Diperbarui tanggal 7/06/2022

Biografi Ki Hadjar Dewantara

kategori Pendidikan Sejarah / tanggal diterbitkan 7 Juni 2022 / dikunjungi: 111 kali

Keluarga dan Masa Sekolah

Ki Hadjar Dewantara lahir dengan nama Soewardi Suryaningrat pada hari kamis 2 mei 1889. Beliau merupakan anggota keluarga keraton Pura Pakualam Yogyakarta yang merupakan salah satu kerajaan di Jawa Tengah. Soewardi Suryaningrat diberi gelar kebangsawanan Jawa Raden Mas khusus untuk seorang laki-laki keturunan ningrat dari keturunan kedua hingga ketujuh dari raja atau pemimpin terdekat yang pernah memerintah. Ki Hadjar Dewantara merupakan putra sulung dari gusti pengeran Haryo Suryaningrat dan Raden Ayu Sandiyah, beliau adalah cucu dari Sri Paku Alam III. Paku Alam III dikenal sebagai raja yang amat keras menentang pemerintah penjajahan Belanda. Oleh karena itu, setelah Sri Paku Alam III mangkat pada tahun 1864, maka pemerintah Belanda tidak menaikkan tahta kerajaan kepada Pangeran Suryaningrat dan keturunannya.

Keputusan Gubernur Hindia Jenderal Belanda tidak dapat dilawan oleh keluarga Pakualam, karena kedaulatan Pakualam pada masa itu telah jatuh ke dalam kekuasaan Belanda. Akhirnya, Pangeran Suryaningrat diberi penghidupan di luar istana, dalam sebuah puri untuk tempat tinggalmya. Jadi sejak kecil, Ki Hadjar Dewantara mulai dekat, mengenal pribumi dan terbiasa mengajak teman-temannya yang merupakan anak-anak pribumi untuk masuk ke pura pakualaman, misalnya untuk melihat pagelaran wayang kulit dan berbagai pertunjukkan kesenian lainnya. Beliau juga seringkali berkelahi dengan sinyo-sinyo Belanda yang menghina anak-anak pribumi. Itulah antara lain bukti sikap Ki Hadjar Dewantara yang merakyat dan mencintai sesama.

Ki Hadjar Dewantara merupakan keturunan bangsawan yang juga memiliki darah keturunan ulama. Beliau dididik dan dibesarkan dalam lingkungan sosio kultural dan religius. Setiap Jum’at beliau selalu melaksanakan sholat di mesjid bersama para ulama. Selain itu, Beliau juga banyak menerima ajaran agama Islam dari pangeran Suryaningrat. Ayah Ki Hadjar dikenal sebagai sosok yang religius dan sangat mementingkan ajaran syari’at tanpa hakikat adalah kosong, hakikat tanpa syari’at adalah batal*.

Hakikat senantiasa sejalan dengan syari’at, setiap syari’at yang tidak didukung oleh hakikat pelaksanaannya tidak akan diterima, setiap hakikat yang tidak dikaitkan dengan dengan syari’at pelaksanaanya tidak akan diterima. Dalam pandangan al-Qusyairi, syari’at adalah segala bentuk kewajiban yang harus dilaksanakan manusia, kewajiban tersebut bermaksud bentuk pengabdian terhadap Tuhan. Akan tetapi, pengabdian itu bukan semata-mata dalam bentuk melaksanakan perintah tanpa kandungan makna dan nilai. Makna dan nilai inilah yang enjadi hakikat pengabdian itu. Oleh sebab itu, jika syari’at kita mengabdi kepada tuhan, maka dengan hakikat kita menyaksikan makna dan nilai pengabdian itu. Pelaksanaan pengabdian yang tidak dibarengi dengan penghayatan dan nilai yang dikandungnya adalah pengabdian yang kosong dari makna, sementara penghayatan tanpa dibarengi dengan pelaksanaan pengabdian adalah tidak sah. Lihat Kautsar Azhari Noer, et al., 2015. Warisan Agung Tasawuf: Mengenal Karya Besar Para Sufi. Jakarta. Hlm 248.

Selain ajaran Islam, Ki Hadjar juga mendapat pelajaran berupa ajaran lama yang dipengaruhi oleh filsafat Hindu yang terserat dalam ceritera wayang serta mendalami pelajaran tentang seni sastra, gending, dan seni suara. Ki Hadjar Dewantara pernah mendapatkan pendidikan agama di pesantren Kalasan di bawah asuhan K.H. Abdurrahman. Menempuh pendidikan dasar di ELS Europesche Lagere School sekolah ini awalnya hanya dibuka bagi warga Belanda di Hindia Belanda. Namun sejak 1903, kesempatan belajar juga diberikan kepada rakyat pribumi yang mampu dan warga Tionghoa. Selesai mengenyam pendidikan di ELS Europesche Lagere School, beliau meneruskan sekolah di Kweekschool Sekolah Guru Belanda selama satu tahun.*

Sekolah umum yang ada pada masa Hindia Belanda yakni: Eurospeesch Lagere School ELS 1817 merupakan sekolah dasar pada masa kolonial Belanda yang diperuntukkan bagi keturunan Belanda, Eropa, maupun rakyat Indonesia golongan terpandang. Hollandsch Inlandsche School HIS 1914, merupakan sekolah yang mempunyai jenjang sama dengan sekolah dasar yang diperuntukkan bagi rakyat Indonesia keturunan bangsawan dan keturunan tokoh terkemuka. Hollandsch Chineesche Schol 1908 merupakan sekolah yang didirikan oleh kolonial untuk anak keturunan Tionghoa yang berada di Hindia Belanda. Meer Uitgebreid Lager Onderwijs MULO merupakan sekolah yang setara dengan sekolah menengah pertama. Algemenee Middelbare School AMS merupakan pendidikan menengah umum pada masa Hindia Belanda. Hoogere Burgerschool HBS merupakan lanjutan tingkat pertama untuk orang Belanda, Eropa, Tionghoa, dan rakyat Indonesia yang terpandang. Schakel School merupakan sekolah rakyat yang berada di daerah dengan masa studi 5 tahun. School Tot Opleiding Van Inlandsche Artsen STOVIA merupakan sekolah pendidikan dokter pada masa Hindia Belanda, yang diperuntukkan untuk membentuk dokter dari kalangan pribumi.

Kemudian pindah ke STOVIA yang merupakan Sekolah Dokter Bumi Putera dengan bantuan beasiswa dari keraton dan beliau mengenyam pendidikan di STOVIA selama 5 tahun. Ki Hadjar tidak sampai menamatkan pendidikannya di STOVIA dan terpaksa berhenti dikarenakan sakit selama empat bulan sehinga beasiswanya di cabut. Dibalik itu semua penyebab dikeluarkannya Soewardi dari Stovia lebih bersifat politis. Pencabutan beasiswa tersebut dilakukan sesaat setelah Soewardi mendeklamasikan sajak dalam sebuah pertemuan yang mana sajak itu menggambarkan keperwiraan Sentot Prawirodirdjo, panglima perang andalan Diponegoro. Sajak itu juga di terjemahkan dalam bahasa Belanda yang sangat indah.8 Setelah dikeluarkan dari STOVIA awalnya Soewardi bekerja pada Laboratorium Pabrik Gula Kalibogor, Banyumas. Kemudian beliau pindah ke Yogyakarta pada tahun 1911 bekerja sebagai pembantu apoteker di Rathkamp. Di samping itulah Soewardi mulai terjun dalam dunia Jurnalistik.

Kiprah Ki Hadjar Dewantara

A. Jurnalistik

Ki Hadjar Dewantara mengawali kiprahnya sebagai seorang jurnalistik yang handal. Kemampuan yang dimilikinya tersebut digunakan sebagai salah satu alat dalam memberikan pendidikan politik kepada rakyat dan tempat mencurahkan perasaan dan cita-cita perjuangannya. Pada awalnya Ki Hadjar sebagai pembantu harian Sedyo Tomo di Yogyakarta, surat kabar Midden Java di Semarang, dan sebagai koresponden De Express di Bandung 1912 di bawah pimpinan Douwes Dekker yang merupakan sahabat beliau. Soewardi menjadi anggota redaksi harian Kaoem moeda di bawah pimpinan A.H Wignyadisastra, pembantu utusan Hindia di Surabaya yang dipimpin oleh Tjokroaminoto dan membantu Tjahaya Timur di Malang yang dipimpin oleh Djokosudiro, beliau juga turut mengasuh majalah Het Tijdschrift yang diterbitkan di Bandung dibawah pimpinan Douwes Dekker.

jurnalistik merupakan salah satu alat dan lapangan perjuangannya, tempat mencurahkan perasaan dan semangat dalam mencita-citakan kemerdekaan tanah air. Melalui tulisan-tulisan beliau mencurahkan segala harapan terbaik untuk tanah air tercinta yang dibuktikan dalam tulisan pertama beliau yang terdapat dalam harian De Express dengan judul Kemerdekaan Indonesia. Sebagai seorang jurnalis Ki Hadjar Dewantara terbilang berhasil. Sebab tulisan-tulisan karangannya telah banyak membuka mata dan hati masyarakat pribumi akan pentingnya arti kemerdekaan, persatuan kebangsaan dan pentingnya memiliki jiwa nasionalisme.

B. Politik

Bagi Ki Hadjar Dewantara menjadi seorang politikus bukanlah sebuah cita-cita yang bisa menjadi bagian kebanggaan pada dirinya. Menjadi seorang politikus merupakan strategi yang beliau gunakan untuk mewujudkan cita-cita bangsa merebut kemerdekaan yang telah direnggut oleh para penjajah. Mengawali strategi dengan menjadi seorang jurnalistik kemudian Ki Hadjar juga memutuskan untuk terjun dalam ranah politik. Pada tahun 1908, Beliau aktif dalam seksi propaganda Budi Utomo dan Sarekat Islam untuk mensosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa. Terbentuknya Budi Utomo pada 20 Mei yang diumumkan oleh R. Sutomo dan Mas Gunawan Mangunkusumo di gedung STOVIA merupakan tindakan yang sangat berani. Sebab, kehadiran organisasi ini disambut dengan bahagia oleh pelajar-pelajar di luar STOVIA. Mereka mendirikan cabang-cabang Budi Utomo di tempatnya masing-masing. Kemudian beliau berkecimpung dalam organisasi Indische Partij. Indische Partij didirikan oleh Ernest Francois Eugene Douwes Dekker seorang indo Belanda, Ki Hadjar Dewantara dan Cipto Mangunkusumo yang dikenal dengan Tiga Serangkai di Bandung pada tanggal 6 september 1912. Berdirinya Indische Partij dipelopori oleh majalah berkala Het Tijdschrift yang di terbitkan De Express yang merupakan alat propaganda yang berisi aliran nasionalisme dan revolusioner sehingga dapat mempengaruhi dan dapat menggerakkan perasaan bangsa.

Indische Partij menanamkan benih-benih jiwa nasionalisme awal dengan sebuah pernyataan yang berbunyi Indio Voor die Indiors Hindia untuk orang-orang Hindia. Artinya, mengakui bahwa Hindia sebagai tanah airnya. Bahkan dalam anggaran Indische Partij disebutkan bahwa tujuan didirikannya Indische Partij adalah untuk membangun patriotisme bangsa Hindia. Yakni, kepada tanah air yang telah memberikan kehidupan, dan menganjurkan kerja sama berdasarkan persamaan sistem pemerintahan guna memajukan tanah air dan mempersiapkan kehidupan masyarakat yang merdeka. Usia Indische partij tidak bertahan lama pasalnya pada saat pendaftaran untuk mendapatkan status hukum pada pemerintah kolonial Belanda, pendaftaran tersebut langsung ditolak oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda yaitu gubernur Jenderal Alexander Willem Frederik Idenburg yang menjabat saat itu. Penolakan tersebut diutarakan dengan alasan bahwa Indische Partij dianggap dapat membangkitkan jiwa nasionalisme rakyat dan menggerakkan kesatuan rakyat untuk menentang pemerintahan kolonial Belanda.

Ki Hadjar Dewantara menjadi pusat perhatian ketika pemerintahan kolonial Belanda akan melaksanakan pesta perayaan 100 tahun kemerdekaan Nederland. Beliau mengutuk keras pesta perayaan yang akan diselenggarakan tersebut. Kekesalannya itu dituangkan dalam sebuah tulisan propaganda yang berjudul Als Ik Eens Nederlander Was Andaikan Aku Seorang Belanda yang diterbitkan oleh Comite Boemi Poetra yaitu sebuah komite yang dibentuk untuk menolak pesta perayaan kemerdekaan Belanda. Perayaan tersebut mewajibkan seluruh rakyat pribumi turut serta merayakan dan membiayai dengan pungutan dari rakyat. Menurut Ki Hadjar hal tersebut sangat tidak pantas, merayakan kemerdekaan bangsa di tengah-tengah rakyat yang dijajahnya dengan meminta rakyat turut serta membiayai pesta perayaan. Inti dari tulisan itu menyatakan bahwa sebagaimana orang Belanda yang mencintai tanah airnya maka dia pun akan mencintai tanah air ini dengan sepenuh hati. Berikut sebagian isi karangan Ki Hadjar:

"Andaikan aku seorang belanda, pada saat itu juga aku akan memprotes hajat untuk merayakan peringatan kemerdekaan belanda itu. Aku akan menulis di surat-surat kabar, bahwa hajat itu salah. Aku akan mengingat kawan-kawan setanah jajahan bahwa berbahayanya di saat ini mengadakan perayaan kemerdekaan itu. Aku akan memberi nasehat semua orang Belanda, yang kini mulai menunjukkan keberanian, dan mungkin akan berani bertindak pula. Sungguh aku akan protes dengan segala kekuatan yang ada padaku. Seandainya aku seorang belanda, aku tak akan sekali-kali merayakan pesta kemerdekaan di negeri yang masih terjajah”.

Tulisan Ki Hadjar yang sangat terang-terangan itu menimbulkan pro dan kontra. Lewat tulisan yang berisi tentang penghinaan yang bertubi-tubi itu ada dua orang dibalik layar yang berperan dalam membantu dan mendukung Ki Hadjar yaitu Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo. Mereka ikut serta berperan membantu menyebarkan tulisan propaganda Ki Hadjar. Pemerintah kolonial Belanda tak diam begitu saja menerima penghinaan tersebut dan segera mengambil tindakan akibat kekhawatiran terhadap dampak dari tulisan itu. Pemerintah kolonial memutuskan untuk menangkap Soewardi beserta rekan tiga serangkainya Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo dan dalam waktu yang singkat mereka diancam dengan hukuman buang. Dalam surat keputusan diputuskan bahwa Soewardi dibuang ke Bangka, Tjipto Mangunkusumo dibuang ke Banda Neira sedangkan Douwes Dekker dikirim ke Kupang, Timor. Mereka lebih memilih opsi terakhir, yaitu mendapatkan hukum pembuangan di Negeri Belanda dengan pertimbangan akan lebih bermanfaat.

Bagi Ki Hadjar Dewantara kepergiannya ke Belanda merupakan kesempatan dan kemungkinan untuk dapat mengembangkan pengetahuan, bakat dan jiwa dengan dasar-dasar yang luas. Di tempat pengasingan beliau berusaha memupuk bakat dan seni serta mengembangkan bakat menulisnya. Dalam hal tersebut untuk memperdalam ilmu jurnalistiknya beliau belajar di S.de Roode pemimpin surat kabar Het Volk, dan Mr. Weising pemimpin surat kabar De Nieuwe Amsterdammer. Kemudian bakat seninya dikembangkan dengan cara mempelajari seni drama dari seorang ahli seni drama yakni Herman Klopper. Selain itu, selama di Belanda Ki Hadjar Dewantara juga bergabung dalam Indische Vereeniging atau perhimpunan Mahasiswa Indonesia di negeri Belanda. Beliau menjadi redaktur majalah Hindia Putera yang merupakan majalah resmi dari Indische Vereeniging dan majalah De Indier dari Indische Partij serta terus membantu surat-surat kabar di Tanah Air.

Sangat jelas dari kegiatan-kegiatan Ki Hadjar Dewantara menunjukkan bahwa kewartawanan dan bakat mengarangnya merupakan alat atau senjata dalam meneruskan dan mewujudkan cita-cita politik nasional yang pada awal kelahirannya tertindas oleh pemerintah kolonial di tanah air tercinta. Sekembalinya Ki Hadjar Dewantara ke tanah air pada tahun 1919 beliau kembali menghadap Pengurus Besar Nationaal Indische Partij di Bandung, Soewardi langsung diberikan tugas baru yaitu sebagai Sekretaris Nationaal Indische Partij. Tidak lama kemudian beliau diangkat menjadi ketua organisasi tersebut. Ketika di dalam partai Nationaal Indische Partij muncul ketidaksesuaian pemahaman di antara pemimpin-pemimpin lainnya mengenai sikap terhadap pemerintah kolonial, ditambah lagi perkembangan nasionalisme di kalangan para anggota sudah sangat merosot, Ki Hadjar Dewantara memilih jalan baru untuk melanjutkan perjuangannya dalam bidang politik.

C. Pendidikan

Kondisi tanah air pada tahun 1921 semakin memburuk pasalnya gubernur jenderal Van Limburg Stirum 1916-1921 diganti oleh Fock 1921-1926 yaitu seorang pemimpin yang memiliki paham liberalisme* ditambah lagi dengan akibat dari perang dunia II yang menyebabkan perekonomian dunia mengalami kekacauan bahkan amerika Serikat sampai ketakutan jika pihak komunis akan mempengaruhi negara-negara yang sedang mengalami kesulitan. Hal tersebut tentu saja juga berakibatkan pada kondisi perekonomian tanah air yang semakin memburuk ditambah lagi dengan adanya pergolakan-pergolakan yaitu aksi pemogokan pegawai pegadaian, pegawai Kereta Api, pegawai pelabuhan Surabaya. Seluruh pergolakan dan permasalahan yang sedang menerpa maka pemerintahan Hindia Belanda mengadakan Kongres. Di dalamnya Soewardi Soeryaningrat ikut membuka suara dalam kongres tersebut.

Paham Liberalisme merupakan paham yang berkembang dari akar-akar rasionalisme yaitu paham yang mendasarkan pada rasio sebagai sumber kebenaran tertinggi, meterialisme yang meletakkan materi sebagai nilai tertinggi, serta individualisme yang meletakkan nilai dan kebebasan individu sebagai nilai tertinggi dalam segala aspek kehidupan masyarakat dan negara.

Ki Hadjar Dewantara bersama para pejuang kemerdekaan kemudian melakukan pertimbangan dan memutuskan untuk mendirikan lapangan pekerjaan kepada istri-istri para pemogok, mengorganisasikan pengajaran praktis, perniagaan dan kerajinan kaum laki-laki pemogok yang diberinya nama Komite Hidup Merdeka dengan anggota pimpinannya terdiri para pemimpin pergerakan yang bukan anggota Partai Komunis Indonesia. Akan tetapi, usaha yang dilakukan tersebut dicurigai oleh pemerintah kolonial Belanda padahal komite belum sampai tujuh hari bekerja, rumah Ki Hadja Dewantarar, kantor-kantor tempat beliau bekerja, kantor pusat Adhi Dharma yang dibangun oleh kakaknya, dan juga kantor Komite Hidup Merdeka di jaga ketat oleh polisi. banyaknya rintangan dan kegagalan yang dialaminya. Mulai terlihat adanya perubahan haluan dan pandangan Soewardi Surjaningrat yang beralih dari seorang politikus praktis menuju ke arah aktivitas seorang ahli kebudayaan dan pendidikan. 

Pada tanggal 3 juli 1922 Soewardi bersama rekan-rekan seperjuangannya mendirikan sebuah perguruan yang bercorak nasionalisme, yaitu Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Taman Siswa. Ada cerita unik dibalik keputusan Ki Hadjar untuk lebih memfokuskan diri ke bidang pendidikan sehingga mendirikan perguruan Tinggi Tamansiswa. Bahwasanya pada agustus 1920 Soewardi Soeryaningrat sedang mengalami hukuman penjara di Pekalongan dan mendapatkan izin untuk menjenguk istrinya yang sedang sakit akibat pendarahan berat usai melahirkan anak ke 3 nya. Sang istri Sutartinah mengingatkan atas gagasan Soewardi yang pernah beliau sampaikan kepada K.H. Dahlan di Semarang 1919, yang mengatakan bahwa harus ada Perguruan Nasional yang mendidik kader-kader untuk menentang penjajah.

Pendidikan di Perguruan Taman Siswa sangat menekankan pada pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik agar mereka mencintai bangsa dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Konsep pendidikannya bersifat pribumi, yaitu non-pemerintah dengan memadukan pendidikan gaya Eropa yang modern dengan seni-seni Jawa Tradisional. Perpaduan tersebut dikarenakan anggapan soewardi terhadap pendidikan barat yang dianggap dapat membuat siswanya mengalami desorientasi kepada masyarakat dan bisa menghasilkan orang-orang yang meninggalkan akar kebudayaan. Beliau juga dengan tegas menolak pendidikan yang terlalu mengutamakan intelektualisme dan mengorbankan aspek kejiwaan para siswa karena pendidikan ditawarkan oleh pemerintah kolonial hanya akan membuat pribumi lupa akan kebudayaannya dan hanya membuat pribumi menjadi tenaga terampil bagi kepentingan kolonial.

Revolusi pendidikan yang dilakukan oleh Ki Hadjar Dewantara dengan mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa ini merupakan revolusi untuk melawan pendidikan sistem kolonial dan merupakan sebuah antitesanya. Revolusi pendidikan yang dibangun Ki Hadjar Dewantara bernuansa politik anti kolonialisme dan diwujudkan dalam tiga bentuk yakni, tujuan pendidikan, pedagogi, dan isi. Ki hadjar Dewantara memutuskan untuk mengganti namanya yang mana gelar kebangsawanan Raden Mas yang masih melekat pada dirinya ditanggalkan tepat pada tanggal 23 Februari 1928. Beliau mengganti namanya pada saat usianya tepat menginjak 40 tahun menurut hitungan tahun Caka*.

Hitungan caka atau Kalender saka adalah sebuah kalender yang berasal dari India. Kalender ini merupakan sebuah penanggalan syamsiah-kamariah Canda Surya atau kalender luni solar. Era saka dimulai pada tahun 78 masehi.

Raden Mas Soewardi Suryaningrat berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara hal tersebut tampak bahwa beliau benar-benar seorang pendidik sejati. Setelah nama Ki Hadjar Dewantara beliau gunakan, tiba-tiba muncul kecenderungan pada diri Ki Hadjar Dewantara. Beliau merasa kehilangan radikalismenya yang pernah menggemparkan Hindia Belanda melalui tulisannya Als Ik Nederlander Was Andaikan Aku Seorang Belanda. Beliau juga berubah menjadi sosok yang lebih kooperatif dan lebih memilih lapangan kebudayaan dibandingkan aktivitas politik. Sejak mendirikan Taman Siswa mulai dari situlah berkembangnya tingkat satuan pendidikan di Taman Siswa mulai dari taman kanak-kanak yaitu Taman Indriya, sekolah dasar yaitu Taman Muda, sekolah setingkat SMP Sekolah Menengah Pertama yaitu Taman Dewasa, sekolah setingkat dengan SMA Sekolah Menengah Atas yaitu Taman Madya, serta sekolah seperti SMK pada saat ini yaitu Taman Karya Madya dan Sarjanawita atau Perguruan Tinggi. Ki Hadjar Dewantara dapat dibilang sukses dalam mendirikan Taman Siswa sebab Taman Siswa sudah banyak memiliki cabang di berbagai tempat di tanah air bahkan sampai saat ini.

Dalam membina taman siswa banyak sekali rintangan yang dihadapi oleh Ki Hadjar Dewantara. Usaha-usaha yang dilakukan beliau melalui Taman Siswa memang bergaung secara nasional dan membangkitkan jiwa kebangsaan di kalangan rakyat pribumi. Dibalik keseriusannya dalam mencurahkan perhatiannya dalam dunia pendidikan di Taman Siswa beliau tetap rajin menulis namun tema tulisannya sudah sangat berbeda dari yang sebelumnya, dari politik mengarah ke pendidikan dan kebudayaan berwawasan kebangsaan. Kemudian pada tahun 1930 Ki Hadjar Dewantara memutuskan untuk mewakafkan seluruh perguruan Taman Siswa Kepada Persatuan Taman Siswa. Usaha Ki Hadjar Dewantara dalam memajukan pendidikan telah membawa pengaruh terhadap perkembangan pendidikan di Indonesia dewasa ini. Dimana sekolah-sekolah Taman Siswa tersebar diberbagai daerah di pulau jawa bahkan sampai ke luar pulau Jawa.

Pada masa pendudukan jepang di Indonesia, Ki Hadjar Dewantara tetap melanjutkan kegiatan dibidang politik dan pendidikan. Ketika pemerintah pendudukan Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat atau Putera pada tahun 1943, Ki Hadjar Dewantara menjadi salah seorang pimpinan di samping Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, dan K.H. Mas Mansyur. Setelah memasuki zaman kemerdekaan Ki Hadjar Dewantara diberikan jabatan penting dalam pemerintahan yaitu sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan yang pertama dibawah pimpinan presiden Ir. Soekarno.

Akhir Hayat dan Prestasi Ki Hadjar Dewantara

Pada tahun 1957-1959 Ki Hadjar Dewantara menghabiskan masa tua di rumahnya yang terletak di jalan Timoho Yogyakarta. Pada saat rapat pamong Taman Siswa tahun 1958 yakni satu tahun sebelum kepergiaannya Ki Hadjar menyampaikan bahwa beliau menginginkan rumahnya dimuseumkan. Dua bulan sebelum meninggal Presiden Soekarno sempat menjenguk Ki Hadjar Dewantara. Beliau bercerita kepada Presiden Soekarno perihal sakit yang dideritanya berdasarkan hasil pemeriksaan dokter kolonel Inf. Dr. Suaryo, Mayor Inf. Dr. Supanji, dan Kapten Udara dr. Malikul Saleh. Dokter-dokter memberikan harapan kepada Ki Hadjar Dewantara bahwa beliau akan segera sembuh. Namun Ki Hadjar yakin akan ada batas akhir dari kehidupannya. Ki Hadjar Dewantara sebelum wafat pernah berwasiat kepada anaknya Bambang Soekamti yang berbunyi:

“Mbang, apapun yang dikatakan orang tentang diriku kau wajib menerimanya. Namun, kalau suatu ketika ada orang meminta pendapatmu, apakah Ki Hadjar seorang nasionalis, radikalis, sosialis, humanis, tradisionalis ataupun demokrat? Maka katakanlah, aku hanya orang Indonesia biasa yang bekerja untuk bangsa Indonesia dengan cara Indonesia”.

Wasiat yang sangat menyentuh hati itu menunjukkan keistimewaan dan ketulusan hati Ki Hadjar Dewantara. Bahwa keringat dan perjuangannya hanyalah semata-mata untuk bangsa dan tanah air tercinta. Ki Hadjar Dewantara tidak menginginkan dirinya disanjung dan dikenang sebagai orang hebat dan banyak berjasa untuk Indonesia melainkan semua perjuangannya adalah atas dasar kewajibannya selaku putera bangsa serta sebagai tanda cinta yang teramat dalam kepada bangsa Indonesia.

Ki Hadjar Dewantara wafat pada 26 April 1959 pukul 19:30 di Jogjakarta dalam usia 70 tahun. Jenazah beliau dimakamkan di pekuburan keluarga Taman Siswa Jogjakarta. Ribuan orang merasa kehilangan sosok pahlawan yang sangat berwibawa, para pelayat datang dari berbagai tempat untuk menghadiri upacara pemakaman Ki Hadjar Dewantara. Kepergian Ki Hadjar Dewantara untuk selama-lamanya menyisakan kesedihan yang mendalam bagi bangsa Indonesia. Pada upacara pemakaman Ki Hadjar Dewantara, Menteri Pendidikan Kebudayaan menyampaikan Pidato belasungkawa atas nama pemerintah pusat Indonesia. Isi Pidato tersebut sebagai berikut:

“. . .Pemerintah merasa kehilangan seorang mahaputera yang perasaannya, pikirannya, perkataannya dan perbuatannya selalu merupakan keselarasan dan tak pernah bertentangan satu sama lain. Seluruh perbuatannya yang tak pernah mendustai pe;ajaran-pelajarannya itulah yang menyebabkan Ki Hadjar menjadi pemimpin dan pendidik yang sukar dicari taranya”.

Beliau meneruskan:

“jika presiden kita Bung Karno mengatakan bahwa revolusi kemerdekaan kita itu adalah revolusi mencari kepribadian kita sendiri, maka sudah lamalah Ki Hadjar mulai mencari kepribadian Indonesia itu. Kepribadian yang mengandung arti harga diri atau harkat kemanusiaan itulah yang menyebabkan Ki Hadjar tidak pernah mengacungkan tangannya untuk minta bantuan atau subsidi dari pemerintah kolonial untuk perguruan nasionalnya. Ki Hadjar telah wafat, tetapi namanya, jiwanya semangatnya akan tetap hidup ditengah-tengah kita”.

Pidato diatas menunjukkan bahwa Ki Hadjar Dewantara merupakan sosok yang begitu dicintai bangsa Indonesia berkat perjuangan dan kegigihan beliau dalam mendidik putera-puteri Indonesia mencapai tujuan Indonesia Merdeka lahir dan batin. Ki Hadjar Dewantara mempersembahkan jiwa dan raganya untuk kepentingan nusa dan bangsa Indonesia. Atas segala jasanya itu Ki Hadjar Dewantara mendapat penghargaan dari pemerintah dan masyarakat. Pemerintah Republik Indonesia memberikan penghormatan dan penghargaan sebagai berikut:

  1. Ditetapkan sebagai perintis kemerdekaan 8 maret 1955
  2. Mendapat gelar doctor honoris causa dalam ilmu kebudayaan dari universitas Gadjah Mada atas pertimbangan karena jasanya yang sangat besar terhadap nusa bangsa Indonesia dalam lapangan kebudayaan 19 Desember 1955.
  3. Pada waktu wafatnya diangkat sebagai Perwira Tinggi secara anumerta dengan pemakaman negara secara militer 26 april 1959.
  4. Diangkat oleh presiden Republik Indonesia sebagai Pahlawan Nasional 28 November 1959.
  5. Oleh pemerintah Indonesia hari lahirnya 2 Mei ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional 16 Desember 1959.
  6. Oleh presiden Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia dianugerahi Bintang Mahaputera tingkat I atas jasanya yang luar biasa pada nusa dan bangsa 17 Agustus 1960.
  7. Oleh presiden Republik Indonesia dianugerahi gedung pahlawan, bersama-sama dengan pemberian kepada Dr. Ratulangi dan Samanhudi dan sembilan orang pahlawan nasional lainnya 27 November 1961.
  8. Selain itu oleh Persatuan Wartawan Indonesia dua hari setelah wafatnya Ki Hadjar Dewantara diangkat secara anumerta sebagai Ketua Kehormatan PWI atas jasanya di kalangan Jurnalistik 28 April 1959.

Tentu bukan dengan anugerah-anugerah yang disematkan itu saja Ki Hadjar Dewantara mendapatkan kehormatan. Tetapi, dengan pemikiran dan hasil dari perjuangannya itu diterima, diakui dan diamalkannya segala ajaran hidup yang dituangkan dalam wadah Taman Siswa dengan asas dan sistem pendidikan oleh generasi penerus bangsa dan oleh segenap bangsa Indonesia semua itu merupakan suatu kehormatan bagi Ki Hadjar Dewantara.

Daftar Pustaka

Abdullah, Taufik dan Abdurrahman. 1985. Ilmu Sejarah dan Historiografi. Jakarta: PT Gramedia.

Acetylena, Sita. 2018. Pendidikan Karakter Ki Hadjar Dewantara. Malang: Madani.

Agung, Leo.2016. Sejarah Intelektual.Yogyakarta: Ombak.

Dewantara, Ki Hajar. 2011. Bagian Pertama Pendidikan.Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.

Dewantara, Ki Hadjar. 2015. Tamansiswa Badan Perjuangan Kebudayaan dan Pendidikan Mengusir Penjajah dan Memanusiakan Manusia. Yogyakarta:UST Press.

Dewantara. Ki Hadjar. 2009. Menuju Manusia Merdeka. Yogyakarta: Leutika Djaja, Wahyudi. 2015. Sejarah Eropa dari Eropa Kuno Hingga Eropa Modern. Yogyakarta: Ombak.

Eka Novianti, Upik Dyah. 2012. Ki Hadjar Dewantara Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Yogyakarta: Arti Bumi Intaran.

Garvey, Brian dan Krug, Mary. 2015. Model-Model Pembelajaran Sejarah di Sekolah Menengah. Yogyakarta: Ombak.

Octaniati, Ovi. 2019. Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam Bidang Pendidikan 1922-1957. [Skripsi]. Universitas Jambi

Rahardjo, Suparto. 2018. Ki Hajar Dewantara Biografi Singkat 1889- 1559. Jogjakarta: Garasi.

Surjomihardjo, Abdurrachman.1986. Ki Hadjar Dewantara dan Taman Siswa dalam Sejarah Indonesia Modern. Jakarta: Sinar Harapan.

Soeratman, Darsiti. 1983. Ki Hadjar Dewantara. Jakarta: Proyek Inventaris dan Dokumentasi Sejarah Nasional.

Soewito, Hadi. 1991. Soewardi Soerjaningrat dalam Pengasingan. Jakarta: Balai Pustaka

Wiryopranoto, Suhartono dkk. 2017. Ki Hadjar Dewantara Perjuangan Dan Pemikirannya. Jakarta: Museum Kebangkitan Nasional.