Diperbarui tanggal 2/03/2023

Pengungkapan Diri (Self-Disclosure)

kategori Bimbingan dan Konseling / tanggal diterbitkan 2 Maret 2023 / dikunjungi: 2.89rb kali

Pengertian Pengungkapan Diri (Self-Disclosure)

Pengungkapan diri terjalin melalui adanya suatu hubungan interaksi dalam komunikasi antar individu. Menurut Johnson (Hanani 2017) menyebutkan bahwa keterbukaan diri atau self-disclosure adalah mengungkapkan tanggapan atau reaksi kita terhadap situasi yang sedang kita hadapi dan memberikan informasi tentang masa lalu yang relavan atau berguna dalam memahami reaksi kita di masa kini. Devito (2011) menyebutkan bahwa pengungkapan diri atau self-disclosure berarti suatu bentuk komunikasi ketika seseorang mengirimkan informasi tentang diri mereka yang biasanya disimpan. Oleh karena itu, setidaknya dalam pengungkapan diri memerlukan dua orang atau lebih. Sedangkan menurut Barker & Gaut (Rasyid 2017) pengungkapan diri atau self-disclosure adalah kemampuan seseorang menyampaikan informasi kepada orang lain yang meliputi pikiran atau pendapat, keinginan, perasaan maupun perhatian.

Dalam teori Sidney Jourard (Nurdin, 2020:125) tentang pengungkapan diri mengasumsikan bahwa:

  1. Pengungkapan diri seseorang dilakukan untuk mencapai tujuan sosial individu, yaitu klarifikasi diri, pengembangan relasional, validasi sosial,dan kontrol sosial.
  2. Pengungkapan diri memiliki efek diadik yaitu dua orang yang terlibat dalam komunikasi memiliki tingkatan yang setara dalam percakapan, memiliki korelasi, dan mendorong pengungkapan diri secara timbal balik.

Kemudian menurut Alman dan Taylor (Zulamri, 2019) menge-mukakan bahwa pengungkapan diri adalah kemampuan seseorang untuk mengkomunikasikan informasi diri kepada orang lain untuk mencapai tujuan yang akrab. Sedangkan menurut pandangan Burhan (Nasyar & Ahmad, 2020) juga menyatakan bahwa self-disclosure sebagai proses mengungkapkan informasi pribadi kita kepada orang lain dan sebaliknya. Self-disclosure merupakan kebutuhan individu sebagai jalan keluar atas tekanan-tekanan yang terjadi pada diri individu.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa self-disclosure atau pengungkapan diri yaitu berkaitan dengan kemampuan untuk menyampaikan data peribadi yang belum diketahui oleh orang lain bahkan dirahasiakan. Selain itu, pengungkapan diri dapat meningkatkan keintiman dan keakraban.

Faktor-Faktor Pengungkapan Diri (Self-Disclosure)

Pengungkapan diri (self-disclosure) dapat berjalan lancar dalam suatu situasi atau kondisi tertentu dan terdapat pula faktor-faktor yang mempengaruhinya. Menurut Devito (2011) ada beberapa faktor yang mempengaruhi keterbukaan diri antara lain a) besar kelompok, b) perasaan menyukai c) efek diadik, d) kompetensi, e) kepribadian, f) topik, g) jenis kelamin. Dindia (Normayanti, 2018) mengemukakan bahwa faktor penting dalam self-disclosure adalah faktor resiprositas atau timbal balik yakni secara umum individu menyukai individu lain yang ingin berbagi informasi. Keterbukaan diri cenderung akan dibalas balik dengan keterbukaan diri. Jika berbagi informasi dengan orang lain, orang lain kemungkinan akan menaggapi dengan cara yang sama. Ketika individu berbicara tentang informasi yang menarik, maka orang lain juga akan berbagi informasi yang menarik. Sebaliknya, jika individu tahu suatu informasi yang peribadi, maka orang lain juga diharapkan merespon dengan hal yang sama.

Sedangkan menurut hasil penelitian (Gutji and Wahyuni 2021) mengungkapkan bahwa faktor yang mempengaruhi self-disclosure adalah latar belakang perbedaan budaya dan gender antara individu satu dengan individu lain.

Berdasarkan pendapat diatas bahwa faktor-faktor pengungkapan diri (self-disclosure) dapat disimpulkan hal-hal yang mempengaruhi self-disclosure individu adalah dilihat dari besar kelompok, perasaan menyukai, efek diadik, kompetensi, kepribadian, topik, jenis kelamin dan faktor resiprositas.

Aspek-aspek Pengungkapan Diri (Self-Disclosure)

Beberapa Ahli berpendapat tentang aspek-aspek pengungkapan diri (self-disclosure), Altman & Taylor (Ifdil & Zarian, 2013) menyatakan ada lima aspek dalam self-disclosure yaitu, a) Ketepatan, b) Motivasi, c) Waktu, d) Keintensifan, e) Kedalaman dan Keluasan. Kemudian menurut seorang ahli yakni Jourard (Ifdil Ifdil & Ardi, 2013) menyebutkan bahwa :seseorang dalam mengungkapkan diri perlu mengetahui isu atau topik dari self-disclosure yang akan disampaikan. Jourard mengembangkan enam aspek self-disclosure disebut Jourard self disclosure (JSDQ) meliputi:

  1. Sikap atau opini mencakup pendapat atau sikap mengenai keagamaan dan pergaulan remaja.
  2. Selera dan minat mencakup selera dalam pakaian, selera makanan dan minuman, kegemaran akan hobi yang disukai.
  3. Pekerjaan atau pendidikan mencakup keadaan lingkungan sekolah dan pergaulan sekolah.
  4. Keuangan mencakup keadaan keuangan seperti sumber keuangan, pengeluaran yang dibutuhkan, cara mengatur keuangan.
  5. Kepribadian hal-hal yang mencakup keadaan diri, seperti marah, cemas, sedih serta hal-hal yang berhubungan dengan lawan jenis.
  6. Fisik mencakup keadaan fisik dan kesehatan fisik.

Dari pendapat beberapa ahli di atas dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek self-disclosure mencangkup beberpa aspek yakni Ketepatan, Motivasi, Waktu, Keintensifan, Kedalaman dan Keluasan.

Karakteristik dan Dimensi Pengungkapan Diri (Self-Disclosure)

Self-disclosure memiliki karakteristik dan dimensi. Menurut Jourard dalam (Ifdil Ifdil and Zarian Ardi 2013) self-disclosure memiliki tiga karakteristik, yaitu:

  1. Keluasan (breadth).
    Keluasan mengacu pada jumlah jenis informasi yang dapat diketahui oleh orang lain dalam membangun suatu hubungan. Semakin dekat hubungan antara seseorang dengan lawan bicaranya, maka semakin lengkap informasi yang diungkapkan.
  2. Kedalaman (depth)
    Sifat ini berkaitan dengan kedalaman pengungkapan diri atau seberapa terbuka seseorang untuk mengungkapkan diri pada orang lain.
  3. Target atau sasaran
    karakteristik ini mengacu pada orang yang menjadi sasaran untuk melakukan pengungkapan diri. Subjek pengungkapan diri terdiri atas yaitu ibu, ayah, teman pria, teman wanita, dan pasangan.

Menurut Derlega (Lufiana, 2021: 27) , dimensi pengungkapan diri terbagi menjadi dua, yaitu:

  1. Descriptive self disclosure pengungkapan diri yang mengandung lebih sedikit informasi pribadi tentang diri individu, seperti: riwayat keluarga, kebiasaan, dll.
  2. Evaluative self disclosure Pengungkapan diri yang mencakup ekspresi perasaan, pikiran, dan penilaian pribadi seperti perasaan cinta atau benci dan peristiwa yang memalukan.

Selanjutnya menurut Ifdil & Zarian (2013) self-disclosure seseorang memiliki dua dimensi yaitu keluasan dan kedalaman. Keluasan hubungan seseorang atau individu yang mengungkapkan dirinya (target person) seperti orang yang baru dikenal, teman biasa, orang tua atau saudara dan teman dekat. Sedangkan kedalaman berkaitan dengan topik umum dan topik khusus.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa karakteristk self-disclosure yakni keluasan, kedalaman, dan target atau sasaran, sedangkan dimensi self-disclosure yakni seberapa banyak informasi tentang pribadi dan seberapa banyak pengungkapan diri yang mencakup ekspresi dan perasaan individu.

Manfaat dan kerugian pengungkapan diri (self-disclosure)

Jika dilihat secara sederhana self-disclosure bermanfaat dalam rangka menyempurnakan diri individu, karena hidup tidak terlepas dari penilain orang lain. Namun jika dilihat dari implikasi membuka diri, yang mana jika individu membuka diri maka orang lain akan membalasnya dengan secara terbuka pula. Menurut Silfia (2017:46) manfaat dari membuka diri dalam beberapa hal penting diantaranya yakni:

  1. Membuka diri bermanfaat secara verbal, yakni adanya indivisu membangun relasi melalui komunikasi yang akrab. Secara sosial, membuka diri menjadi penting dalam membangun keharmonisan antara seseornag dengan orang lain.
  2. Mengungkapkan diri bermanfaatkan dalam mengasah keterampilan berkomunikasi yang terarah dan terfokus.
  3. Dilihat secara tujuan individu mengungkapkan drinya ialah untuk mengungkapkan satu pesan, maka membuka diri dapat bermanfaat sebaga sebagian yang meringankan beban psikologis seseorang.
  4. Mengungkapkan diri berguna untuk mengintrofeksi diri karena dengan membuka diri dapat mengetahui kekurangan-kekurangan dan potensi yang dimiliki.

Kemudian menurut Devito (2011) manfaat dari self-disclosure yakni:

  1. sebagai pengetahuan-diri,
  2. kemampuan untuk mengatasi kesulitan,
  3. efiensi diri, dan
  4. kedalaman hubungan.

Pengungkapan diri juga memiliki kekurangan yang dapat membahayakan bagi individu. Menurut Devito (2011) menyebutkan beberapa kekurangan self-disclosure yaitu a) penolakan pribadi dan sosial, b) kerugian material, dan c) kesulitan pribadi.

Pengukuran Self-disclosure

Pengukuran self-disclosure bisa dilakukan dengan menggunakan beberapa metode, antara lain:

  1. Kuesioner: Salah satu cara untuk mengukur self-disclosure adalah dengan memberikan kuesioner kepada responden. Kuesioner dapat berisi pertanyaan tentang seberapa sering seseorang mengungkapkan informasi pribadi kepada orang lain, seberapa dalam informasi yang diungkapkan, dan seberapa nyaman seseorang dalam mengungkapkan informasi pribadi.
  2. Wawancara: Metode lain yang dapat digunakan untuk mengukur self-disclosure adalah dengan melakukan wawancara langsung dengan responden. Wawancara dapat membantu untuk mendapatkan informasi yang lebih rinci tentang pola self-disclosure seseorang dan motivasi di balik pengungkapan diri.
  3. Observasi: Pengukuran self-disclosure juga bisa dilakukan dengan cara mengamati perilaku seseorang dalam interaksi sosial. Observasi dapat membantu untuk melihat seberapa sering seseorang mengungkapkan informasi pribadi dalam interaksi sosial dan seberapa dalam informasi yang diungkapkan.
  4. Tes proyektif: Tes proyektif adalah tes yang digunakan untuk memahami pikiran dan perasaan seseorang. Tes proyektif dapat digunakan untuk mengukur self-disclosure dengan meminta responden untuk menyelesaikan kalimat atau menggambar gambar yang mewakili perasaan dan pikiran mereka.

Pengukuran self-disclosure dapat membantu untuk memahami lebih lanjut tentang bagaimana seseorang berinteraksi dengan orang lain, seberapa nyaman seseorang dalam berbagi informasi pribadi, dan faktor-faktor apa yang mempengaruhi keputusan seseorang dalam mengungkapkan diri.