdullah, 2015. Penerapan Strategi Pembelajaran Scaffolding Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Pokok Bahasan Koloid Di Kelas Xi Ipa Sma Negeri 1 Perhentian Raja. Riau: Universitas Riau. 

Ernawati, M.D.W., 2020, Model Pembelajaran Berbasis Masalah dengan Scaffolding dan Berfikir Kreatif. Jambi : Komunitas Gemulun Indonesia. 

Farah, R.J., Hadi, S., dan Nursani Handayani. 2015, Pengaruh Pembelajaran Problem Based Learning Dengan Scaffolding Terhadap Kemampuan Analisis Siswa Sma Negeri 3 Lumajang. Malang: Universitas Negeri Malang. 

Handi, H., Indah, L., dan Solfarina. 2019, Penerapan PBL Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kreatif Siswa Pada Konsep Koloid. Jurnal Kimia dan Pendidikan. Vol. 4, No. 1. 

Hanim, K., 2015, Karakteristik Scaffolding. Sumedang: UPI Sumedang Press. 

Isrok’atun, Nurdinah N., dan Maulana. 2019, Scaffolding Dalam Situation-Based Learning. Sumedang: UPI Sumedang Press. 

Nabila, F.M., Abdul Gani dan Habibati. 2017. Pengaruh Penerapan Strategi Scaffolding Terhadap Ketuntasan Hasil Belajar Peserta Didik SMA Negeri 4 Banda Aceh Pada Submateri Tata Nama Senyawa Hidrokarbon. Pendidikan Sains Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya. Vol. 6, No. 2.