Diperbarui tanggal 1/Des/2021

Problematika

kategori Umum / tanggal diterbitkan 1 Desember 2021 / dikunjungi: 35.76rb kali

Pengertian Problematika

Istilah problema/problematika berasal dari bahasa Inggris yaitu "problematic" yang artinya persoalan atau masalah. Adapun masalah itu sendiri adalah “suatu kendala atau persoalan yang harus dipecahkan dengan kata lain masalah merupakan kesenjangan antara kenyataan dengan suatu yang diharapkan dengan baik, agar tercapai hasil yang maksimal” (Djaali, 2009:29).

Syukir (1983:65) mengemukakan problematika adalah suatu kesenjangan yang mana antara harapan dan kenyataan yang diharapkan dapat menyelesaikan atau dapat diperlukan. Dalam kehidupan, manusia menghadapi masalah yang hatus dicari penyelesaiannya. Masalah yang sering timbul adalah seseorang yang selalu berusaha memenuhi kenutuhan jasmani dan rohani. Jika semua atau sebagian kebutuhan-kebutuhan itu dapat dipenuhi dan yang bersangkutan terhindar dari gangguan-gangguan dalam usaha memenuhi kebutuhan itu, dapatlah dikatakan bahwa kehidupannya berjalan lancar. Sebaliknya, jika ia menemui kegagalan dalam pemenuhan kebutuhan itu maka ia akan berada dalam keadaan tidak seimbang. Ketidak seimbangan itu menimbulkan bermacam-macam masalah yang dapat mengganggu kelancaran hidup.

Dari keterangan diatas penulis menarik kesimpulan problematika adalah berbagai persoalan-persoalan sulit yang dihadapi dalam proses pemberdayaan, baik yang datang dari faktor intern atau ekstern. Dalam hal ini perlu pemecahan atau penyelesaian agar masalah dapat diatasi.

Jenis Problematika

Hampir setiap siswa mengalami problematika dalam proses belajar mengajar yang sedang berlangsung dan terkadang ia sendiri tidak mampu untuk mengatasinya. Ia memerlukan bantuan orang lain untuk mengatasinya. Djumbur M. Surya (dalam Muhibbin, 1997:36) mengemukakan bahwa jenis masalah yang dialami siswa, sekurang-kurangnya dapat digolongkan atas enam kelompok masalah yaitu :

  1. Masalah pengajaran atau belajar, maksudnya adalah problematika yang dialami oleh seseorang guru sehubungan dengan kegiatan pengajaran (proses belajar mengajar yang dimulai dari perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan evaluasi pembelajaran)
  2. Masalah pendidikan yaitu masalah atau kesulitan yang dialami oleh seseorang dalam situasi pendidikan pada umumnya.
  3. Masalah pekerjaan, maksudnya ialah masalah-masalah yang timbul dalam diri individu dalam menyiapkan diri dan menempatkan diri dengan pekerjaan.
  4. Masalah penggunaan waktu senjang, maksudnya ialah persoalan-persoalan yang dialami oleh individu yang berhubungan dengan bagaimana cara menggunakan waktu luangnya sehingga berisi dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi dirinya. Dalam hal ini seringkali individu mengalami masalah.
  5. Masalah sosial, maksudnya disini ialah masalah-masalah yang dialami individu sehubungan dengan manusia lain, dan bagaimana dia manusia bahagia bila berada dalam kelompoknya.
  6. Masalah pribadi, maksudnya adalah masalah-masalah yang dialami oleh seseorang yang disebabkan oleh keadaan yang ada dalam diri sendiri dan sifatnya sangat komplek.

Syamsul Bachri (2010:5) dalam buku bahasan psikologi pendidikan miliknya berpendapat “Suatu prioritas dalam psikologi pendidikan adalah memahami problematika belajar yang artinya terdapat proses belajar dan pembelajaran, prosedur dan strategi siswa memperoleh informasi baru, penlaksanaan dalam proses pembelajaran dikelas dan analisis kognitif tentang pembelajaran”. Dari pembagian jenis problematika itulah penulis dapat menentukan jenis problematikanya. Penulis menfokuskan pada masalah pengajaran. Masalah pengajaran adalah problematika yang dialami seseorang yang sehubungan dengan kegiatan pembelajaran (perencanaan pembelajaran, proses belajar mengajar dan evaluasi).

Faktor Terjadinya Problematika Pembelajaran

Dimyati dan Mudjiono (2006:235-237) mengemukakan bahwa problematika pembelajaran berasal dari dua faktor yaitu :

  1. Faktor Intern
    Dalam belajar siswa mengalami beragam masalah, jika mereka dapat menyelesaikannya maka mereka tidak akan mengalami masalah atau kesulitan dalam belajar. Terdapat berbagi faktor intern dalam diri siswa, yaitu:
    1. Sikap Terhadap Belajar
      Sikap merupakan kemampuan memberikan penilaian tentang sesuatu, yang membawa diri sesuai dengan penilaian. Adanya penilaian tentang sesuatu, mengakibatkan terjadinya sikap menerima, menolak, atau mengabaikan.
    2. Motivasi belajar
      Motivasi belajar merupakan kekuatan mental yang mendorong terjadinya proses belajar.
    3. Konsentrasi belajar
      Konsentrasi belajar merupakan kemampuan memusatkan perhatian pada pelajaran.
    4. Kemampuan mengolah bahan belajar
      Merupakan kemampuan siswa untuk menerima isi dan cara pemerolehan ajaran sehingga menjadi bermakna bagi siswa. Dari segi guru, pada tempatnya menggunakan pendekatan-pendekatan keterampilan proses, inkuiri, ataupun laboratori.
    5. Kemampuan menyimpan perolehan hasil belajar
      Menyimpan perolehan hasil belajar merupakan kemampuan menyimpan isi pesan dan cara perolehan pesan. Kemampuan menyimpan tersebut dapat berlangsung dalam waktu pendek yang berarti hasil belajar cepat dilupakan, dan dapat berlangsung lama yang berarti hasil belajar tetap dimiliki siswa.
    6. Menggali hasil belajar yang tersimpan
      Menggali hasil belajar yang tersimpan merupakan proses mengaktifkan
      pesan yang telah diterima. Siswa akan memperkuat pesan baru dengan cara mempelajari kembali, atau mengaitkannya dengan bahan lama.
    7. Kemampuan berprestasi
      Siswa menunjukkan bahwa ia telah mampu memecahkan tugas-tugas belajar atau mentransfer hasil belajar.Dari pengalaman sehari- hari di Sekolah bahwa ada sebagian siswa yang tidak mampu berprestasi dengan baik.
    8. Rasa percaya diri siswa
      Dalam proses belajar diketahui bahwa unjuk prestasi merupakan tahap pembuktian “perwujudan diri” yang diakui oleh guru dan teman sejawat siswa.
    9. Intelegensi dan keberhasilan belajar
      Dengan perolehan hasil belajar yang rendah, yang disebabkan oleh intelegensi yang rendah atau kurangnya kesumgguhan belajar, berarti terbentunya tenaga kerja yang bermutu rendah.
    10. Kebiasaan belajar
      Dalam kegiatan sehari-hari ditemukan adnya kebiasaan yang kurang baik. Kebiasaan belajar tersebut antara lain: belajar diakhir semester, belajar tidak teratur, menyia-nyiakan kesempatan belajar, bersekolah hanya untuk bergengsi, datang terlambang bergaya pemimpin dam lain sebagainya.
    11. Cita-cita siswa
      Dalam rangka tugas perkembangan, pada umumnya setiap anak memiliki cita-cita. Cita-cita merupakan motivasi intrinsik, tetapi gambaran yang jelas tentang tokoh teladan bagi siswa belum ada. Akibatnya siswa hanya berperilaku ikut-ikutan.
  2. Faktor Ekstern
    Proses belajar didorong oleh motivasi intrinsik siswa. Disamping itu proses belajar juga dapat terjadi, atau menjadi bertambah kuat, bila didorong oleh lingkungan siswa. Dengan kata lain aktivitas belajar dapat meningkat bila program pembelajaran disusun dengan baik. Program pembelajaran sebagai rekayasa pendidikan guru di sekolah merupakan faktor eksternal belajar. Ditinjau dari segi siswa, maka ditemukan beberapa faktor eksternal yang berpengaruh pada aktivitas belajar. Faktor- faktor eksternal tersebut adalah sebagai berikut:
    1. Guru sebagai pembina siswa dalam belajar
      Sebagai pendidik, guru memusatkan perhatian pada kepribadian siswa, hususnya berkenaan dengan kebangkitan belajar. Kebangkitan belajar tersebut merupakan wujud emansipasi diri siswa. Sebagai guru, ia bertugas mengelola kegiatan belajar siswa di Sekolah. Guru juga menumbuhkan diri secara profesional dengan mempelajari profesi guru sepanjang hayat.
    2. Sarana dan prasarana pembelajaran
      Lengkapnya sarana dan prasarana pembelajaran merupakan kondisi pembelajaran yang baik. Lengkapnya sarana dan prasarana pembelajaran merupakan kondisi pembelajaran yang baik. Hal itu tidak berarti bahwa lengkapnya sarana dan prasarana menentukan jaminan terselenggaranya proses belajar yang baik.
    3. Kebijakan penilaian
      Keputusan hasil belajar merupakan puncak harapan siswa. Secara kejiwaan, siswa terpengaruh atau tercekam tentang hasil belajarnya. Oleh karena itu, Sekolah dan guru diminta berlaku arif dan bijak dalam menyampaikan keputusan hasil belajar siswa.
    4. Lingkungan sosial siswa di sekolah
      Siswa siswi di Sekolah membentuk suatu lingkungan sosial siswa. Dalam lingkungan sosial tersebut ditemukan adanya kedudukan dan peranan tertentu. Ada yang menjabat sebagai pengurus kelas, ketua kelas, OSIS dan lain sebagainya. Dalam kehidupan tersebut terjadi pergaulan seperti hubungan akrab, kerja sama, bersaing, konflik atau perkelahian.
    5. Kurikulum sekolah
      Program pembelajaran di Sekolah mendasarkan diri pada suatu kurikulum. Kurikulum disusun berdasarkan tuntutan kemajuan masyarakat.