Diperbarui tanggal 30/04/2022

Adversity Quotient

kategori Belajar dan Pembelajaran / tanggal diterbitkan 30 April 2022

Pengertian Adversity Quotient (AQ)

Adversity quotient (AQ) adalah suatu teori yang dicetuskan oleh Paul G.Stoltz, Ph.D, seorang President of PEAK Learning Incorporated yang meraih gelar doktor dalam bidang komunikasi dan pengembangan organisasi. Stoltz juga telah menjadi konsultan dan pemimpin dalam bidang pemikiran untuk berbagai macam organisasi di seluruh dunia. Konsep IQ (intelligence quotient) telah lama dianggap sebagai penentu kesuksesan, namun ternyata beberapa orang dengan IQ tinggi tidak sedikit yang mengalami kegagalan. Setelah konsep IQ terkenal, Daniel Goleman memperkenalkan konsep baru mengenai kecerdasan, yaitu EQ atau emotional quotient (Mulyana dan Huda, 2018).

Menurut Stoltz (2000) adversity quotient adalah suatu kemampuan untuk mengubah hambatan menjadi peluang keberhasilan mencapai tujuan.AQ mengungkap seberapa jauh seseorang mampu bertahan menghadapi kesulitan yang dialaminya. AQ juga mengungkap bagaimana kemampuan seseorang untuk mengatasi kesulitan tersebut. AQ memprediksi siapa yang mampu dan siapa yang tidak mampu dalam mengatasi kesulitan. Adversity quotient (AQ) merupakan suatu bentuk kecerdasan yang melatarbelakangi kesuksesan seseorang dalam menghadapi sebuah tantangan disaat terjadi kesulitan atau kegagalan. Penelitian tentang adversity quotient ini berawal dari keberagaman dunia kerja yang terlalu kompleks dengan persaingan yang cukup tinggi sehingga banyak individu merasa stress menghadapinya. Individu yang mengalami hal tersebut dikarenakan kendali diri, asal usul dan pengakuan diri, jangkauan serta daya tahan yang kurang kuat dalam menghadapi kesulitan dan permasalahan yang dirasa cukup sulit dalam hidupnya. Biasanya berakhir dengan kegagalan sehingga menjadi individu yang dirasa cukup sulit dalam hidupnya. Biasanya berakhir dengan kegagalan sehingga menjadi individu yang tidak kreatif dan produktif (Tarma,dkk, 2009).

Stoltz membagi manusia menjadi tiga kategori yaitu quitters, campers dan climbers.The Quitter merupakan sekelompok orang yang melarikan diri dari tantangan. The Camper diibaratkan sebagai kelompok yang sedang dalam perjalanan naik gunung namun berhenti di tengah jalan. Climbers merupakan sekelompok orang yang selalu menghadapi tantangan. Terdapat lima komponen Adversity Quotient yang sering disebut dengan CO2RE. Control(C) merupakan kendali. C mengungkap sejauh mana seseorang dapat mengendalikan dan merasakan suatu kejadian yang sulit. Origin and Ownership (O2) adalah bagaimana seseorang memandang suatu masalah dengan mencari sebab dan penyelesaian atas masalah tersebut. Reach (R) mengukur seberapa jauh suatu kesulitan akan menjangkau pada aspek aspek kehidupan seseorang. Endurance (E) berarti daya tahan merupakan suatu ukuran dari daya tahan dengan meninjau seberapa lama kesulitan akan bertahan dalam hidupnya. Delapan faktor yang mempengaruhi Adversity Quotient yaitu daya saing, produktivitas, kreativitas, motivasi, mengambil resiko, perbaikan, ketekunan dan belajar (Suprihatin dan Azaria, 2017).

Menurut Stoltz (2000), aspek-aspek adversity quotient terdiri atas empat yaitu:

  1. Control (Kendali), kemampuan seseorang mengendalikan perasaan terhadap permasalahan yang dihadapi. Pada situasi ini individu diharapkan mampu merasakan kesulitan yang terjadi, serta mengambil seluruh tantangan secara lebih berani dan optimal.
  2. Origin dan Ownership, origin sendiri berkaitan dengan rasa bersalah. Individu yang memiliki adversity quotient yang rendah, cenderung menempatkan rasa bersalah yang tidak semestinya atas peristiwa buruk yang terjadi. Dapat dikatakan bahwa individu tersebut menempatkan dirinya sebagai satu-satunya penyebab atau asal-usul dari kesulitan yang dialami.
  3. Reach (jangkauan), aspek ini mempertanyakan sejauh mana kesulitan akan menjangkau bagian lain dari kehidupan individu.
  4. Endurance (ketahanan), ketepatan dan kecepatan seseorang dalam memecahkan masalah. Semakin tinggi adversity quotient seseorang pada tahap ini akan memandang kesuksesan sebagai sesuatu yang bertahan lama

Adapun dimensi dan indicator adversity quotient dijabarkan di dalam berikut ini:

DimensiIndikator
Control (Kendali)
  • Mampu mengendalikan emosi
  • Mampu melihat kesulitan sebagai tantangan untuk maju
  • Mampu menghadapi kesulitan
Origin dan Ownership (Asal-usul dan pengakuan
  • Mampu menemukan penyebab kesulitan terjadi
  • Mampu mengakui kesalahan jika ia salah
  • Berani bertanggung jawab dengan keputusan yang diambil