Diperbarui tanggal 30/04/2022

Berpikir Kreatif

kategori Belajar dan Pembelajaran / tanggal diterbitkan 17 Desember 2021 / dikunjungi: 502 kali

Proses Berpikir

Menurut Danarjati (2013) mengemukakan bahwa pikiran adalah gagasan dan proses mental. Berpikir memungkinkan seseorang untuk mempresentasikan dunia sebagai model dan memberikan perlakuan terhadapnya secara efektif sesuai dengan tujuan, rencana dan keinginan. Berpikir melibatkan manipulasi otak terhadap informasi, seperti saat kita membentuk konsep, terlibat dalam pemecahan masalah, melakukan penalaran, dan membuat keputusan. Menurut Soemanto dalam Irham dan Wiyani (2013) mengatakan pada dasarnya aktivitas atau kegiatan berpikir merupakan sebuah proses yang kompleks dan dinamis. Sedangkan menurut Irham dan Wiyani (2013) proses dinamis dalam berpikir mencakup tiga tahapan, yaitu proses pembentukan pengertian, proses pembentukan pendapat dan proses pembentukan keputusan. Bepikir bagi siswa pada hakikatnya merupakan kemampuan siswa untuk menyeleksi dan menganalisis bahkan mengkritik pengetahuan yang ia peroleh. Berpikir juga tidak lepas dari usaha mengadakan penyesuaian pemahaman atau atas informasi baru dengan informasi yang sudah dimilikinya sebagai sebuah pengetahuan.

Suryabrata (2004) mengatakan bahwa proses atau jalannya berpikir pada pokoknya ada tiga langkah yaitu:

  1. pembentukan pengertian,
  2. pembentukan pendapat,
  3. penarikan kesimpulan.

Iskandar (2012) juga berpendapat, bahwa kemampuan berpikir merupakan kegiatan penalaran yang reflektif, kritis dan kreatif, yang berorientasi pada suatu proses intelektual yang melibatkan pembentukan konsep, aplikasi, analisis, menilai informasi yang terkumpul atau dihasilkan melalui pengamatan, pengalaman, refleksi atau komunikasi sebagai landasan kepada satu keyakinan dan tindakan. Proses berpikir itu sendiri dapat kita golongkan kedalam dua jenis, yaitu berpikir asosiatif dan berpikir terarah. Berpikir asosiatif adalah proses berpikir dimana suatu ide merangsang timbulnya ide-ide lain. Jalan pikiran dalam proses berpikir kreatif tidak ditentukan atau diarahkan sebelumnya. Jenis berpikir ini disebut juga jenis berpikir divergen . Sedangkan berpikir terarah adalah berpikir yang sudah ditentukan sebelumnya dan diarahkan pada sesuatu, biasanya diarahkan pada pemecahan suatu persoalan. Jenis berpikir seperti ini dikatakan juga jenis berpikir konvergen. Berpikir terarah diperlukan dalam memcahkan persoalan. Ada dua macam strategi umum dalam memecahkan persoalan yaitu: (i) strategi menyeluruh, disini permasalahan dipandang sebagai suatu keseluruhan dan dicoba dipecahkan dalam rangka keseluruhan itu, (ii) strategi detailistis, disini persoalan dibagi-bagi dalam bagian-bagian dan dicoba dipecahkan bagian demi bagian (Sarwono, 2010).

Proses Berpikir Kreatif

Berpikir kreatif yaitu kemampuan mengembangkan ide yang tidak biasa, berkualitas dan sesuai tugas. Salah satu aspek intelegensi adalah kemampuan mendefenisikan kembali permasalahan secara efektif dan berpikir mendalam. Kemampuan berpikir mendalam terkait dengan perolehan pengetahuan dalam tiga bentuk yaitu penguraian selektif, yakni membedakan informasi yang relevan dan tidak relevan, kombinasi selektif yakni menggabungkan beberapa informasi yang relevan secara baru. Perbandingan selektif, yakni mengaitkan informasi yang baru dengan informasi lama dengan cara yang unik (Sani, 2014).

Menurut Torrance kemampuan berfikir kreatif terbagi menjadi tiga hal, yaitu :

  1. Fluency (kelancaran), yaitu menghasilkan banyak ide dalam berbagai kategori/ bidang.
  2. Originality (Keaslian), yaitu memiliki ide-ide baru untuk memecahkan persoalan.
  3. Elaboration (Penguraian), yaitu kemampuan memecahkan masalah secara detail.

Sedangkan Guilford menyebutkan lima indikator berfikir kreatif, yaitu:

  1. Kepekaan (problem sensitivity), adalah kemampuan mendeteksi , mengenali, dan memahami serta menanggapi suatu pernyataan, situasi, atau masalah.
  2. Kelancaran (fluency), adalah kemampuan untuk menghasilkan banyak gagasan.
  3. Keluwesan (flexibility), adalah kemampuan untuk mengemukakan bermacam-macam pemecahan atau pendekatan terhadap masalah.
  4. Keaslian (originality), adalah kemampuan untuk mencetuskan gagsan dengan cara-cara yang asli, tidak klise, dan jarang diberikan kebanyakan orang.
  5. Elaborasi (elaboration), adalah kemampuan menambah suatu situasi atau masalah sehingga menjadi lengkap, dan merincinya secara detail, yang didalamnya terdapat berupa tabel, grafik, gambar, model dan kata-kata.

Sedangkan menurut Munandar dalam Idris (2015) Indikator Kreativitas adalah sebagai berikut:

  1. Memiliki rasa ingin tahu yang besar
  2. Sering mengajukan pertanyaan yang berbobot
  3. Memberikan banyak gagasan dan usul terhadap suatu masalah
  4. Mampu menyatakan pendapat secara spontan dan tidak malu-malu
  5. Mempunyai/menghargai rasa keindahan
  6. Mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya, tidak mudah terpengaruh orang lain
  7. Memiliki rasa humor tinggi
  8. Mempunyai daya imajinasi yang kuat
  9. Mampu mengajukan pemikiran, gagasan pemecahan masalah yang berbeda dari orang lain (orisinil)
  10. Dapat bekerja sendiri
  11. Senang mencoba hal-hal baru
  12. Mampu mengembangkan atau merinci suatu gagasan (kemampuan elaborasi)

Menurut Csikzentmihalyi (1996) dalam Mulyadi, dkk (2016: 256-257) ciri-ciri kepribadian kreatif antara lain:

  1. Pribadi kreatif mempunyai kekuatan energi fisik yang memungkinkan mereka bekerja berjam-jam dengan konsentrasi penuh, tetapi mereka juga bisa tenang dan rileks, bergantung pada situasinya.
  2. Pribadi kreatif cerdas dan cerdik, tetapi pada saat yang sama mereka juga naïf. Mereka mampu berpikir konvergen dan divergen.
  3. Ciri paradoksal ketiga berkaitan dengan kombinasi antara sikap bermin dan disiplin.
  4. Pribadi kreatif dapat berselang-seling antara imajinasi dan fantasi, namun tetap bertumpu pada realitas.
  5. Pribadi kreatif menunjukkan kecenderungan baik introversi maupun ekstroversi.
  6. Orang kreatif dapat bersikap rendah diri dan bangga akan karyanya pada yang sama.
  7. Pribadi kreatif menunjukkan androgini psikologis, yaitu mereka dapat melepaskan diri dari stereotip gender (maskulin-feminim).
  8. Orang kreatif cenderung mandiri bahkan suka menentang tetapi dilain pihak mereka bisa tetap sangat objektif dalam penilaian karyanya.
  9. Kebanyakan orang kreatif sangat bersemangat (passionate) bila menyangkut karya mereka, tetapi juga sangat objektif dalam penilaian karyanya.

Wallas dalam Danim (2013: 137) mengemukakan empat tahapan proses kreatif, yaitu persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi. Selaras dengan Wallas, Walgito (2010: 208) mengemukakan bahwa dalam berpikir kreatif ada beberapa tingkatan atau stages sampai seseorang memperoleh sesuatu hal yang baru atau pemecahan masalah. Tingkatan-tingkatan itu adalah:

  1. Persiapan (preparation), yaitu tingkatan seseorang memformulasikan masalah, dan mengumpulkan fakta-fakta atau materi yang dipandang berguna dalam memperoleh pemecahan yang baru. Ada kemungkinan apa yang dipikirkan itu tidak segera memperoleh pemecahannya, tetapi soal itu tidak hilang begitu saja, tetapi masih terus berlangsung dalam diri individu yang bersangkutan. Hal ini menyangkut fase atau tingkatan kedua yaitu inkubasi.
  2. Tingkat inkubasi, yaitu berlangsungnya masalah tersebut dalam jiwa seseorang, karena individu tidak segera memperoleh pemecahan masalah.
  3. Tingkat pemecahan atau iluminasi, yaitu tingkat mendapatkan pemecahan masalah
  4. Tingkat evaluasi, yaitu mengecek apakah pemecahan yang diperoleh pada tingkat iluminasi itu cocok atau tidak. Apabila tidak cocok lalu meningkat pada tingkat berikutnya yaitu
  5. Tingkat revisi, yaitu mengadakan revisi terhadap pemecahan yang diperolehnya.

Karakteristik berpikir kreatif

Adapun karakteristik berpikir kreatif menurut Munandar (dalam Asrori, 2015) adalah:

  1. Senang mencari pengalaman baru
  2. Memiliki keasyikan dalam mengerjakan tugas-tugas yang sulit
  3. Memiliki inisiatif
  4. Memiliki ketekunan yang tinggi
  5. Cenderung kritis terhadap orang lain
  6. Berani menyatakan pendapat dan keyakinannya
  7. Selalu ingin tahu
  8. Peka atau perasa
  9. Enerjik dan ulet
  10. Menyukai tugas-tugas yang majemuk
  11. Percaya kepada diri sendiri
  12. Mempunyai rasa humor
  13. Memiliki rasa keindahan
  14. Berwawasan masa depan dan penuh imajinasi

Menurut Guilford dalam (Munandar, 2009) mengemukakan ciri-ciri dari kreativitas antara lain:

  1. Kelancaran berpikir (fluency of thinking), yaitu kemampuan untuk menghasilkan banyak ide yang keluar dari pemikiran seseorang secara cepat. Dalam kelancaran berpikir, yang ditekankan adalah kuantitas, dan bukan kualitas.
  2. Keluwesan berpikir (flexibility), yaitu kemampuan untuk memproduksi sejumlah ide, jawaban-jawaban atau pertanyaan-pertanyaan yang bervariasi, dapat melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda-beda, mencari alternatif atau arah yang berbeda-beda, serta mampu menggunakan bermacam-macam pendekatan atau cara pemikiran.
  3. Elaborasi (elaboration), yaitu kemampuan dalam mengembangkan gagasan dan menambahkan atau memperinci detail-detail dari suatu objek, gagasan atau situasi sehingga menjadi lebih menarik.
  4. Originalitas (originality), yaitu kemampuan untuk mencetuskan gagasan unik atau kemampuan untuk mencetuskan gagasan asli.

Keterampilan berpikir kreatif yang diukur dalam penelitian ini mencakup semua aspek yaitu: sensitivity (kepekaan), fluency (berpikir lancar), flexibility (berpikir luwes), originality (orisinalitas berpikir), dan elaboration (penguraian).

Menurut Munandar (2012) berpikir divergen (juga disebut berpikir kreatif) ialah memberikan macam-macam kemungkinan jawaban berdasarkan informasi yang diberikan dengan penekanan pada keragaman jumlah dan kesesuaian. Adapun indikator kemampuan berpikir kreatif menurut Munandar (2012) yaitu sebagai berikut;

Tabel Indikator Berpikir Kreatif

IndikatorPerilaku
Keterampilan berpikir lancara. Menghasilkan banyak gagasan/jawaban yang relevan
b. Arus pemikiran lancar
Keterampilan berpikir luwes (fleksibel)a. Menghasilkan gagasan-gagasan yang seragam
b. Mampu mengubah cara atau pendekatan
c. Arah pemikiran yang berbeda
Keterampilan berpikir orisinila. Meberikan jawaban yang tidak lazim
b. Memberkan jawaban yang lain dari pada yang lain
c. Memberikan jawaban yang jarang diberikan kebanyakan orang
Keterampilan berpikir terperinci (elaborasi)a. Mengembangkan, menambah, memperkaya suatu gagasan
b. Memperinci detail-detail
c. Memperluas suatu gagasan

Proses berpikir kreatif pada seseorang atau siswa akan dapat dicirikan dan dapat dilihat dari hasilnya. Orang-orang yang kreatif dalam berpikir akan mampu memandang sesuatu hal yang sama dari sudut pandang yang berbeda dari pandangan orang pada umumnya. Kaitannya dengan kreativitas dalam berpikir, pada umumnya melibatkan proses berpikir yang kompleks. Proses berpikir orang- memandang stimulus dari sisi dan sudut pandang yang berbeda. Proses berpikir seperti ini disebut juga proses berpikir devergen atau menyebar (Irham dan Wiyani, 2013).

Adapun tahap-tahap berpikir kreatif menurut Irham dan Wiyani (2013) yaitu sebagai berikut:

  1. Tahap persiapan, yaitu ketika bahan-bahan atau pengetahuan dikumpulkan dan disusun terus menerus dalam memori individu.
  2. Tahap inkubasi yaitu ketika atas dasar bahan-bahan yang terkumpul lama kemudian memunculkan aspek-aspek pernyataan yang berbeda dan kreatif tetapi masih samar-samar.
  3. Tahap pemahaman yaitu ketika pemahaman dan penemuan hal yang berbeda dan terjadi sangat tiba-tiba

Tabel. Indikator Berpikir Kreatif Menurut Irham dan Wiyani

IndikatorPerilaku
Keterampilan berpikir orisinalMemberikan jawaban yang berbeda dari yang lain
Kemampuan berpikir detailMenambahkan ide-ide yang baru, berpikir yang dilakukan dengan cara-cara baru yang tdak dapat dikira sebelumnya

Menurut Iskandar (2012) berpikir kreatif dapat dilihat dari dua komponen penting;

  1. Suatu kelompok kemampuan yang digunakan untuk memproses atau melahirkan informasi dan kepercayaan.
  2. Suatu kebiasaan, yang terbentuk berlandaskan komitmen intelektual, dalam menggunakan kemampuan tersebut untuk menjadi landasan kepada perilaku manusia.

Tabel. Indikator Berpikir Kreatif Menurut Iskandar

IndikatorPerilaku
Kemampuan melahirkan informasi dan kepercayaanMemberikan informasi yang baru, rasa ingin tahu dan merasa percaya untuk melahirkan informasi-informasi yang baru
Kemampuan bersikap merasa tertantangMemberikan jawaban yang berbeda dengan yang lain dan merasa tertantang untuk menimbulkan ide-ide yang baru

Berpikir kreatif adalah salah satu perwujudan dari berpikir tingkat tinggi (higherorder thinking), rangkaian/aksi yang terjadi di dalam mental/pikiran siswa yang dapat diamati melalui prilaku yang tampak berupa cara memecahkan masalah yang diberikan dengan mengacu pada: (1) kefasihan (fluency), (2) fleksibilitas, dan (3) kebaruan. Selanjutnya kefasihan dalam pemecahan masalah diartikan sebagai kemampuan siswa memecahkan masalah dengan beragam cara yang benar. Beberapa jawaban masalah dikatakan beragam, bila jawaban-jawaban tampak berlainan akan tetapi mengikuti pola tertentu, atau memiliki ide yang sama.

Fleksibilitas dalam pemecahan masalah diartikan sebagai kemampuan siswa memecahkan masalah dengan berbagai cara yang berbeda dan benar. Beberapa jawaban masalah dikatakan berbeda, jika jawaban-jawaban tampak berlainan, tidak mengikuti pola yang sama atau tidak memiliki ide yang sama. Kebaruan dalam pemecahan masalah diartikan sebagai kemampuan siswa menjawab masalah yang “tidak biasa” dilakukan oleh siswa pada tingkat pengetahuannya atau jawaban yang diberikan belum pernah diperoleh sebelumnya. Tidak pernah diperoleh sebelumnya diartikan: tidak pernah diajarkan oleh gurunya, tidak pernah dipelajari lewat buku, atau internet, dan tidak pernah didiskusikan dengan teman-temannya (Alimuddin, 2009).

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa berpikir merupakan kemampuan setiap orang dalam mengambil keputusan, sebelum bertindak untuk melakukannya. Proses berpikir tersebut tentunya tidak terlepas dari berbagai pertimbangan dengan baik. Dari uraian di atas peneliti berpendapat bahwa kemampuan berpikir kreatif merupakan cara seseorang dalam mengemukakan suatu gagasan pendapat dengan cara yang menarik serta dapat pula dijadikan pedoman. Berdasarkan uraian diatas pula, adapun indikator-indikator kemampuan berpikir kreatif menurut peneliti yaitu sebagai berikut:

  1. Kemampuan berpikir lancar
  2. Kemampuan berpikir luwes
  3. Kemampuan berpikir orisinil
  4. Kemampuan berpikir detail (elaborasi)
  5. Rasa ingin tahu
  6. Bersikap merasa tertantang

Daftar Pustaka

Munandar, U., 2012, Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: PT. Rineka Cipta. 

Nurlaela, L. dan Ismayati, E., 2015, Strategi Belajar Berpikir Kreatif. Yogyakarta: Penerbit Ombak. 

Sudarma, M., 2016, Mengembangkan Keterampilan Berpikir Kreatif. Depok: PT Rajagrafindo Persada. 

Sugilar, H., 2013, Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif dan Disposisi Matematik Siswa Madrasah Tsanawiyah Melalui Pembelajaran Generatif, Jurnal Ilmiah Program Studi Matematika STKIP Siliwangi Bandung. 2(2):156-168. 

Wijaya, B. W. K. I., Suastra, W. I., dan Muderawan, W. I., 2014, Pengaruh Model Pembelajaran Generatif Terhadap Keterampilan Berpikir Kreatif dan Keterampilan Proses Sains, E-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha, 4: 1-11.