Diperbarui tanggal 9/06/2021

Azaz-azaz Pengembangan Kurikulum

author/editor: Edi Elisa / kategori Telaah Kurikulum / tanggal diterbitkan 9 Juni 2021 / dikunjungi: 39.42rb kali

Dalam pengembangan kurikulum diperlukan landasan atau asas yang kuat. Apabila proses pengembanganya secara acak-acakan dan tidak memiliki landasan yang kuat maka out put pendidikan yang dihasilkan tidak akan terjamin kualitasnya. Asas-asas utama dalam pengembangan kurikulum yaitu asas filosofis, psikologis, sosiokultural, ilmu pengetahuan dan teknologi serta organisatoris.

a. Asas Filsofis

Sekolah bertujuan mendidik anak agar menjadi manusia yang “baik”. Faktor “baik” tidak hanya ditentukan oleh nilai-nilai, cita-cita, atau filsafat yang dianut sebuah negara, tetapi juga oleh guru, orang tua, masyarakat, bahkan dunia. Kurikulum mempunyai hubungan yang erat dengan filsafat suatu bangsa, terutama dalam menentukan manusia yang dicita-citakan sebagai tujuan yang harus dicapai melalui pendidikan formal. Kurikulum yang dikembangkan harus mampu menjamin terwujudnya tujuan pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Jadi, asas filosofis berkenaan dengan tujuan pendidikan yang sesuai dengan filsafat negara. Perbedaan filsafat suatu negara menimbulkan implikasi yang berbeda di dalam merumuskan tujuan pendidikan, menentukan bahan pelajaran dan tata cara mengajarkan, serta menentukan cara-cara evaluasi yang ditempuh. Apabila pemerintah bertukar, tujuan pendidikan akan berubah sama sekali. Di Indonesia, penyusunan, pengembangan, dan pelaksanaan kurikulum harus memperhatikan. Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Garis-Garis Besar Haluan Negara sebagai landasan filosofis negara.

Mengapa filsafat sangat diperlukan dalam dunia pendidikan? Menurut Nasution (2008: 28), filsafat besar manfaatnya bagi kurikulum, yakni:

  1. filsafat pendidikan menentukan arah ke mana anak-anak harus dibimbing. Sekolah ialah suatu lembaga yang didirikan oleh masyarakat untuk mendidik anak menjadi manusia dan warga negara yang dicita-citakan oleh masyarakat itu. Jadi, filsafat menentukan tujuan pendidikan.
  2. dengan adanya tujuan pendidikan ada gambaran yang jelas tentang hasil pendidikan yang harus dicapai, manusia yang bagaimana yang harus dibentuk.
  3. filsafat juga menentukan cara dan proses yang harus dijalankan untuk mencapai tujuan itu.
  4. filsafat memberikan kebulatan kepada usaha pendidikan, sehingga tidak lepas-lepas. Dengan demikian terdapat kontinuitas dalam perkembangan anak.
  5. tujuan pendidikan memberikan petunjuk apa yang harus dinilai dan hingga mana tujuan itu telah tercapai.
  6. tujuan pendidikan memberi motivasi dalam proses belajar-mengajar, bila jelas diketahui apa yang ingin dicapai.
b. Asas Psikologi Anak dan Psikologi Belajar
  1. Psikologi Anak

    Sekolah didirikan untuk anak, untuk kepentingan anak, yakni menciptakan situasi-situasi yang memungkinkan anak dapat belajar mengembangkan bakatnya. Selama berabad-abad, anak tidak dipandang sebagai manusia yang lain dari pada orang dewasa. Hal ini tampak dari kurikulum yang mengutamakan bahan, sedangkan anak “dipaksa” menyesuaikan diri dengan bahan tersebut dengan segala kesulitannya. Padahal anak mempunyai kebutuhan sendiri sesuai dengan perkembangannya. Pada permulaan abad ke -20, anak kian mendapat perhatian menjadi salah satu asas dalam pengembangan kurikulum. Kemudian muncullah aliran progresif, yakni kurikulum yang semata-mata didasarkan atas minat dan perkembangan anak (child centered curiculum). Kurikulum ini dapat diapandang sebagai reaksi terhadap kurikulum yang diperlukan orang dewasa tanpa menghiraukan kebutuhan anak. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dlam pengembangan kurikulum adalah:

    • Anak bukan miniatur orang dewas
    • Fungsi sekolah di antaranya mengembangkan pribadi anak seutuhnya
    • Faktor anak harus benar-benar diperhatikan dalam pengembangan kurikulum
    • Anak harus menjadi pusat pendidikan/sebagai subjek belajar dan bukan objek belajar
    • Tiap anak unik, mempunyai ciri-ciri tersendiri, lain dari yang lain. Kurikulum hendaknya mempertimbangkan keunikan anak agar ia sedapat mungkin berkembang sesuai dengan bakatnya
    • Walaupun tiap anak berbeda dari yang lain, banyak pula persamaan di antara mereka. Maka sebagian dari kurikulum dapat sama bagi semua
  2. Psikologi Belajar

    Pendidikan di sekolah diberikan dengan kepercayaan dan keyakinan bahwa anak-anak dapat dididik, dpat dipengaruhi kelakuannya. Anak-anak dapat belajar, dapat menguasai sejumlah pengetahuan, mengubah sikapnya, menerima norma-norma, menguasai sejumlah keterampilan. Soal yang penting ialah: bagaimana anak itu belajar? Kalau kita tahu betul bagaimana proses belajar berlangsung, dalam keadaan yang bagaimana belajar itu memberikan hasil sebaik-baiknya, maka kurikulum dapat direncanakan dan dilaksanakan dengan cara seefektif-efektifnya

    Oleh sebab belajar itu ternyata suatu proses yang pelik dan kompleks, timbullah berbagai teori belajar yang menunjukkan ketidaksesuaian satu sama lain. Pada umumnya tiap teori mengandung kebenaran. Akan tetapi tidak memberikan gambaran tentang keseluruhan prooses belajar. Jadi, yang mencakup segala gejala belajar dari yang sederhana sampai yang paling pelik. Dengan demikian, teori belajar dijadikan dasar pertimbangan dalam pengembangan kurikulum.

c. Asas Sosiologis

Landasan sosiologis pengembangan kurikulum adalah asumsi-asumsi yang berasal dari sosiologi yang dijadikan titik tolak dalam pengembangan kurikulum. Pendidikan adalah proses sosialisai melalui interaksi insani menuju manusia yang berbudaya. Dalam kontes inilah anak didik dihadapkan dengan budaya manusia, dibina dan dikembangkan sesuai dengan nilai budayanya, serta dipupuk kemampuan dirinya menjadi manusia.

Sosial mengacu pada hubungan antar individu, antar masyarakat, dan individu dengan masyarakat. Aspek sosial ini telah ada sejak manusia dilahirkan. Karena itu aspek sosial melekat pada diri individu yang perlu dikembangkan dalam perjalanan hidup peserta didik agar menjadi matang. Disamping tugas pendidikan mengembangkan aspek sosial, aspek itu sendiri sangat berperan dalam membantu anak didik dalam upaya mengembangkan dirinya. Maka segi sosial ini perlu diperhatikan dalam proses pendidikan. Sedangkan kebudayaan menurut Kneller merupakan cara hidup yang telah dikembangkan oleh anggota-anggota masyarakat. Kebudayaan dapat dikelompokkan menjadi kebudayaan umum, kebudayaan daerah dan kebudayaan populer

Pendidikan merupakan sosialisasi dari pewarisan budaya dari generasi ke generasi selanjutnya dalam upaya membuat orang berperilaku mengikuti budaya yang sesuai dengan nilai dan norma-norma yang berlaku. Untuk itu melalui pendidikan pewarisan budaya bangsa akan terealisasi dengan baik. Oleh karena itu, anak didik dihadapkan pada budaya manusia, dibina dan dikembangkan sesuai dengan nilai budayanya.

Pendidikan sebagai proses budaya adalah upaya membina dan mengembangkan daya cipta, karsa dan rasa manusia menuju ke peradaban manusia yang lebih luas dan tinggi, yaitu manusia yang berbudaya. Dan kebudayaan itu sifatnya ada yang universal dan ada yang bersifat khusus, universal artinya berlaku untuk umum. Sedangkan kebudayaan yang bersifat khusus artinya dalam kebudayaan yang universal tersebut ada unsur-unsur yang khusus di dalamnya.

Anak tidak hidup sendiri terisolasi dari manusia lain. Ia selalu hidup dalam suatu masyarakat. Di situ, ia harus memenuhi tugas-tugas yang harus dilakukannya dengan penuh tanggung jawab, baik sebagai anak maupun sebagai orang dewasa kelak. Ia banyak menerima jasa dari masyarakat dan ia sebaliknya harus menyumbangkan baktinya bagi kemajuan masyarakat.

Tiap masyarakat mempunyai norma-norma, adat kebiasaan yang harus dikenal dan diwujudkan anak dalam pribadinya, lalu dinyatakannya dalam kelakuan. Tiap masyarakat berlainan corak nilai-nilai yang dianutnya. Tiap anak akan berbeda latar belakang kebudayaanya. Perbedaan ini harus dipertimbangkan dalam kurikulum. Selain itu, perubahan masyarakat akibat perkembangan iptek merupakan faktor yang benar-benar harus dipertimbangkan dalam pengembangan kurikulum. Karena masyarakat merupakan faktor penting dalam pengembangan kurikulum, masyarakat dijadikan salah satu asas.

d. Asas Organisatoris

Asas ini berkenaan dengan organisasi kurikulum. Suatu aktivitas dalam mencapai tujuan pendidikan formal perlu suatu bentuk pola yang jelas tentang bahan yang akan disajikan atau yang akan diproses kepada peserta didik. pola atau bentuk bahan yang akan disajikan inilah yang dimaksud organisasi kurikulum.

Organisasi bahan pelajaran yang dipilih harus serasi dengan tujuan dan sasaran kurikulum, yang pada dasarnya disusun dari yang sederhana kepada yang kompleks, dari yang konkrit kepada yang abstrak, dan dari ranah (dominan) tingkt rendah kepada ranah yang lebih tinggi, baik kognitif, afektif maupun psikomotorik.

Organisasi kurikulum adalah suatu factor yang penting sekali dalam pengembangan dan pembinaan kurikulum dan bertalian erat dengan tujuan program pendidikan yang hendak dicapai, karena bentuk kurikulum menentukan isi bahan pelajaran dan cara menyajikannya. Organisasai bahan pelajalaran yang dipilih harus serasi dengan tujuan dan sasaran kurikulum, yang pada dasarnya disusun dari yang sederhana kepada yang kompleks, dari yang kankret kepada yang abstrak, dan dari ranah tingkat rendah kepada ranah tingkat yang lebih tinggi, baik kognitif, afektif maupun psikomotor. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kaitanya dengan asas organisatoris adalah:

  • tujuan bahan pelajaran
  • sasaran bahan pelajaran
  • pengorganisasian bahan