Diperbarui tanggal 15/04/2022

Audit

kategori Akuntansi / tanggal diterbitkan 15 April 2022 / dikunjungi: 104 kali

Pengertian Audit

Audit merupakan suatu kegiatan mengumpulkan bukti tentang informasi dalam laporan keuangan kemudian menelusuri dan mengungkapkan informasi yang sebenarnya. Menurut Enofe et al., (2013) audit merupakan pemeriksaan laporan keuangan perusahaan yang dilakukan secara independen. Jensen dan Meckling (1967) menyatakan audit merupakan proses untuk mengawasi pihak manajer dalam membuat laporan keuangan dan memberikan hasil yang sesuai kepada pemegang saham (Pramaswaradana dan Astika, 2017). Syarat informasi yang ada dalam laporan keuangan itu harus reliabel dan relevan. Dalam era sekarang, semakin banyak yang membutuhkan jasa auditor independen untuk melakukan audit laporan keuangan perusahaan dan ini menjadikan kebutuhan pokok sebelum melakukan pengambilan keputusan berbisnis. Para pengguna laporan keuangan tidak bisa menilai kebenaran informasi yang ada dalam laporan keuangan jika tidak menggunakan jasa auditor independen (Pramaswaradana dan Astika, 2017).

Seorang auditor memerlukan pengetahuan khusus seperti ilmu akuntasi, pengetahuan dalam audit, dan industri klien untuk bisa melaksanakan tugasnya dalam melakukan audit. Ada tiga standar audit yang dapat dijadikan pedoman dalam mengaudit laporan keuangan yaitu standar umum, standar pekerjaan lapangan, dan standar pelaporan (IAPI, 2011). Standar audit ini sangat berkaitan dengan beberapa aspek penting seperti perencanaan, pengawasan, pendeteksi kecurangan, penentuan resiko, peningkatan kredibilitas, dan pemberian kepuasan klien. Dengan adanya standar audit yang berlaku dapat membuat auditor lebih bertanggung jawab sehingga dapat meningkatkan keyakinan klien terhadap auditor (Pramaswaradana dan Astika, 2017).

Auditing merupakan suatu proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai pernyataan-pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi. Dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan – pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta penyampaian hasil – hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan (Mulyadi, 2014). Agoes (2012:3) mendefinisikan auditing sebagai suatu pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan sistematis oleh pihak yang independen, terhadap laporan keuangan yang telah dilakukan disusun oleh manajemen, beserta catatan-catatan pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya, dengan tujuan untuk dapat memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut. Audit adalah pemeriksaan laporan keuangan perusahaan oleh perusahaan akuntan publik independen. Definisi tersebut dapat diuraikan menjadi 7 elemen yang harus diperhatikan dalam melaksanakan audit, yaitu: 1) Proses yang sistematis; 2) Menghimpun dan mengevaluasi bukti secara objektif; 3) Asersi-asersi tentang berbagai tindakan dan kejadian ekonomi; 4) Menentukan tingkat kesesuaian (degree of correspondence); 5) Kriteria yang ditentukan; 6) Menyampaikan hasil-hasilnya; dan 7) Para pemakai yang berkepentingan (Primantara dan Rasmini, 2015).

Kualitas Audit

DeAngelo (1981) mendefinisikan kualitas audit sebagai kemampuan auditor mendeteksi kesalahan pada laporan keuangan dan melaporkannya kepada pengguna laporan keuangan tersebut. Peluang mendeteksi kesalahan tergantung pada kompetensi auditor sedangkan keberanian auditor melaporkannya adanya kesalahan pada laporan keuangan tergantung pada independensi auditor. Kompetensi diukur dari kemampuan auditor misalnya tingkat pengalaman, spesialisasi dan lain-lain, sedangkan independensi diukur dari sejauh mana auditor dapat bersikap independen dalam melakukan proses audit dan memberikan opini (Anggraita dkk, 2016).

Kualitas audit merupakan probabilitas seorang auditor dalam mendeteksi dan mengungkapkan apabila terdapat pelanggaran dalam sistem akuntansi kliennya. Seorang auditor dapat dikatakan berkualitas jika mampu menemukan dan berani mengungkapkan adanya unsur kesalahan dalam laporan keuangan. Edosa et al., (2013) menyatakan bahwa kualitas yang dimiliki auditor dapat dilihat jika dapat ditemukan adanya kesalahan saji dalam laporan keuangan perusahaan (Prameswaradana dan Astika, 2017). Kim et al. (2002) dalam Siregar (2011) mengukur kualitas audit dengan menggunakan pendekatan kualitas laba. Semakin tinggi kualitas laba perusahaan berarti kualitas audit juga semakin tinggi begitu juga sebaliknya. Dengan akrual diskresioner yang tinggi mengindikasikan adanya kecurangan akuntansi atau manajemen laba. Kualitas audit diukur dengan besaran akrual diskresioner.

Akrual diskresioner juga memiliki dua elemen, yakni permasalahan disebabkan oleh pelaporan menajer yang agresif dan oportunis serta komponen informasi yang membuat manajer mengkomunikasikan informasi privatnya. Auditor yang berkualitas tinggi lebih suka menghalangi dan menemukan praktek akuntansi yang diragukan, dan melaporkan kesalahan material dan yang tidak memenuhi aturan dibandingkan dengan auditor yang berkualitas rendah. Karena auditor yang berkualitas tinggi memiliki pengalaman, sumber daya dan insentif memisahkan komponen informasi dari kesalahan, mereka dapat mempertinggi informasi mengenai discretionary accrual dengan mengurangi pelaporan akrual yang agresif dan oportunis oleh manajemen (Nadia, 2015).

Dari sudut pandang auditor, audit dianggap berkualitas apabila auditor memperhatikan standar umum audit yang tercantum dalam Pernyataan Standar Audit meliputi mutu profesional (professional qualities) auditor independen, pertimbangan (judgement) yang digunakan dalam pelaksanaan audit, dan penyusunan laporan audit. Dalam pelaksanaan audit, seorang auditor harus mempunyai kemampuan teknikal (kompetensi) dari auditor yang terpresentasi dalam pengalaman maupun profesi dan kualitas auditor dalam menjaga sikap mentalnya (independensi) supaya mampu menciptakan hasil audit yang berkualitas (Utami, 2016).

Persaingan Kantor Akuntan Publik (KAP) untuk menciptakan kualitas dari hasil audit semakin ketat, kualitas audit tidak hanya dipengaruhi oleh faktor internal, melainkan juga dipengaruhi oleh faktor eksternal. Faktor eksternal dari kualitas audit yang digunakan dalam penenlitian ini, yaitu kosentrasi pasar, audit tenure, fee audit, dan reputasi KAP.

Konsentrasi Pasar Audit

Konsentrasi pasar audit telah menjadi perhatian dalam beberapa kali penelitian, karena jumlah perusahaan audit besar telah menurun dari delapan menjadi enam di tahun 1989, menjadi lima di tahun 1998 akibat merger, dan menjadi empat pada tahun 2002 setelah kematian Arthur Andersen. Dalam satu negara, variasi konsentrasi pasar audit dapat diperoleh dari pasar yang tersegmentasi oleh ukuran klien atau industri. Menurut Maulidi, Afifudin dan Junaidi (2016), bahwa konsentrasi adalah yang terpusat dari suatu persaingan dalam industri yang sama. Konsentrasi pasar audit adalah pusat dari persaingan pasar dalam bidang audit.

Di dunia pasar jasa audit awalnya dikuasai oleh 8 Kantor Akuntan Publik (KAP) besar atau yang dikenal sebagai “Big 8” yang kemudian berkurang jumlahnya menjadi enam di tahun 1989 dan menjadi lima ditahun 1998, terakhir menjadi empat dengan dibubarkannya KAP Arthur Andersen pada tahun 2002. Pembubaran Arthur Andersen disebabkan KAP ini terbukti bersalah karena menutup-nutupi skandal keuangan yang dilakukan Enron salah satu klien terbesarnya. Arthur Andersen pada saat itu dinilai terlalu agresif dalam memperluas pangsa pasarnya sehingga mempengaruhi kualitas audit yang dihasilkan (Arthur Andersen memiliki pangsa pasar jasa audit tertinggi di Amerika Serikat sebelum dibubarkan). Salah satu studi di Amerika menunjukan bahwa Arthur Andersen menghasilkan kualitas audit yang paling buruk dibandingkan 4 KAP besar lainnya. Adanya pembubaran Arthur Andersen ini tidak menyebabkan penurunan konsentrasi pasar audit di Amerika. Hal ini ditunjukkan dari hasil studi GAO pada tahun 2002 dimana KAP Big 4 internasional menguasai 96% total audit fee yang dibayarkan oleh perusahaan publik di Amerika dan mengalami sedikit penurunan di 2005 menjadi 94% (Anggraita dkk, 2016).

Adanya skandal yang melibatkan Arthur Andersen ditambah lagi dengan kondisi konsentrasi pasar audit yang tinggi di Amerika Serikat karena konsolidasi KAP seperti dijelaskan sebelumnya, menyebabkan kekhawatiran regulator di Amerika mengenai pengaruhnya terhadap kualitas audit. Dimana diduga adanya tingkat konsentrasi pasar yang tinggi menyebabkan penurunan kualitas audit karena KAP (auditor) tidak ingin kehilangan klien sehingga menjadi kaki tangan klien dan menurunkan kualitas audit yang dihasilkan. Sarbanex Oxley (SOX) kemudian memandatkan GAO (Government Accountability Office) untuk melakukan studi mengenai implikasi dari konsolidasi KAP tersebut terhadap tingkat persaingan (pasar jasa audit), pilihan klien, fee audit, kualitas audit dan independesi auditor. Namun demikian hasil dari penelitian GAO ini masih belum konklusif (Anggraita dkk, 2016). Di Indonesia pasar jasa audit dikuasai oleh empat KAP besar yang merupakan affiliasi dari KAP Big 4 internasional. Penelitian Arfiansyah dan Siregar (2010) menggunakan total aset klien audit menunjukan empat KAP besar (yang berafiliasi dengan Big 4) di tahun 2000 menguasai 94% pasar audit di Indonesia yang kemudian mengalami penurunan menjadi 86% ditahun 2002 lalu naik kembali menjadi 88% ditahun 2005. Angka ini menunjukan bahwa pasar jasa audit di Indonesia memiliki tingkat konsentrasi yang tinggi.

Peningkatan konsentrasi pasar dalam suatu industri merupakan hambatan bagi perusahaan yang baru masuk dan keengganan dari klien untuk mengganti penyedia barang atau jasanya, penetapan harga yang tinggi oleh penyedia barang atau jasa. Untuk industri audit sendiri, konsekuensi dari peningkatan konsentrasi pasar akan mengakibatkan berkurangnya pilihan bagi pengguna jasa. Pada pasar audit, banyak pilihan KAP merupakan suatu kebutuhan karena beberapa pengguna jasa audit merasa lebih nyaman menggunakan KAP yang tidak memiliki hubungan dengan pesaing mereka. Dengan semakin sedikitnya pilihan KAP yang dapat dipilih maka akan menimbulkan masalah sendiri pada pasar Audit di Indonesia (Maulidi, Afifudin dan Junaidi, 2016).

Dalam membahas mengenai konsentrasi pasar suatu industri selalu terkait dengan pembahasan mengenai struktur pasar, dan dalam membahas struktur pasar tidak dapat dilepaskan dari paradigma struktur perilaku kinerja yang berlaku dalam teori ekonomi industri. Dalam teori ekonomi industri, struktur pasar akan menentukan perilaku dari perusahaan dalam suatu pasar. Dan perilaku dari perusahaan-perusahaan tersebut akan menetukan barbagai aspek dari kinerja suatu pasar (Maulidi, Afifudin dan Junaidi, 2016).

Audit Tenure

Audit tenure atau masa perikatan audit dapat mempengaruhi kualitas audit. Masa perikatan audit sempat menjadi perdebatan publik. Apabila masa perikatan yang dilakukan dalam waktu lama akan membuat kedekatan yang berlebihan antara klien dan auditor sehingga independensi dan objektivitas auditor nantinya akan menurun. Pernyataan tersebut serupa dengan penelitian Al-Thuneibat et al., (2011) yang menyatakan masa perikatan cukup lama dapat mempengaruhi objektivitas auditor dalam bekerja. Jika dilakukan dalam waktu singkat akan membuat auditor kurang maksimal dalammemperoleh informasi dan memahami lingkungan perusahaan klien. Hamid (2013) menyatakan bahwa masa perikatan yang singkat membuat auditor kekurangan waktu untuk memahami lingkungan bisnis klien sehingga kurang mampu menilai informasi secara lebih baik (Pramerwaradana dan Astika, 2017).

Regulasi yang mengatur audit tenure berdasarkan pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 17/PMK.01/2008 yakni mengenai pembatasan masa pemberian jasa oleh Akuntan Publik dan KAP. Hal ini sesuai dengan yang tertera pada pasal 3 ayat 1 yang menyatakan bahwa pemberian jasa audit umum atas laporan keuangan suatu entitas oleh KAP tertentu adalah selama 6 (enam) tahun buku berturut-turut, serta 3 (tiga) tahun berturut-turut oleh seorang Akuntan Publik (Praptika dan Rasmini, 2016). Audit tenure merupakan masa perikatan auditor yang memberikan jasa audit dengan jangka waktu yang telah disepakati dengan kliennya. Audit tenure diukur dengan cara menghitung jumlah tahun perikatan auditor dari KAP yang sama terhadap auditee, tahun pertama perikatan dimulai dengan angka 1 dan ditambah dengan satu untuk tahun-tahun berikutnya. Informasi ini dilihat dilaporan auditor independen selama beberapa tahun untuk memastikan lamanya auditor KAP yang mengaudit perusahaan tersebut (Utami, 2016).

Audit Fee

Audit fee adalah pendapatan yang diberikan klien kepada auditor sebagai upah jasa melakukan audit. Cara mengukurnya menggunakan proksi jasa professional yang ada dalam laporan keuangan kemudian dihitung menggunakan logaritma natural. (Prameswaradana dan Astika, 2017). KAP dalam penentuan fee tetap berpatokan pada peraturan IAPI No. 2 Tahun 2016 bagian kedua tentang kebijakan penentuan imablan jasa. Menurut peraturan IAPI No. 2 Tahun 2016 bagian kedua tentang kebijakan penentuan imbalan jasa adalah:

  1. Setiap anggota yang bertindak sebagai pemimpin Rekan dan/atau Rekan Akuntan publik pada KAP harus menetapkan kebijakan sebagai dasar untuk menghitung besarnya imbalan jasa.
  2. Kebijakan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dapat mencakup:
    1. Besaran tarif Imbalan Jasa Standar per jam untuk masing-masing tingkatan staf auditor
    2. Kebijakan penentuan harga untuk penentuan harga yang berbeda dan tarif Imbalan Jasa Standar, dan
    3. Metode penentuan jumlah keseluruhan Imbalan Jasa yang akan ditagihkan keada entitas yang dituangkan dalam sautu surat perikatan.
  3. Metode Penentuan jumlah keseluruhan Imbalan Jasa sebagaimana yang dimaksud ayat 2 huruf c dapat menggunakan:
    1. Jumlah keseluruhan yang bersifat lumpsum;
    2. Jumlah yang ditentukan berdasarkan realisasi penggunaan jam kerja personil atau komposit tim perikatan.

Pemberian imbalan jasa atau fee sesuai keinginan dapat memotivasi auditor untuk meningkatkan kinerjanya dalam mengaudit laporan perusahaan. Jika semakin besar imbalan yang diberikan klien kepada auditor dapat membuat auditor memaksimalkan kemampuannya dalam melakukan audit dan memperbaiki kinerjanya menjadi lebih baik. Jika imbalan yang diberikan kecil dapat membuat auditor menjadi tidak termotivasi untuk meningkatkan kemampuan dan melaksanakan tugas dengan baik. Besarnya imbalan yang akan diberikan klien kepada auditor tergantung dari kemampuan dan keahlian yang dimiliki auditor, serta tarif jasa yang dikenakan oleh auditor tersebut (Pramaswaradana dan Astika, 2017).

Reputasi KAP

Reputasi KAP dapat mempengaruhi perusahaan untuk melakukan perpindahan auditor. Karena perusahaan biasanya akan mencari KAP yang kredibiltasnya tinggi untuk meningkatkan kredibilitas laporan keuangan di pihak eksternal sebagai pemakai laporan keuangan. Selain itu, perusahaan audit yang lebih bedar umumnya dianggap sebagai penyedia kualitas audit yang tinggi dan memiliki reputasi yang tinggi di lingkungan bisnis. Semakin tinggi perusahaan audit seperti Big 4 maka semakin tinggi pula perusahaan untuk mempertahankan auditor (Aprianti, 2016).

Reputasi perusahaan klien merupakan ukuran untuk menentukan besar kecilnya perusahaan klien yang dihubungkan dengan financial perusahaan. Dimana perusahan yang besar dipercayai dapat menyelesaikan kesulitan-kesulitan keuangan yang dihadapinya daripada perusahaan kecil. Sehingga dapat dikatakan bahwa ukuran perusahaan klien mempengaruhi auditor switching. Karena perusahaan klien yang lebih besar karena kompleksitas usaha dan peningkatan pemisahan antara manajemen dan kepemilikan, permintaan yang sangat tinggi bagi perusahaan audit independen untuk mengurangi biaya keagenan. Selain itu, karena ukuran perusahaan klien meningkat kemungkinan jumlah konflik agen uga meningkat sehingga meningkatkan permintaan untuk kualitas audit (Aprianti, 2016). Reputasi KAP dalam penelitian ini mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Panjaitan dan Chariri (2014), yaitu reputasi KAP diukur dengan menggunakan variabel dummy, artinya reputasi KAP diberikan nilai 1 untuk perusahaan yang diaudit oleh KAP Big 4 dan nilai 0 untuk perusahaan yang diaudit oleh KAP Non Big 4.

Pengaruh Kosentrasi Pasar terhadap Kualitas Audit

Pada pasar audit, banyaknya pilihan KAP merupakan suatu kebutuhan karena beberapa pengguna jasa audit merasa lebih nyaman menggunakan KAP yang tidak memiliki hubungan dengan pesaing mereka. Dengan semakin sedikitnya pilihan KAP yang dapat dipilih maka akan menimbulkan masalah tersendiri. Hasil studi GAO pada tahun 2002 dimana KAP Big 4 internasional menguasai 96% total audit fee yang dibayarkan oleh perusahaan publik di Amerika dan mengalami sedikit penurunan di 2005 menjadi 94% (Aggraita dkk, 2016). Aggraita, dkk (2016) menjelaskan konsentrasi pasar yang diukur dengan menggunakan jumlah klien berpengaruh mempengaruhi kualitas audit (tingkat akrual diskresioner), sedangkan pengukuran dengan menggunakan total aset klien tidak berpengaruh terhadap kualitas audit. Ini berarti di Indonesia tingkat konsentrasi pasar audit yang lebih rendah menunjukan tingkat persaingan yang lebih tinggi. Tingkat persaingan yang tinggi menyebabkan peningkatan peluang klien untuk berganti auditor sehingga meningkatkan biaya melaporkan kecurangan klien bagi auditor akibatnya kualitas audit berkurang.

Pengaruh Audit Tenure terhadap Kualitas Audit

Hubungan antara auditor dengan klien seharusnya mampu mengakomodasi kualitas audit yang optimal. Masa perikatan yang terlalu singkat waktunya dapat menyebabkan pengetahuan spesifik tentang klien masih sedikit sehingga kualitas audit rendah. Jika terlampau panjang bisa menyebabkan turunnya independensi dan obyektivitas akibat keakraban berlebihan antara kedua pihak (Kurniasih dkk, 2014).

Penelitian Kurniasih dkk (2014) menemukan bahwa audit tenure berpengaruh terhadap kualitas audit. Semakin lama terjalin perikatan antara klien dan auditor, maka kualitas audit akan semakin rendah. Perusahaan yang diaudit oleh auditor KAP non Big 4 memiliki rata-rata tenure auditor lebih besar daripada perusahaan yang diaudit oleh auditor KAP Big 4. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan yang diaudit oleh auditor KAP non Big 4 memiliki kecenderungan masa perikatan yang lebih panjang, sehingga dapat menyebabkan timbulnya hubungan yang terlalu dekat antara auditor dengan klien. Hubungan yang terjalin antara auditor dengan klien yang terlalu dekat dapat menurunkan sikap independensi auditor dan mengurangi profesionalisme kerja dari auditor tersebut, sehingga hasil audit rendah.

Pengaruh Audit Fee terhadap Kualitas Audit

Audit fee adalah honorarium yang dibebankan oleh akuntan publik kepada perusahaan auditee atas jasa audit yang dilakukan akuntan publik terhadap laporan keuangan. Penetapan biaya audit yang dilakukan oleh KAP berdasarkan perhitungan dari biaya pokok pemeriksaan yang terdiri dari biaya langsung dan tidak langsung. Biaya langsung terdiri dari biaya tenaga yaitu manager, supervisor, auditor junior dan auditor senior. Sedangkan biaya tidak langsung seperti biaya percetakan, biaya penyusunan komputer, gedung dan asuransi. Setelah dilakukan perhitungan biaya pokok pemeriksaan maka akan dilakukan tawar menawar antar klien yang bersangkutan dengan kantor akuntan publik (Widiarti, 2017).

Pembayaran imbalan jasa kepada auditor dilakukan setelah selesai melakukan tugasnya. Imbalan yang diberikan berdasarkan atas perjanjian yang telah dibuat sebelumnya. Semakin besar upah yang diberikan, maka auditor semakin terdorong untuk meningkatkan kemampuan dan kinerjanya sehingga mendatangkan hasil yang baik. Penelitian dari Kurniasih dkk (2014) menyatakan bank serta perusahaan besar yang ada di Lebanon berani memberikan upah yang besar kepada auditor demi menjamin informasi yang diperoleh nanti hasilnya akurat sehingga secara tidak langsung dapat juga meningkatkan kredibilitas laporan tahunan dari perusahaan tersebut.

Pengaruh Reputasi KAP terhadap Kualitas Audit

DeAngelo (1981) menyatakan bahwa kualitas audit dari akuntan publik dapat dilihat dari ukuran KAP yang melakukan audit. KAP besar (Big 4 accounting firms) diyakini melakukan audit lebih berkualitas dibandingkan dengan KAP kecil (Non-Big 4 accounting firm). Namun pada tahun 2001, terjadi kasus financial statement fraud di Enron dan juga beberapa kasus lainnya. Dalam kasus-kasus tersebut akuntan publik yang mengaudit termasuk kantor akuntan publik yang berukuran besar dan memiliki reputasi yang baik. Kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa tidak semua kantor akuntan publik yang berukuran besar melakukan audit yang berkualitas tinggi (Nindita, 2012). Febriyanti (2014) menjelaskan bahwa terdapat pengaruh antara reputasi Kantor Akuntan Publik dan kualitas audit. KAP besar pasti akan menghasilkan audit yang lebih berkualitas karena auditor yang tergabung dalam KAP besar memiliki pengalaman yang lebih banyak dengan klien yang beragam, sehingga mereka mampu menghasilkan audit yang lebih berkualitas.