Diperbarui tanggal 13/06/2022

Biografi Singkat Raden Adjeng Kartini

kategori Pendidikan Sejarah / tanggal diterbitkan 13 Juni 2022

Sejarah Hidup Raden Adjeng Kartini

Raden Adjeng Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879, ia merupakan seseorang yang berdarah ningrat Jawa. Ayahnya Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat merupakan seorang Bupati Jepara, adalah golongan darah biru Sedangkan ibunya M.A Ngasirah berasal dari kalangan rendah. Raden Adjeng Kartini adalah seorang priyayi dan aristokrat. Raden Adjeng Kartini juga memiliki "darah pesantren" dari nenek Nyai Hajjah Siti Aminah dan kakeknya Kyai Haji Madirono, merupakan guru agama di Teluwakur. Ayah Raden Adjeng Kartini yakni Sosroningrat adalah seorang bupati berpendidikan. Dia dapat menulis serta berbahasa Belanda. Di masa itu bupati yang memiliki kepandaian berbahasa dan intelektual jarang ditemui, dalam Rosyadi (2020:9). Hal inilah yang membuat sejarawan M.C. Riklefs dalam Rosyadi (2020:10), menyebut sang bupati “one of the most enlightened of Java bupatis” yang artinya (salah satu bupati yang berfikiran maju di Jawa).

Pada masa itu pemerintah kolonial mewajibkan bagi bupati untuk menikahi perempuan bangsawan. Dikarenakan Ngasirah bukan dari keluarga bangsaan, maka bupati Sosroningrat menikah lagi pada 1975 dengan Raden Ayu Muryam, yang merupakan keturunan raja Madura. Kemudian istri keduanya menjadi garwa padmi, dan Ngasirah sebagai istri pertama menjadi garwa ampil. Sulastin Sutrisno dalam Rosyadi (2020:10).

Jadilah, Raden Adjeng Kartini menerima kehadiran ibu dan saudara tirinya. Hal ini diceritakannya dalam surat tanggal 21 Desember 1900, dalam surat itu tertulis bahwa Raden Adjeng Kartini menyaksikanpenderitaan ibunya, dan penderitaan yang dialaminya melihat kejadian tersebut. Seperti penderitaan neraka tulisnya, hingga dia menginginkan akhir hidupnya serta bunuh diri, seandainya ia tidak mencintai ayahnya.

Kemudian Ngasirah harus memanggil anak kandungnya “Ndoro”, sedangkan anaknya memanggil Ngasirah “Yu”. Hanya pada garwa padmi anaknya memanggil ibu. Keluarga Raden Adjeng Kartini menjunjung tinggi adat budaya contohnya seperti adiknya harus duduk dan menundukkan kepala apabila ia berjalan melewati adiknya. Rosyadi (2020:11), Jadi dari sinilah pemikiran Raden Adjeng Kartini umtuk mengangkat martabat perempuan, serta jiwa emansipasinya tumbuh karena poligami ayahnya, serta perlakuan tidak adil yang diterima ibunya Ngasirah.

Raden Adjeng Kartini melukiskan kisah masa kecilnya dengan pedih kepada Nyonya HG de Booij-Boissevain dalam surat yang menunjukkan diskriminasi pada dirinya ketika masih bayi. Katika bayi Raden Adjeng Kartini sudah mendapatkan kehidupan yang berbeda dari gedung utama dan rumah kecilnya. Dalam roman yang ditulus Nyonya van Zeggelen, dia menuliskan bahwa Raden Adjeng Kartini diasuh oleh pengasuh bernama Rami. Sedangkan ibunya seperti selir yang pergi dari rumah usai melahirkan, dalam suratnya pada Stella Zeehandelaar, status ibu utama cukup membancinya.Imron Rosyadi (2020:13). Sedangkan menurut Pramoedya Ananta Toer dalam Imron Rosyadi (2020:13), selain Rami Raden Adjeng Kartini masih diasuh oleh ibunya. Jadi, Raden Adjeng
Kartini harus menerima kenyataan bahwa ibunya diperlakukan tidak adil didalam rumah utama, dirinya dibenci oleh ibu utama garwa padmi, berikut gambar silsilah keluarga Kartini:

Silsilah R.A. Katini

Bupati Sosroningrat memperhatikan pertumbuhan putra-putrinya dengan baik serta memperhatikan perkembangan jiwa anak-anaknya. Terutama sifat dan prilaku Raden Adjeng Kartini, ketiganya (Kartini, Roekmini, dan Kartinah) dididik serta diperlakukan sama tidak ada perbedaan sedikitpun, contohnya seperti baju mereka bertiga pun dibuat kembar, namun Raden Adjeng Kartini menonjol dengan pribadiannya yang berwibawa. Otak Raden Adjeng Kartini dinilai lebih tajam, dengan akal sehat, daya observasi yang cepat, menyeluruh, memiliki keberanian untuk menyuarakan pendapatnya dan membela yang dirasakannya benar dan adil, serta memiliki rasa belas kasihan pada semua yang lemah dan tertindas, nampak semakin jelas pada putrinya yang satu ini. Sifat Raden Adjeng Kartini yang luar biasa tentu saja menarik perhatian seluruh Kabupaten, dan juga orang-orang luar (Soeroto dalam Noviyanti Purwo, 2010:11-12).

Raden Adjeng Kartini bersekolah di Europose Lagere School (ELS), sekolah untuk orang-orang Belanda serta orang-orang Jawa yang kaya dan terkenal pada masa itu, ini menyebabkan rasa marah Raden Adjeng Kartini pada gurunya karena diskriminasi yang dilakukan oleh gurunya. Dalam suratnya pada Stella Zeehandelaar, ia menuliskan bahwa orang-orang Belanda menertawakan serta mengejek kebodohan mereka orang Indonesia, tapi mereka (Raden Adjeng Kartini dan teman Indonesianya) berusaha maju, kemudian orang-orang Belanda itu menentang mereka dengan para guru dan teman yang memusuhi mereka.

Awalnya Raden Adjeng Kartini menyukai dirinya sebagai golongan ningrat Jawa. Suatu sore ia pulang sekolah dan menghampiri ayahnya bertanya jadi apakah dia kelak, kemudian ayahnya tertawa dan mencubit pipinya. Kata kakaknya yang lewat menyahut jadi Raden Ayu tentunya, Raden Adjeng Kartini bersorak ia senang karena terbayang olehnya seperti apa Raden Ayu di lingkungannya. Namun setelah dibayangkan, dan dipelajarinya menurutnya Raden Ayu bukan status yang layak dibanggakan. Raden Adjeng Kartini sekolah hingga berumur 12 tahun, dan selanjutnya beliau keluar karena harus menjalani masa pingitan yang mengharuskan gadis dari golongan tertentu tidak diperbolehkan keluar rumah dalam batas waktu yang ditentukan, Raden Adjeng Kartini tidak banyak bergaul selama pingitan, jadilah Raden Adjeng Kartini menghabiskan waktunya dengan membaca buku.

Pada usia 16 tahun Kartini dibebaskan dari pingitan. Raden Adjeng Kartini mulai melakukan perubahan dalam kebiasaannya bergaul dengan adik-adiknya. Pergaulan mereka menjadi tidak seperti dulu yaitu sang adik tidak lagi diperbolehkan menyembah dan berjongkok pada dirinya. Imron Rosyadi (2020:15-16). Jadi, layaknya bangsawan Jawa yang akan menjadi seorang Raden Ayu, Raden Adjeng Kartini dipersiapkan untuk itu dengan menjalani masa pingitan di rumahnya yakni tidak diperkenankan keluar rumah, bergaul dengan orang lain serta membatasi pergaulannya dengan adiknya.

Raden Adjeng Kartini dan cita-citanya tidak berdiri sendiri, menurut Imron Rosyadi (2020:17-18) buku-buku merupakan suatu hal yang membuat dirinya semakin ingin mewujudkan cita-citanya. Selain itu teman dan sahabatnya juga memberikan dukungan dan bimbingan. Teman-temannya itu antara lain:

  1. Stella Zeehandelaar
  2. Cvink Nestenenk
  3. Nyonya Cvink Soer
  4. Annie Glaser
  5. J.H Abendanon
  6. Rosa Abendanon
  7. Ir. Van Kol
  8. Nyonya Nellie van Kol
  9. Prof. Dr G.K Anton dan Istri
  10. Edie Abendanon.

Raden Adjeng Kartini mengenal dengan Mr. J.H. Abendanon, ia merupakan seorang Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan di tahun 1990. Abendanon adalah seorang penganjur Haluan Etis yang turut memikirkan kemungkinan untuk pendidikan para gadis pribumi pada umumnya, tetapi dia tidak memahami bagaimana serta dimana harus melaksanankannya. Abendanon serta Dr. Snouck Hurgronce bekerja sebagai penasihat pemerintah menaruh perhatiannya pada tiga puteri Bupati Jepara terlebih pada Raden Adjeng Kartini. Abendanon bertujuan untuk membangun sekolah percobaan dalam rencana Abendanon terdapat bagian yang menyangkut dari Raden Adjeng Kartini, yaitu keinginannya mengangkat Raden Adjeng Kartini sebagai Direktris Kostschool yang akan dibangunnya. Abendanon menginginkan supaya Raden Adjeng Kartini dengan kecakapannya yang telah dimilikinya langsung untuk menjadi seorang Direktris, namun Raden Adjeng Kartini tidak mau dan karena menginginkan untuk menguasai keahlian lebih dahulu.

Raden Adjeng Kartini kemudian meminta ijin ayahnya untuk sekolah dan belajar ke Batavia dengan tujuan menjadi guru dan ayah Raden Adjeng Kartini lalu mengijinkan. Tanggal 20 November 1900 Mr. Abendanon mengirim surat edaran untuk semua Residen yang berada di Jawa serta Madura, yang akan menampung pikiran Raden Adjeng Kartini terkait pendidikan gadis Jawa, terutama dari bangsawan atau kalangan atas. Surat edaran itu memuat pendapat serta saran para Bupati terkait pembangunan beberapa jenis sekolah untuk gadis Indonesia (Soeroto, dalam Purwo Noviyanti 2010:17-18). Dibulan Mei 1901 Raden Adjeng Kartini menerima kabar walaupun belum resmi bahwa rencana dari pemerintah untuk membangun sekolah untuk para gadis, namun di tentang sebagian besar Bupati, berdasarkan pertimbangan feodal. Atas kegagalan rencana tersebut maka Mr. Abendanon mengusahakan jalan lain untuk meneruskan pelajaran tiga puteri Sosroningrat di Batavia mengingat keadaan Bupati tidak mungkin membiayai ke tiga puterinya.

Perjuangan panjang Abendanon membuahkan hasil, akhirnya pada Juni 1903 dibuka sekolah untuk gadis-gadis pertama di Hindia-Belanda. Sekolah ini dimulai dengan seorang siswa selanjutnya beberapa hari sudah bertambah menjadi lima murid. Sekolah Kartini disambut baik oleh masyarakat Jepara, sekolah tersebut dibuka empat hari dalam seminggu mulai jam 8 hingga 12:30. Murid-murid kemudian diberi pelajaran berupa kegiatan membaca, menulis, menggambar, pekerjaan tangan serta memasak. Pelajaran tersebut tidak diberikan berdasarkan sistem dari sekolah, melainkan berdasarkan cara dari mereka sendiri, agar menyenangkan bagi murid-murid sekolah (Soeroto, Purwo Noviyanti 2010:19).

Ditengah kesibukannya Raden Adjeng Kartini, menunggu surat permohonan beasiswa yang diajukannya untuk belajar ke Batavia. Maka datang utusan Bupati Rembang, utusan itu bertugas membawa surat lamaran yang ditujukan untuk Raden Adjeng Kartini. Bupati Sosroningrat serta istrinya menerima utusan tersebut dengan baik. Sebelumnya Bupati Sosroningrat telah mengenal baik Bupati Rembang, yakni Raden Adipati Djojo Adhiningrat. Ia adalah seorang duda yang mempunyai enam orang anak yang masih kecil-kecil. Namun kebahagiaan akan lamaran itu tidak dirasakan oleh Raden Adjeng Kartini, Raden Adjeng Kartini sangat sedih dan tekejut. Raden Adjeng Kartini kemudian diminta supaya jangan terburu-buru sewaktu mengambil keputusan. Hati Raden Adjeng Kartini sangat gelisah, disatu sisi ia masih ingin belajar, mendapat ijazah dan bekerja. Disisi yang lain Raden Adjeng Kartini sangat menyayangi kepada kedua orang tuanya dan tidak enak hati untuk menolak lamaran Bupati Rembang tersebut, dikarena Raden Adjeng Kartini tahu kalau kedua orang tuanya mau Raden Ajeng Kartini menerima lamaran itu. Kedua orang tua Kartini memberi waktu tiga hari untuk berpikir, dan Raden Ajeng Kartini memberikan jawaban pada Bupati Rembang itu dengan syarat:

  1. Bupati Rembang itu harus menyetujui gagasan serta cita-cita Raden Adjeng Kartini
  2. Pada waktu berada di Rembang Raden Adjeng Kartini juga diperbolehkan membuka sekolah dan mengajar puteri-puteri para pejabat di sana seperti yang telah dikerjakan di Jepara.

Jika dua syarat tersebut tidak dipenuhi, maka Raden Adjeng Kartini tidak mau menerima lamaran itu (Soeroto, dalam Purwo Noviyanti 2010:19-20). Tapi diluar dugaan Bupati Rembang tidak keberatan dengan syarat-syarat Raden Adjeng Kartini dan menerimanya syarat-syarat tersebut dengan senang hati.

Tangga l7 Juli 1903 dikeluarkan surat keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang menentukan untuk memberi izin kepada Raden Adjeng Raden Adjeng Kartini dan Raden Adjeng Roekmini untuk belajar di Batavia atas biaya Negara sebesar f 200 (dua ratus gulden) perbulan untuk 2 tahun lamanya. Tanggal 24 Raden Adjeng Kartini baru menerima surat tersebut. Permohonan Kartini dan Roekmini (Kardinah tidak ikut mengajukan karena sudah menikah) untuk belajar di Batavia telah dikabulkan, dan hal ini merupakan sukses yang gemilang namun semua itu sia-sia karena Raden Adjeng Kartini akan segera menikah. Kartini tetap berbesar hati, ia tidak mengeluh ataupun menyesal melainkan ia kembali mengajukan permohonan kepada Nyonya dan Tuan Abendanon untuk mengusahakan agar subsidi dari pemerintah sebesar f 4800 itu dapat diberikan kepada orang lain yang belum dikenalnya dan belum dilihatnya, hanya dikenal namanya saja, yaitu Agoes Salim (Soeroto,1979:344). Kartini terus mengalami kekecewaan. Ia harus melepas cita-cita yang telah lama ia perjuangkan.

Tanggal 8 November 1903 Raden Adjeng Kartini menikah dan 11 November diboyong ke Rembang. Di Rembang Kartini disambut dengan baik. Kartini segera terhibur dengan berbagai kesibukan keadaan dan emosi baru. Karti selalu membagi waktunya untuk suami, anak-anak tirinya dan masih sempat menulis surat untuk beberapa sahabatnya. Di Rembang Raden Adjeng Kartini juga mendirikan sekolah wanita atas ijin suaminya (Ajisaka, 2008:148).

Pada tanggal 17 September 1904 Raden Adjeng Kartini meninggal dunia 4 hari setelah melahirkan putera satu-satunya. Raden Adjeng Kartini harus meninggalkan semua yang dicintainya yaitu keluarga dan bangsanya, namun pengorbanan Raden Adjeng Kartini tidak sia-sia. Di jalan kebaktiannya kepada bangsa dan dalam hidupnya yang pendek Raden Adjeng Kartini telah berhasil menyebarkan benih-benih peradaban tinggi. Terciptalah wanita-wanita Indonesia yang berpendidikan tinggi, yang dapat berdikari seperti yang diidam-idamkan selama hidupnya (Soeroto,1979:389). Sepeninggal Raden Adjeng Kartini Mr. J.H. Abendanon menerbitkan surat-surat Raden Adjeng Kartini menjadi sebuah buku yang berjudul “Door Duisternis Tot Licht” yang diterjemahkan oleh Armijn Pane dengan judul „habis gelap terbitlah terang? (Ajisaka,2008:148).

Mengingat jasa-jasa Raden Adjeng Kartini yang begitu besar, Presiden Soekarno mengeluarkan surat keputusan Presiden RI No.108 tahun 1964 tanggal 2 Mei, yang menetapkan hari lahir Raden Adjeng Kartini tanggal 21 April untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagaiHari Kartini (Wismulyani,2007:20). Berikut adalah beberapa surat-surat Raden Adjeng Kartini kepada para sahabatnya yang dikutip dari buku R.A. Kartini seratus tahun oleh Solichin Salam (1979).

Surat Kartini kepada Ny. Ovink-Soer, awal 1900

“Pada zaman manapun dan dalam bidang apa saja kaum pelopor selalu mengalami rintangan-rintanagn hebat. Itu kami sudah tahu. Tetapi betapa nikmatnya, memiliki suatu cita-cita, suatu panggilan. Katakanlah kami ini orang-orang gila atau orang sinting, atau apa saja yang Nyonya kehendaki. Tetapi kami tidak dapat berbuat lain. Karena itu sudah ada dalam darah kami. Eyang adalah pelopor, tatkala setengah abad yang lalu ia memberi pendidikan Barat kepada Putera- putera dan putrid-putrinya. Kami tidak berhak untuk tinggal bodoh, bagaikan orang-orang yang tak berarti. Keningratan membawa kewajiban. Maju terus!”.

Surat Kartini kepada Stella, 6 November 1899

“Suatu perobahan dalam seluruh masyarakat pribumi pasti akan datang. Titik tolaknya telah ditakdirkan. Hanya …..kapan? itulah pertanyaan yang besar. Kita tidak dapat mempercepat saat meletusnya revolusi. Sungguh aneh bahwa dipelosok daerah pedalaman yang terpencil ini mengendap pikiran-pikiran memberontak itu. Teman-teman kami disini mengatakan, sebaiknya kami tidur saja dahulu barang 100 tahun-kalau kami bangun kembali, akan kami temukan tanah Jawa sebagai yang kami inginkan”.

Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 29 November 1901

“Bukan hanya suara-suara dari luar, dari Eropah yang sampai kepada saya yang menyebabkan saya ingin merobah keadaan sekarang ini. Sejak saya masih kanak-kanak, pada waktu kata „emansipasi? belum mempunyai arti apa-apa bagi saya dan tulisan-tulisan mengenai itu masih jauh diluar jangkauan saya, dalam hati saya sudah timbul keinginan kepada kemerdekaan, kebebasan dan untuk berdiri sendiri. Keadaan-keadaan disekitar saya, yang menghancurkan hati saya dan membuat saya menangis dalam kesedihan yang tak terhingga, telah membangkitkan keinginan itu”.

Pemikiran Raden Adjeng Kartini

Beberapa pemikiran Raden Adjeng Kartini dalam bidang pendidikan yaitu sebagai berikut:

  1. Pendidikan menjadikan seseorang menjadi cakap, baik, dan berbudi. Ini dimaksudkan pendidikan dapat membuat seseorang memiliki sikap yang baik, berbudi luhur, serta dapat diandalkan dalam kehidupan sosial.
  2. Pendidikan menyiapkan seseorang sanggup bermasyarakat, pendidikan dapat mempersiapkan seseorang untuk hidup dengan baik ditengah masyarakat.
  3. Pendidikan dapat menjadikan perempuan sebagai ibu rumah tangga, dan pengatur keuangan keluarga, serta pembantu yang baik, dalam Sulastin Sutrisno (2014:566) artinya pendidikan yang diberikan pada kaum perempuan dapat menjadi bekal para perempuan agar dapat mengurus rumah tangga dengan baik.
  4. Pendidikan yang pertama kali didapatkan anak berasal dari keluarga Armijn Pane dalam Muthoifin, Mohamad Ali, Nur Wachidah (2017:41) Keluarga merupakan pelopor pendidik bagi anak jadi sekolah menurut Raden Adjeng
    Kartini adalah orang tua yang baik hendaknya menjadi sumber pendidikan yang baik bagi anak sebelum sumber lainnya seperti sekolah.
  5. Ibu yang terdidik akan memberikan pendidikan serta kecerdasan budi yang baik bagi anak Sulastin Sutrisno (2014:566) dengan berpendidikannya kaum perempuan maka mereka dapat menurunkan kecerdasan dan prilaku baik terhadap anak mereka.
  6. Tidak membedakan pendidikan antara anak laki-laki dan perempuan Sulastin Sutrisno (2014:86) pendidikan yang baik tidak membedakan seseorang dari jenis kelamin karena pendidikan layak bagi siapa saja.
  7. Tenaga pendidik disekolah berperan sebagai orang tua bagi siswanya, hal ini dimaksudkan guru hendaknya dekat dengan siswa seperti layaknya orang tua mereka, agar pembelajaran dapat terlaksana dengan baik.
  8. Pendidikan budi pekerti tidak hanya diperuntukkan pada anak-anak, tetapi juga orang dewasa, Armijn Pane dalam Muthoifin, Mohamad Ali, Nur Wachidah (2017:41), orang dewasa seperti anak setingkat SMA maupun Universitas hendaknya juga mempunyai pendidikan budi pekerti yang baik.
  9. Pendidik dapat menggunakan metode dalam mengajar seperti, membaca dengan menarik Raden Ajeng Kartini dalam Muthoifin, Mohamad Ali, Nur Wachidah (2017:41). Ini diartikan bahwa metode penting untuk menarik minat belajar siswa.
  10. Pendidik dapat menggunakan metode, bernyanyi, mendongeng, dan permainan yang menarik minat belajar siswa, Armijn Pane dalam Muthoifin, Mohamad Ali, Nur Wachidah (2017:41). Sebelum menggunakan metode pada pembelajaran sebaiknya pendidik memilah terlebih dahulu metode apa yang cocok dengan pembelajaran.
  11. Materi umum dalam pendidikan berupa membaca dan menulis
  12. Pendidikan kejuruan bagi perempuan dapat berupa pendidikan rumah tangga, keterampilan, menjahit, merenda pendidikan kesehatan, serta pendidikan mengenai budi pekerti Armijn Pane dalam Muthoifin, Mohamad Ali, Nur Wachidah (2017:41). Hal ini dimaksudkan bahwa sekolah kejuruan bagi perempuan hendaknya memberikan ilmu tentang keterampilan dalam rumah tangga, pekerjaan jahit-menjahit, kesehatan dan budi pekerti.

Implementasi Pemikiran Raden Adjeng Kartini

Implementasi dari kepedulian Raden Adjeng Kartini terhadap pendidikan dan pembelajaran diwujudkan dengan berbepa hal diantaranya, mendirikan Sekolah Kartini, bersama adiknya Rukmini di tahun 1903, pada awalnya murid mereka hanya terdapat 9 orang namun kemudian bertambah. Materi pembelajarannya berupa menulis, membaca, merenda, menjahit, dan lainnya. Konsep pendidikan yang digagas oleh Raden Adjeng Kartini, adalah pendidikan tanpa kurikulum pemerintah, karena tujuannya bukan hanya tujuan pendidikan secara umum saja, namun juga pendidikan budi pekerti. Sekolah Kartini juga dibuka di wilayah Rembang. Namun setelah Raden Adjeng Kartini menikah maka sekolah pun ditutup karena keterbatasan dana secara finansial. Redja Mulyohardjo dalam Karlina Hudaidah (2020:40).

Setelah Raden Adjeng Kartini wafat, maka dilakukan pengumpulan sejumlah dana yang nanti digunakan untuk membangun Sekolah Kartini. Seperti yang pernah dicita-citakan Raden Adjeng Kartini sebelumnnya. Pada tahun 1913 didirikanlah Sekolah Kartini di daerah, pertama kali Semarang, Jakarta, kemudian di beberapa daerah lainnya. Sampai saat ini sekolah kartini masih tetap ada, yaitu Sekolah Kartini pertama di Semarang, yang sekarang menjadi SD Sarirejo Kartini Semarang, Bambang Eryudhawan dalam Muthoifin et al (2017:41-42).

Selanjutnya Implementasi pemikiran Raden Adjeng Kartini adalah berperan dalam memajukan bidang pendidikan Indonesia, hal ini merupakan suatu kontribusi wanita dalam sejarah Indonesia. Raden Adjeng Kartini berjuang, untuk mendobrak pemikiran masyarakat yang memprihatinkan pada saat itu. Membangun sekolah khusus wanita, membangun perpustakaan untuk anak-anak. Menciptakan pemikirannya serta menularkan semangat dalam memajukan pendidikan bangsa yang tertuang dalam buku karyanya “Door Duisternis Tot Licht” atau yang dikenal dengan buku “habis gelap terbitlah terang”.

Raden Adjeng Kartini membawa begitu banyak perubahan serta kemajuan bagi pendidikan di Indonesia. Raden Adjeng Kartini mengajarkan bahwa wanita hendaknyamemiliki pemikiran yang maju ke depan. Karena bagi Raden Adjeng Kartini pendidikan itu penting. Pendidikan nantinya akan meninggikan derajat serta martabat suatu bangsa. Raden Adjeng Kartini juga mengemukakan pentingnya pendidikan budi pekerti, atau yang kita sekarang sebut pendidikan karakter. Raden Adjeng Kartini mengatakan sekolah dibutuhkankan dalam memajukkan pendidikan bangsa, sekolah hendaknya dibarengi dengan pendidikan dalam keluarga. Menurut Raden Adjeng Kartini bagi tenaga pendidik atau guru hendaknya bukan hanya sekedar mengajar, tapi juga hendaknya menjadi pendidik. Dalam catatannya yang berjudul “Berilah Orang Jawa Pendidikan” Raden Adjeng Kartini mengatakan dengan tegas,

“Guru-guru memiliki tugas rangkap: menjadi guru dan pendidik! Mereka harus melaksanakan pendidikan rangkap itu, yaitu pendidikan pikiran dan budi pekerti”.

Jadi selain membangun sekolah, dan perpustakaan. Implementasi pemikiran Raden Adjeng Kartini juga tertuang dalam buku nya yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”, yang memuat tentang, gagasan, semangat, dan kata-kata motivasinya.