Diperbarui tanggal 28/04/2022

E Learning

kategori E-Learning / tanggal diterbitkan 28 April 2022

Pengertian E-Learning

Menurut Munir (2009, hal. 120) online learning merupakan suatu sistem yang dapat memfasilitasi pembelajaran belajar lebih luas, lebih banyak, dan bervariasi. Melalui fasilitas yang disediakan oleh sistem tersebut, pembelajaran dapat belajar kapan dan dimana saja tanpa terbatas oleh jarak, ruang dan waktu. Materi pembelajaran yang dipelajari lebih bervariasi, tidak hanya dalam bentuk verbal, melainkan lebih bervariasi seperti visual, audio, dan gerak.

Menurut Hamdani (2011, hal. 115), e-learning merupakan sistem atau konsep pendidikan yang memanfaatkan teknologi informasi dalam proses belajar mengajar. Sedangkan menurut Tafiardi, (2005, hal. 85) e-learning adalah suatu model pembelajaran yang dibuat dalam format digital melalui perangkat elektronik. Sedangkan menurut Darmawan (2014, hal. 25) "e-learning atau pembelajaran online adalah pembelajaran yang pelaksanaanya didukung oleh jasa elektronis seperti telepon, audio, videotape, transmisi satelit atau komputer". Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa e-learning merupakan pembelajaran yang memanfaatkan teknologi yang menghasilkan pembelajaran lebih luas dan pembelajaran dapat dilakukan kapan dan dimana saja tanpa dibatasi oleh jarak ruang dan waktu.

Manfaat E-Learning

Menurut Muzid & Munir (2005, hal. 29) banyak sekali manfaat yang akan didapat dari penerapan e-learning, diantaranya:

  1. Mempermudah dan menambah waktu interaksi antara mahasiswa dengan bahan belajar dan interaksi antara mahasiswa dengan dosen maupun antara sesama mahasiswa.
  2. Memungkinkan bagi mahasiswa untuk tetap dapat belajar sekalipun tidak hadir secara fisik di dalam kelas. Kegiatan belajar menjadi sangat fleksibel karena dapat disesuaikan dengan ketersediaan waktu para mahasiswa. Sehingga terjadi interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja.
  3. Memungkinkan mahasiswa maupun dosen dapat saling berbagi informasi atau pendapat tentang materi kuliah sehingga dapat mengoptimalkan waktu tatap muka yang tersedia untuk konsentrasi pada materi tersebut.
  4. Meningkatkan kualitas dan kinerja dosen dengan pengembangan model-model pembelajaran yang lebih baik dan bahan belajar yang lebih mudah dipahami dan dipelajari oleh mahasiswa.
  5. Mengurangi kesenjangan digital antar dosen dan mahasiswa dengan diterapkannya sistem yang berbasis tekonologi internet secara terpadu dan terintegrasi.
  6. Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan bahan belajar.

Menurut Suartama dan Tastra (2014, hal. 41-42) manfaat e-learning diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Meningkatkan interaksi pembelajaran antara peserta didik dengan pengajar atau instruktur (enhance interactivity).
  2. Meningkatkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and place flexibility).
  3. Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (potential to reach aglobal audience).
  4. Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of content as well as archivable capabilities).

Kegunaan menggunakan e-learning menurut Hamdani (2011, hal. 115), yaitu:

  1. menghemat waktu proses belajar mengajar,
  2. mengurangi biaya perjalanan,
  3. menghemat biaya pendidikan secara keseluruhan (infrastruktur, peralatan, buku),
  4. menjangkau wilayah geografis yang lebih luas, dan
  5. melatih siswa lebih mandiri dalam mendapatkan ilmu pengetahuan.

Pengunaan e-learning dalam pemanfaatan media internet untuk proses pembelajaran sangat membantu siswa untuk mendapatkan sejumlah informasi, pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan secara luas.

Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa manfaat dari penggunaan e-learning itu sangat banyak dan menguntungkan baik bagi peserta didik maupun pendidik.p[o

Karekteristik E-learning

Menurut Munir (2009, hal. 213) karakteristik e-learning antara lain:

  1. Memanfaatkan jasa teknologi elektronik sehingga dapat memperoleh informasi dan melakukan komunikasi dengan mudah dan cepat, baik antara pengajar dengan pembelajar, atau pembelajar dengan pembelajar.
  2. Memanfaatkan media komputer, seperti jaringan komputer (computer networks) atau digital media.
  3. Menggunakan materi pembelajaran untuk dipelajari secara mandiri (self learning materials).
  4. Materi pembelajaran dapat disimpan di komputer, sehingga dapat di akses oleh pengajar dan pembelajar, atau siapa pun tidak terbatas waktu dan tempat kapan saja dan dimana saja sesuai dengan keperluannya.
  5. Memanfaatkan komputer untuk proses pembelajaran dan juga untuk mengetahui hasil kemajuan belajar, atau administrasi pendidikan, serta untuk memperoleh informasi yang banyak dari berbagai sumber informasi.

Karakteristik e-learning ini antara lain menurut Tafiardi, (2005, hal. 91) adalah:

  1. Memanfaatkan jasa teknologi elektronik. Guru dan siswa, siswa dan sesama siswa atau guru dan sesama guru dapat berkomunikasi dengan relatif mudah tanpa dibatasi oleh hal-hal yang bersifat protokoler;
  2. Memanfaatkan keunggulan komputer (digital media dan computer networks);
  3. Menggunakan bahan ajar bersifat mandiri (self learning materials) disimpan di komputer sehingga dapat diakses oleh guru dan siswa kapan saja dan di mana saja bila yang bersangkutan memerlukannya;
  4. Memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat di komputer.

Sedangkan menurut Rosenberg (2001) dalam Karwati (2014, hal.43-44) mengkategorikan tiga kriteria dasar yang ada dalam e-learning yaitu :

  1. E-learning bersifat jaringan, yang membuatnya mampu memperbaiki secara cepat, menyimpan atau memunculkan kembali, mendistribusikan, dan sharing pembelajaran serta informasi.
  2. E-learning dikiriman kepada pengguna melalui komputer dengan menggunakan standar teknologi internet.
  3. E-learning terfokus pada pandangan pembelajaran yang paling luas, solusi pembelajaran yang mengungguli pradigma tradisional dalam pelatihan.

Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa karakteristik dari e-learning salah satunya yaitu memanfaatkan teknologi elektronik seperti komputer.

Kompetensi dalam E-Learning

Menurut Bielawski & Metcalt (2003) dalam Adhiatma, Suprajitno, & Affandi (2011, hal. 7) kompetensi dalam e-learning diantaranya:

  1. Personalized, e-learning memungkinkan seluruh program studi yang akan disesuaikan untuk sebuah perusahaan, departemen, atau bahkan pelajar individu.
  2. Interaktif, dengan menggunakan e-learning, peserta didik dimungkinkan untuk melakukan kegiatan tatap muka, sehingga aspek dari blended learning tetap terjaga.
  3. Just-in-time, dengan menggunakan e-learning, kita dimungkinkan untuk melaksanakan kegiatan belajar dimana saja dan kapan saja.
  4. Current, e-learning memungkinkan penyedia pelatihan untuk selalu menawarkan bahan pelajar up-to-date.
  5. User-sentris, e-learning berfokus terutama pada kebutuhan pembelajaran, bukan pada kemampuan instruktur.

Menurut Munir (2009, hal. 50) mengemukakan beberapa kompetensi yang harus dimiliki siswa sebelum menggunakan e-learning, yaitu:

  1. Siswa mempunyai kemampuan dasar mengenai komputer dan cara pengoperasiannya.
  2. Siswa mempunyai kemampuan mengoperasikan software yang digunakan berupa portal atau website e-learning.
  3. Siswa memiliki motivasi yang tinggi untuk menggunakan komputer dan internet sebagai media utama di dalam pembelajaran.
  4. Siswa mempunyai kemauan untuk mengeksplorasi materi pembelajaran dari berbagai sumber.
  5. Siswa mempunyai kemandirian dalam mengatur dirinya sendiri selama pembelajaran menggunakan e-learning.

Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa siswa sebelum menggunakan e-learning harus memiliki beberapa kemampuan baik dari segi pengetahuan maupun dari segi penggunaannya.

Kelebihan Elearning

Kelebihan E-learning

Menurut Rusman (2012, hal. 299) kelebihan penggunaan e-learning dalam proses belajar mengajar adalah:

  1. Pendidik dan peserta didik dapat menggunakan bahan ajar yang terstruktur dan terjadwal melalui e-learning, sehingga keduanya dapat saling menilai seberapa jauh bahan ajar dipelajari.
  2. Menyediakan sumber belajar tambahan yang dapat digunakan untuk memperkaya materi pembelajaran.
  3. Isi dan materi pembelajaran dapat di update dengan mudah.
  4. Dapat mendorong pembelajar untuk aktif dan mandiri dalam belajar.
  5. Sangat potensial sebagai sumber belajar bagi pembelajar yang tidak memiliki cukup waktu untuk belajar.

Menurut Bates dan Wulf (1996) dalam Munir (2009, hal. 217-219) kelebihan penggunaan e-learning untuk pembelajaran jarak jauh online yaitu:

  1. Meningkatkan interaksi pembelajaran (enchance interactivity)
    Pembelajaran jarak jauh online yang dirancang dan dilaksanakan secara cermat dapat meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara pembelajar dengan materi pembelajaran, pembelajar dengan pengajar, dan antara pembelajar dengan pembelajar lainnya. Dalam kegiatan pembelajaran jarak jauh online, pembelajar yang terpisah dari pembelajar lainnya dan juga terpisah dari pengajar akan merasa lebih leluasa atau bebas mengungkapkan pendapat atau mengajukan pertanyaan karena tidak ada pembelajar lainnya yang secara fisik mengamati dirinya. Dengan demikian, pembelajar yang pemalu atau lamban tidak lagi merasa khawatir akan dihina, dikritik, atau dilecehkan karena pendapat atau pertanyaan yang diajukan mungkin dinilai kurang berbobot. Setiap pembelajar merasa bebas mengajukan pertanyaan atau menyampaikan pendapat/pemikiran tanpa diliputi perasaan takut diserang atau dipermalukan di hadapan banyak orang yang disaksikan oleh pengajarnya. Keadaan kegiatan pembelajaran dan perasaan pembelajar yang kondusif seperti ini akan dapat mendorong pembelajar untuk meningkatkan kadar interaksinya dalam kegiatan pembelajaran, sehingga hasil belajar lebih optimal. Keadaan kegiatan pembelajaran jarak jauh online berbeda dengan pembelajaran yang bersifat konvensional. Tidak semua pembelajar dalam kegiatan pembelajaran konvensional berani atau mempunyai kesempatan untuk mengajukan pertanyaan atau menyampaikan pendapatnya. Apalagi pada pembelajaran yang bersifat konvensional, kesempatan yang ada atau yang disediakan pengajar untuk berdiskusi atau bertanya jawab sangat terbatas. Biasanya kesempatan yang terbatas ini juga cenderung hanya didominasi oleh beberapa pembelajar yang cepat tanggap dan tidak mempunyai sifat pemalu.
  2. Mempermudah interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and place flexibility)
    Pembelajar dapat melakukan interaksi dengan sumber belajar kapan saja sesuai dengan ketersediaan waktunya dan di manapun dia berada, karena sumber belajar sudah dikemas secara elektronik dan tersedia untuk diakses oleh pembelajar melalui online learning. Begitu pula dengan tugas-tugas kegiatan pembelajaran, dapat diserahkan kepada pengajar begitu selesai dikerjakan, tanpa harus menunggu sampai ada janji untuk bertemu dengan pengajar, dan tidak perlu menunggu sampai ada waktu luang pengajar untuk mendiskusikan hasil pelaksanaan tugas apabila dikehendaki.

    Pembelajar tidak harus terikat ketat dengan waktu dan tempat penyelenggaraan kegiatan pembelajaran sebagaimana halnya pada kegiatan pembelajaran konvensional.
  3. Memiliki jangkauan yang lebih luas (potential to reach a global audience)
    Pembelajaran jarak jauh online yang fleksibel dari segi waktu dan tempat, menjadikan jumlah pembelajar yang dapat dijangkau kegiatan pembelajaran melalui online learning semakin banyak dan terbuka secara luas bagi siapa saja yang membutuhkannya. Ruang, tempat, dan waktu tidak lagi menjadi hambatan. Siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, seseorang dapat belajar melalui interaksinya dengan sumber belajar yang telah dikemas secara elektronik dan siap diakses melalui online learning.
  4. Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of content as well as archivable capabilities)
    Fasilitas yang tersedia dalam teknologi online learning dan berbagai software yang terus berkembang turut membantu mempermudah pengembangan materi pembelajaran elektronik. Demikian juga penyempurnaan atau pemutakhiran materi pembelajaran yang telah dikemas dapat dilakukan secara periodik dengan cara yang lebih mudah sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuannya. Di samping itu, pemutakhiran penyajian materi pembelajaran dapat dilakukan, baik yang didasarkan atas umpan balik dari pembelajar maupun atas hasil penilaian pengajar selaku penanggungjawab/pembina materi pembelajaran. Pengetahuan dan keterampilan untuk pengembangan materi pembelajaran secara elektronik ini perlu dikuasai terlebih dahulu oleh mereka yang bertanggungjawab dalam pengembangan materi pembelajaran elektronik. Demikian juga dengan pengelolaan kegiatan pembelajarannya sendiri. Harus ada komitmen dari pengajar untuk secara teratur memantau perkembangan kegiatan belajar pembelajarnya dan memotivasi pembelajarnya.
    Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa menggunakan e-learning dalam proses pembelajaran memiliki banyak kelebihan yang menguntungkan baik dari pihak guru maupun pihak siswa.

Kelemahan E-Learning

Penggunaan e-learning dalam proses belajar mengajar selain memiliki kelebihan juga memiliki beberapa kelemahan. Menurut Rusman (2012, hal. 323) kelemahan e-learning adalah sebagai berikut:

  1. Kurangnya interaksi antara guru dan peserta didik atau bahkan antar peserta didik itu sendiri, kurangnya interaksi dapat memperlambat terbentuknya values dalam proses pembelajaran.
  2. Berubahnya peran guru dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini juga dituntut mengetahui pembelajaran yang menggunakan IT.
  3. Proses pembelajaran cenderung kearah pelatihan dari pada pendidikan.
  4. Peserta didik yang tidak memiliki motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal.
  5. Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet (dapat berkaitan dengan masalah tersedianya listrik, telepon atau komputer).
  6. Kurangnya tenaga yang mengetahui dan memiliki keterampilan mengoperasikan e-learning

Menurut Munir (2009, hal. 219-220) selain banyak manfaatnya, e-learning dengan menggunakan internet untuk pembelajaran jarak jauh memiliki beberapa kekurangan atau kelemahan, antara lain:

  1. Salah satu ciri khas dari pembelajaran jarak jauh adalah terpisahnya secara fisik antara pengajar dengan pembelajar, sehingga menjadikan interaksi antara pengajar dengan pembelajar atau pembelajar dengan pembelajar lainnya menjadi tidak ada atau kurang sekali. Kurangnya interaksi ini menjadikan kurang dekat atau akrabnya pengajar dengan pembelajar yang dapat menghambat atau mengganggu keberhasilan proses pembelajaran. Pendidikan bukan hanya menekankan pada perubahan ilmu pengetahuan, namun juga sikap, sehingga dengan kurangnya interaksi ini bisa menghambat pembentukan sikap, nilai (values), moral, atau sosial dalam proses pembelajaran, sehingga tidak dapat diaplikasikan dalam kehidupannya sehari-hari.
  2. Teknologi merupakan bagian penting dari pendidikan, namun jika lebih terfokus pada aspek teknologinya dan bukan pada aspek pendidikannya, maka ada kecenderungan lebih memperhatikan aspek teknis atau aspek bisnis/komersial, dan mengabaikan aspek pendidikan untuk mengubah kemampuan akademik, perilaku, sikap, sosial, atau keterampilan dari pembelajar.
  3. Proses pembelajaran dan mengajarnya cenderung ke arah pelatihan dari pada pendidikan yang lebih menekankan pada aspek pengetahuan atau psikomotor dan kurang memperhatikan aspek afektif.
  4. Pengajar dituntut mengetahui dan menguasai strategi, metode, atau teknik pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi yang mungkin selama pembelajar konvensional kurang dikuasainya. Jika pengajar tidak menguasainya, maka proses transfer ilmu pengetahuan atau informasi dari pengajar kepada pembelajar akan terhambat dan akan mengagalkan proses pembelajaran tersebut.
  5. Proses pembelajaran melalui e-learning menggunakan layanan internet yang menuntut pembelajar untuk belajar secara mandiri untuk memperoleh ilmu pengetahuan atau informasi dengan mengakses sendiri ke internet dan tidak menggantungkan diri pada informasi dari pengajar. Jika pembelajar tidak mampu belajar mandiri dan motivasi belajarnya rendah, maka proses belajarnya akan mengalami kegagalan atau tidak tercapai tujuan pembelajaran atau pendidikan, yaitu terjadinya perubahan pengetahuan, sikap, dan keterampilan pembelajar.
  6. Kelemahan dari aspek teknis, yaitu tidak semua pembelajar dapat memanfaatkan fasilitas internet karena tidak tersedia atau langkanya komputer dengan internetnya. Apalagi belum semua tempat atau lembaga pendidikan tersedia fasilitas jaringan internetnya. Kalaupun ada komputer dengan internet, terkadang terkendala dengan tidak tersedia atau terbatasnya fasilitas listrik dan infrastruktur yang lain. Jika pembelajar berusaha sendiri untuk menyediakan fasilitas komputer dengan internetnya terkendala masalah biaya yang relatif berbiaya tinggi untuk mendapatkan perangkat komputer. Begitu pula jika harus datang ke warung internet (warnet) perlu mengeluarkan biaya.
  7. Masalah keterbatasan ketersediaan software (perangkat lunak) yang biayanya masih relatif mahal, untuk itu diperlukan upaya memperoleh perangkat lunak tersebut dengan biaya yang tidak mahal, misalnya mengadakan kerja sama dengan para provider komputer atau pihak-pihak yang terkait dan tertarik dengan pendidikan.
  8. Jika fasilitas komputer dengan internetnya sudah tersedia lengkap dan tidak ada kendala, masalahnya akan timbul karena kurangnya pengetahuan dan kemampuan atau keterampilan (skill and knowledge) mengoperasionalkan komputer dan memanfaat internet secara optimal. Untuk itulah diperlukan sumber daya manusia, seperti pengajar yang terampil memanfaatkan komputer dan internet secara optimal dalam teknik pembelajaran yang menggunakan komputer untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan informasi yang bermanfaat sebanyak-banyaknya.

Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa menggunakan e-learning dalam proses pembelajaran selain memiliki kelebihan juga memiliki kekurangan sehingga kurang efektifnya pembelajaran karena lebih cenderung ke arah pelatihan dari pada aspek pengetahuan.

Peran Penting dalam E-learning

Menurut Munir (2009, hal. 143-144) ada tiga peran di dalam e-learning yaitu mahasiswa, dosen dan administrasi. Sedangkan proses yang perlu ada di dalam sistem e-learning adalah:

  1. Pemeliharaan sistem backup, pengamanan data dan proses administrasi.
  2. Upload materi kuliah oleh dosen dan mahasiswa dapat mengambilnya.
  3. Upload tugas oleh dosen, mahasiswa mengumpulkan tugas (berbentuk softcopy) dan kemudian dosen memberikan nilai beserta komentar.
  4. Forum diskusi, kegiatan diskusi secara online tetapi sifatnya tidak real time. Mahasiswa mengirimkan pesan dan dapat dijawab dosen beberapa jam kemudian.
  5. Teleconference, kegiatan diskusi tetapi dilakukan secara real time.
  6. Sidang, dilakukan secara offline.
  7. Tutorial, dilakukan secara offline.
  8. Ujian, dilakukan secara offline.

Menurut Kenji Kitao (1998) dalam Munir (2009, hal. 123-125) setidak-tidaknya ada 3 fungsi atau potensi online learning yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu sebagai alat komunikasi, alat mengakses informasi, dan alat pendidikan atau pembelajaran.

  1. Fungsi alat komunikasi dengan menggunakan online learning, dapat berkomunikasi kemana saja secara cepat. Misalnya, dapat berkomunikasi dengan menggunakan e-mail, atau berdiskusi melalui chatting maupun mailing list. Berkomunikasi dengan e-mail atau chatting berbeda dan lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan menggunakan telepon dan faximile (fax) yang juga sama-sama mampu menyampaikan informasi sangat cepat. Pada komunikasi yang menggunakan telepon, semakin jauh jarak orang yang berkomunikasi, semakin mahal pula biaya pulsa telepon yang harus dibayar. Pembayaran akan semakin mahal lagi manakala waktu berkomunikasi berlangsung lebih lama sesuai dengan banyaknya informasi yang disampaikan. Di sisi lain, berkomunikasi melalui online learning, pulsa telepon yang dibayar hanyalah pulsa lokal. Tidak ada pengaruh jarak atau jauh-dekatnya orang yang dihubungi (komunikan). Cukup membayar biaya pulsa telepon lokal di samping biaya langganan bulanan kepada Online Learning Service Provider (ISP), maka berbagai informasi atau dokumen yang perlu dikomunikasikan dapat terkirimkan dengan sangat cepat. Manakala dokumen yang akan dikirimkan cukup banyak, maka dokumen tersebut dapat disiapkan secara cermat terlebih dahulu dan kemudian dikirimkan sebagai lampiran e-mail (attachment). Dengan demikian, kemungkinan kesalahan penyampaian informasi dapat dihindarkan.
  2. Fungsi akses informasi melalui online learning, dapat diakses berbagai informasi, seperti perkiraan cuaca, perkembangan sosial, ekonomi, budaya, politik, ilmu pengetahuan, dan teknologi yang disajikan oleh berbagai sumber tanpa harus berlangganan. Pembelajar dapat mengakses berbagai referensi, baik yang berupa hasil penelitian, maupun artikel hasil kajian dalam berbagai bidang. Online learning merupakan perpustakaan yang terbesar dari perpustakaan yang ada di mana pun, sehingga pembelajar tidak harus langsung pergi ke perpustakaan untuk mencari berbagai referensi (Kitao, 2002). Melalui online learning informasi dalam berbagai bidang yang tersedia atau perkembangan yang terjadi di seluruh penjuru dunia (global world) dapat diakses dengan cepat diketahui oleh banyak orang. Begitu pula dengan informasi yang menyangkut bidang pendidikan atau pembelajaran mudah, banyak, dan cepat untuk diakses. Pembelajar tidak harus hadir langsung di ruang kelas/kuliah untuk mengikuti kegiatan pembelajaran, namun cukup hanya duduk saja dari tempat masing-masing di depan komputer (tentunya menggunakan komputer yang dilengkapi fasilitas koneksi ke online learning) dan menggunakannya. Pembelajar dapat berinteraksi dengan sumber belajar, baik yang berupa materi pembelajaran itu sendiri maupun dengan pengajar yang membina atau bertanggungjawab mengenai materi pembelajaran. Dengan adanya online learning ini pembelajar memiliki pilihan atau alternatif untuk belajar secara tatap muka atau melalui online learning.
  3. fungsi pendidikan dan pembelajaran perkembangan teknologi online learning yang sangat pesat dan merambah ke seluruh penjuru dunia telah dimanfaatkan oleh berbagai negara, institusi, dan ahli untuk berbagai kepentingan termasuk di dalamnya untuk pendidikan dan pembelajaran. Upaya yang dilakukan adalah mengembangkan perangkat lunak (program aplikasi) yang dapat menunjang peningkatan mutu pendidikan atau pembelajaran. Perangkat lunak yang telah dihasilkan akan memungkinkan para pengembang pembelajaran (instructional developers) bekerjasama dengan ahli materi pembelajaran (content specialists) mengemas materi pembelajaran elektronik (online learning material). Materi pembelajaran elektronik dikemas dan dimasukkan ke dalam jaringan sehingga dapat diakses melalui online learning, kemudian dilakukan disosialisasikan ketersediaan program pembelajaran tersebut agar dapat diketahui oleh masyarakat luas khususnya para pembelajar. Para pengajar juga perlu memiliki kemampuan mengelola dengan baik penyelenggaraan kegiatan pembelajaran online melalui internet.

Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa ada tiga peran dalam menyukseskan proses pembelajaran menggunakan e-learning diantaranya mahasiswa, dosen dan administrasi. Selain itu e-learning juga memiliki fungsi dalam kehidupan sehari-hari, yaitu sebagai alat komunikasi, alat mengakses informasi, dan alat pendidikan atau pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Adhiatma, N., Suprajitno, D., & Affandi, A. (2011). Implementasi e-learning  dengan integrasi video conference berbasis web dalam sistem manajemen pembelajaran. In Implementasi E-Learning Dengan Integrasi Video Conference Berbasis Web Dalam Sistem Manajemen Pembelajaran.

Agustin, H., & Mulyani, E. (2016). Studi empiris penerimaan dan penggunaan e- learning system di kalangan mahasiswa akuntansi fakultas ekonomi UNP.  In Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi (SNATI).

Chandrawati, S. R. (2010). Pemamfaatan e-learning dalam pembelajaran. Jurnal Cakrawala Kependidikan, 8(2), 218616.

Creswell, J. W. (2013). Research design pendekatan kualitatif, kuantitatif, dan mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 
Darmawan, D. (2014). Pengembangan e-learning teori dan desain. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 25.